Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 6


__ADS_3

     "Kardi...!Kardi....!keluar...." Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, memanggil-manggil mang Kardi.


     Tentu saja seisi gubuk itu mendadak kaget, termasuk mang Kardi. Mang Kardi segera bangkit, keluar memburu kearah datangnya suara.


     "Kang hati-hati!" Suara teh Titin mengkhawatirkan suaminya.


     "Tenang!" Hibur mang Kardi terdengar.


     "Hey....ada apa teriak-teriak? Bisa tidak, sopan!" Protes mangh Kardi.


     "Ahh gak perlu! aku hanya ingin tahu keadaan lubang ini. Apa benar sudah cair?"


     "Kalian jangan seperti anak kecil, bisa di kibuli. cair apanya, aku juga susah." Bantah mang Kardi.


     "Hey Kardi, jangan belagu!!" Katanya sambil mendekat ke tempat mang Kardi berdiri.


     "Sebaiknya kalian jangan mengada-ada, coba buktikan saja sendiri, kalau lubang kami benar-benar sudah cair." Cetus mang Kardi.


     "Wah...Tak perlu, sebab kau sendiri Kardi yang lebih tau. pasti kau menyembunyikannya !" tuding orang itu.


     "Rupanya kalian ini ingin macam-macam!!" Bentak mang Kardi dengan suara agak meninggi.


     "Pokoknya aku tidak mau tahu, aku ingin minta bagian." Desak orang itu ngotot.


     Demi mendengar kata-kata orang itu mang Kardi kesal dan tersinggung, betapa bodoh dan beraninya, serta kurang ajarnya, anggap mang Kardi dalam hati.


     "Hey sekarang kalian mau apa ?" Teriak tantang mang Kardi.


     "Tunggu saya mau bicara!" Tiba-tiba sosok tubuh ikut nimbrung, yang tiada lain adalah pak Dasim.


     "Hey renta!! mau bicara apa engkau??" tanya orang itu dengan nada kasar.


     "Saya tadi mendengar percakapan orang-orang, anggota sebuah lubang, tapi entah lubang yang mana, tapi aku mendengar seseorang menyebut nama Darga dan Ado." Jelas pak Dasim, Sambil selanjutnya memaparkan apa-apa yang ia dengar, dan menceritakan apa-apa yang ia lihat.


     "Yah ini benar-benar sebuah rekayasa." Cetus mang Kardi.

__ADS_1


     Belum juga orang itu menjawab, tiba-tiba suara gemuruh dan teriakan-teriakan terdengar mendekat. Dan beberapa saat kemudian jelaslah suara-suara itu dari serombongan orang-orang. Dan setelah agak jelas dan dekat, tiba-tiba salah seorang dari rombongan itu tampil.


     "Kardi tenang! Ternyata semua ini hanya rekayasa dan fitnah,  Aku punya buktinya." Seru orang itu.


     Mang Kardi segera menoleh ke arah datangnya suara. Dan setelah tahu siapa yang bicara, wajah mang Kardi mendadak cerah.


     "Hey kang Soma, akang datang tepat pada waktunya! Ini kang ada alap-alap !" Kata mang Kardi sambil telunjuknya mengarah pada orang tadi.


     Yang di panggil kang Soma tiba-tiba sudah ada di hadapan mang Kardi.


     "Hey ikun, jangan macam-macam kamu kalau aku mau bertindak, bagiku mudah saja, aku tahu perbuatan kalian tempo hari!" Kata kang Soma.


     "Jangan kang....aku salah, aku beranji akan mengembalikan barang-barang itu." Tukas si Ikun sambil mengangkat kudua tangannya.


     "Kamu Ikun, harus tahu semua ini fitnah, aku punya bukti. Bahwa semua ini perbuatan si Ado dan teman-temannya atas perintah si damangtirta. Dan aku sekarang mau menemuinya!" Jelas kang Soma.


     Mendengar penuturan kang Soma itu, semua yang hadir di sana gemuruh.


     "Dimana si damangtirta itu sekarang?" Tanya mang Kardi nimbrung sambil melirik pada kang Soma.


     Tapi baru saja mang Kardi mau membuka mulut tiba-tiba, terdengar suara teriakan dan di susul bayangan orang yang tiba-tiba tegak berdiri di depan semuanya. walaupun awalnya kurang jelas, tapi akhirnya yang hadir disana bisa tahu siapa gerangan orang itu yang tiadalain, Damangtirta.


     "Soma, tak perlu repot-repot kau mencari ku, kini aku datang sendiri! Perlu kau tahu Soma, sebenarnya bukan engkau yang perlu aku,Tapi aku yang perlu kamu." Ungkap Damangtirta.


