Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 32


__ADS_3

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, para penjahat segera kabur, sebab warga setempat sudah tidak punya yang dikhawatirkan lagi. Sehingga mereka sangat leluasa untuk mengepung para penjahat itu. Karena Herna yang di sandranya sudah bisa diselamatkan oleh si penolong. "Kabuuuur..." salah satu diantara para penjahat itu, yang mungkin pimpinannya, memerintahkan untuk menyelamatkan diri. Penjahat-penjahat itu seketika itu juga memainkan goloknya, golok-golok itu berputar bagai baling-baling kapal terbang. Gerakan golok itu tujuannya untuk membuka ruang, agar para pengepung itu tidak berani mendekat. Akhirnya Para penjahat itu, bisa meloloskan diri dari kepungan warga Kampung Bahari.


Sementara orang-orang yang ada disana merasa penasaran, kepada sosok si penolong yang masih berdiri didekat Herna. Dan diantara yang penasaran itu, tiada lain adalah Kang Suganda. Wajah si penolong tertutup kain yang membungkus wajahnya kecuali matanya. Sehingga orang yang melihat, tidak bisa mengenalinya. Ditengah hati yang berdebar-debar, penuh dengan rasa penasaran, ingin segera tahu wajah orang yang telah menyelamatkan


kampungnya dari gangguan para penjahat yang hendak membakar pesantren. Yang menyaksiakan tambah tak sabar, Ketika tangan si penolong perlahan-lahan membuka kain penbungkus kepalanya. Setelah segalanya tidak ada penghalang, yang menutupi wajahnya, semua orang bisa melihat jelas siapa penolong itu. Kang Suganda dan semua orang yang ada disana termasuk Pak Dasim serentak menyapa sebuah nama yang tak asing didengar. Dipaa!!! Dan yang paling histeris memanggil nama itu adalah Herna, Dia memanggil nama itu diiringi dengan ledakan suara tangis, Herna memburu tubuh Dipa, ia tidak menghiraukan keadaan di sekelilingnya, Ia tak sanggup menahan kerinduannya, kecuali dengan memeluk tubuh kekasihnya sambil menangis.


“Sudah lah Dik, Kang Dipa sekarang sudah Kembali, nanti kang Dipa ceritakan kejadiaanya.” Kata Dipa sambil membangkitkan badan Herna.


“Dip! mari kita ngobrolnya dirumah akang.” Kata kang Suganda sambil menepuk Pundak Dipa.


“Iah kata Dipa sambil melangkah masuk keruangan depan rumah kang suganda yang Bersatu dengan bangunan pesantren.

__ADS_1


Setelah Dipa dan yang lainya berada didalam ruang tamu rumahnya Kang suganda, sedangkan sebagiannya berjubel di pintu, mereka ingin melihat dengan jelas apakah betul itu Dipa. Selanjutnya Dipa menceritakan kejadiannya dari awal, bermula, Ketika ia baru Kembali Dari klinik. Saat itu Dipa antara sadar dan tidak sadar, bahwa tubuhnya dirasakan ada yang membawa. Sedangkan Dipa saat itu tidak bisa meyakinkan, akan kemana dirinya dibawa. Yang jelas boro-boro bisa memperhatikan keadaan sekeliling, yang pasti keadaan diri sendiri juga, begini adanya. Kesadaran Dipa saat itu sudah hilang sama sekali. Sehingga entah berapa lama ia harus mengalami tak sadarkan Diri. Tahu-tahu, keadaan itu dirasakan setelah mulutnya terasa basah dan segar oleh sentuhan air yang masuk mengalir ke tenggorokannya. Seseorang telah merawatku. Orang itu tidak jelas menampakan mukanya, karena kesaluruhan wajahnya dibalut kain, hanya matanya saja yang jelas terlihat. Orang itu mengatkan bahwa aku, sedang luka parah, tulang rusuk, dan tulang paha patah. Sehingga katanya aku tidak boleh bergerak,


sementara sholat dengan isyarat saja. Dia dengan telaten merawatku, baik makan atau Ketika ingin buang air kecil atau besar.


Setiap hari, Dipa mendapatkan pengobatan terapi dan pengobatan meminum ramuan-ramuan herba, agar


kelak dia bisa Kembali meneruskan perjuangnnya di pesantren Generasi Bangsa. Kurang lebih satu bulan Dipa tak berkutik di pembaringannya, disebuah ruangan, yang saat itu tidak tahu ruangan apa itu. Akhirnya setelah kesehatan dirinya mengalami kemajuan, tubuhnya berangsur-angsur mengalami perubahan menuju sehat, maka pada suatu hari dirinya bisa berjalan walaupun masih memakai tongkat dan setelah terus menerus mendapat perawatan, maka dirinya kata Dipa, telah mengalami kesembuhan total. Tetapi kata si penolong, bahwa dirinya belum cukup untuk bisa, meninggalkan tempat itu. Dipa kata si penolong itu harus mengalami terapi tenaga dalam supaya organ-organ tubuhnya sehat, kuat terhindar dari gangguan penyakit. Akhirnya Dipa mulai saat itu mendapat pelatihan tenaga dalam yang disalurkan lewat latihan bela diri silat. Gerakan-gerakan dasar yang dilatihkan padanya, sangat variatif dan banyak macamnya dari penguatan kaki, tangan, punggung dan perut. Hampir tiap hari dijalani. Tempat yang selama ini didiami selama dirinya sedang dalam masa-masa perawatan, ternyata adalah sebuah Gua yang terletak disebuah pedalaman yang jauh dari perkampungan. Pantas saja, sangat sepi dan sunyi,


