Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 28


__ADS_3

Waktu itu, adzan dzuhur berkumandang, suaranya bergema menembus angkasa, langit cerah tiada noda, diiringi derunya suara angin yang menghempas, lepas menandingi segalanya yang ada. Bersamaanv dengan itu, suara anak-anak sekolah, yang baru saja bubaran, terdengar gaduh dan ramai di sekitar halaman SD. An-Nur Kampung Bahari.


“Toyo, Toyo, tunggu……!” Teriak Penta salah seorang murid kelas enam, yang tubuhnya tinggi besar, kalau yang tidak tahu, siapa sangka bahwa dia masih SD. “Tunggu!” Teriaknya lagi sambil berlari mengejar si Toyo.


Yang di sebut Si Toyo seraya menghentikan langkahnya. Begitu juga teman-temannya yang ada disampingnya. Si Toyo menoleh kebelakang, memburu kearah datangnya suara.


“Ada apa pen?” Tanya Toyo, setelah Penta ada di depanya.


“Aku kemarin ketemu dengan anak-anak kampung utara, mereka mengajak bertanding sepak bola, apa kita layani tantangan mereka?” Ujar Penta.


“Kapan katanya?” Tanya Toyo datar.


“Tergantung kasanggupan kita” Tukas Penta.


“Kalau persipan dulu, saya kami siap, tapi kalau mendadak kita ogah karena mereka jago-jago.” Papar Toyo


“Jadi kapan kita sanggupnya?” Tanya Penta, matanya menatap wajah toyo.


“Kalau minggu depan kita siap tapi kalau minggu sekarang, nampaknya kita kurang siap.” Jelas Penta.


“Apa orangnya kelas enam kebawah, atau ada anak-anak SMP?” Tiba-tiba Si Bating nimbrung.


“Campur katanya, tapi Cuma kelas satu saja.” Jelas Penta.


“Yah, siap kalau begitu, Cuma sampaikan saja dulu, bahwa kesiapan kita minggu depan.” Tukas Toyo


“Baiklah.“ Tukas Penta sambil membalikan badannya hendak berlalu.


Si Toyo dan kawan-kawan akhirnya segera melanjutkan Kembali perjalanannya. Mereka nampak sibuk membicarakan kabar yang barusan yang diterima dari Penta. Toyo adalah salah seorang anak yang tempo hari ikut acara masak dengan teman-teman anak-anak SMP. Toyo salah satunya, dari anak-anak yang berkumpul saat itu, waktu mereka mengadakan acara masak-masak. Makanya Toyo mulai saat itulah dia kenal dengan Dipa, dan mulai saat itulah Toyo sangat mengagumi kang Dipa, malah nanti setelah istirahat solat dan makan siang, Toyo dan teman-temannya akan menemui Dipa. Kebetulan waktu itu Dipa sudah pulang dari tempat kerjaannya, di saat-saat waktu seperti itu, dia sudah pasti ada dirumah, pasalnya dia harus masak menyiapkan makanan untuk nanti, bila Pak Dasim pulang kerja. Dan ketika Dipa, sedang asyik-asyiknya bekerja, mendadak terperangah, ketika melihat rombongan anak anak seperti akan menuju ke tempatnya, itu terlihat dari dalam dapur. Dan betul saja, akhirnya setelah beberapa saat kemudian rombongan anak-anak itu, tahu-tahu sudah berada didepan pintu dapur, kemudian Toyo mengucapkan salam yang kemudian dibalas oleh Dipa. Selanjutnya Toyo menceritakan maksudnya, bahwa ia ingin minta pendapat Dipa, sehubungan dengan adanya tantangan bertanding sepak bola dengan kampung tengga. Mendengar itu, Dipa menyambutnya dan berusaha memberikan semangat.


“Kapan Yo itu waktunya.” Tanya Dipa pada Toyo.


“Maunya, minggu depan supaya ada persiapan!“ Seru Toyo, berharap.

__ADS_1


“Bagus itu.” Tukas Dipa dengan wajah yang menunjukan kegembiraan.” Kalau minggu depan kemungkinannya Kang Dipa, bisa menonton, tapi kalau minggu sekarang Kang Dipa tidak bisa, karena kang Dipa ada keperluan.” Tambah Dipa


“Hore!!!” sorak anak-anak serempak.


