
Pak Dasim dan Dipa segera memburu warung itu, kemudian keduanya segera masuk dan mencari tempat duduk. Setelah itu, mereka segera memesan menu kesukaannya masing masing. Pak Dasim dan Dipa menikmati selera masakan pasar ikan, ada yang mendadak menyentuh seleranya, masakan disana sangat cocok dengan selera pak Dasim, tidak manis. Sepertinya Dipa pun tidak ada masalah dengan menu masakan yang ada di warung itu, ia kelihatannya bisa menikmati masakan khas pasar ikan, yang para pengemarnya adalah para nelayan.
Suasana di dalam warung saat itu sangat sibuk, ramai dan gaduh oleh suara para pengunjung. Memang warung yang satu ini sangat spesial bila dibandingkan dengan warung yang lainnya. Selain menunya sangat lengkap, serta rasa masakannya bisa dibilang enak, juga pelayanannya pun cukup baik. Disamping Pak Dasim, ada seorang pemuda yang sama-sama sedang makan. Pemuda itu bila dilihat dari penampilannya seperti nelayan, sebab ada
beberapa ciri yang nampak. Dan ketika seseorang menghampiri si pemuda itu, jelas terdengar bahwa dia adalah seorang nelayan.
“Ri, sekarang kamu giliran melaut?” Tanya teman si pemuda yang nama lengkapnya adalah Ari.
“Oh bukan, giliran saya besok!” Tukas si pemuda.
“Oh!! Coba geser Ri!" Pinta si pemuda itu sambil menyelip duduk di sampimg si pemuda.
“Sok“ Kata Ari si pemuda sambil bergeser.
Si pemuda temannya Ari, segera memesan sepiring nasi komplit dengan lauk pauknya. Dan beberapa saat kemudian pesanan si pemuda pun sudah ada di depannya.
“Ohh iya Ri, ngomong -ngomong kamu tidak akan ke tambang lagi“ Tanya temannya.
“Untuk sementara saya tidak akan, tidak tahu nanti kalau ada perkembangan baik!” Sahut Ari sambil melirik kearah
temannya.
Untuk beberapa saat lamanya Ari si pemuda dan temannya selanjutnya terlibat obrolan. Sementara pak Dasim yang berada disampingnya sangat tertarik pada obrolan keduanya, Sehinga dalam hati Pak Dasim ada niat untuk menemui si pemuda yang namanya Ari, nanti ketika mereka selesai makan. Kemudian setelah Pak Dasim dan Dipa merasa cukup, lalu pak Dasim segara membayar, Setelah itu keduanya keluar. Pak Dasim segera menunggu si pemuda itu di depan warung. Dan tidak lama kemudian, si pemuda yang dimaksud oleh pak Dasim,
nampak keluar dari warung. Pak Dasim segera memburu si pemuda itu.
“Nak tunggu, boleh bapak mengganggu sebentar.” Sela pak Dasim.
“Oh ya, bapak siapa ya?” Tanya si pemuda keheranan
“Ia nanti bapak jelaskan, bisa tidak kita mengobrol sebentar?” Desak pak Dasim.
“Ia bisa, dimana kita ngobrol?” Tanya si pemuda sambil menatap pak Dasim.
“Sebaiknya, di sebuah warung yang tidak terlalu ramai, supaya kita tenang ngobrolnya!” Seru pak Dasim sambil menunjuk sebuah warung.
Lalu pak Dasim,Dipa dan si pemuda itu segera menghampiri warung yang dimaksud, Kemudian pak Dasim segera menawari si pemuda untuk mengambil minuman atau makan.
__ADS_1
“Sudah pak terimakasih, saya baru saja makan” Tolak si pemuda
Tapi pak Dasim segera memesan tiga gelas es teh manis.
