Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 48


__ADS_3

Buah dari kejadian tempo hari, bagi si Jaro dan kawan-kawan tidak membuat selesai sampai disana. Mereka dibuatnya luka perasaan, ada perasaan terhina yang tersimpan di hati Si Jaro dan kawan-kawan mereka merasa harga dirinya dirusak oleh Daka dan kawan-kawan. Oleh Karenanya Si Jaro dan kawan-kawan mengadakan perbincangan, mebicarakan, rencanq selanjutnya untuk mengembalikan sakit hati mereka. Untuk itu pada suatu kesempatan Jaro dan kawan-kawan, ketika mereka sedang ada di pasar hiburan, mereka segera menemui seseorang yang baru kira kira sebulan ada di kampumgnya. Orang itu katanya orang bekelas yang sedang mencari angin di kampungnya. Dan ketika Si Jaro serta kawan kawannya, mengenalkan diri, orang berkelas itu malah menunjukan sikap merespon dan bersahabat. Akibatnya Si Jaro dan kawan-kawan tentu saja merasa diberi jalan dan harapan, sehingga tidak panjang pikir lagi, Si Jaro merasa punya perlidungan kekuatan baru.


Untuk Si Jaro segera menceritakan kejadian yang telah mereka alami, dan selanjutnya mereka mohon bantuannya. Orang itu serta merta menyanggupi permohonan Si Jaro. Dia, akan membantu si Jaro, asalkan kata orang itu, si Jaro dan kawan-kawan, mau menjadi anak buahnya. Sijaro dan kawan-kawa, setuju atas permintaan orang itu, asalkan dia diapun Dibantu.


Pada suatu hari kira kira-kira jam sembilan malam, si Jaro dan kawan-kawannya, sedang berbicang-bincang dengan bos barunya. Si Jaro diberi pengarahan, bahwa jangan menyimpan unek-unek dalam hati, tetapi unek-unek itu harus dilepaskan jangan dikurung dalam dada, nanti bakal meledak, katanya. Si Jaro jadi penasaran dan meminta kejelasan maksud bosnya itu. Si bos segera meminta agar si Jaro mendekat. Kemudian si Bos membisikan sesuatu di telinga Si Jaro.


"Tapi Bos" Si Jaro agak kaget dan kelihatan mukanya agak pucat.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi, kalau mau menjadi anak buah ku ini adalah tes awal." Kata sibos dengan sikap harga mati. "Gimana sanggup?"


Sijaro diam tak buru-buru menjawab. Hatinya mendadak kaget, ternyata dia belum apa-apa sudah terjebak permainan orang lain.


"Kalau kau ragu-ragu dan takut, sudah saja pulang! Dan jangan sekali kali bergaya seperti orang jago. Dan juga jangan datang lagi, mendekati ku." Tegas si Bos mencemooh dan meledek sikap si Jaro.


Mendengar kata-kata Si Bos Demikian, Si Jaro masih Diam, Si Bos menjadi gusar dan seketika itu melayangkan sebuah tendangan.

__ADS_1


"Kau jangan main-main dengan harimau lapar." Kata si Bos sambil menjambak baju si Jaro.


"Baaaik boos!" Kata Si Jaro, sambil bangkit.


"Cepat pergi!" Hardik si Bos.


Sijaro segera pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dalam hatinya sangat berkecamuk perang batin antara menyanggupi perintah si bos atou menolaknya. Sebab pikiran jernihnya berkomentar, jangan-jangan dirinya hanya akan dikerjain, masa jadi bos cuma merintah doang, kenapa tidak ikut turun.Tapi berhubung sudah kepalang benci pada Daka dan rekan-rekannya, si Jaro akhirnya nekat akan melakukan perintah bosnya itu. Rencana itu menurut si Jaro akan di laksanaka nanti tengah malam. Makannya dia segera persiapan.

