Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 44


__ADS_3

Bang Edi seketika itu juga, menceritakan maksud kedatangannya, Bang Edi menceritakan keadaanya setelah ditinggalkan oleh Dipa. Tetapi walau bagaiman Dipa tak menunjukan perubahanya. Dipa memegang pendirianya. Hal itu supaya diketahui bahwa kepercayaan, tidak bisa dihianati begitu saja.


"Bang Edi saya peringatkan, saya tidak bisa untuk bergabung lagi. waktu itu saya menganggap Bang Edi bisa dipercaya dan paham, artinya saya sudah percaya, kalau Bang Edi sudah tahu konsekuensinya. Juga waktu itu saya percaya kalau Bang Edi Datang ke sini di samping membawa keyakinan dan kesiapan untuk sebuah tunjuan, juga punya harapan, sebab sebelumnya Bang Edi telah menelaah dulu, dan banyak lagi hal-hal yang dilakukan, oleh Bang Edi, semua ini untuk menambah keyakina Bang Edi. Tapi ternyata, semua itu hanya sebuah lelucon, buktinya, Bang Edi tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa ketika Bang Edi menyaksikan program kita diacak-acak oleh orang lain. Malah tak ubahnya, Bang Edi bagai sebuah sosok penghianat, sekali lagi saya tidak bisa. Saya sudah berkorban waktu dan perasaan, meninggalkan anak dan istri, tapi semua itu kau abaikan. Oleh karna itu saya mohon agar Bang Edi bisa cepat meninggalkan tempat ini, kalau tidak, tahu sendiri akibatnya." kata Dipa tegas.


"Kang Dipa saya mohon!"


"Bang Edi sekali lagi saya peringatkan, cepat tinggalkan tempat ini!" Kata Dipa dengan nada tinggi


Akhirnya Bang Edi tidak bisa apa-apa, dan akhirnya Dia segera meninggal tempat itu.

__ADS_1


Satu tahun sudah murid-murid Dipa mempelajari ilmu silat, walaupun mereka tidak sepenuhnya bisa mendapatkan ilmu yang dimiliki oleh Dipa, namun untuk ukuran mereka sudahlah cukup, Dan mereka sudah bisa pulang ke kampungnya. Walaupun mereka pada suatu saat berjanji, akan kembali. Sebab mereka sangat penasaran dan ingin menguasai salah satu ilmu yang luar biasa yang dimilik oleh Dipa. Dan ketika ia tiba di sana, setelah satu tahun, mereka tidak pernah melihat kampungnya. Kini mereka sangat prihatin dan sedih. Keadaan kampung halamanya bagaikan tanah tak bertuan, sepi, tapi bukan sepi tidak berpenghuni, tapi sepi tidak ada orang yang bisa dijadikan panutan. Malah mereka melihat hal-hal yang tidak pantas terjadi, melanda kampungnya. Kini kampungnya dalam keadaan parah. Dimana adat dan budaya di sana sudah simpang siur, kebaikan dan keburukan sudah bersatu. Daka dan Sunan, keduanya adalah murid-murid Dipa. Mereka Daka dan Sunan berjanji, bahwa mereka akan berbuat menata kembali kampung halaman tercintanya. Dan sebenarnya mereka sangat menyayangkan sikap-sikap keluarga Bang Edi yang menyia-nyiakan tenaga dan pikiran Dipa yang ingin menerapkan program seperti di Kampung Bahari. Sunan dan Daka sebenarnya paham, pada pendirian gurunya yang bersikeras seperti tidak ada maaf. Padahal kalau tahu yang sebenarnya, Kang Dipa gurunya, sudah berkali-kali mengatakan, jangan membiasakan atau membudayakan suatu perbuatan yang salah berjalan berulang-ulang. Makanya guru mereka kang Dipa menegaskan sebelumnya jangan begini dan jangan begitu, tapi maksud Gurunya itu tidak bisa dipahami oleh Bang Edi dan istrinya, termasuk keluarga yayasan. Memang untuk memahami pola pikir kang Dipa gurunya sangat sulit, Daka dan Sunan bisa paham jalan pikiran Dipa, berhubung mereka disadarkan oleh program yang sedang dijalani saat itu, tapi itupun tidak sepihak berhubung diri-diri mereka lah yang butuh akan keilmuan yang dimiliki oleh Dipa. Coba kalau dirinya tidak butuh pasti dirinya pun akan bandel dan egois. Contoh ketika dirinya harus berdiri di atas ujung bambu, walaupun tidak berhasil, tapi karena kami patuh mengikuti instruksi, paling tidak kami tidak celaka. Jadi jelasnya Dipa ingin menyosialisasikan sebuah pepatah ungkapan yang maha kuasa, bahwa demi waktu manusia itu sesungguhnya rugi. Jadi jangan terlalu ceroboh dalam mebuat sebuah keputusan apalagi menyangkut orang banyak. Itu semua hanya akan membuang-buang waktu saja. Makanya ketika Sunan dan Daka berkunjung ke rumah keluarga istrinya Bang Edi, mertuanya Bang Edi mengatakan apakah pintu maaf itu harus selalu tertutup? Kapan pintu maaf, akan terbuka lebar? Tolong sampaikan pada Bang Edi, kami menyadari kesalahan, kami kata mertuanya juga kata istrinya, akan berupaya patuh pada hukum dan peraturan. Dan akan merubah, atau menghilangkan sifat semau gue. Sunan dan Daka yang awalnya ada Niat untuk mebenahi kampung halamannya, seperti mendapatkan jalan. Keadaan yang sedang dialami oleh keluarga istrinya Bang Edi tersebut, bisa dipakai jembatan oleh mereka untuk mencapai tujuan itu. Mereka mengatakan sanggup membantu, dan dalam waktu yang tidak akan lama lagi mereka akan menemui Bang Edi di kampung orang tuanya.Tapi Daka dan Sunan sebelumnya, menuntut pihak keluarga istrinya Bang Edi, harus benar-benar menepati janji, mereka jangan lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Dan setelah hal itu disepakati maka Daka dan Sunan setelah beberapa hari istirahat, di kampungnya. Maka ketika sudah cukup dianggap tepat waktu, akhirnya mereka segera pergi menuju tempat orang tuanya Bang Edi di Kampung Utara, yang letaknya tak seberapa jauh dari Kampung Bahari. Setibanya di rumah Bang Edi, kebetulan, Bang Edi ada di rumah, Daka dan Sunan setelah istirahat sejenak mereka kemudian menceritakan apa-apa yang dipinta oleh keluaga istrinya Bang Edi.


