Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 25


__ADS_3

Warna langit agak redup, dan suasanapun, terlihat pucat kurang gairah. seperti akan turun hujan mungkin, tapi entahlah sebab kita merasakan masih ada angin yang hilir mudik menggoyang-goyangkan daun. Nampak Herna berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, menuju tempat biasa mengajar. Namun sesampainya disana, Dia tidak langsung ke tempat mengajar, tetapi ia sengaja mampir dulu ke kantor Sekolah Dasar An-Nur Bahari Dusun Bahari. Maksudnya hendak menemui Pak Suganda selaku kepala sekolah merangkap ketua Yayasan. Sesampai didepan pintu kantor SD. An-Nur Bahari Yayasan Generasi Bangsa. Herna segera mengucapakan salam dan setelah dari dalam ada jawaban dan perintah masuk, maka Herna segerara masuk keruang kapala sekolah menemui Pak Suganda.


“Oh, Herna silahkan duduk!” Ucap pak Suganda setelah Herna ada didalam ruangan.


“Begini pak, apakah para mahasiswa/mahasiswi itu sudah mendapat izin dari bapak untuk mengadakan acara silaturahmi dengan anak-anak?” Tanya Herna.


“Sudah, malah surat izinnya sudah mereka terima, hanya kewenangan Herna selaku guru dan pengasuh di madrasah itu harus benar-benar eksis, Herna harus bisa memperlihatkan tanggung jawabnya selaku guru, dan berani menggunakan hak dan kewajiban selaku guru, bisa berbuat atau mengantisipasi bila ada hal-hal yang tidak sejalan dengan program yang berlaku di lingkungan An-Nur Bahari atau di lingkungan Yayasan Generasi bangsa.” Papar Kang Suganda.


“Baik pak, rupanya hanya itu keperluan Herna kepada bapak, selanjutnya saya permisi.” Ucap Herna yang diakhiri oleh ucapan salam.


Setibanya di depan madrasah An-Nur Bahari, di sana Herna Sudah ditunggu oleh beberapa mahasiswa/mahasiswi yang hendak mengadakan kunjungan program kuliahnya. Dan Herna, setelah menerima dan mempersilahkan mereka masuk ruangan kelas, para mahasiswa itu lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Herna permisi pada mereka untuk meninggal kan ruangan kelas. Herna langsung menuju ruangan tempat kerja Pak Dasim. Setibanya diruangan tempat kerja Pak Dasim, Herna melihat Pak Dasim sedang sibuk memberikan pengajaran praktek matematika. Herna langsung permisi intrupsi, dan Pak Dasim pun segera menghampirnya. Kemudian Herna menceritakan bahwa diruangannya sudah ada para mahasiswa, yang hendak melakukan kunjungan program kuliah mereka. Kemudian keduanya berbincang-bincang sejenak. Dan setelelah dianggap cukup, Herna segera permisi pada Pak Dasim dengan tidak lupa mengucapkan salam. Herna segera Kembali ke ruang kelasnya. Sekembali diruangan kelas Herna memperegoki para mahasiswa itu sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Sikap dan sifat mereka sangat ramah dan sopan. Maka Herna pun sangat antusias atas kehadiran mereka. Dalam kunjungan itu, sikap para masiswa tidak terlalu memperlihatkan sikap proaktif. Tapi mereka lebih banyak, memperlihatkan sikap menyimak dari setiap ulasan-ulasan yang diungkapkan oleh Herna termasuk program-program penerapan metode pengajaran. Selanjutnya untuk lebih terfokus lagi pada topik pembicaraan, maka untuk saat itu Herna segera menyegerakan proses mengajaranya. Dan selanjutnya Herna segera membawa para mahasiswa ke ruang Pak Dasim. Diruang Pak Dasim mereka lebih dibuat lagi bertanya-tanya, seperti menemukan sesuatu yang asing atau sesuatu yang baru. Dalam kesempatan itu para mahasiswa dihadapkan pada beberapa pertanyaan Pak Dasim, tentang keberadaan mereka dengan masa depanya. Pak Dasim meminta para mahasiswa untuk menjelaskan prinsip-prinsip pola pikirnya, sehubungan dengan sikap mereka memilih, materi atau jurusan sesuai dengan disiplin ilmunya sekarang. Mereka diminta untuk transparan, tidak merekayasa pembicaraan, supaya terkesan seorang mahasiwa. Dan Ketika mereka meminta penjelasan pak Dasim tentang aplikasi pelajaran matematika secara khusus atau prioritas. Pak Dasim, malah dalam kesempatan itu membalikan pertanyaanya pada mereka. “Justru saya, seharusnyalah yang meminta adek-adek mahasiswa, untuk menjelaskannya. Karena kalian datang jauh jauh kisini, ke Desa Rawa Mutu, saya yakin berbekal keilmuan.” Kata Pak Dasim malah membuat mahasiswa bingung. Akhirnya Pak Dasim dengan bijaksana segera menjelaskan, sedetil mungkin. Sambil memperlihatkan bukti-bukti atau karya-karya anak asuhnya. Sehingga kalau ditanya prospek mereka, mereka akan menjawab dengan fakta dan rasa optomis, beda lagi kalau bertanya pada anda semua, jawabannya pasti ngambang. Selanjutnya Pak Dasim memang memaklumi keberadaan mereka, oleh karenanya pak Dasim segera membuat suasana yang lain, yang lebih segar, dengan cara mengalihkan pada perbincangan dengan topik yang berbeda. Melihat kenyataan yang ada, nampaknya para mahasiswa itu seperti terkesan pada program yang di selenggarakin di Yayasan Generasi Bangasa ini. Terbukti dengan tanggapan-tanggapan mereka selanjutnya. Setelah dipandang cukup, para mahasiswa segera pamit untuk Kembali kemnya. Yaitu di rumahnya pak lurah. Ketika perjalanan pulang menuju rumahnya, tiba-tiba Herna dicegat oleh Si Dodi, katanya ingin ngobrol.


