
Ketika bayi pertama lahir dari rahim Herna. Dan Dipa kini sudah bergelar ayah. maka lengkaplah kebahagiaan keluarga Herna maupun keluarga Dipa. Beberapa hari kemudian Dipa memberi nama anaknya Padam Bara. Sebuah nama yang diambil dari filsapat, yang miliki makna sebuah kondisi yang padam namun dinyalakan lagi.Tinggal kini, menuggu Bang Edi, untuk membuat keputusan. Soal pergi ke kampungnya Bang Edi, itu nampaknya sebuah ke pastian, yang menjadi masalah adalah, apa harus bareng, dengan istrinya, atau sendiri dulu? Nampak nya, harus sendiri dulu, sebab segalanya belum jelas. Nanti kalau sudah segalanya jelas baru. Tapi sekarang, masih tanda tanya. Belum tahu kondisi di sana, sekalipun ada Bang Edi sebagai orang yang bertanggung jawab, tapi tetap, kita harus memperhitungan, jangan mentang-mentang ada orang yang kita kenal, lantas kita lepas kontrol. Ketika Bang Edi datang. Malamnya di rumah Kang Suganda diadakan pertemuan mendadak. Tujuan pertemuaan itu membicarakan kondisi Dipa dengan kepentingan, Pedidikan yang ada di kampung Bang Edi. Akhirnya menurut keputusan Dipa pergi tidak dengan istri. Untuk itu keberangkatan Dipa diputuskan ikut dengan Bang Edi menggunakan kendaraan bermotor.
Besoknya Jam enam dari kampung Bahari, Dipa berangkat dengan Bang Edi. Dipa untuk sementara tidak membawa anak-istri, ini harus benar-benar diperhitungkan secara matang. Sebab masalahnya bawa anak-istri, terbayang kalau segalanya meleset dari prediksi sebelumnya. Wah benar-benar celaka, karena membawa bayi, sangat riskan, kalau tidak jelas kondisinya disana. Baiklah Kata Dipa, lebih baik dirinya sendiri yang pergi, ikut dengan Bang Edi. Sepanjang jalan Dipa dan Bang Edi, keduanya ngobrol membicarakan keadaan di Kampung Bang Edi. Kampung Bang Edi, nama daerahnya adalah Kampung Teluk Jambal yang terletak di kota Bayang-Bayang Propinsi B. Kemudian Bang Edi bercerita tentang kondisi kampungnya saat ini. Kata Bang Edi, berbeda dengan dahulu, sebelum kedatangan para pendatang. Makanya dulu Bang Edi sengaja mengikuti istrinya, karena keadaan dulu kata Bang Edi tidak segawat sekarang. Sekarang keadaan di sana, seperti diam disebuah wilayah perang atau dilingkungan hitam yang segala macam bentuk yang dilarang oleh pemerintah maupun agama, tak di hiraukan. Di sana yang beralaku adalah hukum terminal, semau gue. Siapa berani, kuat dan tega, maka akan selamat dan makmur. Tapi barang siapa yang lemah, serba mengalah dan sabar, toleransi tak tega'an, maka celaka, orang demikian di tempat itu akan tergilas oleh roda jaman yang semakin binal. Tapi walaupun bagaimana, siapapun orangnya tidak akan lepas pada peranannya. Memang hidup ini panggung sandiwara. Semua orang harus berperan sesuai dengan skenario. Adalah semua yang hidup, mau tidak mau akan kena hukum sebab akibat.
Kira-kira waktu dzuhur menjelang, Dipa dan Bang Edi segera beristirahat di warung nasi, mereka makan siang sebelum solat dzuhur. Bagi Dipa segalanya harus siap dihadapi, sekalipun apa-apa yang ada itu sangat bertentangan dengan hati nurani. Contohnya sekarang, disaat- saat dia sedang rindu-rindunya berdekatan dengan anak dan istrinya. Tiba-tiba saja dirinya harus kembali berpetualang, Waktu itu terjadi ketika akan menikah, sekarang terjadi setelah menikah. Kini harus berpisah dengan anak-istri tapi, ini semua bagaimana nanti saja. Ketika Dipa dan Bang Edi sudah sampai di tempat tujuan yaitu di Kampung Teluk Jambal.
Setibanya di sana Dipa langsung oleh Bang Edi diperkenalkan pada keluarga istrinya. Sedangkan besoknya Dipa observasi ke sekitar lingkungan yang dimaksud oleh Bang Edi. Dipa segera mengamati daerah sekitar pesantren, malah Dipa menyempatkan melihat-lihat ke daerah yang disebut-sebut Bang Edi, daerah hitam. Tapi Dipa akan berjanji, walaupun bagaimana yang akan dikedepankannya untuk ke masyarakat, bukan sisi silatnya, tapi, sisi keilmuaanya, sedangkan untuk silat, Dipa akan berusaha memproyeksikannya pada anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar pada suatu waktu anak-anak pesantren ini bisa mau menjadi aset untuk mengangkat pesantren ini ke permukaan. Suatu hari setelah selesai membaca keadaan seperti biasa, Dipa mengajak ngobrol pada Bang Edi. Dipa sudah memilik peluang harus dari mana ia memulai. Rumah Bang Edi yang tidak jauh dari bangunan pesantren, sehingga bisa leluasa mengamati perkembangan anak-anak pesantren. Waktu itu suasana malam, Bang Edi dan Dipa memilih ngobrol di depan, sehingga pemamdangan ke arah seberang kali sangat jelas, di mana, ia bisa melihat dengan jelas ke arah itu, karena di sekitar seberang itu terang oleh lampu penerangan, di mana bisa terlihat keramaian di tempat itu oleh para pengunjung yang bermaksud ingin hiburan.
