
Dan ketika waktunya tiba untuk pergi ke Muara Tanjung, rombongan dari Yayasan Generasi Bangsa yang dipimpin oleh Kang Suganda, berangkat menggunakan Dua perahu, satu perahu yang biasa digunakan oleh Wiranta dan yang satunya lagi sengaja menyewa, dari seorang pengusaha perahu. Kang Suganda yang mewakili Yayasan, ditemani oleh empat orang guru, menggunakan perahu sewaan. Diantara guru-guru, salah satunya Herna putrinya
pak Danu. Mereka berangkat dari Desa rawamutu, kira-kira jam enam pagi. Dan sampai di muara tanjung, pas menjelang solat ashar. Selesai salat ashar disana,mereka diterima oleh pribumi. Setelah melewati maghrib dan isya, acara baru dimulai, dan setelah melalui beberapa sambutan, maka tibalah waktunya Kang Suganda untuk menyampaikan pesan keagamaan. Dan diakhir ceramah Kang Suganda tidak lupa mengulas tentang kegiatannya di pesantren Nurul Bahari, yang dinaungi oleh Yayasan Bina Bangsa. Dan setelah selesai menyampaikan ceramahnya, Kang Suganda mempersilahkan kepada para hadirin untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sekitar kepesantrenan. Dan acara itu berlangsung kira-kira kurang lebih satu jam. Hasil dari kunjungan Kang Suganda beserta rombongan, lumayan menggembirakan, banyak dari kalangan orang tua yang hendak menitipkan putra dan putrinya. Tentu saja membuat Kang Suganda beserta kawan-kawan merasa bangga, dan mereka berjanji akan berusaha amanah, melaksanakan tugas-tugasnya demi menghantarkan harapan para orang tua. Esoknya Kang suganda dan rombongan berangkat dari Pasar Muara Tanjung, sama seperti ketika barangkat dari Desa Rawa Mutu, yaitu jam enam pagi. Namun sebelumnya Kang Sukanda menyuruh wiranta untuk belanja ikan dulu, katanya untuk oleh-oleh. Dan setelah segalanya selesai, baru rombongan Yayasan, segera berangkat. Namun Kang Suganda dan Dipa kini bertukar tumpangan, Kang Suganda katanya ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan adiknya. Tentu saja awalnya Dipa agak keberatan, ia merasa malu oleh guru-guru terutama oleh
Herna. Tapi akhirnya Dipa menerima juga. Dipa dan Herna duduk dibelakang dekat pengemudi, sementara guru-guru yang lain duduk didepannya, namum agak renggang supaya tidak menghalagi pandangan pengemudi. Perahu melaju kecang melintas sepanjang garis pantai pulau itu. Mulannya Dipa dan Herna keduanya membisu seperti tidak ada yang harus dibicarakan, namun Ketika keduanya tidak sengaja bertemu pandang, mendadak wajah-wajah mereka berubah mendadak.
“Kang Dipa ayo ngobrol masa kalah sama desahnya angin.” Tiba tiba Pak Soni, menggoda Dipa.
“Iah Pak” sambut Dipa sambil tersenyum.
“Masa kalah sama Pak Ilham dan Bu neti.” Kata Pak Soni lagi sambil melirik pada Pak Ilham dan Bu Neti, mereka adalah suami istri.
Wajah Herna terlihat memerah, sedangkan Dipa Cuma tertawa kecil. Disaat-saat seperti itu, Dipa sangat teringat akan kata-kata Pak Dasim tentang Bahasa cinta. Cinta itu bisa diumpamakan sebuah jembatan, yang nantinya akan mempertemukan dua Pelabuhan hati yang berbeda. Akankah dua Pelabuhan itu bisa Bersatu? Tentu bisa asalkan kedua Pelabuhan itu dihubungkan oleh cinta yang fungsinya sebagai jembatan. Yang menjadi pertanyaan
Dipa adalah, adakah cinta dihatinya? dan dihatinya? Ah terlalu pagi untuk bertanya tentang itu. Dan seandainya ada, apakah akan mampu menjawab tuntutan selanjutnya. Entahlah inikan dunia yang segalanya serba palsu.
“Bu Herna kemana suaranya” Canda Pak Soni terus menggoda.
“Ada!” Teriak Herna sambil melirik kearah Dipa.
“Ngobrol yuk, supaya tidak di Goda oleh Pak Soni.” Tiba-tiba suara Herna mengawali obrolan.
__ADS_1
“Oh iya ngobrol apa yah?” Tanya Dipa agak gugup.
“Yah ngobrol apa saja, yang penting tidak digoda oleh Pak Soni!” Sahut Herna sambil tersenyum, sehingga terlihatlah lesung pipit dikedua pipinya.
“He he he Baik, apakah Dik Herna bisa menjelaskan perumpaan bahtera yang sedang kita tumpangi ini, dengan fakta-fakta kehidupan yang akan kita jumpai nanti?” Tanya Dipa, sementara matanya memandang lautan yang membentang tanpa batas.
“Sebenarnya Herna bisa menjawab pertanyaan Kang Dipa itu setelah kita sampai di tujuan.” Tegas Herna.
“Loh kenapa harus nanti?” Dipa heran tak mengerti maksud Herna.