"Aku paham, Sunan, Daka. Ini adalah sebuah pelajaran bagi saya, makanya saya tidak merasa sakit hati, sebab memang seharusnya begitu. Oleh karena itu saya bukan tega sama keluarga, ini semua harus menjadi perhatian. Saya mau kembali apabila gurumu atau kang Dipa juga mau memaafkan kami. Ingat waktu semakin mendesak." Kata Bang Edi.


"Aku akan berusaha berbicara dengan guruku dan kami berdua akan memberikan pengertian bahwa keluarga di sana betul-betul akan merubah sikap." Kata Sunan meyakinkan Bang Edi.


"Baiklah saya tunggu, sebenarnya saya juga sangat rindu anak-istri, tapi perjuangan dan pengabdian adalah segalanya." Kata Bang Edi


"Kang Wiranta sebentar, Dipa mau ke Mang Karim Dulu, perlu angsa dua ekor kita masak-masak sekarang." Kata Dipa.

__ADS_1


"Dip, biar sama akang." kata Wiranta sambil berdiri.


"Yah sebentar, saya ambil dulu uangnya." Kata Dipa sambil berlalu masuk ke rumahnya.


"Mau beli apa kang?" Tanya Herna.


"Ini mau masak-masak." Sahut Dipa.


Kemudian Dipa kembali setelah mengambil uang. Dipa kembaii menemui Wiranta. Setelah menerim uang dari Dipa, Wiranta segera pergi. Dan beberapa saat kemudian Wiranta sudah kembali membawa angsa yang sudah disembelih.

__ADS_1


Wiranta, Daka dan Sunan akhirnya berlatih sementara Dipa dan Herna masak.


Ketika mereka latihan. Wiranta berhasil dalam melatih daya konsentrasinya, dia mampu berdiri di ujung sebatang bambu, berarti dia sudah mampu menguasai diri, atau mengendalikan diri. Dan berarti pula sudah punya pendirian, tidak akan mudah diatur orang, kecuali dalam alurnya. Sehingga tambah mengertilah Sunan dan Daka, apa artinya disiplin. Tapi Dipa pun bukan berarti tidak bangga kepada Sunan dan Daka. Malah Dipa lebih-lebih memotivasi pada Sunan dan Daka sebagai pemuda pionir bangsa.


__ADS_2