__ADS_1


Kebiasaan Aria Bangun tengah malam untuk melakukan solat tahajut dan kemudian melatihkan jurus-jurus yang diajarkan oleh Daka dan Sunan, membuat ia merasa akrab dengan suasana mala seperti itu, dan satu hari saja ia tak melakukan itu, Aria seperti merasa kehilangan apa. Kebiasaan Aria suka tidur di mesjid sehingga tidak susah bangun kalau ada apa-apa. Waktu aria terbangun dari tidurnya, karena seperti ada yang membangunkannya, awalnya ia hanya menganggap itu adalah hal yang biasa, tapi kepekaan daya pendengarannya, ia menangkap suara langkah-langkah kearah samping bangunan, pesantren yang berdampingan dengan tempatnya sepasang suami istri yang baru punya anak satu yang masih kecil. Berhubung bangunan mesjid itu sekelilingnya tidak ada ding penutup, dengan kata lain terbuka, atau tembus pandang, tentu saja Aria Dengan mudah bisa melihat ke arah luar. Dan kemudian Aria melihat orang-orang itu mendekat kerumahnya mertua Bang Edi, dan sebelum ketiga orang itu bisa melakukan apa-apa, Aria segera keluar, dan berteriak sekuat-kuatnya sambil memburu ketiganya. Sementara ketiga orang itu mau menyantroni barang-barang milik mertuanya Bang Edi. Ketuka Aria sudah mendekat salah seorang diantara mereka yang tiada lain adalah Si jaro yang mukanya ditutup kain. Si Jaro segera menyerang Aria dengan obornya yang menyala. Tapi Aria berkelit sambil membalas mengirimkan tengan melingkar dan, tanpa diduga oleh Si Jaro, tendangan Aria itu bersarang di dadanya Si Jaro. SiJaro mendadak meringis dan ketika tanganya yang memegan obor itu replek melemparkan obornya, yang maksunya hendak membakar muka Aria, tapi aria segera menghindar, akibatnya obor tersebut terus melesat, yang seterusnya meluncur, jatuh ke lantai teras rumah itu, sedangkan lantai itu dasarnya adalah kayu yang terbuat dari bahan kere, yang mudah terbakar. Sehingha tak lamapun teras iru terbakar dengan cepatnya karena minyak dalam obor itu tumpah. Aria segera berupaya untuk memadamkan api,agar jangan menjalar kemana-mana. Tapi Si Jaro tak sedikit pun memberi kesempatan pada Aria untuk berbuat lebih banyak. Sadar akan hal itu Aria dengan suaranya yang terus menerus berteriak mencoba membangunkan orang -orang di sekitarnya, agar membantu dirinya memandamkan api. Dan seketika itu juga orang-orang termasuk para santri yang merupakan teman-temanya, segera terbangun karena terganggu oleh suara Aria. Akhirnya terdengar suara riuh disekitar itu. Kebakaran...! Kebakaran....! Katanya. Aria sudah tidak memikirkan lawannya tapi yang ia pikirkan oleh Aria adalah keselamatan penghuni, rumah yang terbakar. Aria tahu bahwa itu adalah rumah gurunya dengan bayinya, sedangkan pak Wildan suaminya Bu Siti, sedang tidak ada, tadi juga tidak mengajar, katanya ada tugas yayasanya. Berpikr kesana Aria jadi khawatir keselamaan Ibu Siti. Dan setelah para santri Datang Sijaro terus di keroyok oleh para santri. Aria berteriak pada teman-temanya, para santri, agar memberitahukan pada Daka dan Sunan guru silatnya , agar mengejar teman-teman si Jaro. Dan seterusnya Aria segera merebut beberapa sarung santri, kemudian sarung-sarung itu sisarungkan pada tubuhnya, selanjutnya Aria segera melompat ke kolam depan mesjid. Kemudia setelah merasa tubuhnya basah kuyup Aria kembali melompat ke darat dan seterusnya ia menerobos pintu rumah yang didalamnya terdengar tangisan suara bayi, sementara ibunya bayi Ibu Siti, mungkin karena gugupnya cuma menggendong guling-guling, utung Aria tidak panik ia segera bertindak ia segera menerobos kobaran api yang melahap bangunam rumah itu. Aria sudah berada dikamarnya, dimana bayi itu berada, kemudian bayi itu disambarnya dan tubuh bayi itu terlindung oleh sarung yang sengaja di balutkan pada tubuh bayi itu. Aria segera menerobos kobaran api, ia sudah tidak menghiraukan keselamatan dirinya. Demi melihat bayinya selamat, ibu siti segera meburu bayinya yang ada di pangkuan Aria. Kemudian busiti memeluk bayinya, sambil menghujani dengan kata-kata yang menggambarkan rasa suka cita, Namun juga tidak lepas diiringi dengan tangisannya yang terdengar memilukan. Sadar orang- orang dibikin kacau balau, Si Jaro berusaha melepaskan diri dari keroyokan para santri, dan setelahnya, Si Jaro kemudian masuk kedalam rumah mertuanya Bang Edi.Didalam rumah, ternyata kedua temanya sedang di hadapi oleh Sunan dan Daka. Yang saat itu sudah bisa ditakklukan oleh Sunan dan Daka. Melihat teman temanya disandra, Si Jaro cepat cari akal. Sijaro cepat menahampiri anak persantren putri, ka mudian ia menyandrannya. Bersamaan dengan itu Aria yang telah menyelamatkan bayi gurunya segera ia memburu suara jeritan dari arah loteng dimana adiknya Bu Halimah yaitu istrinya Bang Edi. Neng putri, sedang terjebak oleh kobaran api. Aria segera menyabar gordeng itu, kemudian dibalutkan pada tubuh neng putri kemudian ia menarik tubuh neng putri dibawa turun lewat tangga. Aria.sudah tidak meng hiraukan lagi keadaan tubuhnya yang sudah mengalami luka bakar, dan sekarang pun dirinya harus merelakan tubuhnya dijilati oleh kobaran api sehingga ia kembali mengalami luka bakar. Dan ketika dia sudah sampai di bawah, pas Si Jaro sedang menyandra salah seorang temanya Aria segera memburu Si jaro dengan serangan kaki, dengan posisi badan yang melayang. Si Jaro kaget, dan seketika itu sandranya pun lepas . Melihat Si Jaro sudah tidak berbahaya lagi, para santri segera mengepung tanpa apun. Sehingga Si Jaro dalam waktu singkat dapat diringkus


Sampai akahirnya, Si Jaro, Si Dokir dan Si Irpan segera Diamankan, menjaga dari serangan warga yang sudah pada Datang. Sementara aria yang mendapat luka bakar dan tubuhnya luka-luka akibat tergores kaca pintu, sewaktu ia menerobos tadi, segera mendapatkan perawatan.


__ADS_2