
Anak-anak berlarian di depan Dipa. Dan beberapa anak perempuan menghampiri Dipa, dengan gayanya yang khas.
“Kang Dipa menunggu Bu Herna yah, Kang Dipa pacarnya Bu Herna kan?” Goda anak-anak sambil cekikin.
“Khus....tidak boleh begitu kang Dipa tidak pacaran, tapi mau ada perlu sama Bu Herna” Tukas Dipa.
“Oh begitu!” kata anak-anak sambil berlari.
Tak lama kemudian, yang ditunggupun datang. Dari jauh Herna sudah kelihatan dengan senyumnya, dan setelah dekat, dia mengucapkan salam.
“Dik Herna, akang hanya ingin melihat saja, apakah adik mengajar atau tidak? Yah ternyata mengajar, ya sudah.” Kata Dipa
__ADS_1
“Kalau tidak!” Cetus Herna.
“Yak, Kang Dipa akan menyusul kerumah.” Tukas Dipa.
Herna cuma tersenyum. Selanjutnya Dipa segera permisi meninggalkan Herna yang tak henti-hentinya menaburkan senyuman, melihat sikap Dipa yang demikian.
Malamnya, waktu ba’da isya Pak Dasim dan Dipa berbincang-bincang membicarakan apa-apa yang telah terjadi terhadap Herna. Pak Dasim, memberikan pendapat agar hubungan Dipa dengan Herna kalau memang sudah sepakat jangan dilama-lama lagi, alasan Pak Dasim demikian dapat dimengerti oleh Dipa. Dipa hanya menyerahkan bagaimana baiknya pada Pak Dasim dan orang tuanya Herna.
“Nak Dodi, Bapak mohon pengertiannya dari Nak Dodi, bapak yakin kedatangan Nak Dodi Kesini tujuan utamanya adalah, selaku mahasiswa yang sedang melakasanakan kuliah kerja nyata. Jadi buat Nak Dodi
tidak ada alasan lain untuk bersikeras mempertahankan tujuan lain, selain urusan studi, Tolong lah Nak Dodi paham dalam hal ini” Papar Pak Danu
__ADS_1
“Sebenarnya Pak, tidak bisa semudah itu” Kata Si Dodi.
“Maksud Nak Dodi bagaimana?” Desak Pak Danu sambil menatap wajah Si Dodi.
Si Dodi selanjutnya tidak bisa memberikan jawaban-jawaban yang kuat, atau dia sudah tidak bisa lagi mengadakan pembelaan yang menguatkan agar maksudnya bisa dipahami oleh Pak Danu. Akhirnya walau berat hati yang seberat beratnya, Si Dodi tidak bisa memaksakan kehendaknya dan tiada pilihan lain kecuali ia harus menyadari kenyatannya. Untuk itu selanjutnya Si Dodi pun pamit meninggalkan rumah Herna dengan membawa perasaan kesal dan kecewa.
Sepeninggalnya Si Dodi, Pak Danu dan Dipa hanya saling pandang sambil geleng-geleng kepala. Dan tidak lama kemudian, Dipa pun segera pamit untuk pulang.
Besoknya seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, bahwa hari minggu, akan diadakan acara masak-masak dengan anak-anak yang waktu itu ngobrol di pos ronda. Betul saja anak-anak itu kira-kira jam delapan sudah pada datang, malah sekarang jumlahnya jadi delapan orang, yang tadinya hanya Cuma empat orang. Dipa langsung menyambut mereka, awalnya mereka diajak masak-masak. Mereka sangat suka. Dipa segera membuat tungku untuk memasak nasi liwet. Kemudian anak-anak disuruh mengumpulkan kayu bakar. Dan setelah segalanya tekumpul baru lah acara masak dimulai. Awalnya dipa bingung mau masak apa untuk lauknya, apa sayur, apa harus mancing ikan entahlah, yah kalau tidak ada pilhan, pasti ikan atau beli itik pikir Dipa. Lalu Dipa menyuruh salah seorang anak yang hadir, untuk memanggil Herna. Maka anak yang disuruh oleh Dipa itu seg0aera pergi tanpa banyak alasan. Kalau wanita pikir dipa suka bisa mengatur-aturnya. Ketika Dipa sedang sibuk-sibuknya memberi arahan pada anak-anak, tiba-tiba Pak Dasim datang menghampiri. Dipa lantas menjelaskan sama Pak dasim bahwa drinya sedang ada acara dengan anak-anak. Pak Dasim cuma tersenyum dan ia pun segera berangkat ke tempat biasa ia kerja. Beberapa saat kemudian Herna datang, dan selang beberapa menit kemudian disusul oleh wiranta yang setibanya disana dibarengi membawa bermacam macam ikan laut yang masih segar. Tentu saja Dipa dan rekan-rekannya sangat menyambut kedatangan Wiranta, dijelaskan oleh Dipa, acara, begitu-begitu. Wiranta Cuma tersenyum. Demi melihat wiranta datang, Herna segera memburu Kakaknya sepupunya itu. Tentu saja wiranta sangat gembira dan segera menyambutnya. Wiranta nampak gembira melihat Herna akrab dengan Dipa. Kehadiran Herna sangat berarti. Disamping acara berlangsung lancar dan cepat, juga membawa suasana lain bagi Dipa. Sambil menunggu masakan matang, Dipa segera memberikan penerangan pada anak-anak tentang tim nasional, Dipa segera memberikan gambaran bahwa seusia mereka kalau benar-benar mendukung tim kesayangannya ingin menang, maka pendukungnya dulu harus benar-benar menjadi pendukung yang profesional. Alasan Dipa mengapa demikian, selanjutnya oleh Dipa dijelaskan secara detil dan rinci. Wiranta dan Herna melihat penampilan Dipa yang demikian akrab dengan anak-anak, keduanya serentak mengacungkan jempol. Selesai memberikan pengarahan pada anak-anak, Dipa segera menyuruh anak-anak untuk membantu Herna. Menjelang dzuhur Herna memberi isyarat bahwa masakan sudah pada matang.
“Anak-anak, berhubung disini piringnya kurang! cepat kalian bawa piring dari rumah kalian.” Kata Herna. Tentu saja anak-anak tanpa diperintah dua kalipun mereka segera berhamburan pergi menuju rumahnya masing-masing untuk mengambil piring. Setelah anak-anak Kembali, Herna segera membagikan nasi liwetnya, tidak lupa seterusnya ia pun membagikan lauk dan sayurnya. Maka berlangsunglah acara makan-makan tersebut. Disela makan-makan, anak-anak tidak luput mendapat nasihat dan wejangan dari Herna maupun Wiranta. Dan
__ADS_1
setalah acara makan makan selesai, kemudian anak anak disuruh pulang. Saat dzuhur tiba, Kemudian ketiganya segera bergegas untuk shalat. Selanjutnya ketiganya menuju masjid.