Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 8


__ADS_3

Dan selanjutnya sebuah kejadian yang tidak disangka oleh orang\-orang yang hadir disana, dimana tubuh Damangtirta terjatuh dengan lengkingan suara keras, dan dari mulutnya memuntahkan darah segar.


     Sedangkan kang Soma cuma jatuh terduduk itupun hanya sesaat, dan untuk selanjutnya kang Soma bangkit tidak sekara-kara dengan keadaan tubuh yang segar bugar.


     Namun sebaliknya, Damangtirta mengalami luka dalam yang serius. Ia tidak bisa buru-buru bangun.


     "Kang Soma..... Aaaku me...ngaaaku kaa...lah!"  Suara Damangtirta terbata-bata. Dan untuk selanjutnya terkulai.


     Kang Soma segera mendekati tubuh Damangtirta. Ia segera memeriksa keadaan luka dalam yang dialami oleh Damangtirta. Tangan kang Soma nampak telapak tangannya ditempelkan di dada Damangtirta.


     "Hmmm tidak apa-apa....! Ia hebat." Puji Kang Soma.  "Sekarang coba papah tubuhnya, bawa ke dalam !"  Perintah kang Soma.


     Setelah ada di dalam warung, kang Soma berusaha mengobati luka dalam Damangtirta dengan kemampuan yang dimilikinya. Juga pengobatan itu disertai dengan meminumkan ramuan-ramuan yang mendadak dibuatnya.


     Sementara diluar, orang-orang segera membantu mang Kardi untuk membereskan tempat yang barusan di pakai melangsungkan pertandingan.


     "Kawan-kawan maaf, harus selesai sebelum siang datang, sukur-sukur sebelum subuh.!" Seru mang Kardi.


     "Beres mang, kita kan banyakan, sebentar lagi juga selesai.!"  seru salah seorang diantara mereka.


     "Siiiip!"  Kata mang Kardi.  "Aku dan istriku akan menyiapkan makanan untuk kalian, serta akan menghidangkan kopi panas untuk kalian"  Tambahnya mang Kardi.


     "Siiip lahh"  Serempak orang-orang.


     Sementara sebagian orang-orang perwakilan seluruh lubang, nampak satu persatu meninggalkan tempat itu. kini mereka sudah punya pegangan. Bahwa mulai saat itu mereka sudah mempunyai pimpinan seluruh lubang. Mereka sangat berharap dengan pemimpin barunya itu, bisa memulai keadaan yang nyaman, tentram dan adil.


     Selanjutnya keadaan Damangtirta sudah baik, Dia sudah siuman, malah sudah bisa ngobrol. Kemudian kang Soma segera menghampirinya, kemudian ia mengajak berjabat tangan.


     "Kang Damang... syukurlah akang tidak apa-apa, dan aku minta maaf"  Ucap kang Soma merendah.


     "Kang Soma, mulai saat ini diseluruh lubang diwilayah kita, keputusan ada ditangan akang, akang jangan ragu-ragu mengambil keputusan, yang penting keadaan bisa aman damai dan adil."  Ucap Damangtirta.

__ADS_1


     "Terimakasih kang Damang, Tapi menurutku kita tetap saling bahu-membahu, karena tujuan kita kesini sama-sama mencari nafkah."  Ujar kang Soma.


     "Jangan khawatir kang Soma aku siap hidup saling bantu, serta aku siap menciptakan kerukunan sesama warga lubang."  Tukas Damangtirta sambil kembali mengulurkan kedua tanganya. Dan mereka berpelukan.


     Hampir waktu subuh tiba, yang bekerja sudah selesai. Dan mang Kardi sudah siap menghadirkan hidangan. Setelah beberapa saat mereka asyik menikmati hidangan, maka satu persatu mereka meninggalkan tempat itu. Termasuk Kang Soma, Damangtirta, serta yang lainnya.


     Pak Dasim yang sedari tadi mengikuti keadaan yang sedang berlangsung, tiba-tiba terbersitlah harapan baru, paling tidak buah dari kejadian ini akan membantu dirinya bisa segera meninggalkan daerah pertambangan.


     Esoknya pak Dasim sedang berada di halaman warung. Walaupun semua yang ada disana kurang tidur, tapi mereka tetap bekerja seperti biasa. Pak Dasim dan Dipa keduanya nampak sedang mengobrol membicarakan rencana selanjutnya.


     "Nak Dipa, berhubung keadaan agak membaik, kita menangguhkan dulu rencana untuk meninggalkan tempat ini. Rencananya kita mau sekarang untuk pergi itu. tapi menurut mang Kardi tunggu dulu, kita memerlukan perbekalan."  Jelas Pak Dasim.


