
Barangkali nanti pak Dasim bisa bertemu dengannya. Sebenarnya kakak saya pun sama mempunyai idiologi maju, namun barangkali keterbatasan atau waktu yang belum bisa diatasi oleh kakak saya, jadi seandainya Pak Dasim bisa bertemu dengannya, kakak saya akan sangat bahagia.
“Rumah kakak Jang Wiranta, dimana?” Tanya Pak Dasim penasaran.
“Sebenarnya jauh dari sini, tapi besok kita bisa kesana, nanti dari sini pagi-pagi, naik perahu supaya datang kesana tidak keburitan. “Jelas Jang Wiranta sambil menatap wajah Pak Dasim. Untuk malam ini Mang Dasim biar tidur disini.” Tambah Jang Wiranta.
“Baik jang” Sahut Pak Dasim setuju.
Selanjut Pak Dasim dan Jang Wiranta mengobrol kesana kemari. Dan ketika istri Jang Wiranta datang, Jang Wiranta segera memerintahkan agar istrinya membenahi kamar untuk istirahat Pak Dasim dan Dipa.
Besoknya, pagi sekali Pak Dasim, Dipa dan Wiranta segera pergi, menaiki perahu bermotor, maksudnya mau mendatangi tempat kakaknya Jang Wiranta. Sebuah perahu bermotor yang biasa digunakan oleh Jang Wiranta bila mengangkut ikan hasil tangkapannya. Pak Dasim Dipa dan Jang Wiranta akhirnya berangkat naik perahu bermotor. Perjalanan mereka menelusuri sisi pantai pulau itu, lumayan mengasyikan , berjam-jam dilautan menikmati, pemandangan laut yang indah. Burung-burung laut beterbangan, menyambar buih air laut melintas dihadapan mereka. Kira kira setengah hari perjalanan mereka menelusuri sisi pantai pulau tersebut, Jang wiranta segera membawa perahunya ketepi pantai, mereka singgah dulu di sebuah pasar ikan, untuk makan siang. Dan setelah selesai makan siang, baru mereka melanjutkan kembali perjalanannya. Perahu miliknya Jang Wiranta kembali melaju terapung diatas lautan. Kalaulah boleh berteriak sepertinya Pak Dasim lah yang mungkin teriakannya sangat bersahabat dengan derunya suara air lautan dan raungan suara mesin. Wahai cita-cita dan mimpiku bergembiralah kalian, karena kalian akan punya tempat berpijak. Wahai para pahlawan yang gugur di medan perang bernyanyilah kalian semua, dan sampaikanlah salam kalian melaluai gelombang lautan. Aku sangat rindu berjabat tangan dengan kalian untuk tetap semangat mengisi negeri ini dengan prestasi.
__ADS_1
Matahari bundar mencium pipi lautan, sungguh menggugah hati, seiring dengan perjalan Pak Dasim dan teman temannya, yang akan segera sampai ditujuan. Jang Wiranta segera merapatkan perahunya. Dan setelah perahu ditambatkan kepangkalan, lalu mereka naik kedarat. Kemudian Jang Wiranta segera menitipkan perahunya pada warung yang biasa ia singgahi. Akhirnya mereka naik angkutan pedesaan untuk menuju tempat kakanya Jang Wiranta. Akhirnya ba’da maghrib mereka sampai ditujuan.
Beberapa saat kemudian setelah mereka istirahat sejenak dan kakak Jang Wiranta selesai sembahyang, mereka lalu mulai mengutarakan maksud kedatangannya. Hal ini segera di ceritakan oleh Jang Wiranta, mengulang cerita yang pernah diceritakan pada kakanya.
“Nah kak demikian cerita Mang Dasim dengan segala cita citanya itu.” Jelas Jang Wiranta.
“Saya sangat bersyukur kita bisa bertemu Pak Dasim.” Kata kakaknya Jang Wiranta “Nama saya Suganda Mandara” Tambahnya sambil mengulurkan tangan pada Pak Dasim.
Pak Dasim segera menerima uluran tangan Kang Suganda.
“Kita harus memulainya, sebab siapa lagi dan kapan lagi” Cetus Kang Suganda.
__ADS_1
“Betul, dalam hal ini, tidak semua orang punya kepentingan, padahal sebenarnya yang namanya diam dinegeri ini, sadar atau tidak, semuanya terikat kewajiban untuk mencintai tanah air, yaitu Indonesia. Cara memcintai tanah air itu, harus terbukti yang digambarkan oleh cita-cita dan profesi, bukan sekedar basa-basi tentunya.” Kata Pak Dasim mengutarakan pendapatnya.
