Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 36


__ADS_3

Beberapa saat kemudian setelah tamu Bang Domil memperkenalkan diri pada Wiranta dan Dipa, maka akhirnya ketiganya mulai mengawali pembicaraan.


"Begini seperti yang tadi sudah saya sebutkan bahwa, nama saya adalah Edi Halfidi tinggal di sana, kalau asli saya orang sini, kenapa saya tinggal disana, karena saya terbawa pindah ikut dengan istri, kenapa saya ikut dengan istri, karena saya tertarik awalnya oleh, garapan yang sudah berjalan disana. Awal saya dengan istri bertemu ketika kami sama-sama sedang menuntut ilmu disebuah propinsi A, tepatnya di Kota B. Walaupun kami tidak bertemu setiap hari tapi dalam sebulannya ada saja jalan bagi kami untuk bertemu. Singkatnya cerita hubungan kami akhirnya membuahkan kesepakatan untuk diteruskan kepelaminan. Prinsip kami dari awal sudah sepakat bahwa kami akan membangun pesantren atau madrasah di kampung tempat kediaman kami. Dulu sebelum kami menikah, memang pesanntren dan madrasah sudah ada, namun entah bagaimana tidak ada peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Walaupun sekarang ada kami, ternyata tetap saja. Nah waktu saya kesini berbincang- bincang dengan Bang Domil, katanya ia punya kenalan yang aktif disebuah pesantren. Akhirnya, kalau tidak salah dua hari yang lalu kami kesana, ternyata Guru wiranta tidak ada. Katanya Guru Wiranta ada di kampung Bahari, hanya hari minggu, tadinya kalau tidak bertemu disini, saya dengan Bang Domil akan kesana. Saya ingin berbincang-bincang tentang kepesantrenan." Papar Bang Edi Halfidi.


Mendengar penuturan Bang Edi Halfidi, Wiranta dan Dipa nampaknya sangat antusias, namun keduanya masih belum tahu apa, dan bagaimana mereka berbuat.


"Bang Edi lantas apa yang bisa Bang Edi ambil hikmahnya, ketika Bang Edi mengetahui keadaan disini?" Tanya Wiranta.


"Awalnya saya tidak menyangka, tadinya saya kesini hanya mau meminta masukan dari ayah saya, bagaimana jalan keluarnya. Tapi setelah saya melihat keadaan disini, maksudnya di Kampung Bahari, saya jadi ingin berbincang-bincang, siapa tahu saya bisa menemukan jalan keluarnya.

__ADS_1


"Coba jelaskan Bang Edi, apasih masalahnya disana?" Tanya Wiranta sambi menatap wajah Bang Edi.


"Tapi tunggu, sebelum bang Edi memaparkan permasalahan yang terjadi disana, sebaiknya kita makan Dulu, istri saya sudah menyiapkan makanan, walaupun maaf seadanya." Kata Bang Domil, sambil bangkit mengajak Wiranta dan Dipa. "Ayo Bang Edi." Tambah Bang Domil, sambil terus masuk.


Akhirnya wiranta dan kawan-kawan segera mengikuti Bang Domil. Sesampainya didalam, benar saja hidangan sudah tersaji. Akhirnya mereka makan dulu. Selesai makan mereka, kembali keruang depan. Dan selanjutnya Bang Edi segera menuturkan kisah yang terjadi di kampung halaman tempat istrinya. Awalnya kata Bang Edi, di kampung tempat istrinya, walaupun biasa-biasa, tapi masih bisa disebutkan wajar seperti umunya sebuah kampung. Tapi entah bagaimana mulanya diseberang pesantren yang dibatasi oleh sebuah kali yang menuju muara, sudah hampir dua tahun ada semacam lokasi tempat perjudian dan sebagainya. Tentu saja kegiatan kami boro-boro bisa mewarnai kehidupan masarakat sekitar, yang jelas dengan ada tempat perjudian dan sebagainya malah keadaan masyarakat semakin parah. Coba bayangkan yang tadinya orang-orang tidak biasa berjudi, setelah ada tempat itu, mendadak mereka jadi biasa berjudi, walaupun awalnya cuma iseng tapi segala sesuatu juga awalnya iseng, tetapi karena rutin dan seolah-olah dari lingkungan tidak ada reaksi apa-apa, akibatnya lambat laun menjadi budaya yang tidak dianggap negatif, banyak budaya negatif yang sudah dianggap wajar. Begitu dan begitu. Akhirnya panggilan hati terasa memberontak dan tidak ridho keadaan menjadi demikian. Hanya masih belum memutuskan harus bagaimana. Malah yang terakhir adalah, disana sering terjadi tawuran, akhirnya saya dengan istri, kata Bang Edi memutuskan untuk mencari solusi. Setelah Bang Edi menjelaskan atau mengutarakan segala macam kejadian di kampung halaman istrinya, maka kini giliran Wiranta yang menjelaskan keadaan di kampung Bahari. Tentu saja bagi Bang Edi jadi penasaran dan ia ingin tahu bagaimana caranya utuk menerapkannya disana. Kata wiranta jika ingin menerpakan program-program yang ada di kampung Bahari ke kampung halaman sana, kata Wiranta harus meniru pola yang dipakai di kampung Bahari.


