Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 33


__ADS_3

Kemudian setelah Dipa menyiapkan alat-alat pancing dan cacing sebagai umpannya, maka selanjutnya ia memancing di kolam miliknya. Tatkala tangannya memegang  joran dan duduk diatas bangku yang itu. Mendadak hati Dipa tergugah, teringat kemasa beberapa bulan kebelakang sewaktu berbincang dengan anak-anak, membicarakan tentang sepak bola. Tapi Dipa sangat bersyukur, bahwa dirinya bisa selamat, dan kembali berkumpil dengan Pak Dasim, malah dengan Herna, juga Kang Suganda. Wah tiba-tiba Dipa kaget Ketika umpannya, disanggut, dan Ketika di hentak, mendadak ujung joran melengkung drastis, ini menandakan ikan yang menyambut umpannya, adalah ikan yang besar. Betul saja, ikan itu besar, ikan itu menggelepar-gelepar diatas tanah. Kemudia


Dipa memungutnya, dan mata kail yang tertelan mulut ikan segera di copotnya. Dipa segera mengambil ember kesil, lalu diisi oleh air, kemudian ikan itu segera dimasukan kedalam ember. Dipa segera memasang umpan lagi, dan setelah itu ia melemparkanya ketengah kolam. Selang beberapa detik, tiba-tiba, terasa ada getaran pada joran yang di pegangnya, dan seiring pelampung yang tenggelam, maka tidak membuang waktu lagi Dipa segera menghentak joran itu, lagi-lagi joran melengkung seperti tadi. Kemudian Dipa segera menarik tali pancingan itu,


sampai Ikan bisa diangkat kedarat. Ikan yang kedua ini pun tak kalah besarnya. Seperti hal nya tadi Dipa segera mencopot mata kailnya, kemudian ia menganti umpannya, setelah ikannya dimasukan ke ember. Kemudian mata kail yang sudah dipasang umpan, segera dilemparkannya kembali. Tiba-tiba Dipa mendengar suara salam dengan suara yang lembut dan syahdu, betul saja dugaan dalam hati yang menebak siapa yang punya suara semerdu itu. Ternyata Herna. Dipa segera bangkit, dan membiarkan jorannya tergeletak ditanah, Dipa segera menyuruh Herna duduk di bangku pinggir kolam.


“Kang Dipa Ayah menyuruh akang kesana,” Kata Herna sambil menatap tajam, bagi Dipa tatapan itu adalah tatapan kembali, terlihat setelah sekian lama menghilang.


“Oh ya akang mau kesana, tapi kita masak dulu yuk.” Kata Dipa


“Kang Dipa justru Herna sudah masak sengaja untuk menyediakan kang Dipa.” Tukas Herna.


"Yah kalau begitu, biarkan ikan-ikan ini untuk nanti sore.” Ujar Dipa. Sambil menarik kail pancingannya. Tapi tiba-tiba, tarikannya berat pertanda kembali umpannya disanggut ikan.


“Yah sudah saja dik, tadinya akang mau memancing lele juga untuk Pak Dasi, tapi biaralah segini juga sudah cukup.”


Kemudian Dipa segera membereskan semua peralatannya. Sedangkan ikan hasil pancingannya segera di amankan di dapur. Kemudian setelah beres, Dipa segera mengajak Herna berangkat.


“Tadi Pak Dasim berbincang-bincang dengan bapak, bahwa pernikan kita akan berlangsung kurang lebih sebulan lagi, Makanya Pak Dasim dan Bapak sedang mengurus segala keperluannya.” Kata Herna.


“Aamiin semoga segalanya lancar, tidak ada gangguan apapun.” Pinta Dipa sambil mengadahkan tangan.


“Aamiin” Tutur Herna menyambut doa Dipa.


Lalu keduanya saling tatap, tersenyum dan berjalan. Obrolan dan obrolan terus saling rangkai, mereka saling mengungkapkan perasaan dan jalan pemikiran masing-masing yang diungkapkan dengan kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Tak terasa tahu-tahu sudah didepan rumah.


Kemudian Herna mengucapkan salam, tiba-tiba dari dalam rumah Pak Danu yang jalannya masih terpincang pincang, dan Bu Mae segera muncul didepan pintu.

__ADS_1


“Dipaaa.“ Bu Mae memburu Dipa dengan deraian air mata.


“Pak!!” Dipa segera memeluk Pak Danu.


“Aduh Dipa, bapak dan Pak Dasim sempat khawatir, sebab sudah setahun lamanya, tidak ada kabar tentang Dipa.” Tukas Pak Danu. Sambil membalas pelukan Dipa, keduanya sangat rindu. “Ayo duduk, bu sediakan makanan.”


“Kami ingin sarapan tadi kang Dipa tidak jadi masak.” Sela Herna.


“Ohh ya, ibu sudah masak! Sok mau di dapur atau disini!” Kata Bu Mae.


“Di sini saja!” Kata Herna.


Sebentar kemudian nasi dan lauk-pauknya sudah terhidangkan diatas meja.


“Ayo Dip” Kata Bu Mae sambil memberikan piring pada Dipa.


“Aduh jadi merepotkan” Kata Dipa.


Akhirnya Dipa dan Herna sekeluarga segera makan Bersama. Sambil ngobrol.  Pak Danu membicarakan rencana yang telah dibicaran dengan Pak Dasim dan Kang Suganda. Kata Pak Danu, sudah sepakat, Kang Suganda, Pak Dasim maupun dirinya, bahwa acara pernikah akan dilaksakan hari anu tanggal sekian Sembilan belas sekian. Tentu saja Dipa setuju-setuju saja. Tinggal pikirnya, ia mempersiapaka segalanya. Dan tentunya dia akan membicarakanya dengan pak Dasim.


