
Setelah pak Dasim menyulut daun-daun
kering itu maka terang benderanglah di sekitar tempat itu, dan juga
nyamuk-nyamuk yang hilirmudik menggulung di sekitar itu mendadak menyingkir
oleh asap api, yang hitam pekat. Kemudian pak Dasim dan Dipa segera mencari
daun-daun kering untuk dijadikan alas, menjadi hamparan. Maka pak Dasim setelah
hamparan daun itu merata terhampar, ia segera manghamparkan tikar pemberian
mang Kardi.
“Duh lumayan juga.” Pak Dasim membuka obrolan.
“Betul.” Sahut Dipa.
“Ehhhh lupa, coba nak Dipa taburkan garam
disekeliling tempat ini, mencegah adanya seranggan binatang seperti ular
kalajengking dan sebagainya.” Perintah
pak Dasim.
Dipa segera melaksanakan perintah pak
Dasim. Sementara pak Dasim beranjak menuju pinggir sungai kecil itu, dan tak
lama kemudian ia sudah kembali sambil membawa beberapa batang kayu. Pak Dasim
kemudian segera mengambil sebuah golok kecil, lalu pak Dasim mengambil tongkat
itu untuk diruncingkan ujungnya.
“Untuk apa pak?”
“Yahhh untuk apa saja, nanti juga ada
gunanya.” Ujar pak Dasim.
Malam itu mereka beristirahat di tempat
itu. Dan sampai pagi tiba, mereka tidak mengalami gangguan apapun.
Pagi-pagi mereka berangkat melanjutkan
perjalanan sambil berniat mencari binatang buruan atau makanan yang ada di
sekitar hutan itu.
“Nak Dipa, kita buat busur dulu dengan
anak panahnya, lumayan untuk bisa digunakan berburu, burung-burung atau
binatang yang bisa kita makan, atau ikan-ikan yang ada di sekitar sungai kecil
ini.
“Baik pak.” Sahut Dipa.
Lalu keduanya bergegas untuk membuat
alat-alat untuk berburu. Setelah beberapa saat lamanya, pekerjaan mereka
selesai, dua buah busur dan beberapa buah anak panah selesai dibuat oleh
mereka, Kemudian keduanya segera berburu. Pertama-tama mereka menelusuri sungai
kecil itu, lalu pindah ke darat, harapan mereka bisa menemukan burung-burung,
angsa atau binatang apa saja yang penting halal untuk dimakan. Tiba-tiba pak
Dasim dikagetkan oleh sesuatu yang melintas beberapa meter didepannya. Pak
Dasim melihat dua sosok ayam hutan yang lumayan besar.
“Nak Dipa yang satunya oleh bapak, dan
yang satunya lagi oleh nak Dipa!” Kata
pak Dasim.
“Baik pak.” Sahut Dipa.
Lalu keduanya segera mengintai dan
mengendap-endap, sementara kedua matanya masing-masing fokus kearah sasaran.
Dan setelah keduanya berada dijarak bidik, lalu keduanya segera membidikan
busurnya masing-masing yang telah dipasang anak panah.
Entah kebetulan atau memang pengalaman
ayam-ayam hutan itu telah berhasil ditangkapnya.
“Nak Dipa, cepat sembelih mumpung masih
hidup.” Perintah pak Dasim.
“Baik pak.” Sahut Dipa.
__ADS_1
Setelah selesai menyembelih ayam-ayam
tersebut, pak Dasim terus mengurusnya langsung. Tapi sekilas ia melihat
sesuatu.
“Nak
melihat tidak, Barusan ada rusa kecil lewat!”
“Iya pak, biar aku kejar!” Tegas Dipa.
“Boleh, tapi awas bila sekali gagal sudah
kembali saja, takut tersesat!” Kata pak
Dasim memperingatkan.
Kemudian Dipa dengan busur dan anak
panahnya segera mengejar rusa tadi, Dan setelah kira-kira beberapa meter ia
berhenti dan berdiri. Ia melihat seekor rusa kecil yang sedang bertengger.
Kemudian Dipa membidikan busurnya kearah
sasaran. Siuuutt…..Cleeeep anak panah itu menancap di leher binatang buruan
itu. Beberapa saat kemudian binatang itu menggelepar dan Dipa segera memburu,
kemudian setelah berada di dekat binatang itu, mulut Dipa komat-kamit sambil
mencabut pisau belati lalu menyembelih rusa itu.
Dipa segera membawa binatang buruanya
menuju tempat pak Dasim yang sedang mengurus ayam hutan.
“Wahhh……berhasil nak!” Seru pak Dasim pada Dipa yang sudah ada
didekatnya.
“Iya pak.” Jawab Dipa.
Pak Dasim kemudian melanjutkan
pekerjaannya mengurus rusa itu setelah dua ayam hutan tersebut selesai diurus.
Sementara Dipa segera mengumpulkan kayu bakar yang ia Dapat disekitar itu. Dipa
segera membuat dudukan untuk membakar rusa dan ayam hutan tersebut.
Beberapa saat kemudian, nyala api nampak
menanak nasi.
“Duh….mang Kardi terimakasih.” Cetus pak Dasim, tidak terasa dari bibirnya
berkata-kata.