Lalu Dipa memberikan nasehat-sehat dan kata-kata penyemangat. Kata Dipa, kita harus serius dalam segala hal. Kenapa kita harus serius, tanpa keseriusan, tidak akan ada semanagat. Tanpa semangat, tak ada kekuatan, tanpa kekuatan, tak akan nada kebutuhan. Makanya dalam hidup ini tidak ada yang tidak serius, semuanya harus serius, hanya dalam menjalankan keseriusan itu, kita harus jeli jangan sampai keseriusan diartikan harus tegang dan kaku, tegang dan kaku bukan serius, tapi adalah kelemahan. Makanya segala sesuatu juga harus tepat momentumnya, Supaya bisa mempertanggung jawabkannya.


“Kang Dipa mau melatih kami.” Pinta anak-anak.


“Sebenarnya mau, tapi Kang Dipa, bingung membagi waktunya.” Tukas Dipa “Tapi bagaimana nanti saja, yang penting sekarang kalian tegaskan lagi, kapan waktunya.” Tambah Dipa.


Mendengar hal itu anak-anak, nampak puas. Dan setelah segalanya, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, maka anak-anak segera minta ijin pada Dipa, untuk pulang. Menjelang ashar, Dipa sudah selesai memasak, dan selanjutnya ia bersiap-siap untuk ke masjid. Pulang dari masjid, tiba-tiba Dipa ada pikiran ingin kerumah Herna untuk menjemput, ada sesuatu yang ingin diobrolkannya. Untuk itu, Dipa segera bergegas, menuju rumah Herna.


Belum juga sampai, di tengah jalan, Dipa melihat Herna sedang digoda oleh Si Dodi, Dipa segera menghampiri. Dan setibanya didepan Herna Dipa langsung saja menyampaikan sesuatu. Setelah sebelumnya mengucapkan salam, yang kemudian dijawab oleh Herna.


“Kang Dipa kebetulan Herna ada perlu, sebaiknya kita ngobrolnya disana, sambil mengajar ana-anak.” Kata Herna sambil menatap.


“Baik kang Dipa juga ada perlu, sama dik Herna, anu menyampaikan pesan kang Wiranta bahwa hari minggu sekarang ingin main kepantai Bersama dik Herna” Kata Dipa.


“Ohya aku siap ikut” Kata Herna kegirangan.


Mendengar kata-kata Si Dodi demikian, Dipa dan Herna mendadak diam, tapi kemudian Dipa membolehkan. Cuman dalam hati Dipa aneh juga Si Dodi ini, kok seperti tak bosan-bosannya ingin mendekati Herna. Melihat sikap Dipa yang demikian Si Dodi pun tertawa, dan kemudian ia berlalu.


“Kang Dipa nanti Bada maghrib ayah Herna ada perlu, katanya ada yang mesti dibicarakan.” Kata Herna.


“Baik Dik, nanti Kang Dipa kesana! Sekarang Kang Dipa permisi dulu” Kata Dipa sambil mgucapkan Salam.


Dan Herna memjawabnya. Sementara Dipa terus berlalu. Bada magharib sesuai kata-kata Herna tadi bahwa Dipa harus menemui ayahnya Herna. Untuk itu Ketika Dipa selesai sholat, maka Dipa Segera menuju rumahnya Herna. Setibanya dirumah Herna, Pak Danu langsung saja mengajak Dipa berbincang-bincang. Pak Danu katanya sudah ngobrol dengan Pak Dasim bahwa kalau disepakati oleh Dipa, katanya bulan rayagung nanti, kira-kira beberapa bulan lagi, akan dilaksanakan pernikahan dirinya dengan Herna. Bagi Dipa tidak jadi masalah, yang penting semuanya bisa dilaksakan sesuai dengan rencana.


“Bagi saya tidak keberatan Pak, senang saja yang ada.”  kata Dipa setuju.


“Iya tidak usah dilama-lama lagi!” Kata Pak Danu.


