Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 39. Bag 5 - Sayap Mimpi-Mimpi


__ADS_3

Dua bulan sudah, dari semenjak berlangsungnya pesta pernikahan Herna dan Dipa. Herna tinggal, ikut dirumah Dipa yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Ketika Herna dan Dipa sedang ngobrol di belakang rumahnya, tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh kedatangan Bang Edi Halfidi dari kota sana.


"Kang Dipa, mba Herna maaf saya tidak bisa hadir, diacara pernikahan kalian, sebab keadaannya sangat tidak memungkinkan" Tukas Bang Edi.


"Tidak apa-apa kami memakluminya, gimana sehat? Tanya Dipa.


" Allhamdulillah sehat, yah kalau persoalan sih, akanya kami kesini, barangkali bisa menyambung apa-apa yang telah dibicarakan dulu." Jawab Bang Edi.


"Bang Edi Herna tinggal dulu yah."


"Oh ya mba" jawab Bang Edi.


Selanjutnya Bang Edi dan Dipa keduanya terlibat obrolan yang sangat serius. Utamanya mereka membicarakan rencana kedepan.

__ADS_1


"Di lain pihak saya ingin, membantu tapi, disini keadaannya sama sedang dalam keadaan gawat. Hampir setiap dua kali dalam seminggu selalu saja ada gangguan." Papar Dipa. "Tapi begini saja Bang Edi, bagaimana kalau dari sana ada yang mau ikut pelatihan di sini, nanti mudah-mudahan keadaan membaik, dan saya bisa kesana dengan istri." Jelas Dipa.


"Pak Dasim masih sibuk ya?" Tanya Bang Edi.


"Saya ingin mengaktifkan para santri dengan memunculkan muatan lokal yang diisi oleh pemberdayaan ayat-ayat qauniyah.


Dalam keadaan demikian, tiba-tiba Pak Dasim datang. Tentu saja Bang Edi sangat gembira. Lalu bang Edi menceritakan maksud-maksudnya.


"Bang Edi, tidak ada pilihan kecuali Bang Edi sendiri yang harus mempelajarinya disini." Kata Pak Dasim.


"Tapi bagaimana, tanggapan istri, atau keluarga tentang kegiatan disini." Kata Pak Dasim.


"Sebenarnya keluarga saya sangat tertarik, namun kami bingung harus dari mana memulainya. Karena memang menyosialisasikan sesuatu yang tidak biasa. Memang butuh perjuangan yang berat." Kata Bang Edi.

__ADS_1


Pak Dasim dan Bang Edi terus saling memberikan atau mengutarakan pendapatnya. Pak Dasim mencari tahu keadaan yang sebenarnya terjadi di kampung halamanya Bang Edi.


"Bang Edi kalau kita mau merubah suatu budaya yang telah lama tertanam dimasyarakat secara drastis, mau dirubah itu tidak mudah, bahkan cenderung tidak akan bisa. Tapi kalau kita mau berusaha mewarnai suatu budaya, itu bisa saja, namun dengan catatan butuh waktu dan kesabaran yang luar biasa. Kalau sekedar ambisi, atau tebawa-bawa itu percuma." Kata pak Dasim.