“Pak Dasim, bagi saya, pertermuan ini merupakan suatu anugrah yang tiada taranya. Sebab dari semenjak tamat kuliah, saya belum menemukan teori ataupun program yang benar-benar berkenan, maksudnya saya, sampai saat
ini, belum menemukan program yang benar-benar memiliki wawasan maju. program yang saya tahu sekarang menurut penilaian saya baru sekedar hiasan atau ikut-ikutan bagaimana ramainya. selama ini saya hanya sekedar guru sekolah dasar plus atau merangkap sekolah agama, status saya pegawai negeri, namun Pendidikan yang saya kelola adalah swasta, yaitu Pendidikan dibawah yayasaan. Saya sangat mengharapkan adanya patner yang memiliki idiologi dan prinsip-prinsip alami yang bernuasa memajukan negara dan bangsa.” Jelas Kang Suganda.
“Sama, cita-cita bapak pun demikian, maka awalnya bapak berniat untuk mewujudkan cita cita itu akan di realisasikan di daerah bapak, tapi kendalanya demikian, terletak diparner, keberadaan parner yang sepemikaran sangat penting, untuk membentuk habitat yang diidam-idamkan, tanpa parner yang sepemikiran dan setujuan, segala rencana tidak akan berjalan. Menurut pengalaman bapak, asumsi atau persepsi mengenai kreteria pendidik yang berlaku sekarang, bukan terletak dari kualitas keilmuan, tetapi yang dilihat adalah terletak dari tamatnya seseorang menumpuh predikat sarjana atau lengkapnya birokrasi. Sehingga tuntutan dilapangan sangat ditekan atau dikondisikan. Akibatnya banyak hal-hal rancu yang tejadi di masyarakat, misalnya seseorang yang bertahun-tahun sekolah, tapi hasil sekolah nya itu sangat menyimpang dengan fakta kebutuhan hidup yang dihadapi oleh anak didik dikemudian hari. Hal ini disebabkan karena awalnya tidak ada klarifikasi tentang tujuan sekolah, dengan tuntutan hidup dikemudian hari. Nah kerancuan ini sayangnya tidak pernah menjadi perhatian untuk menjadi bahan evaluasi, akibatnya kita sangat sulit untuk melihat perjalanan prestasi anak bangsa yang menunjukan grafik kenaikan prentasi, dari tahun ketahun. Dari dulu sampai sekarang lulusan sekolah itu, orientasinya hanya mencari kerja, padahal pekerjan itu sebenarnya adalah akibat sekolah yang berpretasi, bukan akibat tamat sekolah. Dan persepsi prestasi sekolah itu, sayang baru diwakili anggaka rapot atau ijazah secara symbol, sedangkan secara objektif belum ada pengujian angka prestasi tersebut sesuai dengan tuntutan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu bagi bapak tidak menjadi masalah tempat dimanapun, yang penting bagi bapak bisa bergabung dengan orang-orang yang punya pemikiran yang sama, punya tujuan yang sama, agar bisa melangkah lebih jauh.” Papar Pak Dasim panjang lebar.
“Baiklah Pak Dasim saya sangat terkesima dengan jalan pemikiran bapak, dan saya pun sangat mengharapkan agar Pak Dasim bisa menjadi parner saya dalam mengelola Pendidikan” Sahut Kang Suganda, sambil mengulurkan tangan, yang langsung disambut oleh Pak Dasim.
“Terimakasih Kang Suganda” Sahut pak Dasim dengan muka yang cerah.
__ADS_1
Selanjutnya obrolanpun terus mengembang, membicarakan hal-hal lain. Sampai akhirnya Pak Dasim, Dipa, dan Jang Wiranta, memutuskan untuk menginap di rumahnya Kang Suganda.
Besoknya Pak Dasim dan Dipa, oleh Kang Suganda diajak untuk melihat-lihat lingkungan sekolah, Sementara Jang Wiranta segera minta ijin untuk pulang ketempatnya. Pak Dasim dan kang Suganda hampir tiap saat mengadakan perbincangan atau diskusi mengenai kesepakatan untuk membangun rencana kedepan. Kira-kira hampir satu bulan lamanya Pak Dasim dan Dipa tinggal di rumahnya Kang Suganda untuk membaca situasi. Akhirhirnya keduanya sepakat untuk tinggal beberapa waktu lagi,sampai akhirnya mereka bisa menemukan titik temu dan kesepakatan.