Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 18. Bag 3 - Ada bayangan mimpi


__ADS_3

Hampir setahun sudah Pak Dasim dan Dipa tinggal di Desa Rawa Mutu, yaitu sebuah desa yang cukup subur dan makmur. Dan Seperti yang telah di ceritakan sebelumnya, alasan Pak Dasim tinggal didesa itu didasari oleh kesepakatan dan kebulatan tekad dengan Kang Suganda untuk mengadakan kerjasama membangun pendidikan informal yang pada pelaksanaannya merangkap dengan Pendidikan agama, atau madrasah Ibtida'iyyah. Pak Dasim dalam memulai programnya, diawali dengan menyusun tahapan-tahapan, atau proses pengenalan kurikulum. Dalam tahapan itu pesertanya adalah lulusan SD sebanyak delapan orang per grup. Target dari program itu adalah, pertama-tama wajib paham dulu arti belajar, yang kedua wajib paham dulu apa yang dipelajari, yang ketiga untuk apa belajar, bila dihubungkan dengan keberadaan kita, yang akan menghadapi masa depan. Dalam uraianya, setiap program atau kegiatan manusia tidak bisa dilaksanakan secara spikulasi atau ditalar, tapi semua harus diperhitungkan karena urusannya dengan waktu dan kesempatan seseorang yang sangat penting dan rawan. Dalam programnya Pak Dasim, memberikan bentuk objek dari pelajaran matematika, dengan pelajaran ini peserta didik disuruh memahami kreteria diatas dengan matapelajaran yang sedang dihadapinya, yaitu matematika. Untuk itu Pak Dasim membuat sebuah metode dengan judul merubah bentuk teori kedalam bentuk nyata. Dalam tahapan ini, Pak Dasaim bekerja sama dengan Dipa untuk membuat alat-alat peraga. Alat peraga yang dibuat, adalah merupakan wujud konsekuensi dari teori, menjadi wujud nyata. Oleh karena itu Pak Dasim segera memerintahkan


Dipa untuk membuat alat peraga sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Pak Dasim. Maka selanjutnya Dipa segera melaksanakan semua intruksi yang diberikan kepadanya. Dipa yang dibantu oleh beberapa murid, segera memulai pembuatan alat peraga secara bertahap, dari pengenalan simbol-simbol bilangan oprasional sampai pada bentuk oprasional matematik secara keseluruhan. Alat peraga itu bentuknya fariasi, misalnya alat peraga yang menjelaskan jenis perkalian, alat peraga yang menjelaskan jenis pembagian, atau alat peraga yang menjelskan tentang keberadaan penjumlahan dan pengurangan. Tujuan dari alat peraga ini, sengaja dibuat agar persepsi pelajaran tidak picik. Karena anggapan para pelajar sekarang fakta dilapangan bahwa matematika itu hanya untuk menghitung saja, walaupun sebagian orang dari kalangan tertentu membantahnya. Namun bantahan itu ternyata percuma, karena bukti dilapangan para pelajar yang ada hampir sebagian besar tidak bisa berbuat banyak dengan


pelajaran  matematika, terutama bila dihubungkan dengan profesionalisme. Sehingga apa yang terjadi dalam kehidupan nyata, hampir setiap pelajaran yang diajarkan disekolah hanya sebagian kecil saja yang bisa direalisasikan, misalnya menghitung, membaca, dan menulis.


“Sudah berapa banyak alat peraga yang dibuat dan apa saja jenisnya Dipa?” Tiba-tiba Kang Suganda muncul disamping Dipa yang sedang asyik bekerja.


“Ini, Hampir sepuluh.” Kata Dipa


“Bisa akang melihatnya.”  Pinta Kang Suganda.


“Tentu saja bisa.“  Tukas Dipa sambil segera bangkit, untuk segera mengambil alat peraga yang sudah dibuat, dan sekembalinya kehadapan Kang Suganda Dipa Sudah membawa alat peraga yang dimaksud.


Kang Suganda segera menerimanya dan kemudian dia memerikasanya. Tampak perubahan Expresi wajah Kang Suganda setiapkali ia khusu memperhataikan alat peraga tersebut.


“Hmm walaupun sederhana bentuknya tapi hakekat pemikirannya ini tidak sederhana, makanya pantas saja Pak Dasim tidak akan mendapat dukungan dari manapun.” Tegas Kang Suganda.


Seterusnya Kang Suganda memperhatikan alat-alat peraga lain yang sudah ada disana.


“Kalau yang ini menerangkan tentang apa?" Tanya kang Suganda.

__ADS_1


"itu perjalan energi, kalau dalam dunia elektro kata pak Dasim sejenis cara kerja resistor, ini sengaja dibuat manual agar orang tahu bahwa cara kerja resistor ini begini.”  Tutur Dipa menjelaskan, sesuai dengan keterangan yang ia dapat dari Pak Dasim.