Tiba-tiba Herna istrinya Dipa datang dengan membawa nampan yang sudah penuh dengan rupa-rupa makanan. Melihat istrinya sibuk, Dipa segera bangkit untuk membantu istrinya. Setelah segelanya tersedia, maka pak Dasim segera mempersilahkan tamunya untuk makan. Pak Dasim lalu menceritakan pengalaman hidupnya, betapa pedih, susah dan payah, memang seperti kata lagu, mengagungkan cinta, itu harus ditebus dengan duka lara, memang iya. Ada budaya masarakat yang dibenci, misalnya, senang berbuat sesuatu yang palsu, atau mengagung-agungkan fatamorgana atau kepalsuan. Kepalsuan ini, sekaramg malah jadi model tren yang sangat digemari. Prestasi, prestasi palsu. Kemampuan, kemampuan palsu, kalau diibaratkan sebuah kendaraan yang alat-alat nya semua palsu, dan ketika alat itu dicoba, ternyata hasilnya sangat mengecewakan, dan ketika kendaraan itu di ujicoba, apa yang terjadi? Bukannya jalan, malah yang terjadi kendaraan itu bokbrok. Dulu kata Pak Dasim semenjak menjadi pelajar, yang paling dibenci adalah, nyontek, sangat benci nyontek!!! Tapi sebagai imbalan kejujuran itu, guru malah menghadiahinya dengan angka lima. Sehingga teman-teman saat itu, berkata, terbukti kan, rugi berbuat jujur itu. Dan ketika jadi guru honorer, cara membasmi nyontek itu bukan memarahi murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tapi instropeksi pada diri. Dengan cara, apabila murid tidak bisa mengerjakan PR, maka Pak Dasim, tak pernah menyalahkan murid, tapi menganggap dirimya tak bisa apa-apa, tak bisa mengajar, sehingga dirinya pada suatu saat menemukan metode. Supaya anak mudah mengerti dan mau belajar, diantaranya pemahaman anak harus dirangsang dengan alat-alat peraga. Nah sebagai imbalan atas gagasan itu atau dari sikap itu. Hadiahnya diasingkan, dikucilkan, baik oleh guru-guru maupun oleh murid sendiri. Waktu itu berprinsip anak tidak akan nyontek apabila bisa, dan anak akan bisa apabila mengerti, dan anak akan mengerti apabila butuh. Tetapi yang terlihat saat itu adalah hal yang sebaliknya. Yang saya lihat kata Pak Dasim, mengajarnya kurang jelas malah disudutkan pada anak. Dimana anak yang tudak bisa mengerjakan PR, malah di marahi, dihukum dengan alasan mendidik. Akibatnya anak-anak tidak mau mengambil resiko dari pada rapot jelek atau ijasah angkany jelek, lebih baik ya sudah, nyontek saja. Kebiasaan jelek itu akhirnya membudaya dari generasi ke generasi. Nah setelah mereka berubah statusnya dari pelajar menjadi pekerja, maka kebiasaan nyontek itu berubah menjadi kebiasan jahat dan tak bertanggung jawab. Maka saat itu yang paling dibenci itu nyontek. Selanjutnya yang paling dibenci itu mubazir. Ini bermula dari didikan orang tua, katanya jangan boros, jangan sering mebuang makanan, harus menghemat, harus apik dan irit. Prinsip-prinsip, itu malah terus dibawa kepada hal-hal yang lebih luas. Misalnya di sekolah, karena saat itu kata pak Dasim hanya berstatus sebagai guru honor, maka setiap pelajaran yang di ajarkan pada murid selalu di evaluasi bila dihubungkan dengan fakta di lapangan. Dimana seseorang yang tadinya murid, dan kemudian menjadi dewasa, misalnya ketika murid itu sedang berstatus anak sekolah, dan konskuensinya mengeluarkan uang, atau biaya-biaya yang tidak sedikit, untuk kepentingan sekolah. Namun setetelah keluar sekolah, banyak yang tidak nyambung. Nah itu yang paling dibenci Pak Dasim. Tapi dengan prinsip seperti itu imbalannya adalah dirinya sulit hidup. Sulit punya teman, dikucilkan, dianggap sebuah kelainan, dianggap gila. Nah tadinya hal ini ingin dimusyawarahkan dengan para tokoh yang dianggap memiliki kepedulian, dan memang tanggung jawabnya bila hal itu dihubungkan dengan bentuk sebuah profesionalisme. Tetapi seperti yang tadi saya katakan, kata pak Dasim, saya hampir mati kelaparan. Dan diusia kepala lima ini dirinya nyaris terperangkap di dunia pertambangan. Untung dirinya bisa selamat. Dan bisa membangun mimpi-mimpi. Jadi kata Pak Dasim dalam hal ini kita mesti selektif dalam mewujudkan cita-cita. Jangan asal terbawa emosi, ambisi tanpa memperhitungkan sisi tanggung jawab.Juga, kata Pak Dasim coba bentuk dulu sebuah tim, tim ini sangat diperlukan, karena tim ini kalau diumpamakan seperti sebuah kendaraan, kata pak Dasim, Bang Edi akan mengalami kesulitan besar apabila dalam mengemban tugas itu hanya mengandalkan kemampuan pribadi.


Sampai selesai makan pak Dasim masih terus bercerita, sementara Herna dan Dipa, ikut mendengarkan.


Beberapa hari kemudian Bang Edi akhirnya pulang, Bang Edi dibekali alat-alat peraga untuk di sosialisasikandi sana.


