Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 5


__ADS_3

     Pak Dasim dan Dipa, makan dengan lahapnya, maklum keduanya sangat lapar. Mereka dalam beberapa hari ini jarang makan dikarenakan suasana sangat kacau. Biasanya ketika keadaan tenang, mereka selalu rutin mendapat jatah makanan dari pengurus lubang, atau dari para penyumbang atau donatur, atau dari para pedagang keliling yang sengaja datang ketiap lubang.


     Ketika keduanya sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba suami teh Titin yaitu mang Kardi dan temannya datang. Awalnya mang Kardi sangat kaget, sebab malam-malam ada orang lain di rumahnya padahal keadaan sedang kacau. Namun setelah tau bahwa orang itu adalah mang Dasim maka terlihat wajah mang Kardi cerah.


     "Duh mang Dasim, sudah lama mang ?" Tanya mang Kardi


     "Baru saja.......eh maaf jang Kardi emang merepotkan, emang dan teman ini sangat lapar !" Ujar pak Dasim


     "Tidak apa-apa mang, tapi barangkali seadanya, maklum dalam beberapa hari ini kami tidak bisa berlanja, sebab keadaan sekarang sedang kacau di jalannya." jelas mang Kardi."


     "Ehh...kacau bagaimana jang Kardi ?" Tanya pak Dasim pura-pura tak mengerti.


     "Kacau mang, orang-orang pada menyangka bahwa lubang kami sudah cair. Ini semua, awalnya dari salah seorang pemulung menemukan hasil buangan yang mengandung emas, dan si pemulung itu kemungkinannya, menyebarluaskan berita yang belum tentu itu. Akibatnya banyak orang yang menuju kemari untuk meminta jatah, padahal belum apa-apa. itu fitnah !" Kesal mang Kardi.


     "Tapi jang, memang semua itu bohong saya tahu !" Kata mang Dasim.


     "Yahh makanya, mereka di suruh untuk membuktikannya sendiri. Lagi pula kenapa begini ? kan mau ada, mau engga, ini urusan lubang masing-masing, tidak harus ikut campur orang lain." jelas mang Kardi, dengan suara yang agak meninggi.


     "Iya jang Kardi, ini seperti ada yang mengkondisikan seperti ini." Terka pak Dasim.


     "Sepertinya begitu mang, tapi perlunya, kan kita semua sudah sepakat apabila satu lubang cair, maka lubang-lubang yang lain tidak akan mengadakan sikap iri atau bertindak macam-macam terhadap lubang yang cair itu." Jelas mang Kardi.


     "Iya jang betul ! keadaan serupa terjadi juga di lubang emang,sejak tadi malam sampai pagi terjadi keributan. Emang dan Dipa disangka menyembunyikan sesuatu." Ujar pak Dasim sambil mengambil gelas yang sudah berisi air, lalu diminumnya.

__ADS_1


     "Lalu bagaimana mang ?" Tanya mang Kardi penasaran.


     "Ya tentu saja, kami berdua membantah dan berusaha menjelaskan, bahwa semua itu tidaklah benar. Tapi mereka tidak percaya, malah mereka terus mendesak kami agar mau mengaku. dan salah seseorang diantara mereka mengancam emang. Untung hal itu keburu dilerai oleh seseorang anggota lubang yang merasa kasihan sama emang." Tutur pak Dasim.


     "Lantas selanjutnya bagaimana mang ?" Tanya teh Titin ikut mimbrun.


     "Ya, emang selanjutnya mengajak Dipa untuk kabur, sebab mereka terus-menerus mendesak, berkali-kali menganiaya sekalipun sekuat tenaga membela diri, berkali-kali emang dan Dipa bersumpah, bahwa kami tidak menyembunyikan apa-apa. Tapi tetap saja mereka tidak percaya, maka ketika segalanya masih sunyi, emang segera kabur kabur meninggalkan lubang. Dan ketika sudah agak jauh dari tempat itu emang dan Dipa ketahuaan, meraka berteriak mengejar kami. Untung hari masih malam, emang dan Dipa bisa menyelamatkan diri dengan melompat kebawah tebing pinggir salah satu lubang yang lain. Lumayan kami bisa sembunyi karena gelap. Kami berdua lama berdiam disitu, tidak bisa pergi kemana-mana karena takut jatuh ke bawah tebing. Namun ketika hari sudah agak terang, ketika kami akan berusaha untuk kabur tiba-tiba salahseorang mempergoki kami dan berteriak. Kami berusaha untuk tidak menghiraukan teriakan itu dan terus berlari. dan berhubung di sekitar itu sangat padat dan rimbun oleh semak-semak juga kerap oleh pohon-pohon tentu saja kami bisa leluasa menyelinap dan bersembunyi. Lagipula yang mengejar hanya dua orang, tentu saja mereka bisa dikelabui." Cerita pak dasim


     "Waduh mang, ada yang tidak beres !" Curiga mang Kardi.


