
Pada suatu hari ketika Pak Dasim pulang dari sekolahan selesai menemui Kang Suganda. Kemudin Pak Dasim menemui Dipa di kamarnya.
“Nak Dipa nampaknya ada sesuatu yang harus dibicarakan sehubungan dengan keadaan sekarang.” Ujar Pak Dasim Pada Dipa yang sedang tiduran.
“Oh ya bagaimana Pak Dasim.” Sambut Dipa sambil bangkit
“Apakah selama ini nak Dipa memantau perkembangan?” Tanya Pak Dasim “lantas bagaimana menurut nak Dipa?
“Saya sangat menyambut baik Pak Dasim! Seandai menurut bapak perkembangan sekarang adalah jalan terbaik, saya akan mengikuti saja.” Ujar Dipa.
“Tapi rencana kita ada yang akan berubah” Kata Pak Dasim
“Dalam hal apa pak?” Tanya Dipa.
“Ia tadinya kita mau pulang ke Jawa Barat, tapi nampaknya akan batal kalau kita disini punya program.”
“Hal itu tak jadi masalah Pak Dasim, kan prinsip kita pada tujuan rencana mewujudkan cita-cita, bukan tertuju pada
keberadaan tempat.” Tukas Dipa.
“Tapi apakah nak Dipa kerasan tinggal disini? Tanya pak Dasim.
“Tentu saja saya sangat kerasan sebab tinggal Bersama bapak yang sudah saya anggap sebagai bapak sendiri ujar Dipa.
“Pak seandainya kita pulang, pulang itu pulang kemana? Disini dan disana sama kita sebatang kara, malah masih lebih baik disini, karena disini sepertinya kita akan mendapat dukungan.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu bapak sangat senang” Kata pak Dasim sambil memeluk Dipa.
Sepertinya pak Dasim sekarang sudah hampir bisa memahami arti sebuah kata lolos, baginya sangat spesial dalam mengartikan kata lolos, ia lebih baik mati ditambang dalam keadaan terperangkap dari pada lolos, hanya karana badannya saja. Tapi ia lebih suka mengartikan lolos adalah pada cita-cita dan impiannya. Ia sangat tak peduli dirinya harus tinggal dimana, yang penting dia bisa berhasil mewujudkan impiannya membuat sebuah program kegiatan remaja. Pak Dasim selalu teringat pada sebuah lagu yang pernah ia gubah.
Sepertinya ia harus lebih meyakinkan lagi bahwa dirinya, benar-benar bisa lolos dari kemelut kehidupan ini. Kini sepertinya akan membentang sebuah jalan menuju harapannya. Pada suatu hari pak Dasim meminta izin, pada Kang Suganda untuk mempersiapkan segala macam kepeluan yang dibutuhkan. Terutama dirinya harus menyusun kurikulum muatan local. Hal itu bukan masalah buat Kang Suganda, karena segala macam keperluan untuk itu segera dipenuhi. Hampir setiap hari Pak Dasim bekerja membuat program-program tertulis, disebuah ruangan yang cukup memadai.
Sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dasim, Kang Suganda pun terlebih dahulu menambah bangunan untuk sarana belajar. Hal itu untuk menjaga agar tidak mendadak apa bila diperlukan.
Ditengah kesibukan bekerja, tiba-tiba Pak Dasim mendengar suara yang menyapa, setelah pak Dasim tahu siapa yang menyapa itu, mendadak pak Dasim sorak dalam hatinya, karena yang datang itu ternyata Jang Wiranta.
“Jang Wiranta, bapak sebenarnya menanti-nanti sudah hampir seminggu.” Kata Pak Dasim sambil tersenyum.
“Iah saya kebetulan ada pekerjaan yang mendadak.“ Ujar Jang Wiranta.
“Oh itu gampang, besok saja atau mau sekarang juga bisa.” Kata Jang Wiranta.
“Kira-kira rumahnya jau tidak?” Tanya pak Dasim.
“Kira kira seperempat jam kalau jalan kaki.!” Sahut Jang Wiranta.
“Oh dekat!” Sahut Pak Dasim, Tapi biarlah besok saja” Tambah Pak Dasim.
“Yah tidak apa-apa. Ohh iya apakah Pak Dasim, disini kerasan?” Tanya Wiranta sambil menatap Pak Dasim.
__ADS_1
“Tentu saja Jang Wiranta!” Tukas Pak Dasim sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu” kata Wiranta, hatinya merasa lega.
“Justru makanya bapak ingin bertemu dengan pamanmu, itu semua untuk keperluan rencana bapak selanjutnya."
“Ohh iya, bagus kalau begitu pak.” Kata Wiranta.
Esoknya Pak Dasim dan Wiranta segera pergi menuju rumah Pak Danu yaitu pamannya Wiranta. Setibanya dirumah pak Danu, Pak Dasim langsung saja menceritakan bahwa dirinya mau menjual emas hasil tambangnya. Mendengar maksud Pak Dasim demikian, Pak Danu menyanggupinya, namun berhubung keadaan Pak Danu sekarang dalam keadaan tidak sehat, sehubungan dengan kakinya yang belum sembuh akibat luka ketika bekerja di tambang.
“Ohh ya Pak Danu, saya mengerti! Sebab sebelumnya Wiranta telah menjelaskan pada saya, Bahwa keadaan Pak Danu sedang dalam keadaaan tidak sehat, tapi barangkal Pak Danu bisa memberikan alternatif lain, agar saya bisa menemui toko atau yang biasa menerima penjualan emas.” Kata Pak Dasim mengutarakan maksudnya.
“Óh ya bisa, nanti Wiranta akan saya suruh menemui seseorang untuk mengantar Pak Dasim kesana.” Kata Pak Danu.
“Terimakasih Pak Danu.” Ucap Pak Dasim.
“Sama-sama Pak Dasim, saya senang sekali bisa membantu bapak.” Tukas Pak Danu sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian setelah Wiranta disuruh menemui orang yang dimaksud oleh Pak Danu, ketika Wiranta pulang ternyata dia tidak sendiri, tapi ditemani oleh seseorang. Lalu Pak Danu tanpa menunggu waktu lagi, segera
menjelaskan maksudnya. Orang itu tidak keberatan. Maka setelah sepakat akhirnya Pak Dasim dan yang lainnya segera berangkat.
Selanjutnya tidak diceritakan bagaimana prosesnya, tapi diceritakan saja sorenya pak Dasim sudah berada ditempatnya. Dan saat itu Dipa sudah menunggu. Setelah Pak Dasim dan Dipa berbincang-bincang sejenak, tentang penjualan hasil tambang yang jumlahnya sekian dari jumlah keseluruhan, yang dijual hanya barang yang mereka dapat dari orang yang ditemuinya diperjalanan. Dan seterusnya Pak Dasim segera mengajak Wiranta,
menemui Kang Suganda maksud Pak Dasim ingin memberikan zakat dari hasil penjualannya. Setelah selesai dengan urusan itu Pak Dasim segera kembali. Juga Pak Dasim tidak lupa memberikan sesuatu pada Wiranta dan pamannya sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1
Pak Dasim dan Dipa akhirnya sepakat untuk tinggal di desa itu, keduanya sudah bertekad untuk menjalani hidup disana. Untuk itu Pak Dasim dan Dipa sudah membeli tanah disana dan membangun rumah sederhana yaitu rumah panggung dari kayu. Juga seluas tanah pekarangan untuk dijadikan kolam dan tempat untuk memeliahara hewan piaraan.