Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 43


__ADS_3

Cuaca sangat cerah dan penuh dengan pesona. Sementera saat itu Dipa sedang memperhatikan, muridnya. Sedang melatih dasar-dasar ilmu Kedap Raga. Gerakan dasar ilmu Kedap Raga yang terdiri dari tujuh tingkatan yang harus dipelajari oleh muridnya. Dipa sangat hati-hati dan teliti dalam memberikan pelatihannya, Dipa tidak sembarang. Dipa takut, kalau-kalau muridnya tidak akan sanggup menerimanya. Tapi setelah melihat fakta di lapangan, Dipa jadi merasa yakin kalau muridnya akan sanggup menguasainya.


Sementara untuk penerapan ilmu matematika, Dipa masih menunggu perkembangan, Dipa ingin melihat seperti di Yayasan Generasi Bangsa. Di sana segalanya serba lancar dan kompak. Sementara di sini masih ada pemahaman yang masih dipaksakan, dan cenderung untuk bersipat Individualistis. Misalnya, sebagian guru masih belum mau memahami arti bersatu. Seperti pemahaman terhadap ilmu matematika mereka menganggap ilmu matematika itu, ilmu sampingan atau ilmu dunia, padahal untuk beramal saleh itu kita butuh media. Dipa berkali-kali memberi penjelasan dan gambaran tentang program yang sedang digarapnya, juga Dipa menjelaskan kaitan programnya dengan masa depan anak-anak. Tetapi Dipa tak melihat adanya tanggapan, dari para guru, termasuk dari istrinya Bang Edi. Sehingga karena tidak ada saja tanggapan, maka pada suatu hari Dipa mengajak ngobrol Bang Edi. Kata Dipa, ia masih melihat ada guru yang memberi pemahaman yang bertolak belakang dengan program, para guru itu apriori terhadap tanggung jawab satu sama lainya. Mereka masih belum mau mengerti arti kekompakan. Nih begini Bang Edi yang dimaksud kekompakan itu, kata Dipa sambil memperagakan beberapa utas tali yang diikatkan pada sebatang kayu, kemudian tali itu momennya disebarkan secara melingkar, kemudian ditarik sekalipun ditarik bersamaan sekalipun dengan tenaga yang kuat, tapi kayu itu tidak akan roboh. Dan juga ketika tali itu ditarik dari dua arah, tetap kayu itu tidak roboh. Dan ketika tali itu ditarik dari satu arah, dengan kekuatan yang kompak, maka kayu itu mendadak roboh karena kekuatan bersatu pada sebuah titik. Jadi kalau dalam sebuah yayasan, kita masih bergerak masing-masing, bergerak tanpa komado, maka yayasan itu tidak memiliki arah yang pasti, dan setiap saat tidak bisa diprediksi kemana haluannya. Dan semua pendapat tidak kompak menuju satu titik temu, sehingga membuahkan program yang nyata. Kalau begini terus setiap rencana tidak sesuai dengan harapan, nanti hasilnya akan menjadi sia-sia, hanya akan membuang-buang waktu saja. Makanya kalau begitu kata Dipa, saya akan mengundurkan diri. Mendengar ancaman Dipa demikian, Bang Edi kaget.


"Bang Edi, saya mau mengundurkan diri dan hari ini juga saya mau pulang." Tegas Dipa


"Kang Dipa saya minta waktu." cegah Bang Edi.


"Bang Edi saya tidak bisa, hanya buang-buang waktu saja." Kata Dipa sambil berkemas.

__ADS_1


Tetapi ketika Dipa sedang bersiap-siap mau melangkah, tiba-tiba sekelompok masa datang, langsung seperti mau unjuk rasa.


"Edi, sudah aku bilang, jangan berani ceramah yang bisa menyinggung, kami tidak terima dengan ceramah kemarin, bukan satu kali, dua kali, tapi berkali-kali." Kata si Jaro sambil mengacungkan tangan.