     "Betul ! emang jadi bingung kenapa harus terperangkap dalam dunia seperti ini !" Keluh pak Dasim


     sesaat keduanya diam, dan pak Dasim dan Dipa sudah selesai makan.


     "ohh iya jang, si Ohim dan si Dade pada kemana sekarang, apakah mereka masih di sini ?" Tanya pak Dasim, dia baru ingat pada teman-temannya, terutama yang sekampung yaitu si Dade dan si Ohim.


     "Tidak tahu, sudah lama mereka tidak kelihatan, entah pergi kemana mereka." Ujar mang Kardi.


     "Waduh sayang." Guman pak Dasim sambil meneguk air yang masih tersisa.


     "Lantas rencana emang selanjutnya bagaimana ?" Tanya mang Kardi sambil menatap pak Dasim.


     Entah bagaimana hati mang Kardi merasa iba dan khawatir pada pak Dasim. Padahal setadinya kalau keadaan aman, dan lubang menjanjikan harapan, dia ingin sekali agar pak Dasim ikut di lubangnya.

__ADS_1


     "Jang, sebenarnya emang bingung tapi tiada pilihan lain kecuali emang ingin keluar dari daerah pertambangan ini. mudah-mudahan ujang bisa membantu emang." Harap pak Dasim.


     "Bisa saja mang, walaupun sulit !" kata mang Kardi sambil menatap tajam. "Dan juga apakah mamang punya bekal tidak ?" Tambah mang Kardi.


     "Wah jangankan bekal, makananpun tak punya, semua ini karena terpaksa, terdorong oleh perasaan kesal dan kecewa. Mengapa semua ini harus terjadi." Keluh pak Dasim.


     "Sabar mang sebenarnya saya juga sama, tapi kalau kita ceroboh kita bisa mati konyol, sayapun dengan istri sebenarnya ingin meningalkan tempat ini karena sudah sangat tipis harapan untuk mencapai apa-apa yang dulu di angan-angankan, ingin kaya, ingin punya rumah, mobil. Wah itu hanya angan-angan kosong yang menyiksa." Papar mang Kardi.


     Mendengar penjelasan mang Kardi, pak Dasim terdiam, pikirannya tambah bingung.


     "Jadi gimana ya jang ?" Ucap Pak Dasim.


     "Begini saja mang, saya punya sedikit bekal yang bisa diberikan kepada emang, supaya emang bisa keluar dari tempat ini." Tawar mang Kardi. "Tapi sebenarnya saya merasa khawatir dan tidak tega melihat keadaan emang ini. Ini bukan perjalanan biasa mang, tapi ini adalah perjalanan luarbiasa, ini adalah perjalanan hidup dan mati mang. Karena emang berhari-hari, minggu bahkan bulan harus menembus hutan belantara hidup di tengah rimba yang penuh dengan ancaman, baik dari hewan buas atau orang-orang liar." Ujar mang Kardi.


     "Betul jang Kardi, kalau di perhitungkan kesana nampaknya akan sangat riskan atau membatalkan niat. Tapi sekali lagi, emang sudah nekad, ingin keluar dari daerah ini." Tegas pak Dasim bulat pada niatnya.


     "Ya kalau begitu saya hanya bisa berdoa semoga perjalanan emang selamat. Saya juga tahu beberapa pengalaman yang terjadi pada orang-orang, bisa diharapkan sebagai pelajaran. orang-orang yang bekerja di luar negeri saja bisa kabur lewat hutan, mereka kabur karena di ancam hukuman, mereka dianggap pekerja ilegal. nah menurut cerita, akhirnya mereka sampai juga di kampung halamanya. Nah mamang juga nekad saja, tapi harus ada perbekalan, nanti akan saya siapkan." Tukas mang Kardi.


     "Aduh terimakasih jang." Sahut pak Dasim dengan perasaan gembira.


     "Emang harus Bawa beberapa bungkus korek api untuk memasak, bawa pisau dan golok untuk berburu, panci kecil untuk memasak dan lain-lain, semua itu akan saya siapkan, termasuk beberapa liter beras." Ucap mang Kardi memberi harapan.


     Mendengar tawaran dan ide mang Kardi, pak Dasim mendadak gembira, harapannya mendadak timbul kembali.

__ADS_1


__ADS_2