“Pak, apakah rusa ini kita bakar dengan
kepalanya?” Tanya Dipa.
“Iya satukan saja, sebab kalau isinya
sudah dipisahkan.” Tukas pak Dasim.
“Baiklah.” Sambut Dipa.
Dipa kemudian membakar rusa itu, setelah
sebelumnya tubuh rusa itu dipanggang oleh sebatang kayu yang dibuat pak Dasim.
Sampai beberapa lama tubuh rusa itu berada diatas api, dan hampir disetiap saat
oleh Dipa dibolak-balik. Dan setelah selesai membakar rusa itu, Dipa
melanjutkan pekerjaannya membakar ayam-ayam itu.
Aroma daging bakar kedua binatang itu
sungguh semerbak harumnya, sehingga menggoda selera makan. Setelah daging bakar
dan nasi liwetnya matang maka keduanya segera menyantap hidangan istimewa itu.
“Wah…minumnya air sungai sajalah.” Kata pak Dasim.
“Iya pak.” Sahut Dipa.
Selesai makan, nampak keduanya merasa
puas. Kemudian pak Dasim segera membungkus sisa makanannya tadi.
Sebelum melanjutkan perjalanannya mereka
segera mengobrol kesana-kemari. Begitu dan begitu sehari-hari yang dilakukan
mereka. Dan dihari keempat dalam perjalanan petualangan mereka. Mereka sudah
jauh berada dari wilayah tambang tempat mang Kardi. Kini mereka seperti sudah
berada di wilayah lain tapi masih sekitar hutan. Dan setelah mereka terus
__ADS_1
berusaha menelusuri jalan setapak sesuai petunjuk peta yang dibuat oleh mang
Kardi, maka tidak lamapun mereka menemukan pinggir hutan itu. Mereka bisa
melihat kearah depan ada sebuah jalan yang bisa dilalui kendaraan, Jalan itu masih jalan tanah. Jalan itu
terlihat turun menuju sebuah lembah.
Sementara hari sudah mulai gelap, pak
Dasim dan Dipa segera menelusuri jalan tersebut. Ternyata jalan itu cukup
panjang sebab walaupun sudah lumayan lama mereka berjalan, belum juga menemukan
ujung jalan tersebut. Dan ketika keadaan sudah benar-benar gelap, pak Dasim dan
Dipa agak sulit melangkah karena keduanya tidak bisa jelas melihat arah jalan.
Sedang khusu-khusunya berjalan, tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara yang
datang dari arah yang berlawanan. Pak Dasim segera menarik tangan Dipa untuk
mengamankan posisi tubuhnya agar tidak bisa dilihat oleh orang didepannya. Lalu
keduanya menjatuhkan tubuh mereka melorot kepinggir jalan yang menurun. Pak
Dasim dan Dipa segera merapatkan tubuh mereka ketanah. Tiba-tiba pak Dasim
mendengar suara benda jatuh di sekitarnya, Krrosakkk…..bugg! Disusul dengan
suara orang berlari melewati arah pak Dasim yang sedang bersembunyi. Tiba-tiba
terdengar teriakan-teriakan namun hanya sekilas, setelah itu pak Dasim tak
mendengar apa-apa lagi.
Untuk beberapa saat lamanya pak Dasim dan
Dipa diam sejenak tidak beru-buru beranjak dari tempat itu. Keduanya sengaja
ingin tahu keadaan selanjutnya, apakah aman atau tidak.
“Nak Dipa, kita tunggu dulu saja sebelum
keadaan bisa kita yakini aman, atau kita tidak menempuh jalan ini sebelum hari
terang.” Usul pak Dasim.
“Iya pak, sebaiknya kita meneruskan
menelusuri pinggir jalan ini. Sampai menunggu hari terang.” Sahut Dipa.
“Aduhhh, apaan ini.” Desus Dipa.
“Ada apa nak Dipa?”
“Entahlah.” Kata Dipa sambil tangannya meraba-raba benda
yang terantuk kakinya. “Kaya karung pak.” Kata Dipa berbisik.
Pak Dasim segera menyalakan korek api.
“Benar sebuah karung, tapi tidak tahu apa
isinya.”
“Tidak tahu.”
“Yuk cepat tinggalkan!” Kata pak Dasim, ia merasa khawatir.
“Tapi pak, kita penasaran apa isi karung
itu.” Tukas Dipa.
“Sudah nak, cepat!” Cegah pak Dasim sambil menarik tangan Dipa.
Akhirnya Dipa dan pak Dasim segera
meninggalkan tampat itu. Mereka menelusuri tepian tebing itu.
“Pak, kita cari tempat yang landai,
nampaknya di sekitar tebing ini sangat berbahaya karena tempatnya sangat
curam.” Usul Dipa.
“Iya, mari.” Kata pak Dasim sambil tangannya mengambil
korek api kemudian ia menyalakannya, dan benar saja di sekitarnya sangat curam.
Lalu keduanya segera melangkah dan merayap
penuh kehati-hatian.
Baru setelah beberapa saat lamanya mereka
mengalami keadaan demikian akhirnya mereka menemukan tempat yang landai.
Kemudian pak Dasim menyalakan korek api.
“Nah disini nak nampaknya kita bisa
berhenti sejenak.”
__ADS_1