
Setibanya dirumah, Dipa segera mengurus hewan tersebut. Dipa segera mendidihkan air, dan setelahnya, maka hewan-hewan, yang telah disembelih tersebut, segera disiram oleh air mendidih, kemudian didiamkan beberapa saat Dan ketika Dipa sedang mencabuti bulu-bulu hewan tersebut, tiba-tiba suara Si Parto anaknya Mang Karim memanggil namanya.
“Ayo to, masuk sini.” Perintah Dipa
“Anu Kang Dipa, saya bawa ayam yang baru disembelih, darahnya bercucuran!” Jawab Parto
“Ayam? Ayam apa?” Suara Dipa dengan nada keherannya, lalu Dipa segera memburu kedepan. Benar saja Dipa melihar Parto dan temannya, sedang berdiri, sambil masing-masing menenteng bawaannya.
“To sini telurnya, itu ayam dari siapa?” Tanya Dipa
“Anu Pak Dasim tadi menyuruh Pandi, agar mengantarkan ayam ini ke akang.” Sahut Parto.
“Ya sudah bawa saja ke belakang!” Tukas Dipa, dan dia pun segera kembali kedapur.
“Parto, Pandi, mau bantu akang mengurusi hewan sembelihan ini? Nanti akang kasih uang.” Pinta Dipa.
“Baik !!” Jawab Parto dan Pandi serempak. Dan kemudian keduanya lalu membantu Dipa, melucuti bulu-bulu hewan tersebut.
Sedangkan Dipa, segera memotong-motong hewan-hewan tersebut yang sudah bersih bulu-bulunya, dipotong menjadi beberapa bagian. Tapi tak lama kemudian Dipa dikagetkan oleh orang mengucapkan salam, dan Dipa tahu bahwa itu suara Wiranta.
“Kang Wiranta masuk saja!” Kata Dipa.
“Iah tapi saya bawa ikan pesananmu, ikan tongkol besar nih” Teriak Wiranta.
“Yah kalau begitu bawa saja ke dapur lewat kebelakang.” Kata Dipa.
Selanjutnya Wiranta dengan temannya segera membawa ikan tongkol yang besar itu ke Dapur.
__ADS_1
“Besar amat Kang Wiranta” Tidak apa-apalah, itu hasil tangkapanku kemarin.
“Kang Wiranta baru pulang melaut?” Tanya Dipa.
“Iya.” jawab Wiranta pendek.
Temannya Wiranta segera permisi, dan sebelumnya Dipa memberi ongkos mengantar, walaupun sebelumnya di tolak.
“Kang Wiranta sekarang mau kemana dulu?” Tanya Dipa.
“Saya mau ke kakak saya Kang Suganda, ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan.” Ujar Wiranta sambil perhatiannya tertuju pada keadaan disekitar itu, yang nampak berserakan penuh oleh wadah yang berisi olahan. “Mau hajatan, mau apa ini Dip kok masak banyak begini?” Tanya wiranta.
“Mulanya sih iseng-iseng, tapi kita undang saja makan-makan santri yang ada, itung-itung syukuran, nanti undang paman Dan bibimu, juga Neng Herna. Kalau sama kakak Kang Wiranta, saya sangat malu, tapi berikabar saja bahwa para santri akan diundang makan-makan.” Ujar Dipa.
“Tapi kira-kira, kamu sanggup masak sebanyak ini?” Tanya Wiranta.
"Iya kang sebaiknya minta tolong sama bibimu.” Ujar Dipa.
“Baiklah.” Sahut Wiranta sambil berlalu. Meninggalkan ruangan dapur.
"Parto dan pandi segera pergi temui bapakmu to, minta ayam lima ekor lagi tapi tolong sama Pak Karim sekaian saja sembelih disana.” Kata Dipa
“Baik Kang Dipa!” Sahut Parto dan Pandi.
Parto dan Pandi segera berangkat, setelah sebelumnya menerima uang untuk membayar ayam yang di pesannya.