kelenturan tubuh. itu banyak macamnya, bila dilihat tingkat kesulitannya, belum apa-apa juga, mempelajarinya sudah keburu malas dan takut. Tapi bagi Dipa yang sudah terlanjur paham dan merasa butuh ke ilmuan itu, padahal sebelumnya dia sangat mengabaikan. Misalnya saja dari pagi, ba'da sholat shubuh Dipa merendam diri


didalam sungai yang airnya dingin, itu dilakukannya berjam-jam. Belum lagi Ketika matahari sedang panas-panasnya, Dipa diperintahkan untuk menjemur diri. Hal itu dilakukan terus menerus. Masih banyak lagi ilmu-dasar fisik yanag harus ditekuni oleh Dipa. Yang ke empat adalah ilmu dasar tenaga dalam. Itu dliakukan oleh Dipa, misalnya melatih pernapasan setiap hari disaat matahari mulai bersinar. Dan Latihan pernapasan disaat matahari terbenam. Itu pun terus menerus dilakukannya. Yang kelima adalah melatih Gerakan refleks, Ketika mendapat serangan, untuk latihan ini, guru misteriusnya membawa rupa-rupa kaset jaipongan dan ketuk tilu, ini diperlukan

__ADS_1


untuk melatih konsentrasi daya pikir apabila berhadapan dengan alam. Di dalam kaset jaipongan ada suara irama kendang yang bervariasi warnanya, itu harus dimanfaatkan untuk menjadi sebuah Gerakan yang spontannitas, datang tanpa direncanakan. Dan juga pada ketuk tilu, namun bedanya pada ketuk tilu, inti latihan difokuskan, pada kekuatan fisik. Yang keenam adalah Latihan dasar mengenal lawan. Dalam materi Latihan itu, Dipa dihadapkan medan darat yang termudah sampai medan yang tersulit dan berbahaya. Sampai yang ketujuh Dipa, dihadapkan pada Latihan dasar mengenal jurus-jurus. Mengenal jurus-jurus itu, dikategorikan jurus-jurus yang diambil dari gerakan-gerakan benda yang ada dialam, seperti gerakan hewan, Gerakan angin, Gerakan air, dan sebagainya. Juga diambil dari sifat atau kharakter suatu benda, misalnya panas api atau dinginnya salju. Dan selanjutnya jurus-jurus dasar itu kemudian dilatihkan dengan cara menggabungkan dengan latihan-latihan dasar sebelumnya, sehingga ketika tiba waktunya, dirinya harus diuji, Dipa segera memperiapkannya. Pada suatu saat Dipa dibokong dengan sebuah lemparan batu yang akan menghantam kepalanya, tapi itu bisa diatasi, berkat Latihan konsentrasi panjat bambu dan latihan pernapasan itu. Juga Ketika diserang dengan serangat darat dimana Dipa harus berhadapan dengan guru misterius itu pun bisa dijalaninya dengan baik. Pokonya segala bentuk ujian dan penempaan dijalani oleh Dipa tanpa sekalipun absen. Dan kata Dipa, dia berada di tempat itu, sudah setahun lebih, tapi sampai saat itu dia belum bisa melihat wajah gurunya, pernah Dipa ingin melihat wajah gurunya, walaupun hanya untuk sekali saja, tapi gurunya tidak mengabulkan permintaanya. Dan pada suatu hari gurunya sudah membolehkan dirinya meninggalkan tempat itu. Tentu saja Dipa sangat bingung harus bagaimana dia mengucapkan rasa terimakasihnya. Sampai disitu Dipa bercerita tentang pengalaman yang dialaminya selama ia tidak ada. Dan saking asyiknya mendengarkan cerita Dipa, tidak tahunya keadaan sudah hampir menjelang sholat subuh.


“Yah akhirnya saya sampai disini.“ Ujar Dipa, Mengakhiri ceritanya.


“Seru yah.“ Kata anak-anak santri yang kebetulan mendengarkannya.


Akhirnya obrolan mendadak seru karena banyak yang hadir disana merasa penasaran untuk menanyakan, orang yang merawat Dipa atau guru misteriusnya. Tapi Dipa cukup mengtakan tidak Tahu. Dan keadaan itu berakhir setelah adzan subuh berkumandang.


Besoknya Ketika matahari bersinar menyinari bumi, Pak Dasim sengaja tidak pergi ketempat diamana ia biasa bekerja, tapi ia sengaja mengajak untuk membicarakan hubungannya dengan Herna. Justru dalam hal ini Dipa meminta Pak Dasim untuk mengatakan pada orang tuanya Herna. Karena kata Dipa, hal ini sudah lewat waktu yang pernah ditentukan. Setelah cukup matang membicarakan segalanya, maka Pak Dasim mengatakan bahwa ia akan menemui Kang Suganda untuk membicarkan hal ini.


Sepeninggalnya Pak Dasim, Dipa segera menengok kolamnya. Betapa terkejutnya Dipa, kolam yang dihuni ikan mas dan ikan lele, yang dulu masih sangat kecil-keci, tapi kini ikan-ikan tersebut, sudah berubah keadaanya. Kini ikan-ikan itu sudah besar-besar, sebab terlihat Ketika beberapa ikan timbul untuk menghirup udara. Sedangkan kalau ikan lele jelas kelihatan. Dipa jadi penasaran untuk memancing. Maka dia tidak membuang waktu lagi langsung mengambil alat-alat pancing.

__ADS_1


__ADS_2