Selanjutnya Pak Danu memanggil Herna, dan setelah Herna ada didepannya, Pak Danu, ayah Herna kemudian menjelaskan bahwa Dipa sudah menyetujui. Setelah cukup berkata kata seperlunya, Pak Danu segera berlalu meninggalkan keduanya. Dipa dan Herna akhirnya terlibat perbincangan rencana pernikahannya. Katanya bila nanti ditakdirkan pesta pernikannya, akan dilaksakan secara sederhan yang penting resmi menurut agama dan negara. Dan juga dalam kesempatan itu dibahas pula tentang prinsip-prinsip mereka menikah. Dan hal ini pun seperti yang sudah-sudah, telah disepakati keduanya. Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya Dipa Meminta ijin untuk pulang.

__ADS_1


Dan setibanya dirumah, Dipa tanpa menunda-nunda lagi, semua yang telah dibicarakan dengan Pak Danu, malam itu juga langsung diceritakan pada Pak Dasim. Tentu saja Pak Dasim merasa gembira sekali mendengarnya. Setelah ngobrol dengan Pak Dasim selanjutnya Dipa segera kedapur untuk makan.


Besoknya Dipa, sengaja menjemput Herna, diperjalanan. Kebetulan saat itu Herna baru saja selesai melakukan pekerjaanya. Dan Ketika, keduanya bertemu, Herna belum seberapa jauh berjalan dari sekolahannya.


Setibanya dirumah mereka, Dipa dan Herna ngobrol di teras rumahnya.


“Eh kang Dipa ngomomg-ngomong, Herna punya makanan favorit untuk Kang Dipa, Ulen ketan , nah sekarang kita goreng yuk, ibu sengaja membuatnya untuk Kang Dipa, katanya untuk calon mantu “ Kata Herna sambil tertawa kecil.


“Terimakasih!” Kata Dipa sambil balas tertawa.


“Yu kita kedapur.” Ajak Herna.


“Ibu ada.” Tanya Dipa


“Ada biasa lagi masak, kalau ayah biasa di tempat kerjaan. Lumayan pesanan kerupuknya banyak.” Kata Herna.


“syukurlah.” Ujar Dipa ikut gembira.


Ketika Dipa sedang asyiknya di dapur Bersama Herna, tiba-tiba Dipa mendengar suara salam yang di ucapkan oleh


anak-anak yang biasa. Kemudian Dipa segera memburunya. Benar saja setelah Dipa sampai di ruang depan, tiba-tiba anak-anak sudah pada kumpul, tujuan anak-anak menemui Dipa, tiada lain ingin menyampaikan, bahwal waktu pertandingan, akan dilaksanakan minggu depan. Maka selanjutnaya Dipa menyuruh mereka, untuk hadir dirumahnya bada dzuhur besok.


Akhirnya, setelah pasti demikian anak-anak pun segera meninggalkan rumahnya Herna. Sementara Dipa, ia pun segera Kembali ke Dapur menemui Herna.


“Ada apa Kang Dipa, anak-anak?” Tanya Herna.


“Anu memberitahukan bahwa jadwal pertanding, dilaksakan minggu depan!” Kata Dipa


“Kalau begitu asyik Herna bisa nonton!” Sahut Herna Gembira.


“Ya tentu” Tukas Dipa.


Setelah selesai mengoreng ketan, kemudian Herna segera membuat sambelnya. Dan setelah selesai semuanya, baru keduanya Kembali kedepan.

__ADS_1


Mereka kemudian ngobrol, kesana kemari, dan kadang-kadang diselingi canda tawa. Sampai watu dzuhur, Dipa segera permisi untuk pulang. Sepulangnya dari rumah Herna, Dipa langsaung saja menuju masjid. Dan sepulangnya dari Masjid, Dipa seperti biasa pulang untuk masak menyediakan makanan untuk mereka nanti. Setelah beres masak, menanak nasi, Dipa segera bergegas, menuju kolam dan kendang ayam yang ada disebelah ruangan dapur itu, di pekarangan belakang. Dipa selanjut mencari cacing sekitar kandang ayam, yang kebetulan tanah sekitar itu lembab, niatnya jelas dia akan macing. Ikan nya masih cukup banyak. Walaupun Dipa berniat akan menambah lagi ikan-ikan yang ukurannya besar, sambil menunggu bibit kecil menjadi besar. Beberapa saat kemudian, Dipa memancing, terlihat beberapa ikan sudah didapat. Dan untuk selanjutnya ikan-ikan tersebut segera digoreng yang sebelumnya ia bersihkan terlebih dulu.


__ADS_2