Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 12


__ADS_3

     Setelah pak Dasim menyulut daun-daun


kering itu maka terang benderanglah di sekitar tempat itu, dan juga


nyamuk-nyamuk yang hilirmudik menggulung di sekitar itu mendadak menyingkir


oleh asap api, yang hitam pekat. Kemudian pak Dasim dan Dipa segera mencari


daun-daun kering untuk dijadikan alas, menjadi hamparan. Maka pak Dasim setelah


hamparan daun itu merata terhampar, ia segera manghamparkan tikar pemberian


mang Kardi.


     “Duh lumayan juga.”  Pak Dasim membuka obrolan.


     “Betul.”  Sahut Dipa.


     “Ehhhh lupa, coba nak Dipa taburkan garam


disekeliling tempat ini, mencegah adanya seranggan binatang seperti ular


kalajengking dan sebagainya.”  Perintah


pak Dasim.


     Dipa segera melaksanakan perintah pak


Dasim. Sementara pak Dasim beranjak menuju pinggir sungai kecil itu, dan tak


lama kemudian ia sudah kembali sambil membawa beberapa batang kayu. Pak Dasim


kemudian segera mengambil sebuah golok kecil, lalu pak Dasim mengambil tongkat


itu untuk diruncingkan ujungnya.


     “Untuk apa pak?”


     “Yahhh untuk apa saja, nanti juga ada


gunanya.”  Ujar pak Dasim.


     Malam itu mereka beristirahat di tempat


itu. Dan sampai pagi tiba, mereka tidak mengalami gangguan apapun.


     Pagi-pagi mereka berangkat melanjutkan


perjalanan sambil berniat mencari binatang buruan atau makanan yang ada di


sekitar hutan itu.


     “Nak Dipa, kita buat busur dulu dengan


anak panahnya, lumayan untuk bisa digunakan berburu, burung-burung atau


binatang yang bisa kita makan, atau ikan-ikan yang ada di sekitar sungai kecil


ini.


     “Baik pak.”  Sahut Dipa.


     Lalu keduanya bergegas untuk membuat


alat-alat untuk berburu. Setelah beberapa saat lamanya, pekerjaan mereka


selesai, dua buah busur dan beberapa buah anak panah selesai dibuat oleh


mereka, Kemudian keduanya segera berburu. Pertama-tama mereka menelusuri sungai


kecil itu, lalu pindah ke darat, harapan mereka bisa menemukan burung-burung,


angsa atau binatang apa saja yang penting halal untuk dimakan. Tiba-tiba pak


Dasim dikagetkan oleh sesuatu yang melintas beberapa meter didepannya. Pak


Dasim melihat dua sosok ayam hutan yang lumayan besar.


     “Nak Dipa yang satunya oleh bapak, dan


yang satunya lagi oleh nak Dipa!”  Kata


pak Dasim.


     “Baik pak.”  Sahut Dipa.


     Lalu keduanya segera mengintai dan


mengendap-endap, sementara kedua matanya masing-masing fokus kearah sasaran.


Dan setelah keduanya berada dijarak bidik, lalu keduanya segera membidikan


busurnya masing-masing yang telah dipasang anak panah.


     Entah kebetulan atau memang pengalaman


ayam-ayam hutan itu telah berhasil ditangkapnya.


     “Nak Dipa, cepat sembelih mumpung masih


hidup.”  Perintah pak Dasim.


     “Baik pak.”  Sahut Dipa.

__ADS_1


     Setelah selesai menyembelih ayam-ayam


tersebut, pak Dasim terus mengurusnya langsung. Tapi sekilas ia melihat


sesuatu.


     “Nak


melihat tidak, Barusan ada rusa kecil lewat!”


     “Iya pak, biar aku kejar!”  Tegas Dipa.


     “Boleh, tapi awas bila sekali gagal sudah


kembali saja, takut tersesat!”  Kata pak


Dasim memperingatkan.


     Kemudian Dipa dengan busur dan anak


panahnya segera mengejar rusa tadi, Dan setelah kira-kira beberapa meter ia


berhenti dan berdiri. Ia melihat seekor rusa kecil yang sedang bertengger.


     Kemudian Dipa membidikan busurnya kearah


sasaran. Siuuutt…..Cleeeep anak panah itu menancap di leher binatang buruan


itu. Beberapa saat kemudian binatang itu menggelepar dan Dipa segera memburu,


kemudian setelah berada di dekat binatang itu, mulut Dipa komat-kamit sambil


mencabut pisau belati lalu menyembelih rusa itu.


     Dipa segera membawa binatang buruanya


menuju tempat pak Dasim yang sedang mengurus ayam hutan.


     “Wahhh……berhasil nak!”  Seru pak Dasim pada Dipa yang sudah ada


didekatnya.


     “Iya pak.”  Jawab Dipa.


     Pak Dasim kemudian melanjutkan


pekerjaannya mengurus rusa itu setelah dua ayam hutan tersebut selesai diurus.


Sementara Dipa segera mengumpulkan kayu bakar yang ia Dapat disekitar itu. Dipa


segera membuat dudukan untuk membakar rusa dan ayam hutan tersebut.


     Beberapa saat kemudian, nyala api nampak


menanak nasi.


     “Duh….mang Kardi terimakasih.”  Cetus pak Dasim, tidak terasa dari bibirnya


berkata-kata.