Dalam kesempatan itu, obrolan Dipa Dan Bang Edi, difokuskan pada peranan Dipa dalam berkiprah di pesantren itu, hanya akan diprioritaskan untuk mengangkat formalitas pesantren kepermukaan, hanya akan, dari sisi matematika, bukan dari sisi ideologi, atau sisi silatnya. Seolah- olah kegiatan di sana akan terlihat biasa-biasa saja. Nanti apa bila pada waktunya harus eksis, maka dari kalangan pemerintah nanti juga, akan melihat sendiri keadaan ini. Dari sana mereka akan melihat dan mempertimbangkan apakah pantas dua wajah yang bertolak belakang misinya, harus hidup berdampingan. Kata Dipa, Kalau sekarang kita memaksakan kehendak bersifat melawan arus, itu tidak benar, karena wajah dan karakter kita adalah sebagai wakil dari pendidikan, dan jangan memperlihatkan persepsi lain-lain, dari masyarakat. Oleh karena itu kita harus benar-benar hati-hati dan besikap mawas diri. Jangan sampai nantinya yang digaris bawahi oleh mereka hanya sisi negatifnya.
__ADS_1
"Jadi mulai sekarang kita harus membuat kurikulum baru, atau paling tidak merepetisinya." usul Dipa.
"Siaplah besok kita rapat" Tukas Bang Edi setuju.
"yah memang lebih cepat lebih baik." Kata Dipa gembira. "Seperti yang pernah saya katakan Bang Edi, bahwa sistem yayasan harus benar terpadu dulu, solid, kompak, satu idiolgi, sepemikiran, tak selamanya perbedaan itu bagus, atau layak dibutuhkan, karena sebuah sistem berdiri itu kuat karena dibangun oleh perbedaan. Betul kalau dari segi fisik, tapi coba kalau yang berbedanya atau dari segi persepsi atau pengarahannya. perencanaannya yang berbedasalah persepsinya, perbedaan yang bagus itu dalam hal tertentu, tapi kalau perbedaannya pada arah dan tujuan, pada prinsip dan pemahaman, itu bisa celaka. Perbedaan itu harus dibatasi ruang lingkupnya. Oleh karena itu, bisa tidak kita hidup dalam satu organ." jelas Dipa.
Mendengar ungkapan Dipa seperti itu, wajah bang Edi mendadak ceria dan akhirnya. Dia merasa yakin bahwa kedepannya keadaan di pesantren ini bisa diatasi.
Selanjutnya masa-masa itu segera berjalan untuk beberapa kali pertemuan. Tetapi berhubung pengurus inti adalah mertua Bang Edi dengan istrinya, jadi segalanya bisa dibicarakan. Pada suatu saat di luar kegiatan kepesantrenan, Dipa sengaja serius berbincang-bincang dengan Bang Edi dan istrinya. Yang diharapkan oleh Dipa adalah, ingin jelasnya, sumber kebijaksanaan, jangan sampai dalam prosedur si A, tapi dalam pelaksanaanya adalah si B. Selain itu Dipa ingin mengajar silat pada seseorang yang tujuan akhirnya bisa mengajar anak-anak pesantren. Jadi masyarakat mengenal Dipa hanya sisi matematika saja. Artinya profesi Dipa di mata masyarakat hanya sebagai pengajar praktek matematika. Ini dipahami oleh Bang Edi dan istrinya.
__ADS_1
Pada suatu hari ketika Dipa sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada seseorang yang sengaja ingin bicara dengan Dipa. Bagi Dipa tidak keberatan. Diajak bicara, bagi Dipa apa susahnya. Sekalipun tampang mereka tidak ramah, malah mereka terkesan ketus, judes, sombong. Tapi itu juga bagi Dipa tidak apa-apa, apa susahnya ngobrol dengan orang yang, sombong, dia juga manusia. Walaupun Dipa tidak akan banyak bertingkah apabila sesuatu terjadi pada dirinya. Misalnya saja menghardik atau mengolok-olok, semuanya akan dihadapinya dengan cuek. Saat itu mereka memperingatkan katanya, jangat macam-macem membuat program yang tidak-tidak. Dipa hanya menjawab iya dan iya, sedikit pun tidak memberikan komentar apa-apa.
Dan ketika Dipa sedang diintrogasi, tiba-tiba salah seorang diantara mereka ikut nimbrung sambil berusaha untuk memeras Dipa. kalau hanya untuk sekedarnya, sempat juga Dipa memberi. Dan setelah itu Dipa segera pergi. Dan pengalamannya itu tidak diceritakan pada siapapun, ini hanya merupakan sebuah catatan bagi Dipa.
Si Dokir yang baru saja memeras Dipa sepertinya bangga. Buktinya kejadian itu diagul-agulkan pada setiap teman yang ia temui. Dia merasa ditakuti oleh Dipa. Dan ketika si Dokir ditanya oleh teman-temannya tentang Dipa, orang mana, sedang apa di sini, si Dokir mengatakan bahwa Dipa hanya seorang guru pesantren.
"Aku katakan bahwa dia jangan macam-macam." Kata si Dokir.
"Bukan masalah macam-macamnya. Mau macam-macam juga silahkan kalau tidak mau dihajar." Kata temannya si Dokir alias si Jaro. "Tapi masalahnya ada uangnya atau tidak? Dia orang berduit atau tidak." Tambah si Jaro.sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"wah kalau soal itu aku tidak tahu, soal berduit atau tidak yang jelas dia hanya seorang guru." Kata si Dokir polos.
Mendengar jawaban demikian, si Jaro cuma nyengir. Dan sepertinya mereka benar-benar preman, karena perbuatannya sama sekali tidak diperhitungkan, atau dipikirkan dampaknya bagi orang lain.