     "Kalau begitu pak Dasim, bagaimana baiknya saja, yang penting apa yang kita maksud bisa berhasil."


     "Iya, memang begitu."  Ujar pak Dasim setuju.


     Alam disekitarnya begitu indah dan asri. begitu pula dengan udara disekitarnya, sangat segar, sehingga terasa sekali oleh tubuh sangat bermakna. Ohh alam telah kau buktikan pengabdianmu kepada manusia.


     Burung-burung terlihat berterbangan dengan suara kicauannya yang begitu nyaring dan ceria. sementara suara gemuruh air di kali yang deras terdengar mendesah, mengingatkan kalbu dan pikiran pak Dasim kemasa lalu ketika dia masih tinggal di kampung.


     "Siap, Tapi ada tidak alat-alat pancingnya ?"  Tanya Dipa.


     "Mudah-mudahan ada di mang Kardi, kita pinjam saja kalau ada."  Usul pak Dasim.


     "Kalau begitu boleh, aku juga ingin menyegarkan otak, refreshing....!"  Sambut Dipa gembira.


     Namun baru juga meraka hendak beranjak, tiba-tiba suara teh Titin memanggil mereka.


     "Mamang....! jang Dipa...!" serunya memanggil pak Dasim dan Dipa.


     "Iya teh!"  Jawab pak dasim.

__ADS_1


     lalu pak Dasim dan Dipa segera keduanya memburu kearah dapur warung itu.


     "Mang...! jang Dipa, Sarapan Dulu ya, namun seadanya, maklum belum bisa belanja."  Ucap teh Titin.


     "Teh, saya sebenarnya sangat bersyukur atas kebaikan teteh sekeluarga !"  Ujar pak Dasim.


     "Sudahlah mang, biasa saja, Silahkan mang." ajak teh Titin sambil menunjuk hidangan nasi goreng yang sudah tersedia.


     "Iya teh."  Sahut pak Dasim sambil melangkah memburu hidangan itu.


     Tanpa basa basi lagi pak Dasim Dan Dipa segera menyantap hidangan nasi goreng itu. Tapi bagi keduanya hidangan itu sangat nikmat dan lezat.


     "Teh kalau jang kardi kemana ?"  Tanya pak Dasim.


     "Anu, Menemui Kang Soma dan sekalian memeriksa lubang."  Jelas teh Titin.


     "Ohhh ya...."  Angguk pak Dasim.


     Setelah keduanya selesai, pak Dasim dan Dipa meminta izin teh Titin untuk meminjam alat-alat pancing.


     "Teh pinajam Pancingan."  Kata Pak Dasim. "Mamang dan Dipa ingin hiburan."  Tambah pak Dasim.


     "Ohh ya, bagus, tuh periksa saja di *goah."   *Kata teh Titin sambil menunjuk sebuah kamar kecil tempat menyimpan barang-barang. "Mau mancing Kemana mang?" Tanya teh Titin lagi.


     "Ahh kemana saja."  Tukas pak Dasim.


     Setelah mendapatkan alat-alat pancing, pak Dasim segera pamit sama teh Titin. Lalu keduanya buru-buru turun menuju sebuah tempat yang dianggap bagus untuk memancing. Mereka menelusuri pematang kali itu, yang airnya sangat jernih, biasanya di air bening seperti itu jarang ada ikan. Ikan-ikan, terutama ikan lele suka berada di air yang keruh.


     Pak Dasim dan dipa terus berjalan dan ketika mereka menemukan pilihan arah jalan baru, keduanya berhenti sejenak. Pak Dasim belum tahu, arah mana yang harus di pilih, untuk itu pak Dasim dan Dipa berhenti sejenak.


     Beberapa saat kemudian setelah keduanya lama berdiri, tiba-tiba dari jauh, pak Dasim melihat seseorang sedang berjalan kearahnya. Tentu saja pak Dasim gembira ia berharap dirinya bisa bertanya. setelah orang itu ada didekatnya, pak Dasim segera bertanya tentang tempat disekitarnya.

__ADS_1


     Dari orang itu pak Dasim mendapat keterangan bahwa tempat memancing yang bagus, masih agak jauh dari tempat itu, Tepatnya di sebuah rawa yang disebut dengan rawa Atun. Arah dan jalurnya ditunjukan oleh orang itu secara rinci. sehingga baik pak Dasim maupun Dipa sangat paham maksud dan keterangan orang itu.


     Setelah pak Dasim mengucapkan terimakasih pada orang itu, lalu keduanya melaju kearah yang dimaksud oleh orang tadi. Kira-kira kurang lebih satu jam mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah rawa yang dimaksud.


__ADS_2