Seperti yang telah diceritakan, perjalan seseorang itu tidak sama, bagi Pak Dasim dalam hal ini wajar, kalau dia punya prinsip, karena dia punya akal pikiran yang digunakan. Wajar kebanyakan orang tidak punya prinsip, karena tidak banyak menggunakan akal pikirannya. Bagi Pak Dasim yang dasarnya kuat, sehingga dia dalam setiap saat, akal dan pikira selalu berjalan, kare dia punya ke inginan, yaitu ingin selamat dan ingin hidup bahagia. pak Dasim sebenarnya, kalau tidak akan dikatakan putus asa sebenarnya, ia merasa, cape, lelah dan bingung. Kenapa bingung, karena selama hidup dengan usia yang hampir mendekati masa-masa transisi itu, masih juga belum menemukan kepastian. Kehidupannya, layak seperti petualang yang tak punya arah. Yang ia temuinya sehari- hari hanyalah sebuah kepalsuaan.


Pada suatu hari pak Dasim mengadakan penelitian tentang kehidupan. Dia mengambil tokoh tokoh kehidupan seperti manusia, binatang dan benda-benda mati, pak Dasim benar-benar teliti dan sabar untuk membuat predikat terhadap ketiga tokoh tersebut. Dari tokoh manusia, binatang dan benda-benda mati. Pak Dasim segera membuat reperensi ketiga tokoh itu dari berbagai sumber hukum. Menurut salah satu sumber bahwa tokoh manusua itu adalah mahkluk sempurna, makluk, pembangkang, makluk yang mampu mengolah, kehidupan, makhluk pendusta. Oleh Pak Dasim pernyataan sumber hukup itu satu persatu kebenarannya di buktikan. Terus Pak Dasim menghubungkan maknanya dengan tujuan hidup yang sebenarnya. Dalam kegiatannya itu Pak dasim mencatat aktivitas manusia, dari tidur sampai dengan tidur lagi dari makan sampai makan. Terus dibandingkan, dengan kegiatan makhluk lain seperti binatang dari tidur sampai tidur lagi, dari makan sampai makan lagi, Pak Dasim benar benar ingin tahu mana yang paling konsekuen. Malah pad suatu hari Pak Dasim mengajak Dipa dan beberapa orang muridnya yang sudah dianggap agak dewasa pemikirannya. Mereka sengaja memantau obrolan kebanyakan anak- anak sekolah dari SD bahkaan sampai perguruatinggi. Diperharrikannya, tidak ada yang istimewa, mereka hanya berkata, akan cari kerja dadakan. Tapi Pak Dasim memantau anak- anak yang sudah mendapat sedikit banyaknya pendidikan yang diterapkan di sekitar kampung Bahari, Pak Dasim sedikit punya Harapan. Hasil pemantaun dengan Dipa itu, beberapa pakta bisa di ambil. Misalnya sebuah percakapan orang-orang dengan salah seorang murid Pak Dasim.

__ADS_1


Murid-murid yang terjangkau oleh warna pendidikan di pesantern itu, cara dan sikap obrolannya sudah bisa di bedakan. Kata mereka yang namanya, orang sekolah, atau orang berpendidikan, tentu harus, bisa menunjukan perbedaanya, atau harus bisa menunjukan ciri khasnya selaku orang yang mengenyam pendidikan. Katanya orang pendidikan punya beberapa sikap yang menjadi ciri khasnya yaitu, punya khas dalam cita citanya, punya kelebihan dalam sikap dan kemampuannya. Sehingga dalam segi ekonomi orang berpendidikan akan berusaha menggunakan semua kemampuaanya untuk mengembangkan ekonomi, orang berpendidikan akan berpikir ulang u tuk mengambil lahan pekerjaanorang orang yang dianggap ada dibawahnya. Pokoknya orang berpendidikan akan berusaha didekati oleh orang orang lemah karana dianggap bisa memberikan perlindungan. Pak Dasim sudah bisa melihat dari sisi obrolan, bawa mereka sedah mulai mempertumbangkan pungsi ilmu bagi kegiatan manusia. Mereka sudah mulai sadar bahwa ilmu itu dalam kehidupan yang sesungguh nya bukan sekedar asesoris, tapi ilmu itu harus dituntut sumbangan atau konstrubusinya bisa menaikan tarap hidup.


__ADS_2