Tidak lama kemudia, Parto dan Pandi sudah datang Kembali, keduanya nampak menggotong ayam-ayam yang dipesan oleh Dipa. Dan selang beberapa menit bibinya wiranta, Bi Murni dan putrinya Herna sudah berada disana. Akhirnya suasana dirumah Dipa mendadak ramai, oleh kesibukan memasak dan canda tawa. Sejak saat itu Dipa mulai mengenal kepribadian Herna keponakannya Kang Wiranta. Selain wajahnya yang cantik, tapi juga sikap dan
__ADS_1
tutur katanya yang mencerminkan pribadi bangsa timur yang sopan dan bersahaja. Sehingga mau tidak mau mendesak pikiran dan hati Dipa untuk membisikan kata-kata kagum. Tapi itu semua tak menjadikan Dipa tergesa gesa untuk mengikuti suasana perasaannya sendiri. Tapi Dipa berusaha membiarkan segalanya mengalir tanpa desakan apapun. Ba’da magrih setelah selesai solat, semua hidangan sudah siap untuk disantap. Sementara para undangan satu-persatu berdatangan. Pak Danu Pamannya Wiranta, dan para santri Sebagian banyak sudah datang. Termasuk Kang Suganda, katanya ingin berbaur, tentu saja Pak Dasim dan Dipa sangat gembira malah kagum pada loyalitas Kang Suganda yang rendah hati, tidak angkuh terbukti mau menghadiri acara yang diadakan oleh Dipa. Dipa dan Pak Dasim merasa sangat puas dibuatnya. Acara makan-makan selanjutnya diramaikan oleh acara ngobrol kesana kemari, Kang Suganda yang berperan menghidupkan obrolan terutama memberikan tanggapan positif yang dikelola oleh pamannya yaitu Pak Danu, atau mang Danu. Itu semua tidak lupa di hubungkan dengan peranan Pak Dasim tentunya, yang dianggap menentukan semua itu. Juga dalam kesempatan itu Kang Sugandapun membicarakan berita yang ia terima Dari Wiranta, bahwa Kang Suganda, di undang untuk memberikan ceramah ke agama'an dan sekaligus mejelaskan program-program kepesantrenan di Desa Rawa Mutu. Semua yang hadir disana, sangat serius mengikuti semua yang dikatakan oleh Kang Suganda selaku Pimpinan
Yayasan Generasi Bangsa, sekaligus, pimpinan pondok pesantren. Selanjutnya menjelang malam, Kang Suganda dan para undangan lainya, Pak Danu Dan Istrinya, termasuk para santri, meminta ijin pada Pak Dasim dan Dipa, untuk pulang. Hanya Wiranta yang masih tetap tinggal. Dia memutuskan untuk menginap di rumahnya Dipa.
“Jadi tepatnya kapan jang Wiranta acara itu?” Tanya Pak Dasim. “Dip kopi masih ada?’ Susul Pak Dasim sambil melirik kearah Dipa yang serentak bangkit.
“Iya nanti lusa, hari selasa.” Jawab Wiranta.
“Itu dalam acara pengajian bulanan?” Tanya Pak Dasim.meyakinkan.
“Betul, tapi sehubungan dengan waktu itu ada orang sana yang tahu kegiatan disini, orang itu Pak Toram namanya, dia adalah pengurus masjid Al-Sunah yang terletak di Dusun kiaralontang Desa Muara Tanjung. Mungkin dia bercerita banyak tentang kegiatan disini pada orang-orang sekitar kepengurusan mesjid, ditambah oleh keterangan yang aku berikan Pak Dasim. Mungkin mereka tertarik dan penasaran, ingin jelas mendapat keteranga langsung
dari kakak ku, Kang Suganda. Dan kebetulan di masjid Al-Sunah itu sudah rutin sebulan sekali suka mengadakan pengajian bulanan.” Papar Wiranta.
Tiba tiba Dipa datang membawa nampan yang berisi tiga gelas kopi.
“Ini kopi.” Kata Dipa sambil menyimpan nampan diatas tikar.
“Yah Pak Dasim, kita berangkat saja kesana sambil main.” Kata Wiranta
“Baik tapi, Pak Dasim harus menitipkan dulu pada guru yang lain.” Kata Pak Dasim
“Tapi iya juga Pak Dasim, bapak sangat sibuk dengan anak-anak, sudah saja pak Dasim lain kali saja, biarkan ada Dipa sebagai wakilnya.” Tukas Wiranta.
“Yah baiknya begitu jang Wiranta. Sebenarnya untuk beberapa waktu bapak tidak boleh lepas memantau kegiatan anak-anak.
Setelah malam hampir larut, akhirnya Pak Dasim, Dipa dan wiranta segera istirahat. Dan esoknya wiranta dan Dipa kira-kira jam tujuh lebih, sudah berada di rumahnya Mang Danu, atau Pak Danu. Dipa akhir-akhir ini, dipinta oleh mang Danu untuk membuat alat-alat perabot dapur. seperti alat-alat pengupas bawang, sugu untuk keripik, dan masih banyak lagi barang-barang pesanan lainnya yang di buat oleh Dipa. Sedangkan pengerjaannya tidak oleh Dipa sendiri, tapi dibantu oleh beberapa orang karyawan yang dipekerjakan oleh Mang Danu. Dipa hanya sebagai pembimbing, memberikan contoh awal. Sedangkan penyelesaian produk selanjutnya diserahkan pada pekerja. Sementara disela-sela mengawasi yang bekerja, Dipa dan Herna sempat ngobrol sampai menunggu waktu Herna pergi mengajar anak-anak mengaji. Yah tentu saja seringnya mereka ngobrol, akhirnya, baik Dipa maupun Herna, sudah saling memahami sikap dan sifatnya masing-masing. Dan mungkin keduanya sudah saling menyimpan catatan tertentu di hati keduanya. Juga karena sering bertemu, baik di rumah maupun dimadrasah, Dipa sempat menangkap bahwa Herna seperti ada perhatian padanya. Namun Dipa sengaja tidak buru-buru menyimpulkan apapun, sebab yang ditakutkan semua itu hanya perasaan sepihak dirinya saja. Tapi pikirnya lagi terserah lah,
__ADS_1
mau begini mau begitu, dia akan berusaha tidak akan terlalu sensitif menghadapi urusan yang satu ini. Terserah pada tulisan nasib selanjutnya saja, dirinya tidak akan ikut mengatur semuanya, ia hanya menyerahkan pada keputusan yang maha kuasa.