     “Pak, apakah rusa ini kita bakar dengan


kepalanya?”  Tanya Dipa.


     “Iya satukan saja, sebab kalau isinya


sudah dipisahkan.”  Tukas pak Dasim.


     “Baiklah.”  Sambut Dipa.


     Dipa kemudian membakar rusa itu, setelah


sebelumnya tubuh rusa itu dipanggang oleh sebatang kayu yang dibuat pak Dasim.


Sampai beberapa lama tubuh rusa itu berada diatas api, dan hampir disetiap saat


oleh Dipa dibolak-balik. Dan setelah selesai membakar rusa itu, Dipa


melanjutkan pekerjaannya membakar ayam-ayam itu.


     Aroma daging bakar kedua binatang itu


sungguh semerbak harumnya, sehingga menggoda selera makan. Setelah daging bakar


dan nasi liwetnya matang maka keduanya segera menyantap hidangan istimewa itu.


     “Wah…minumnya air sungai sajalah.”  Kata pak Dasim.


     “Iya pak.”  Sahut Dipa.


     Selesai makan, nampak keduanya merasa


puas. Kemudian pak Dasim segera membungkus sisa makanannya tadi.


     Sebelum melanjutkan perjalanannya mereka


segera mengobrol kesana-kemari. Begitu dan begitu sehari-hari yang dilakukan


mereka. Dan dihari keempat dalam perjalanan petualangan mereka. Mereka sudah


jauh berada dari wilayah tambang tempat mang Kardi. Kini mereka seperti sudah


berada di wilayah lain tapi masih sekitar hutan. Dan setelah mereka terus

__ADS_1


berusaha menelusuri jalan setapak sesuai petunjuk peta yang dibuat oleh mang


Kardi, maka tidak lamapun mereka menemukan pinggir hutan itu. Mereka bisa


melihat kearah depan ada sebuah jalan yang bisa dilalui kendaraan,  Jalan itu masih jalan tanah. Jalan itu


terlihat turun menuju sebuah lembah.


     Sementara hari sudah mulai gelap, pak


Dasim dan Dipa segera menelusuri jalan tersebut. Ternyata jalan itu cukup


panjang sebab walaupun sudah lumayan lama mereka berjalan, belum juga menemukan


ujung jalan tersebut. Dan ketika keadaan sudah benar-benar gelap, pak Dasim dan


Dipa agak sulit melangkah karena keduanya tidak bisa jelas melihat arah jalan.


Sedang khusu-khusunya berjalan, tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara yang


datang dari arah yang berlawanan. Pak Dasim segera menarik tangan Dipa untuk


mengamankan posisi tubuhnya agar tidak bisa dilihat oleh orang didepannya. Lalu


keduanya menjatuhkan tubuh mereka melorot kepinggir jalan yang menurun. Pak


Dasim dan Dipa segera merapatkan tubuh mereka ketanah. Tiba-tiba pak Dasim


mendengar suara benda jatuh di sekitarnya, Krrosakkk…..bugg! Disusul dengan


suara orang berlari melewati arah pak Dasim yang sedang bersembunyi. Tiba-tiba


terdengar teriakan-teriakan namun hanya sekilas, setelah itu pak Dasim tak


mendengar apa-apa lagi.


     Untuk beberapa saat lamanya pak Dasim dan


Dipa diam sejenak tidak beru-buru beranjak dari tempat itu. Keduanya sengaja


ingin tahu keadaan selanjutnya, apakah aman atau tidak.


     “Nak Dipa, kita tunggu dulu saja sebelum


keadaan bisa kita yakini aman, atau kita tidak menempuh jalan ini sebelum hari


terang.”  Usul pak Dasim.


     “Iya pak, sebaiknya kita meneruskan


menelusuri pinggir jalan ini. Sampai menunggu hari terang.”  Sahut Dipa.


     “Aduhhh, apaan ini.”  Desus Dipa.


     “Ada apa nak Dipa?”


     “Entahlah.”  Kata Dipa sambil tangannya meraba-raba benda


yang terantuk kakinya. “Kaya karung pak.”  Kata Dipa berbisik.


     Pak Dasim segera menyalakan korek api.


     “Benar sebuah karung, tapi tidak tahu apa


isinya.”


     “Tidak tahu.”


     “Yuk cepat tinggalkan!”  Kata pak Dasim, ia merasa khawatir.


     “Tapi pak, kita penasaran apa isi karung


itu.”  Tukas Dipa.


     “Sudah nak, cepat!”  Cegah pak Dasim sambil menarik tangan Dipa.


     Akhirnya Dipa dan pak Dasim segera


meninggalkan tampat itu. Mereka menelusuri tepian tebing itu.


     “Pak, kita cari tempat yang landai,


nampaknya di sekitar tebing ini sangat berbahaya karena tempatnya sangat


curam.”  Usul Dipa.


     “Iya, mari.”  Kata pak Dasim sambil tangannya mengambil


korek api kemudian ia menyalakannya, dan benar saja di sekitarnya sangat curam.


     Lalu keduanya segera melangkah dan merayap


penuh kehati-hatian.


     Baru setelah beberapa saat lamanya mereka


mengalami keadaan demikian akhirnya mereka menemukan tempat yang landai.


Kemudian pak Dasim menyalakan korek api.


     “Nah disini nak nampaknya kita bisa


berhenti sejenak.”

__ADS_1


__ADS_2