Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 40


__ADS_3

Waktu itu Wiranta, Dipa dan Pak Dasim sedang ngobrol sangat serius. Pak Dasim sengaja memanggil Wiranta, tahu kalau hari minggu itu, Wiranta biasa ada di Kampung Bahari. Dalam kesempatan Itu, Pak Dasim mengutarakan pendapatnya bahwa, yang awalnya kita belum punya kesempatan untuk membantu Bang Edi, tapi kini seperti merasa perlu.


"Perkembangan di sini nampaknya sudah cukup baik, kita perlu ekspan, kita perlu bantu Bang Edi. Beberapa hari yang lalu, Pak Suganda mengemukakan bahwa bagaimana caranya kita harus membantu Bang Edi." Tegas Pak Dasim mengungkapkan pendapatnya.


"Sebenarnya saya setuju, tapi bagaimana pengaturannya. Lagipula keadaanya canggung, istriku lagi mengandung." Kata Dipa. "Tadinya kalau anakku sudah lahir, istriku mau dibawa kesana." Tambah Dipa.


"Yah kita harus bersabar, lagian Bang Edi kan masih tetap rutin sebulan sekali kesini." Kata Wiranta ikut memasukan ide.


"Yah menurut ku memang begitu...Tapi tetap ada yang kurang pas." Kata Dipa.


Tiba- tiba obrolan mendadak terhenti karena, terganggu oleh datangnya Herna yang membawa makanan.


"Tapi, Kang Dipa menurut Herna, untuk sementara tengok saja kesana." Kata Herna sambil menaruh isi nampan diatas meja. "Demi perjuangan, kita harus rela." Tambah Herna.


"Betul tapi yang akang khawatirkan adalah kondisi di sini yang masih belum aman, kan tahu sendiri para penjahat yang sering mengganggu keamanan disini, selalu saja datang sewaktu-waktu." Tukas Dipa.


"Akang belum bisa." Kata Dipa. "Makanya Kalau nanti anakku lahir, aku akan bawa istriku kesana, kalau sekarang terlalu berabe." Kata Dipa.


"Memang kita bersabar saja." Sambut Pak Dasim


Dipa bukan tidak mengerti, tetapi dirinya sangat berat bila harus meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Sebenarnya Dipa sudah sedikit menaruh kepercayaan pada Wiranta yang kemampuan beladirinya sudah lumayan meningkat, tapi, untuk menghadapi tiga orang sekaligus. Dipa sangat meragukan. Pada suatu kesempatan Wiranta dipinta oleh Dipa agar mau pindah ke Kampung Bahari, supaya bisa fokus berlatih. Tentu saja Wiranta sangat menyambutnya, memang awalnya, Wiranta berniat begitu, tapi untuk sementara ia bingung tempat tinggal, tapi setelah ia ditawari oleh pamanya yaitu mang Danu, Akhirnya Wiranta, menyanggupi untuk segera pindah. Pada suatu hari setelah Wiranta, beberapa hari ada di Kampung Bahari, Dipa mengajak Wiranta untuk serius menekuni ilmu Kedapraga. Hampir setiap malam Wiranta terus-terusan dilatih oleh Dipa, walaupun porsi latihanya, sedikit dikurangi, karena siangnya Wiranta harus bekerja di pamanya membuat berbagai pesanan perabot rumahtangga. Dan tak heran kalau hal ini sangat berpengaruh pada hasilnya. Atau memang mungkin, entah pengaruh apa? Sebab kalau disandarkan pada keseriusan, Wiranta itu boleh dibilang serius, namun entah gimana meskipun berkali-kali dicoba tetap saja gagal. Seiring waktu berjalan, ketika Wiranta hampir mencapai satu tahun berlatih bersama Dipa. Bentuk dan porsi latihan yang diterapkan oleh Dipa pada wiranta, pada dasarnya sama, seperti halnya yang diberikan guru misterius yang mengajari dirinya. Tetapi yang membedakannya adalah, kalau dirinya mungkin, didorong oleh keinginan untuk sembuh atau gimana, yang jelas hasilnya berbeda. Tapi tak dapat dibantah juga, sebenarnya Wiranta pun, sudah menunjukan hal yang lumayan. Walaupun belum sempurna tapi dalam keadaan terpepet ilmu Kedapraga itu sudah bisa digunakan. Dipa menyarankan pada Wiranta agar dilatihkan pada anak-anak supaya harapanya, secara tidak langsung ilmu itu bisa dikuasai.


Keadaan di Kampung Bahari, tepatnya di Pesantren An-nur, sekarang sudah jauh lebih ramai dan makmur. Santrinya juga berdatangan dari mana-mana. Keberadaan untuk tenaga pengajar di sana. Tidak begitu saja bisa otomatis berinteraksi dengan murid. Tetapi para pengajar, harus melalui masa-masa pengenalan kurikulum sampai benar-benar paham. Juga pada pelaksanaanya para guru itu dipantau oleh penanggung jawab kurikulum lokal yaitu Kang Suganda, yang juga sebagai pengawas pelaksaan program tenaga pengajar. Hal ini dimaksudkan agar perencanaan dan aplikasinya tidak bertolak belakang. Ini semua untuk memenuhi kriteria lulusan Podok Pesantren An-Nur, Yayasan Generasi Bangsa. Seperti biasa, selesai melatih anak-anak, Wiranta segera menuju rumah Dipa. Dipa yang kini sudah punya rumah sendiri, rumahnya baru saja selesai dibangun. Di belakang rumahnya Dipa, kini sudah dibuat tempat latihan silat dan tempat kerja, membuat alat-alat peraga untuk kepentingan pendidikan. Seperti hari itu Wiranta sudah berada di sana, di belakang rumah di tempat latihan.