“Ini sangat luarbiasa bagiku, ini adalah sebuah langkah yang tepat untuk menyadarkan pola pikir masyarakat yang suram terhadap arti sebuah pelajaran.” Tukas Kang Suganda.


“Betul Pak Suganda” Sahut Dipa


“Yah teruskan akang  mau menemui dulu Pak Dasim.!” Kata Kang Suganda, sambil seterusnya dia meninggal tempat itu.


Pada suatu hari ketika Dipa selesai bekerja, tadinya ia mau menemui Pak Dasim untuk membicarakan pembuatan alat peraga selanjutnya. Namun Pak Dasim kelihatan sedang sibuk menjelaskan sesuatu pada murid-muridnya. Lalu Dipa meninggalkan tempat itu. Dipertengan jalan Dipa bertemu dengan seorang gadis, Dipa sebenarnya kenal pada gadis itu, karena dia adalah guru yang biasa mengajar agama pada anak-anak Ibtidaiyyah.


Dipa segera memberi salam, dan dijawab oleh guru itu.


“Ohh yah tadi ayah ku amanat, agar Kang Dipa disuruh bapak datang ke rumah ku” Sahut Si gadis atau guru itu. “Itupun kalau akang sedang tidak sibuk, seandainya masih sibuk biar saja nanti setelah magrib.


“Betul !” Tukasnya berpamitan.


Selanjutnya Dipa segera memburu rumahnya pak Danu yaitu ayahnya Herna, nama gadis tadi atau guru madrasah itu. Dan tak lamapun Dipa sudah sampai di rumahnya Mang Danu.


“Jang Dipa rupanya terganggu? Tadinya sudah magrib saja, emang ada perlu, ada yang ingin dibicarakan!” Kata mang Danu setelah Dipa duduk dikursi rotan.


“Ah enggak, pekerjaannya sudah beres pak.“ Sahut Dipa sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ohh ya sebentar nak Dipa!” Kata pak Danu dengan terpincang-pincang ia meninggalkan Dipa. Memang sejak Mang Danu mendapat musibah sewaktu bekerja ditambang, sampai kini dia tak bisa lagi bekerja yang terlalu berat .


Dipa hanya memandang kepergian pak Danu dengan tatapan yang penuh dengan perhatian. Memang Dirinya belum lama kenal dengan pak Danu, sehingga Dipa belum bisa menilai cukup banyak tentang kepribadiannya. Tapi bila melihat sikap dan kesopanan pak Danu, Dipa sangat yakin bahwa Mang Danu adalah orang yang baik.


“Aduh maaf yah Jang Dipa di tinggal sebentar, anu...saya mau mencari ibunya herna dulu.” Tukas pak Danu.


“Tidak apa-apa pak Danu santai saja” Kata Dipa.


Selanjutnya pak Danu menjelaskan maksud-maksudnya pada Dipa , bahwa dirinya yaitu Mang Danu ingin berbincang-bincang tentang teknologi tepat guna, yang bisa diterapkan dipedesaan, yaitu alat-alat yang diantaranya dipergunakan untuk pengolahan bahan pangan, misalnya pengolahan kerupuk, pengolahan daging, atau pengolahan bahan-bahan alam yang bisa dilakukan dipedesaan. Tentu saja Dipa sangat gembira mendengar maksud pak Danu Demikian. Sebab ini adalah sebuah jalan untuk menjalin persahabatan.


“Saya sangat gembira mendengar niat pak Danu yang ingin memanfaatkan teknologi untuk diterapkan di pedesaan. Saya sangat memdukung dan nanti akan dibicarakan programnya dengan mang Dasim.


“Iah betul” Sahut pak Danu sangat gembira.


“Yah mudah-mudahan ini adalah awal harapan yang indah dan cerah, saya sebenarnya sangat mengharapakan bila


disini kita bisa mengembangkan sesuatu yang lebih maslahat untuk kehidupan bermasyarakat.”  Papar Dipa.


“Memang jang Dipa, harapan awal pun memang demikian, namun seperti yang dikatakan sebelumnya, kita disini sangat membutuhkan orang-orang yang peduli pada kemajuan masyarakat pedesaan. Karena pada dasarnya kemajuan itu harus ditandai oleh adanya penggerak yang bisa membimbing masyarakat.” Jelas pak Danu sambil menatap wajah Dipa.


“Yah kita Bersama sama saja pak Danu, sayapun masih terus menimba ilmu dan pengalaman dari Mang Dasim.” Jelas Dipa

__ADS_1


“kalau dengan Pak Dasim itu. Hubungan jang Dipa saudara atau apa?” Tanya pak Danu.


“Sebenarnya, kalau saudara hubungan darah, sih tidak. Tapi berhubung, saya sangat simpati dan merasa perlu, akan keberadaan ilmu Pak Dasim dan ingin menimba ilmu dari pengalaman-pengalamannya, maka saya sudah mengangap pak Dasim sudah seperti bapak saya sendiri. Lagi pula baik pak Dasim maupun saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi.“ Tutur Dipa terus terang seadanya.


__ADS_2