"Baiknya Bang Edi sehari dua hari menginap di rumah saya, nah nanti Bang Edi bisa tahu lebih jelas, apa perbedaan metode yang selama ini diterapkan oleh bang Edi dengan metode yang di terapakan di kampung Bahari." Papar Dipa ikut buka suara.


"Iya kalau Kang Dipa tidak keberatan, sebaiknya begitu." Tukas Bang Edi.

__ADS_1


"Silahkan saja, mau sekarang juga siap." Kata Dipa.


"Yah sekarang juga bagus, supaya masih ada Guru Wiranta, kalau dinanti-nanti Guru Wiranta keburu pergi." Sambung Bang Domil.


Seterusnya, setelah segalanya beres, dan sudah waktunya pergi, maka akhirnya meraka segera bergegas. Namun Bang Domil tiba-tiba menahan Wiranta.


"Oh iya saya nitip dulu." Kata Bang Domil sambil membalikan badannya hendak mengambil sesuatu. Dan sebentar kemudian ia sudah kembali.


"Guru! Ini aku titip pada pamanmu, untuk pesanan alat penggiling kerupuk atau pengiris kerupuk." Kata Bang Domil sambil memberikan uang.

__ADS_1


Akhirnya setelah mengucapkan salam, Wiranta segera pamit. Tidak diceritakan dijalan setelah kurang lebih satu jam berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di kampung Bahari. Besoknya Bang Edi dipertemukan dengan Kang Suganda dan setelah mendapat penjelasan dari Kang Suganda mengenai segala macam bentuk kegiatan yang ada di Yayasan Generasi Bangsa, maka seterusnya Bang Edi segera diperkenalkan ke ruang Pak Dasim. Diruang Pak Dasim, Bang Edi mendapat penjelasan yang lebih memuaskan karena Bang Edi bisa langsung melihat fakta-fakta dilapangan. Maka dalam kesempatan itu Bang Edi sudah punya cacatan bahwa, bila teori yang diterapkan tanpa diakhiri oleh aplikasi, maka hasilnya pun akan hanya teori. Jadi wajar kata Pak Dasim kalau selama ini di kampung Bang Edi keadaannya seperti itu. Karena pendidikan yang diterapkannya hanya sebatas teori. Hal ini sangat di mengerti oleh Bang Edi. Seterusnya Bang Edi pun meminta penjelasan tentang kaitannya pengajaran pesantren dengan muatan lokal yang diaplikasikan oleh Pak Dasim. Pertanyaan Bang Edi itu segera dijawab oleh pak Dasim Dengan pertanyaan lagi. Kata Pak dasim apa bedanya resep masakan yang ada pada buku, dengan masakan yang sudah ada di katel. Jadi sampai kapanpun kalau resep tanpa dirubah menjadi masakan, yah tentu saja resep itu tidak akan memberikan manfaat apapun kecuali kepalsuan. Juga seperti itulah yang terjadi di tempatnya Bang Edi. Tidak akan terjadi perubahan apa-apa karena yang dikedepankannya cuma teori yang tidak disertai pembuktian. Seterusnya Bang Edi mendapat penjelasan dari Pak Dasim secara rinci.


__ADS_2