"Tenang, kang Jaro nanti akan saya hubungi dia." Kata Bang Edi. "Tenang jangan terbawa dulu emosi." Tegas Bang Edi.


Tapi Si Jaro dan Si Dokir, nampaknya sudah kelewati emosi, mereka terus merangsak, tak mengindahkan kata-kata Bang Edi. Malah teman-teman Si Jaro dan Si Dokir menjadi termotifasi, mereka seperti sudah tidak memperhitung kan baik dan buruknya. Dan tatkala Si Jaro dan Si Dokir mau bertindak yang lain-lain. Baru Dipa bergerak, dan Dipa segera menghadang mereka.


Tapi Si Jaro segera menepis, dan bermaksud akan mematahkan tangan Dipa, namun justru yang terjadi malah sebaliknya, Si Jaro malah dia yang terpelanting karena tangannya dipelintir oleh Dipa. Dan ketika Si Jaro bermaksud menikam dengan pisau belati, Dipa langsung menggerakan dua jarinya, dan pisau itu dijepit kemudian dipatahkan. Tentu saja yang melihatnya sangat kaget. Namun mereka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Lalu mereka serempak menyerang Dipa. Untuk itu Dipa segera mengayunkan tangannya, maksudnya ingin menyapu badan-badan mereka dengan gerakan Bulan Bandawasa. Karena terdorong tenaga yang luar biasa, badan Si Dokir dan teman-tannya yang hendak menyergap Dipa, seketika itu juga terpental dan sebelum mereka bisa berbuat apa-apa, Dipa segera mencabut tiang bendera, lalu tiang itu segera dimainkan dan sekali-kali digebukkan pada badan-badan mereka. Melihat keadaan tersebut, teman-teman Si Dokir serentak berhamburan menghindar. Mereka sangat gentar dan nyalinya sangat ciut. Mereka tidak mau mengambil resiko dihajar tiang bendera, oleh karenanya Si Dokir dan kawan-kawannya berusaha untuk terus-terusan mundur. Tetapi Dipa terus mendesak mereka supaya bubar dan selanjutnya agar meninggalkan tempat itu. Dipa terus mendesak mereka, sambil tidak henti-hentinya membubat-babitkan tiang bendera itu. akhirnya Si Dokir, Si Jaro, juga kawan-kawannya terpepet kepinggir kali, dan seterusnya mereka dipaksa terjun ke kali dan untuk seterusnya lari kocar-kacir. setelah mereka jelas-jelas, semuanya lari, Maka Dipa segera berdiri sambil tetap memegang tiang bendera. Ku hajar kata Dipa, kertika salah seorang masih nekat mendekat dan mau menyerang Dipa, buk..buk mau apa kau, kalian cuma bisanya membuat onar, tentu saja orang itupun dibuat senasib dengan yang tercebur ke kali. Si Dokir dan Si Jaro, juga teman-temanya tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya setelah ditunggu beberpa saat reaksi mereka, ternyata mereka tidak mengadakan gerakan apapun. Malah diam tak berani mendekat. Melhat keadaan seperti itu, mereka tak berkutik, Dipa baru membalikan badannya untuk kembali ketempat tadi. Bagi Si Dokir dan Si Jaro, kejadian itu merupakan pukulan mental yang sangat telak. Sebeb sebelumnya mereka menganggap Dipa seperti sampah, tahu-tahu mereka justru sekarang dibuat sebaliknya, menjadi tak berkutik. Setelah tahu Si Jaro dan Si Dokir tidak lagi mengganggu, Dipa segera bangkit hendak berlalu, tapi Bang Edi segera menghampiri.

__ADS_1


"Tunggu dulu Kang Dipa." Cegah Bang Edi memelas.


