
Dari hasil perhelatan Bang Edi ke pesantren An-Nur yang dinaungi oleh yayasan Generasi Bangsa, Bagi pak Dasim adalah sebuah silaturahmi yang bermakna impian, karena ia sangat mendambakan sebanyak-banyaknya kawan, agar mimpi-mimpinya bisa menjadi kenyataan. Walaupun ia belum yakin apakah Bang Edi bisa memahami apa- apa yang dijelaskan atau memahami apa-apa yang dilihatnya. Tapi bagaimana nanti saja, yang penting menurut Pak Dasim kami semua telah berusaha memperlihatkan niat baik, adapun diterima atau tidak itu bukan urusan kita. Hari berikutnya Bang Edi mencoba menela'ah sampai sejauh mana penerapan pendidikan di yayasan itu dan pengaruhnya terhadap anak. Bang Edi sengaja memperhatikan anak-anak dari berbagai keadaan, waktu ketika anak-anak itu sedang bermain, Bang Edi tidak luput untuk memperhatikan mereka dalam segi apa saja, misalnya dalam segi bahasanya. Atau dimana saja mereka berada semuanya tidak luput dari pengawasan Bang Edi. Sehingga pada suatu ketika beberapa anak sengaja dibawa bicara, hal ini dimaksudkan, Bang Edi ingin tahu benar bagaimana kualitas anak-anak tersebut. Dari pengalaman ini Bang Edi punya kesimpulan bahwa kualitas yang ada dilapangan pada dasarnya adalah sebuah cerminan, dari proses sebelumnya.
__ADS_1
Ketika Bang Edi memutuskan untuk pulang, Bang Edi sangat ingin mempraktekan metode yang ada di yayasan ini untuk diterapkan di kampung istrinya, namun kata Bang Edi perlu ada orang berilmu pengetahuan seperti Dipa atau Pak Dasim, atau dirinya harus terlebih dahulu belajar di pesantren mengikuti pelatiha. khusus dari Pak Dasim, pilihan terakhir tidak mungkin, yang menjadi masalah adalah disamping jarak yang jauh, juga dirinya punya tanggung jawab. Bang Edi berpikir apakah bila pada suatu saat, ingin meminta bantuan Dipa, kira-kira apakah Dipa mau. Sekali lagi Bang Edi punya keyakinan dengan metode yang diterapkan di Yayasan Generasi Bangsa, lulusan dari lembaga ini, besar kemungkinannya akan bisa menetukan pilihan sikap, karena yang diajarkan disini adalah ilmu pengetahuan. Dan ketika Dipa diajak bicara tentang hal ini, Dipa berniat untuk membantu setelah selesai pernikahannya. Malah kata Bang Edi bawa saja istrinya kesana. Dipa hanya mengatakan mudah-mudah, jika seandainya tuhan mengizinkan.
__ADS_1
Ketika Bang Edi pulang, Wiranta yang masih belum pulang, ia sengaja mengantarkan Bang Edi. Bang Edi diantarkan oleh Wiranta pakai kendaraan yang waktu itu dipakai oleh Dipa ketika mengantarkan Herna. Sepulangnya wiranta, Dipa meminta agar Wiranta untuk waktu-waktu ini sebaiknya tinggal di Kampung Bahari saja, mengingat pentingnya orang untuk membantu pekerjaan dalam pelaksanaan pernikahan. Memang Wiranta sudah berniat seperti itu, makanya ia tidak langsung pulang. Acara pernikahan Herna dan Dipa, tepatnya satu minggu lagi. Suasana disekitar rumah Herna mendadak ramai banyak anak-anak yang ramai bermain. Dan ketika malam tiba dari magrib sampai isya masih ramai karena di rumah Herna penerangannya cukup, beberapa patromak sengaja dinyalakan, baik didalam ruangan maupun dihalaman. Seiring waktu berjalan, malampun merayap menggapai senyap. Sehingga walaupun tak tega, namun apadaya sangkantuk datang menjelma, sehingga akhirnya tubuh terkulai tak berdaya. Malam dalam keadaan sunyi senyap, disekitar bangunan pondok pesantren, ada beberapa bayangan melintas, dan mengendap-endap, tapi belum juga banyak berbuat, tiba-tiba terdengar suara kentungan yang dibunyikan serempak. Tentu saja bayangan-bayangan orang tadi kaget, apalagi ketika warga setempat sudah mengepungnya. Suara teriakan maling menggema dimana-mana. Tapi ketiga orang tadi sepertinya tidak gentar, buktinya mereka melawan dengan sengitnya. Kepungan para ronda yang ditambah warga yang mendadak terbangun, tak menjadikan para tamu tak diundang itu ketakutan, malah yang terjadi sebaliknya. Para ronda dan orang-orang yang mengepungnya dibuat berantakan, mereka malah menjadi korban serangan para tamu tak diundang itu. Untung keadaan demikian, salah seorang yang tadi disuruh menghubungi Wiranta dan Dipa kini sudah datang. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Wiranta dan Dipa langsung memburu musuh-musuhnya. Wiranta menghadapi musuh yang satunya , sementara Dipa langsung menghadapi dua musuh yang mengeroyoknya. Dipa sadar menghadapi dua musuh sekaligus, adalah sebuah pekerjaan yang bukan enteng, tapi ini sebuah pekerjaan yang harus dihadapi dengan serius dan penuh kehati-hatian. Karena tak semata-mata mereka melakukan keonaran ditempat orang lain, berani berbuat ulah menantang orang banyak, kalau tidak dibarengi dengan kesanggupan. Makanya berpikir demikian, Dipa langsung saja menggunakan segenap kemampuannya dengan sepenuh hati. Betul saja lawan-lawan yang sedang dihadapi oleh Dipa tersebut, adalah lawan-lawan yang sangat menguasai ilmu beladiri. Buktinya mereka dalam melakukan serangan menggunakan gerakan atau jurus- jurus serangan yang tidak diasingkan lagi kehebatannya. Hal itu terbukti untuk beberapa langkah, nampak Dipa harus sibuk melakukan gerakan-gerakan membendung. Untung bagi Dipa yang sebelumnya telah mengalami penempaan yang luar biasa dari guru misteriusnya, sehingga ketika sekarang harus dihadapkan pada keadaan seperti ini, Dipa sudah tidak gugup lagi. Secepat-cepatnya serangan lawan bagi Dipa sudah tidak bingung lagi, Ia pernah dilatih bentuk konsentrasi tingkat tinggi yang disebut kedap raga. Gerakan itu sengaja untuk dihadapkan pada gerakan serangan lawan yang bertubi-tubi. Sehingga walaupun lawan Dipa dua orang dengan serangan-serangan yang cepat dan kuat, tapi sedikit pun badan Dipa tidak bisa disentuhnya. Malah sebaliknya ketika mereka, si para penyerang, kondisinya agak lengah, karena terlalu asyik menyerang, Dipa segera mengambil manfaat dari hasil latihan gerak kendang jaipongan dan ketuk tilu, gerakan-gerakan yang dihasilkan, adalah gerakan spontan dan kuat, badan Dipa ketika diserang, menghilang, tapi ketika menyerang sulit dibendung dan sulit untuk ditahan. Sehingga ketika kombinasi gerakan tangan dan kaki menyerang silih berganti, dua lawan itu mendadak kerepotan. Dua kaki Dipa yang menyerang sasaran dada-dada lawan, sementara kedua tangannya yang seolah-olah di umpamakan seperti nada, irama suara kendang pada jaipongan dan ketuk tilu, maka bentuk gerakannya cepat bertubi-tubi, seperti halnya suara kendang yang terdengar bertalu-talu. Sehingga ketika lawan-lawannya mendapat serangan yang demikian, seketika itu juga kedua lawan-lawannya terjungkal, karena mendapat serangan balik yang tiba-tiba. Tapi namanya petarung yang sudah aral melintang dalam dunia perkelahian, tentunya tidak akan semudah itu dikalahkan, kekalahan bagi mereka, sangat mahal. Seperti saat itu, kedua lawan Dipa setelah kembali berdiri dan membangun kuda-kudanya, mereka segera mengarahkan tenaga dalamnya. Dan seterusnya lewat tenaga simpanan yang disimpan di kaki, badan keduanya segera melesat, kedua tangan mereka menyerang, kadang-kadang bentuknya seperti cakaran, kadang kadang seperti gitikan atau suatu waktu seperti gerakan tinju, semuanya mengancam sasaran. Dan hal itu datang dari dua arah, kiri kanan depan belakang. Sebagai jawabannya Dipa segera melakukan gerakan seperti tadi yaitu gerakan kedapraga yang dikombinasikan dengan gerakan suara kendang bertalu talu, yang diselingi gerakan menghindar atau nenangkis. Dipa teringat pada momen latihannya, dimana ia harus memukul tiga tumpuk bata merah, ia harus memotong sehelai daun dengan tangan. Kedua bentuk latihan tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan, misalnya untuk latihan memukul tiga tumpuk bata merah, dia tidak saja mengandalkan hasil latihan fisik selama berminggu - minggu, tapi ia juga mengandalkan kekuatan tenaga dalam yang sebelumnya dilatih. Ketika ia memukul batu bata. Tiga hasil yang harus dicapai, hancur semua, hancur yang tengah, atau hancur yang paling bawah. Sementar untuk memotong daun dengan tangan, Dipa hampir sepenuhnya mengandalkan pada imajinasi alam.