     "Apapun alasannya Tirta, boleh-boleh saja, Tapi ini semua pada intinya adalah keegoan dan keserakahan ingin menguasai Tambang ini." Ujar mang Kardi.


     "Iya memang !" Aku Damangtitra.


     "Fitnah, atau menyebarkan berita bohong pada dasarnya adalah siasat licik mu yang bertujuan hanya untuk mengacaukan suasana dan keadaan tambang!"


     "Betul, Tapi ini bisa di selesaikan tergantung pada kita berdua !" Tegas Damangtirta.


     "Maksudmu apa....?" Kang Soma atau Somawinata belum mengerti maksud Damangtirta.


     "Kita harus membuktikan siapa di antara kita yang paling kuat, dan mampu di jadikan pemimpin dari seluruh lubang. Sebab walaupun bagaimana, Warga diseluruh tambang disekitar wilayah ini harus ada yang memimpin, supaya tidak terjadi kesimpangsiuran, seperti yang kita alami sekarang !"

__ADS_1


     "Betul Tirta, tapi cara pemilihanya bagaimana? atau seperti apa? apakah harus mengadakan pemungutan suara!" Kata kang Soma penasaran.


     "Wah...Bagaimana kamu ini Soma, seperti yang telah aku katakan, pemimpin yang kita maksud adalah pemimpin yang di hasilkan oleh adu kekuatan, nah yang jadi pemenang diantara kita itulah pemimpin, bukan seperti pemilihan untuk memilih pemimpin negara. ini adalah pemimpin hutan rimba, Pemimpin yang harus diwujudkan oleh proses kekuatan. Ini dikarenakan disini banyak jawara, yang punya pikiran bahwa setiap kebijakan itu perlu datang dari seorang yang lebih kuat dan mampu. Jadi keberadaan pemimpin disini bisa terwujud apa bila pemimpin yang ada itu bisa di akui kemampuan dan kekuatannya." Tutur Damangtirta panjang lebar.


     "Tapi mengapa tergantung pada kita ?" Tanya Kang Soma. sebenarnya kang Soma sudah tahu kemana arah pikiran Damangtirta.


     "Soma, warga tambang semuanya sudah tahu bahwa diantara kita selama ini selalu bersaing dan kebijakan warga tambang, selalu segan bila disebut-sebut nama kita. Nah hal inilah yang membuat keadaan ini kacau!"


     "Jadi jelasnya bagaimana!?" Tanya kang Soma, ia pura-pura tak memahami perkataan Damangtirta.


     "Soma, Tidak ada waktu bertele-tele, kita harus bertarung, kita harus bertanding untuk menentukan seorang pemimpin." Tantang Damangtirta.


     Mendengar ucapan Damangtirta yang bernada Tantangan, Dada kang Soma nampak bergelombang turun-naik.


     "Tirta, bagiku tak masalah, makanya aku hendak mencarimu, sebenarnya untuk keperluan ini." Tegas kang Soma.


     "Lantas apa keraguanmu ?" Tanya Damangtirta.


     "Aku tidak Ragu-ragu, tapi warga tambang tidak seluruhnya hadir, yang hadir sekarang hanya sebagian kecil Warga tambang. Jadi mereka Tidak akan bisa mengakui secara nyata, pemimpin yang dihasilkan sekarang bila kita langsung bertanding." Tukas Somawinata.


     "Jangan Khawatir, aku mengerti maksudmu, memang semua warga tambang harus hadir sebab kalau tidak nanti akan bermasalah atau paling tidak di hadiri oleh para ketua lubang atau wakilnya. Kau jangan khawatir, sebentar lagi mereka akan hadir, itu semua sudah saya atur......" Jelas Damangtirta.


     "Yah aku setuju." Sahut kang Soma.


     "Nah kalau begitu kita harus menyiapkan arena pertandingannya. Semua yang ada di sini harus membantu untuk keperluan acara ini. Diantaranya membuat arena pembatas dari bambu dan membuat obor sebanyak-banyaknya untuk menerangi di sekitar arena." Papar Damangtirta.


     "Yahh kalau begitu memang aku setuju." Ujar Kang Somawinata


     Selanjutnya orang-orang yang ada di sana segera menyiapkan segala keperluan pertandingan. Mang Kardi sebagai pribumi segera mempeloporinya, semua teman-temannya segera dipinta bantuanya termasuk Pak Dasim dan Dipa.


     "Mang Dasim, mamang Dan Dipa Membantu membuat obor!" Pinta Mang Kardi kepada pak Dasim.


     "Baik jang" Kata pak Dasim singkat sambil melirik ke arah Dipa.


     "Siap pak!" Kata Dipa.

__ADS_1


__ADS_2