"Bang Edi perlu tahu, kalau mereka mengganggu hanya sebatas fisik dan pada kenyataanya aksi mereka bisa dicegah, tapi aksi Bang Edi, siapa sangka membuat kesesatan, sebab formalitasnya adalah pendidikan, tapi bila kita teliti dan cermati, pendidikan yang cuma ujung-ujungnya jadi pedagang. apakah tidak lebih kejam." Tegas Dipa. "Saya bilang awalnya pendidikan kepesantrenan jangan dicampuradukan dengan pendidikan formal, tidak akan benar. Pendidikan informal semestinya memakai kurikulum yang berisi muatan lokal. Buat apa memanggil saya kalau mau begini." Kata Dipa benar sewot, Dipa segera berlalu menghampiri teras pesantren.


Dipa, akhirnya Diam di dalam ruangan kelas sekolah. Sementara Bang Edi hari itu juga langsung membuat peraturan Darurat, guru formal tidak boleh membuat kebijakan yang sepihak. Kalau ada guru formal yang membuat kebijakan yang sepihak, maka yayasan akan memecatnya. Ketika Dipa masih Diam di ruangan kelas, tiba-tiba dua orang muridnya, menghampiri. Tapi Dipa tetap tidak bisa dirubah pendiriannya sekalipun dua muridnya itu merengek-rengek agar Dipa membatalkan niatnya. Dipa akan tetap pergi meninggalkan tempat itu. Yang membuat Dipa Jengkel adalah. Istri Bang Edi yang ikut campur. Ikut membuat kebijakan tanpa mengadakan musyawarah dulu. Dipa jadi teringat, dengan apa-apa yang pernah dialami oleh Pak Dasim, persis gejalanya seperti yang terlihat sekarang oleh Dipa. Maka atas dasar pertimbangan itu Akhirnya hari itu juga Dipa berangkat, meninggalkan kampungnya Bang Edi, tidak bisa dicegah. Beberapa waktu setelah Si Dokir dan Si Jaro tahu, bahwa Dipa sudah tidak ada, maka mereka kembali mendatangi yayasan atau pesantren untuk membuat keonar lagi. Tentu saja, hal ini membuat tepukul hati Bang Edi. Sebenarnya Bang Edi paham akan maksud rencana Dipa, yang membuat program dengan bergerilia, membangun sistem pesantren dengan tahapan-tahapan berkesinambungan, melakukan setahap demi setahap. Namun ternyata kesalahan ada dipihaknya, sangat ceroboh tidak tahu aturan, tidak paham metode perjuangan. Mereka hanya tahunya, metode gorengan yang hanya bolak balik asal gosong.


"Ini semua gara-gara kita kurang paham. Akhirnya kita harus mengalami berantakan." Kata Bang Edi.


Mendengar omelan Bang Edi, istrinya malah tak menerima semuanya. Akhirnya Bang Edi merasa Bingung. Dan diam-diam dalam hati Bang Edi ada niat untuk meninggalkan tempat itu. Karena istrinya sudah tidak menganggapnya lagi. Dan Ketika Bang Edi mau pergi, istri Bang Edi segera meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya. Bang Edi hampir pergi tak dapat dicegah. Tapi Bang Edi segera menyadari kalau istrinya benar- benar akan merubah sikapnya. Dan Bang Edi segera menenangkan Istrinya, tapi Bang Edi, sekali lagi mengingatkan bahwa mengelola sekolah, itu bukan perbuatan main-main. Dan Bang Edi akan tetap pergi dulu ke Kampung Bahari, untuk menemui Dipa, dan ingin mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan istrinya yang membuat kebijaakan indisipliner. Istrinya berbuat tidak dengan perhitung, mengikuti pendapat guru-guru yang tidak respek pada program yang telah dibicarakan antara dirinya dengan Dipa. Padahal hal itu sebelumnya telah disepakati berdasarkan rapat.

__ADS_1


Ketika Bang Edi tiba di Kampung Bahari, Bang Edi langsung saja menemui Dipa. Dan alangkah terkejutnya Bang Edi ketika ia tahu bahwa muridnya sudah ada di sana ingin belajar silat.


__ADS_2