__ADS_1


"Kang wiranta, ada sesuatu yang harus diobrolkan." Kata Dipa.


"Oh ya siap." Kata Wiranta.


"Tadi waktu Herna Hendak mau menyapu halaman belakang, tiba-tiba ia melihat sebuah pisau menancap di daun pintu. Di pangkal pisau itu ada sepucuk surat yang diikatkan. Kemudian Herna mencabut pusau itu dan diberikan Pada ku, lalu ku baca, ternyata itu perintah dari guruku agar aku pergi, membantu Bang Edi. Sebenarnya, Dipa siap, tapi menunggu lahir anakku. Lagi pula mudah-mudah Bang Edi kesini, anak ku sudah lahir. Kata Dipa." Tukas Dipa, sambil menatap Wajah Wiranta yang Kaget.


"Apa ini sudah dibicarakan dengan Herna?" Tanya Wiranta.


"Sudah." Tukas Dipa.


"Lantas bagaimana pendapat Herna?" Tanya wiranta lagi.


"Herna adalah istri yang baik, patuh dan taat paham pada aturan, tapi aku harus bijaksana, karena aku adalah manusia biasa yang tidak dijamin memiliki keputusan yang benar. Oleh karena itu aku akan memusyawarahkannya dulu dengan Pak Dasim, Kang suganda, juga dengan orang tua Herna."


"Kang Dipa!!" Teriak Herna.


Demi melihat Herna Datang, Dipa segera melakukan gerakan jatuh, seolah ia jatuh. Tentu saja membuat Herna kaget tapi Herna sadar bahwa itu sebuah kemampuan suaminya. Benar saja dugaan Herna ,tidak salah, buktinya Dipa sudah berdiri di bawah dengan tangan kiri menyangga bambu, kemudian Wiranta segera memburu bambu itu.


"Berani mencoba!" Tantang Dipa sambil tersenyum, memandang Wiranta, sementara Herna tersenyum kagum pada kemapuan suaminya.


Wiranta tak menjawab cuma pandangannya saja yang memperlihatkan kepenasaran.


"Kang Wiranta terus saja berlatih, nanti juga akan ada hasilnya." Hibur Dipa sambil melirik istrinya. "Sekarang kita beranjak pada latihan berikutnya, coba saya serang oleh kang Wiranta, dengan tangan kosong dulu. Wiranta segera siap-siap memasang kuda-kuda. Dan seterunya ia menyerang Dipa dengan kecepatan dan kemampuan yang dimiliki oleh Wiranta. Dipa dengan gerakan Kedapraganya, sulit untuk ditembus. Sehingga bukannya Dipa yang bisa dirubuhkan, tapi malah sebaliknya malah Wirantalah yang akhirnya kelelahan.

__ADS_1


"Nah kang Wiranta, satu lagi Dipa akan memperagakan gerakan-gerakan yang lainnya. Ini gerakan Bulan Banda wasa. Coba Dipa serang oleh kang Wiranta, dengan menggunakan bambu."


"Benar nih Dip?" Wiranta ragu-ragu


"Lihat saja nanti!" Tegas Dipa.


Selanjutnya Wiranta segera bersiap-siap untuk menyerang Dipa. Wiranta segera mengayunkan bambu menyerang Dipa dengan tenaga sepenuhnya. Tapi apa yang terjadi ketika bambu itu berbenturan dengan tangan Dipa, Bambu itu hancur. Sementara bambu yang satunya lagi cuma bisa menyerang angin.


"Cukup Kang Wiranta." Kata Dipa sambil menghampiri Herna istrinya yang terbengong-bengong.


Dipa segera, mendekap istrinya yang masih terlihat bengong. Herna segera memeluk suaminya.


"Sudah masuk Dik, di sini anginnya kencang." kata Dipa.


Herna mengangguk, dan selanjutnya masuk. Sementara Keadaan di sekitarnya cukup terang, karena terang oleh tiga obor yang dipasang di setiap sudut tempat itu.


"Kang Wiranta selanjutnya kita ngobrol di rumah saja yuk." kata Dipa. "Latihan kali ini cukup." Tukas Dipa. Kemudian Dipa segera memadamkan ketiga obor tersebut. Setelah ketiga obor itu padam, maka keduanya segera masuk.


"Dip, apakah kamu yakin yang memberikan surat itu gurumu?" Tanya Wiranta setelah keduanya berada di dalam ruangan.


"Tentu saja yakin, karena saya punya ciri rahasia." Tukas Dipa.


"Oh ya." cuma itu yang terlontar dari mulut Wiranta.

__ADS_1


Setelah selesai ngobrol kesana kemari, selanjutnya Wiranta segera permisi pulang.


__ADS_2