“Kalau dijawab sekarang itu adalah jawaban yang hanya bibir dan pikiran, yang kenyataanya belum terjadi, oleh karena itu kemungkinannya akan memberi kesempatan untuk berdebat, tapi kalau jawabannya, nanti setelah tiba disana, itu adalah jawaban hati nurani, artinya, jawabanyang berisi kejujuran, karena kenyataan yang terjadi di sertai bukti-bukti pengakuan yang diberikan oleh perjalanan itu sendiri, sehingga sebenarnya tidak perlu berdebat, kecuali kalau hanya ingin mengada-ada.” Tukas herna, membuat Dipa tercengang, awalnya sama sekali tidak menyangka kalau jawaban herna akan demikian.
“Kang Dipa bukan masalah puitisnya, tapi masalah seriusnya” Tegas Herna. “Kita harus sadar oleh pengalaman, bukan sadar oleh siksaan.”
“Apa bedanya?” Tanya Dipa penasaran.
“Kalau sadar oleh pengalaman, kita masih punya waktu untuk berbuat, tapi kalau sadar oleh siksaan, kita sudah tidak punya waktu untuk berbuat, atau segalanya sudah terlambat.
“Hm sekarang akang mulai kenal siapa kamu ini sebenarnya.” Ujar Dipa
“Siapa ayo?” Tanya Herna sambil melirik.
__ADS_1
“Akang bisa menjawab pertanyaan adik, tapi nanti setelah kita sampai ditujuan” Tukas Dipa.
“Aduh….” Kini herna balik mengerlikan matanya. Dan hampir tangannya mencubit.
“Nah begitu hehehe.” Tiba-tiba suara Pak Soni terdengar.
“Ah bisa saja Pak soni.” Teriak Dipa.
Lautan yang biru membentang tiada batas. Memberikan arti cerita yang tak pernah ada habisnya membuat penasaran, bagi setiap mahluk yang ingin mencoba memahami arti kehidupan. Memang semuanya butuh ilmu dan kesabaran, bila dihadapkan pada kenyataan hidup yang segalanya membentang tanpa batas. sementara manusia sangat memiliki keterbatasan, namun manusia tanpa menyadarinaya, bahwa dirinya punya keterbatasan. Artinya apa-apa yang dihadapi oleh kita sekarang sepintas lalu seperti kelihatan biasa-biasa saja, tapi kalau ditafakuri atau direnungkan oleh akal pikiran yang jernih, serta kejujuran hati yang paling dalam, semuanya tidak nampak sederhana atau biasa biasa, tetapi apa-apa yang ada di dunia ini sebenarnya sangat komplek dan sangat misterius. Seperti apa yang terjadi pada Dipa dan Pak Dasim, dengan segala harapan dan angan-angannya sepintas lalu, bagi Dipa dan Pak Dasim sudah tidak ada masalah, mereka sudah bisa layak. Tapi apabila dihubungkan dengan cita-cita mereka, yang ingin mendirikan taman remaja, dengan segudang masalah, halangan dan rintangan yang harus dihadapinya, terutama mengahadapi anggapan picik tentang remaja, mereka mengagap apa yang harus dipermasalahkan tentang remaja, toh mereka sedang hidup menikmati masanya. Sehingga apa-apa yang diangan-angakan oleh Pak Dasim di anggapnya mengada-ada. Jadi itu masih sangat jauh untuk dikatakan selesai, perjalanannya masih sangat panjang, rumpil dan terjal. Juga dengan keadaan Dipa yang kini sedang menghadap masa-masa transisi, peralihan dari alam remajanya menuju masa dewasa. Misalnya ia harus dihadapkan pada kebutuhan tuntutan untuk berumahtangga, yang hanya sekedar untuk beradaptasi, mengikuti umumnya kehidupan yang kini sedang berlangsung, baginya mudah tinggal mengatakan saja apa-apa yang tersimpan dihatinya, juga tinggal terus terang saja pada orang tua Herna yaitu Mang Danu, bahwa dirinya tertarik pada putrinya, yaitu Herna, soal nantinya bagaimana itu urusan nanti, yang penting sudah membuat proses. Tetapi tidak demikian, sekali tidak demikian.
“Kang Dipa melamun yah” Tiba tiba suara Herna memecahkan kesunyian.
“Betul! Kang Dipa sedang melamun.” Sahut Dipa.
“Melamun apa Kang Dipa?” Tanya Herna sambil menatap wajah Dipa.
Baru juga Dipa hendak menjawab, tiba tiba terdengar teriakan suara Wiranta yang menyuruh istirahat dulu, singgah disebuah pasar pelelangan ikan. Maka tidak ada masalah perahu yang ditumpangi oleh Dipa, segera merapat mengikuti perahu yang ditumpangi oleh Wiranta. Semua pernumpang akhirnya turun melalui tangga yang sudah disediakan. Dan selanjutnya rombongan singgah dulu di warung nasi untuk makan siang. Suasana makan siang
ditempat itu, sangat mengundang kesan yang luar biasa, terutama bagi Herna dan Dipa. Keduanya seperti sengaja diberi keleluasaan untuk saling mengenal lebih dekat, walaupun tetap, keduanya menjaga etika nilai-nilai kesopanan.
Selesai makan, mereka singgah dulu di mushola untuk melakukan solat duhur. Dan setelah mereka santai sejenak, menikmati suasan pantai yang indah dan permai, maka rombongan, segera kembali ke perahunya masing-masing. Dan selanjutnya rombongan Kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1