“Begini dek, bapak tadi mendengar pecakapan adek dengan teman adek, bahwa adek pernah bekerja di tambang, dan tadi bapak mendengar ada beberapa nama yang adek sebutkan, sepertinya bapak kenal kalau dari segi
sebutan, entah kalau kenyataannya, apakah orang-orang yang adek sebutkan tadi, memang orang yang sama seperti yang bapak kenal.” Ujar pak Dasim membuka obrolan.
“Oh ya, siapa itu pak? Tanya si pemuda sambil menatap wajah pak Dasim.
“Itu, tadi adek menyebutkan tiga nama, Dade, Bohim dan Wiranta, tolong oleh adek diceritakan ciri-ciri ketiga orang
itu, siapa tahu bapak kenal.” Pinta pak Dasim.
Si pemuda mendengar permintaan pak Dasim demikian, ia tak buru-buru memberikan penjelasan, tapi untuk sementara dia diam, sepertinya sedang mengingat-ingat wajah orang orang yang dimaksuk tadi. Namun beberapa saat kemudian si pemuda nampak bergegas untuk bicara. Dan selanjutnya si pemuda menceritakan ciri-ciri ketiga orang yang dimaksud. Mendengar penuturan si pemuda tentang ciri-ciri orang yang dimaksud, raut muka pak Dasim mendadak berubah.
“Dek, kalau begitu nampaknya bapak mengenal kedua orang itu, dua orang itu adalah Bohim dan Dade, itu teman sekampung bapak.” Kata pak Dasim sambil menatap si pemuda.
“Terus selanjutnya bagaimana, apakah bapak bekerja di tambang juga?” Tanya si pemuda.
“Kalau dengan Bohim dan Dade, saya sudah tidak pernah bertemu dengan mereka lagi, saya tidak bekerja lagi di tambang, waktu itu mereka sudah berpindah lubang. Tapi kalau dengan Wiranta, saya masih sering bertemu dengannya sampai hari ini, malah sebentar lagi dia juga akan datang , sebab dia kebagian melaut hari ini.” Papar si pemuda.
“Ohh kalau begitu, kebetulan, bapak sangat ingin bertemu dengannya, bisa tidak tolong beritahu dia.” Pinta pak Dasim berharap.
“Bisakah bapak menunggu disini saja, nanti akan saya sampaikan kepadanya!” Tukas sipemuda.
Selanjutnya si pemuda mohon pamit pada pak Dasim dan Dipa.
“Nak Dipa, kita tunggu disini dulu, bapak sangat penasaran.” Kata pak Dasim sambil meraih gelas kopi.
Entah apa yang menjadi rasa penasaran pak Dasim sehingga ingin tahu berita tentang teman-teman sekampungnya itu. Barangkali karena alasan, pergi dari kampung halaman Bersama-sama, dan sekarang mereka berpisah. Tapi selain itu pak Dasim pun ingin bertemu juga dengan Wiranta, sebenarnya dengan Wiranta pun sempat akrab seperti halnya dengan Dipa, namun sayang pertemuan dengan wiranta hanya berjalan beberapa minggu saja. Sebelum keadaan tambang yang menjadi kacau. Dan sejak saat itulah pak Dasim dan teman
temannya termasuk Wiranta tak pernah lagi bertemu. Memang kalau dipikir-pikir, kehidupan itu sangatlah abstrak, walaupun ada rencana dan perhitungan tetapi pada kenyataannya ada saja hal-hal yang bisa terjadi diluar perhitungan. Seperti yang terjadi saat ini, sungguh diluar dugaannya, pak Dasim sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Wiranta.