__ADS_1
Sementara Wiranta, yang kini sedang menghadapi lawan, awalnya untuk beberapa saat kelihatan imbang, namun untuk langkah selanjutnya, kelihatan Wiranta terdesak, Wiranta kalah level dibanding lawannya. Sehingga pada suatu kesempatan, lawan Wiranta berhasil memasukan beberapa serangan baik dengan tangan maupun serangan kaki. Akibatnya Wiranta mau tidak mau harus menerima resikonya. Badan Wiranta seketika jatuh dengan suara jeritan. Melihat keadaan sahabatnya yang demikian, Dipa segera mengambil sikap membuat keputusan, Dipa dengan posisi gerakan bulan bandawasa tingkat pamungkas. Badan Dipa segera melesat kearah lawan yang hendak menggempur badan Wiranta. Dan sebelum badan Wiranta menjadi korban serangan lawan, ternyata tubuh lawan yang menjadi korban duluan. Dan ketika tubuh lawan Dipa, memburu kearahnya, dua tangan Dipa segera menyambutnya. Maka tak ayal lagi kedua tubuh lawan Dipa mendadak terpental. Sadar lawannya sulit untuk dikalahkan, maka ketika mereka mendapatkan kesempatan, lawan-lawan Dipa segera mengambil langkah seribu. Warga dan yang tadi bertugas sebagai ronda segera mengejarnya, tapi segera dicegah oleh Dipa. Sebab akan sangat berbahaya, walaupun jumlah warga banyak dan mereka hanya bertiga, tapi mereka tidak akan mampu melawan para penjahat itu. Wiranta,Dipa dan orang-orang yang ada disana segera berkumpul didepan pesantren. Dan tidak beberap lama Kang Suganda Datang memberi pengarahan bahwa akhir-akhir ini daerahnya sedang diincar oleh para penjahat yang ingin merusak keamanan dan ketentraman Desa Rawa Mutu, Kampung Bahari. Kata Kang Suganda, Kampung Bahari harus semakin meningkatkan kewaspadaannya. Ini jelas, kampung ini sedang dalam pengincaran para penjahat, cuma yang masih menjadi teka teki adalah belum jelasnya, siapa sebenarnya mereka. Kalau maksudnya, mungkin masih ada hubungan dengan kejadian sebelumnya.
__ADS_1
Setelah segalanya sudah dianggap beres, maka semuanya kembali ke tempatnya masing-masing, kecuali para petugas ronda yang masih tetap berjaga-jaga. Sementara Wiranta dan Dipa segera menuju rumahnya Herna. Sesampainya di rumah Herna, Wiranta dan Dipa di sambut oleh keluarga Herna, dan orang-orang yang ada disana. Wiranta langsung meminta makanan pada pamanya, katanya lapar. Tentu saja Bu Mae yang terbangun oleh suara ribut, segera terbangun. Dan setelah tahu kejadiannya, awalnya merasa khawatir karena tahu siapa yang sedang menghadapi para penjahat itu. Tapi setelah tahu calon mantunya selamat, maka hati Bu Mae mendadak lega. Kemudian Bu Mae segera menyediakan makanan untuk Wiranta dan Dipa.
__ADS_1