
Sementaara keadaa hening sejanak. Dan tiba-tiba dari arah dalam, istri Pak Danu datang sambil membawa baki yang penuh dengan hidangan.
"Air nya bu.” Kata Pak Danu pada istrinya.
"Iah sebentar, lagi dipanaskan dulu." Sahut istri Pak Danu.
Sebentar kemudian istri Mang Danu sudah kembali sambil membawa gelas yang berisi air.
"Sok Jang Dipa, seadanya maklum di kampung." Ucap Pak Danu mempersilahkan tamunya untuk mencicipi makanan yang dihidangkannya.
"Iya terimakasih Pak, ini sudah lebih dari cukup." Tukas Dipa, sambil meraih gelas yang berisi air, kemudian ia meminumnya perlahan.
Setelah merasa puas mengobrol kesana kemari, Dipa segera permisi pada Pak Danu untuk pulang. Dipa segera bergegas menuju rumahnya. Setibanya dirumah, Pak Dasim sudah ada dirumah. Dan ketika Dipa menghampiri Pak
Dasim yang sedang memasak di dapur.
"Pak Dasim sedang masak apa?" Tanya Dipa.
"Ini Wiranta memberi ikan banyak sekali, kita goreng saja." Tukas Pak Dasim. Sambil membalikan goreng ikan yang ada dipenggorengan. "Sudah dari rumah kang Danu? Tadinya bapak mau menyusul kesana, tapi tidak jadi karena, keburu ngurus ikan dulu." Tambahnya.
"Pak, itu kolam perlu ditambah lagi bibitnya, saya tadi lupa, tadinya mau memesan bibit ikan dari tetangganya Pak Danu, sebab kelihatan kolamnya sangat luas."
“Tadi Wiranta bilang katanya besok, dia akan memesan bibit ikan dan beberapa pasang ayam kampung untuk dipelihara.” Tukas Pak Dasim “Ayo makan dulu saja, Tapi nasinya, nasi yang tadi pagi.” Kata Pak Dasim lagi.
Tanpa panjang pikir lagi dipa segera mengambil piring lalu makan duduk disamping pak Dasim di atas tikar.
"Kita sangat bersyukur pada tuhan karena keadaan kita sekarang benar-benar sudah lolos, dan berada dilingkungan orang orang yang sangat bersahabat." Kata Pak Dasim.
"Betul Pak Dasim, padahal saat di lubang kita sangat tipis harapan, untuk bisa keluar dari situasi yang sangat mencekam lagi berbahaya.” Tukas Dipa.
__ADS_1
"Nak Dipa, Bapak tidak menyangka kalau uang dari hasil bekerja ditambang Mang Kardi sangatlah besar, belum lagi dengan barang-barang yang masih belum kita jual.” Ujar Pak Dasim.
“Yah itu terserah bapak penggunaanya.” Ujuar Dipa
“Tentu untuk kepentingan mu nanti bila pada waktunya kamu akan menikah” Kata Pak Dasim. Sambil berdiri, hendak mengambil nasi kedapur.
“Tapi utamakan juga untuk biaya pengembangan pendidikan!” Sahut Dipa.
“Ya jangan khawatir.” Tukas Pak Dasim.
Besoknya Pak Dasim seperti biasa mengajar anak-anak usia belasan tahun. Terdiri dari dua grup. Sementara Dipa datang ke tempat itu hanya untuk menitipkan pekerjaanny pada anak-anak yang biasa membantunya. Kemudian ia kembali kerumah. Setibanya di rumah, Wiranta sedang menunggu dibale-bale depan rumah.
“Sudah lama Kang Wiranta?” Tanya Dipa sambil mengulurkan tangan.
“Ah lumayan, apakah sedang sibuk?” Tanya Wiranta.
“Oh ya Dipa, untuk ikan lele bagaimana, apakah mau mendadak membuat dulu kolamnya?” Tanya Wiranta.
“Apakah ada orangnya yang mau bekerja?” Kata Dipa.
“Oh tentu, asal sudah ada kepastian, soal orangnya bisa dipanggil sekarang.” Tukas Wiranta.
“Baik panggil saja sekarang. Kita buat kolam disebelahnya.” Kata Dipa. “Dan sekalian bawa saja benihnya, baik ikan mas, atau ikan lelenya.” Tukas Dipa.
“Baik!” Sahut Wiranta sambil berlalu.