Dan Ketika sedang asyik-asyiknya Dipa ngobrol sambil menikmati lezatnya hidangan yang disajikan oleh Bu Mae calon mertuanya, Tiba-tiba rombongan anak-anak, tahunya sudah berkerumun didepan teras, sedangkan Dipa dan herna sekeluarga sedang asyiknya makan. Dipa segera menyambut mereka, dan setelah Dipa ada di depannya, satu persatu anak-anak segera mengulurkan tangan bersalaman.


“Syukurlah kalian masih ingat Kang Dipa! Sekarang kalian pulang dulu, sebab Kang Dipa sedang ada urusan penting yah.“ Tukas Dipa.


“Baik Kang Dipa.“ Kata anak-anak sambil bergegas meninggalkan rumah Herna.


Setelah anak-anak jauh, Dipa segera Kembali, ia segera melanjutkan makannya.

__ADS_1


Setelah acara makan-makan selesai, Herna dan Dipa akhirnya membicarakan situasi di pesantren. Herna menceritakan, program atau aktifitas kepesantrenan, selanjutnya Herna juga menegaskan bahwa anak-anak tadi sudah terikat oleh kegiatan rutin di pesantren. Herna menjelaskan bahwa program Dipa tentang orang tua dilingkungan, sudah ditertapkan sebagai program muatan local pesantren Yayasan Generasi Bangsa. Mendengar penjelasan Herna demikian, tentu saja betapa bahagianya Dipa. Ia sangat respek terhadap inisiatif Herna yang demikian peduli dan cerdas, Dipa memuji dalam Hatinya. Dipa semakin yakin bawa Herna adalah pilhan terbaik untuk seorang calon istri. Dan Herna Pun memberitahukan Dipa, selama Dipa tidak ada, Pembuatan alat-alat peraga diserakan pada anak-anak santri. Itupun bagi Dipa tak jadi masalah yang penting kegiatan yang telah berjalan, tidak mandek. Dan Herna pun menjelaskan selama Dipa tidak ada, dia tinggal di rumahnya Kang Suganda, Namun karena Dipa sudah Kembali, maka Herna akan Kembali ke rumahnya. Lagi pula kata Herna, waktu pernikahan sudah dekat, untuk itu Herna harus menyiapkan segalanya.


“Gimana perkembangannya, pengajian anak-anak di madrasah?” Kata Dipa bertanya, sebab walaupun bagaimana ia sangat terkenang pada anak-anak.


“Semua itu beres” Tukas Herna sambil tersenyum.


“Akang permisi pulang ya.“ Kata Dipa.


“Eh ngomong ngomong Kang Wiranta gimana kabarnya?” Dipa baru teringat sahabatnya Wiranta.


“Tentu saja, dia juga sangat kehilangan Kang Dipa, Awalnya Dia nyaris tiapa hari kesini selalu saja menanyakan


akang.”  Ujar Herna.


“Aduh, kalau dekat rasanya ingin kesana, menemuinya” Kata Dipa


“Mudah-mudahan hari minggu kesini.” Harap Herna.


“Ya begitu saja, akan permisi.” Kata Dipa sambil bangkit dari tempat Duduk.


Herna segera masuk, menemui orang tuanya, tak lama kemudian Pak Danu dan Bu Mae segera keluar.


“Kok Buru-buru amat Dip, kan masih belum ada kegiatan?” Kata Bu Mae.


“Nerusin Mancing untuk menyiapkan makanan untuk sore.” Ujar Dipa sambil tersenyum.


Dipa segera bergegas pamit untuk pulang, setelah orang tua Herna mempersilahkannya. Dipa langsung saja pulang menuju rumahnya. Dan Tak lamapun dirinya sudah sampai dirumahnya. Tiba-tiba Dipa teringat ingin beli angsa atau ayam pada Mang Karim. Iya pikirnya. Kemudia Dipa menuju rumah mang karim, setibanya Dirumahnya mang karim, Dipa disambut oleh Mang Karim. Mang Karim pun sangat rindu padanya. Dipa hanya memaklumi. Dan

__ADS_1


sebelum mengutarakan maksudnya, Dipa segera pergi ke warung dulu, yang letaknya tidak jauh dari rumah Mang Karim. Dan ternyata di warung, ada olahan yang menarik, kemudian Dipa membelinya. Dan seterusnya Dipa membatalkan untuk memesan daging angsa atau daging itik. Setelah itu Dipa segera pulang.


Sesampai dirumah, Dipa sudah ditunggu oleh Pak Dasim. Pak Dasim segera memberitahukan bahwa  Dipa harus melengkapi surat-surat keperluan untuk nikah, diantaranya KTP dan surat-surat lainya. Untuk itu Kata pak Dasim, Dipa pergi dulu ke kelurahan. Dan selanjutnya Dipa segera pergi ke kelurahan bersama orang yang akan menguruskannya. Sepulangnya dari kelurahan, sudah lewat waktu ashar, untuk itu Dipa segera sholat ashar mumpung masih ada waktu. Dan setelah sholat, Dipa segera pulang. Dan Ketika tiba dirumahnya, Pak Dasim sedang masak. Dipa segera mengambil alih pekerjaan Pak Dasim.


__ADS_2