Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 51


__ADS_3

Waktu itu langit nampak mendung, mega-mega Hitam berarak arak diatas langit, lukisan warna biru mendadak sirna, tersisih warna putih kehitam-hitaman. Nampak beberapa orang guru Stanawiyyah sederajat SMP, dengan guru Alliyyah, sederajat SMA, sedang berbicang, bincang. Pak Septian yang sehari-hari nya adala adalah kepala sekolah Alliyyah Al-Jabar Yayasa Lembah Ilmu, Sedang bercakap-cakap dengan Bu Halimah, selaku kepala sekolah Stanawiyyah. Ditemani oleh beberapa Guru. Mereka sedang mencari solusi bagaimana caranya, mengatasai masalah yang sedang terjadi. Kelompok bertopeng mereka mengancam akan membakar pesantren ini, ancaman ini dilayangkan oleh sepucuk surat yang tertancap didinding, pondok santri putri. Tentu saja para santri sangat panik terutama santri putri.


"Apa ibu sudah melaporkan keadaan ini, pada pihak yang berwajib?" Tanya pak Septian.


"Yah sudah, dari pihak yang berwajib, sewaktu waktu suka mengontrol, malah hampir tiap malam. Tetapi yang menjadi masalah bukan hanya keamanan saja, tarolah masalah keamanan bisa di atasi, tapi masalah lain yang ditimbulkan adalah, sekarang kesultan tenaga pengajar santri, asalnya suami saya yang di bantu oleh daka dan Sunan tetapi sekarang mereka tidak ada. Ini jelas sangat mengkhawatirkan, sebagian santri sudah mulai pada pulang." Papar Bu Halimah sambil melihat kearah luar, yaitu Pak Amud.


"Kenapa Bu Halimah ini bisa terjadi secara mendadak, apa kita tidak tahu para pelakunya?" Tanya Pak septian.


"Maksud Bapak?" Bu Halimah malah balik bertanya.


"Mungkin para pelakunya adalah orang-orang yang sakit-hati!" Pak septian coba menerka-nerka.


"Pak Septian, saya dalam hal ini tidak berani memperkeruh masalah saya tidak berani pak!" Tegas Bu Halimah, mukanya mendadak pucat.

__ADS_1


"Maksud ibu?" Tanya Pak Septian.


"Yah kalau berbicara sakit Hati nanti kesannya tertuju pada, orang orang yang pernah aktip disini, ini bisa berabe, masalah yang satu belum selesai malah datang lagi masalah yang baru." Tegas Bu Halimah.


"Bu Halimah apakah selama ini ibu pernah bertemu dengan Sunan atau Daka?" Tanya salah seorang guru yang namanya Pak Hadi.


"Belum Pak Hadi, kira kira ia kamana perginya, saya tidak tahu." Jawab bu Halimah.


"Pak Septian, Pak Hadi, jelaskan siapa orangnya yang dimaksud oleh bapak-bapak, itu supaya tidak salah paham." Desak guru yang lain.


"Begini, yang saya tahu benerapa bulan yang lalau, pernah ada kejadian orang orang merasa tidak nyaman dengan ceramah jumat saya waktu itu, dan diantara mereka menyerang, nah mungkin-mungkin saja orang orang yang merasa sehati dengan orang-orang yang menyerang kesini itu, masih menyimpan Dendam. Atau juga, tapi maap yah saya tidak menuduh, ini hanya kemungkina namanya juga sakit hati..." Kata Pak septi, namun kata-katanya terhenti."


"Stop pak saya mengerti maksud bapak kemana arahnya. Keprediksi yang pertama, saya setuju mungkin saja, tetapi keprediksi yang kedua kreteria sakit hati se olah-olah menuduh Sunan dan Daka, dengan dalih, namanya juga sakit hati." Kata pak Amud. "Nah itu yang saya tidak setuju, saya bisa mengadukan bapak pada mereka bahwa bapak menuduh mereka." ancam Pak Amud.

__ADS_1


"Eh Pak Amud maap saya tidak demikian, ucapan saya hanya perkiraan."


"Wah tak tahu malau air susu dibalas air tuba." Kata pak Amud sambil bangkit dan berlalu.


"Pak Septi, ini yang kedua, bapak melontarkan kata-kata yang mebuat orang tersinggung." Suara Buhalimah jadi meninggi." Bapak jangan mentang-mentang punya jabatan, lantas seenaknya ngomong, pak kalau mau saya jujur, sekolah ini bukan terkenal oleh kegiatan bapak-bapak, tapi ini kiprah kami di antaranya kiprah Pak Dipa dan murid-muridnya sunan dan Daka.


"Bu kalau lbu merasa demikian mengapa ibu dan keluarga meremehkanya." ucap Pak Septi menyudutkan.


"Baik pak memang saya lagi bingung saat ini." Kata Bu Halimah sambil bangkit lalu meninggalkan ruangan itu.


Selanjutnya Bu Halimah tergesa gesa menuju rumahnya dan setibanya, ia lalu masuk kekamar lalu Membantigkan tubuhnya di pinggir suaminya. Lalu ia menangis. Bang Edi yang sudah berangsur-berangsur kesehatannya pulih, ia segera membuka matanya, Bang Edi segera membisikan sesuatu, agar istrinya mau menghubungi Dipa. Tapi istrinya Bang Edi Bu Halimah, mengatakan malu kita selalu hianat. Bu Halimah akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya, dia merasa di kerjain oleh suaminya, ketika kesalahan ada pada dirinya, waktu itu sangat terus menerus dihujat malah diteror, menghujam, mencemoohkan dan intimidasi, dan menganggap dirinya biang kerok, harus gini harus gitu, tapi nyatanya kini, setelah keadaan membaik malah dirusak begitu saja oleh orang yang menyalahkan dirinya yaitu suaminya sendiri. Padahal Bu Halimah sadar dan diri nya telah paham benar. Bu Halimah tahu persis yang mengangkat pamor kepermukaan adalah kepesantrenannya dengan muatan lokal, bukan dari sekolah pormalnya. Status sekolah pormalnya baru terdaptar. Dari dulu itu melulu, perbedaan terdaftar, diakui dan disamakan hampir tidak ada bedanya. Begitu-begitu saja.


Kalau dilihat dari segi kualitas, ah begitu-begitu saja Kalao dari segi formalitas, iah lah bisa. Tapi ah begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2