Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 13


__ADS_3

     Keduanya duduk istirahat melepaskan rasa lelah.


     “Nak, sisa makanan masih ada! Mari kita makan dulu.”  Ajak pak Dasim.


     “Iya pak.” Kata Dipa sambil mengeluarkan sisa makanan tadi dari dalam ransel yang ia gendong.


     Mereka tadi pagi sewaktu masih disekitar hutan, mereka mendapat angsa hutan dan seekor bajing, lumayan masih banyak sisanya untuk dimakan.


     “Nasinya habis?” Tanya pak Dasim.


     “Tinggal keraknya.” Sahut Dipa


     “Ya…lumayan.” Tukas pak Dasim.


     Pak Dasim segera menyalakan lilin, Setelah keadaan terang maka keduanya menyantap sisa makanan tadi. Setelah selesai pak Dasim kemudian memadamkan kembali lilin tersebut.


     Beberapa saat kemudian keduanya bersantai sejenak untuk menimbang-nimbang keadaan selanjutnya.


     "Pak, apakah kita menginap disini?”  kata Dipa.


     “Iya…tapi jangan menyalakan api dulu.”  Usul pak Dasim.


     Sedang asyik-asyiknya mereka beristirahat tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara menggelusur, Syut…krak gedebuk. Sosok tubuh terjatuh dari arah atas sambil diikuti oleh benda lain. Pak Dasim segera memburu kearah datangnya suara.


     “Apa itu?” Suara pak Dasim terpekik


     “Aduh, aduh tolong aku…aku…”

__ADS_1


     “Nak Dipa tolong nyalakan lagi lilin tadi!” Pinta pak Dasim.


     “Baik pak...” Sahut Dipa.


     Setelah lilin tadi menyala, dan sekitar itu terang, maka terlihat didepan pak Dasim nampak sosok tubuh yang berlumuran darah.


     “Aduhhh kenapah?”  Tanya pak Dasim kaget


     “Aku adalah salah seorang penambang emas di lubang tepi hutan. Aku mau pulang tapi orang yang saya ikuti tadi ternyata diantara mereka adalah perampok, maka aku lari, barang yang saya bawa saya lemparkan, tapi sebelum aku lari, mereka melemparku dengan sebuah pisau, maka aku jatuh kesini.”  Kata orang itu terbata-bata.        “Cepat… tinggalkan tempat ini takut mereka menyusul, biarkan aku disini.” Tambah orang itu.


     “Aku harus menolongmu!”  Kata pak Dasim, sambil melihat wajah orang itu.


     “Sudah-sudah jangan cemaskan aku, cepat pergi dan bawa karung ini, nanti kalian akan tahu isinya!”  Kata orang itu.


     Pak Dasim sebenarnya sangat tidak tega melihat seseorang yang berlumuran darah dengan sebilah pisau yang masih menancap di punggungnya.


     “Iya…ini pisau menancap di punggungku. Pak, pak… cepat bawa barang ini, dari pada barang-barang ini dibawa perampok lebih baik cepat bawa oleh bapak, manfaatkan barang-barang ini untuk keperluan bapak...”  Sela orang itu.


     “Aku sudah tidak tahan,cepat…pergi didalam karung itu ada sebuah peta, petunjuk penyimpanan sesuatu.” Ucap orang itu tidak lanjut nafas nya mendadak berat. Tiba-tiba suara berisik terdengar dari atas.


     “Cepa!cepat…pak” Perintah orang itu.


     “Aduh maaf bapak sebenarnya sangat tidak tega.” Keluh pak Dasim.


     “Sudah jangan membuang-buang waktu.” Kata orang itu lagi dengan suara yang dipaksakan.


     Akhirnya pak Dasim terpaksa meninggalkan orang itu dengan keadaan yang luka cukup parah.

__ADS_1


Pak Dasim segera beranjak meninggalkan tempat itu. Dan Dipa berjalan disampingnya mengikuti.


     “Cepat nak, asal kita bisa menjauh dulu!”  Ajak pak Dasim.


     “Baik pak…”  Sahut Dipa.


     Walaupun keadaan sangat gelap tapi keduanya bisa menelusuri tebing itu secara pelan-pelan. Untung di sekitar tebing rapat dengan berbagai tumbuhan dan semak-semak yang tinggi sehingga bisa dipakai perlindungan atau pegangan. Pak Dasim dan Dipa akhirnya bisa menjauh dari tempat tadi. Malam akhirnya berganti pagi. Pak Dasim dan Dipa akhirnya bisa melihat keadaan disekitarnya.


     “Waduhhh nak, kita berada di tebing yang curam apa yang harus kita lakukan?” Sahut pak Dasim.


     Dipa tidak menjawan tapi dia larak lirik kesana kemari. Pak Dasim dan Dipa sebelum terus melangkahkan kakinya dia mencoba untuk mengira-ngira jalan seterusnya. Pikiran pak Dasim berputar mencari jalan. Kemudian pak Dasim jongkok, sementara tangannya membuka karung yang ia bawa, didalam karung itu pak Dasim melihat


secarik kertas, dan setelah diperiksa ternyata itu adalah peta. Belum juga pak Dasim memeriksa peta itu tiba-tiba pak Dasim dikagetkan oleh suara Dipa yang terpekik.


     “Pak ini hasil tambang!”  Seru Dipa.


     Pak Dasim tidak menjawab, tapi dia terus mengamati peta yang ada di tangannya itu. Disamping peta itu ada tulisan, pohon tiga, tancap paku, Tarik paku, lubang jalan, ujung lubang, hasil panen. Terus dan terus kata-kata dalam peta itu. Demi melihat isi peta tersebut pak Dasim mengerutkan dahinya.


     “Ahhh tak mengerti.” Gerutu pak Dasim.


     Beberapa saat kemudian pak Dasim dan Dipa menemukan batang pohon yang berjejer tiga. Setelah melihat batang pohon tersebut pak Dasim menjadi penasaran, ia lalu mendekatinya. Dan setelah itu ia meneliti batang pohon itu satu-persatu. Tangan pak dasim segera meraba-raba batang pohon itu. Tiba-tiba pak Dasim menemukan tiga buah paku berjejer menancap dibatang pohon itu. Kemudian pak Dasim mernarik paku tersebut, tiba-tiba kulit kayu  batang pohon itu terkelupas. Ditubuh batang pohon ituh terlihat ada yang terselip, setelah diperiksa ternyata seutas tali plastik. Kemudian pak Dasim merarik tali tersebut, tiba-tiba semak disebelah batang pohon itu mendadak menganga.


     Pak Dasim jadi teringat petunjuk peta ituh, kemudian pak Dasim memeriksa mulut lubang sambil tetap memegang tali itu.


     “Nak Dipa cepat masuk!”


     “Baik pak.”  Sahut Dipa.

__ADS_1


     Pak Dasim segera mengikuti, ia pun masuk, tapi tali masih dipenggang, baru setelah badannya sudah ada didalam, tali itu segera dilepaskan, sehingga mendadak mulut lubang itu kembali menutup.


__ADS_2