Juga rasanya seperti mimpi, ketika dirinya sudah dalam keadaan putus asa, tersesat, terperangkap dipertambanagan, dengan keadaan dalurat dan suasana yang sangat mencekam, seolah-olah seorang diri, untung saja pak Dasim bisa bertemu dengan Dipa, yang sama-sama sependeritaan. Saat itu dirinya dengan Dipa terus berjuang untuk bisa selamat dari pertambangan yang dianggapnya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Tapi kenyataannya bagaimana, inipun diluar dugaan, mendadak ada sebuah keajaiban yang disebabakan oleh sikap Damangtirta dan Kang Somawinata yang mendadak bersahabat, walaupun awalnya harus diawali oleh sebuah pertarungan. Namun terlepas dari apa dan mengapa, kejadian itu harus terjadi. Yang jelas keadaan selanjutnya sangat diluar dugaan, warga di pertambanagan mendadak timbul harapan lagi Dan memang hal itu dapat dimengerti, buah persahabatan Damanagtirta dengan Kang soma itu, sangat berakibat pada suasana dan keuntungan baik dari materi atau diluar itu, yang jelas warga tambanag bisa aman bekerja tanpa rasa takut dan khawatir. Hal itu tidak bisa dibantah, apa-apa yang ia rasakan sekarang, sampai dirinya bisa punya bekal, ini
sebenarnya diluar perhitungan kewajaran. Padahal dirinya merasa tipis harapan untuk bisa selamat, sebab bukan hanya dari pertimbangan keadaan atau keamanan di hutan, tapi juga kondisi dirinya yang sangat dalurat segala galanya. Maka ketika menerima imbalan berupa uang dan hasil tambang, yang diberikan oleh Mang
__ADS_1
Kardi sebelum pulang, betapa terkejutnya pak Dasim dan hampir tak percaya, kalau kurang bisa menahan peraaan, rasanya ingin bagaimana, untuk meluapkan rasa gembira bercampur sedih. Juga kalau dihubungkan
dengan beberapa kejadian di perjalanan, jelas adalah sebuah keajaiban.
Sedang asyiknya Mang Dasim mengembara di dunia lamunan, tiba-tiba sebuah sapaan mengagetkan dan membuyarkan lamunanya.
“Mang…..!”
Mang Dasim segera menoleh kearah datangnya suara.
"Wiranta…!!!” seru Pak Dasim sambil menyambut uluran tangan orang yang baru menyapanya itu.
“Luarbiasa mang, aku sangat tidak percaya kita bisa bertemu lagi!” Kata Wiranta sambil menggeming-gemingkan tagan Pak Dasim.“
"Bagaimana, tadinya aku mau melaut malam ini, tapi nampaknya aku akan membatalkannya, biar nanti diwakilkan saja oleh temanku."
“Oh yah“ Betapa gembiranya hati pak Dasim.
Selanjutnya pak Dasim bergegas meninggalakan warung itu mengikuti wiranta kerumahnya. Sesampainya dirumah
Wiranta, yang kebetulan tidak jauh dari pasar pelelangan ikan. pak Dasim langsung saja bercerita segala macam pengalamannya ketika sedang di perjalanan maupun ketika berada di tambang. Selesai pak Dasim bercerita, Wiranta nampak terkesima.
“Pak Dasim, sebenarnya saya tidak menyangka, kita akan bertemu disini, barangkali ini sebuah karunia untuk
kita, dan soal teman-teman pak Dasim saya selanjutnya kurang tahu, hanya terakhir saja waktu itu kami bertemu, namun selanjutnya kami berpisah.“ Tukas Wiranta.
“Tidak apa-apa jang, habis bagaimana lagi.” Tukas Pak Dasim.
“Selanjut rencana pak Dasim bagaimana?” Tanya Wiranta.
“Yah sesuai rencana, kami berdua akan pulang.” Tegas Pak Dasim.
“Lantas bagaimana dengan rencana emang untuk mewujudkan cita cita membentuk taman remaja itu.” Tanya Wiranta.
“Itu akan emang wujudkan, setelah kami tiba nanti di tempat emang dulu.” Tukas Pak Dasim.
"Sebenarmya saya sangat tertarik pada tujuan Mang Dasim saat itu, malah akhir-akhir ini pernah saya ceritakan pada kakak saya, dan kakak saya sangat tertarik pada tujuan pak Dasim, namun saya saat itu tak menjanjikan apa-apa, karena saya merasa tidak yakin bisa beratemu dengan mang Dasim lagi.
__ADS_1