Wiranta segera berangkat untuk menemui orang yang akan dipekerjakan membuat kolam. Sedangkan sambil menunggu Wiranta, Dipa segera mengira-ngira denah kolam yang akan dibuatnya. Dipa sangat bersyukur bahwa didaerah itu sangat subur airnya, sehingga ia tidak kesulitan untuk mengairi kolamnya. Rencananya dipinggir kolam nanti akan ditanami oleh tanaman palawija dan obat-obatan. Ditengah kekhusuan Dipa bekerja, hatinya terus begejolak. Dalam hati Dipa ia berkata kata, alangkah baiknya jika para pemuda atau generasi bisa dipandang seperti tanaman, artinya bisa hidup dihabitatnya, bisa membina dan menemukan jati dirinya, ini mungkin yang disebut dunia harapan oleh Pak Dasim, tumbuh dengan kharakter hasil didikan, bukan tumbuh karena liar atau tumbuh terlantar. Kapan masyarakat akan menyadari budaya ini, yaitu budaya membina generasi, Kita baru mendengar kata-kata membina generasi, belum melihat membina generasi. Ada sesuatu yang tak pernah diperhatikan tentang generasi. Satu, orang tua generasi, kebanyakan para pemuda mengakui sisi orang tua, hanya dari sisi genetik, sedangkan memandang orang tua dari sisi idiologi sangat jarang, adapun jumlah perbandingannya sangat tidak seimbang, sehingga keberadaannya tidak bisa mewarnai habitat suatu wilayah. Yang kedua, kebanyakan dari generasi lupa, bahwa negara ini punya pahlawan, kebanyakan generasi mengenal pahlawan hanya dari sisa tulisan sejarah secara turun-temurun, sedangkan hakikat adanya sejarah dipandang dari sisi idiologi, sama sekali tidak pernah diperhatikan. Sejarah hanya dikenal sebagai pelajaran pengisi waktu saja. Disisi lain yang kaitannya dengan generasi itu adalah orang tua atau tokoh, kebanyakan orang tua atau para tokoh menganggap generasi itu hanya sebagai fenomena saja, Jarang yang paham bahwa yang mempengaruhi baik buruk generasi tersebut dikemudian hari adalah faktor momentum tertentu. Generasi yang sekarang kehilangan dua momentum, momentum pertama, kehilangan panutan ditempat, atau dilingkungan ia menimba ilmu. Yang kedua mereka kehilangan momentum panutan diluar rumah dan lingkungan Pendidikan.
Tiba-tiba konsentrasi pikiran Dipa mendadak buyar terganggu oleh suara langkah-langkah kaki yang mengarah kearahnya. Kemudian Dipa segera menghampiri, setelah tahu yang datang itu Wiranta.
__ADS_1
“Kang Wiranta sudah datang, gimana?” Tanya Dipa.
“Ini saya bawa dua orang yang akan bekerja membuat kolam, dan sekaligus saya bawa pesanan Dipa, yaitu bibit ikan mas dan bibit ikat lele.” Kata Wiranta sambil melirik pada teman-temannya yang masing-masing memikul dua buah plastik besar berisi bibit ikan.
"Bagus mana rinciannya” Pinta Dipa.
“Ohh iya baiklah” kata Wiranta sambil merogoh saku bajunya. Kemudian ia memberikan secarik kertas yang dimaksud.
“Kang Wiranta, perhitungannya nanti saja setelah semuanya selesai.” Ujar Dipa.
“iya Dipa tenang saja.“ Tukas Wiranta.
“Kang Wiranta mulai saja itu denah yang sudah dibuat. Saya ada perlu Dulu.” Kata Dipa.
“Baiklah!” Angguk Wiranta.
Kemudian Wiranta dan teman-temannya segera memulai pekerjaan mereka. Dan Wiranta segera memberi arahan pada mereka tentang bentuk dan sosok kolam yang dimaksud. Dan mereka tidak sulit memahami semua itu. Sebentar kemudian mereka sudah mulai bisa bekerja. Sebelum dzuhur, Dipa datang membawa rantang berisi nasi, komplit dengan piring dan gelas juga teko yang berisi air.
“Ayo kita makan dulu.” Kata Dipa.
Dipa segera berlalu. Dan beberapa saat kemuadian setelah segalanya beres lalu Wiranta dan teman-temanya kembali bekerja. Dan ketika pekerjaan mereka selesai, sudah hampir mendekati waktu magrib. Maka setelah itu Dipa membayar ongkos kerja dan harga bibit ikan pesanannya.
Tahap pertama impian pak Dasim dan Dipa untuk bisa hidup secara wajar, rupanya sudah bisa terlaksana. Khususnya bagi Pak Dasim ini merupan momentum yang sangat bersejarah. Dia kini sudah tak perlu lagi bepetualang. Baginya sudah cukup kenyang, mengalami penderitaa hidup yang sangat berat, dan terus dialaminya sampai umurnya sekarang. Bukan apa-apa, dirinya juga mempunyai tanggung jawab dan kewajiban yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Juga kini ia tak perlu lagi mengemis-ngemis untuk mendapat simpati orang-orang, agar mau
mendukung perjuanganya. Kini sagalanya seperti sebuah tempat gelap, yang mendadak mendapat seberkas cahaya matahari.
Lebih-lebih ketika Pak Dasim menyaksikan pekarangan rumah dibelakanganya, sebuah pemandangan yang sangat
membuat hatinya terharu, kolam-kolam dan hewan peliharaan nampak menghiasi tempat itu. Tak terasa disudut kelopak matanya ada sesuatu yang mengalir menulusuri pipinya.
__ADS_1