“Lho kok dinas banget Dod, apakah tidak ada waktu lain?” Tanya Herna sambil tersenyum.


“Memangnya tidak boleh?” Si Dodi balik bertanya.


“Boleh-boleh saja cuman kan harus jelas maksud dan tujuannya.” Kata Herna memberi gambaran.


“Yah maksud dan tujuannya mau bertanya sesuatu.” Ujar Si Dodi


“Bertanya tentang apa? kalau sekira bisa bisa dijawab disini, disini saja tak usah kerumah.” Kata Herna sambil


tersenyum.


 “Memangnya tidak boleh? " Tukas Si Dodi


"Boleh-boleh saja kalau mau kerumah? Asal kataku tadi harus jelas maksud dan tujuanya.” Tukas Herna.


“Apakah kamu sudah punya pacar?” Tanya Si Dodi.


“Sudah” Tukas Herna pendek.


Mendengar jawaban demikian dari Herna, Si Dodi untuk sementara diam sejenak, tapi nampaknya hal itu tidak membuat Si Dodi mengurungkan niatnya untuk berkunjung kerumahnya Herna. Si Dodi dalam hal ini benar-benar ngotot, dianggapnya pengakuan Herna itu cuma ingin menguji kesungguhan dirinya saja. Sesampainya di rumah, Herna sekeluarga tetap memperlihatkan sikap yang wajar-wajar saja, Ketika Si Dodi bertamu. Si Dodi kerumahnya Herna, memang tidak mengganggu kegiatannya selaku mahasisiwa, dia bertamu ke rumahnya Herna itu diluar jadwal kesibukannya. Kebiasaan Si Dodi bertamu kerumahnya Herna, ternyata bukan sekali dua kali, namun hampir setiap malam minggu. Bagi Herna bukan saja Si Dodi yang terang-terangan menyatakan isi hatinya, Tapi disekolahan pun, ada guru baru, namanya Pak Anto yang sama, kaya Si Dodi, terang-terangan menyatakan sesuatu


pada Herna. Tapi Herna menyikapinya biasa-biasa saja. Namun ada hal yang


membuat herna kecewa adalah sikap Dipa yang tidak memperlihatkan rasa


cemburunya atau bagaimana, padahal dalam hati Herna sebenarnya hanya Dipalah


yang di harapkan keterus terangannya. Tapi malah yang Herna lihat sikap Dipa, seperti


tak ada perasaan apa-apa pada dirinya. Padahal baik si Dodi maupun Pak Anto sering


menunjukan sikapnya di depan Dipa, tetapi seperti yang sudah-sudah, Dipa cuma


tersenyum. Suatu waktu Herna sengaja untuk beberapa hari lamanya tidak


memperlihatkan aktif baik di SD maupun di madrasah. Herna secara diam-diam


pergi kerumah bibinya, tanpa sepengatahuan Pak Danu selaku orang tua. Tentu


saja membuat Pak Danu Dan Istrinya Bu Mae mendadak kelabakan. Dan mereka


bingung kemana untuk mencarinya. Untung satu hari setelah Herna pergi

__ADS_1


meninggalkan rumahnya, Saudara Herna dari Pak Danu, memberi tahukan bahwa Herna


berada dirumahnya. Mendengar kabar demikian, Pak Danu tidak membuang-buang waktu,


seketika itu juga menyuruh istrinya untuk menemui Dipa. Maka Bu Mae segera


mendatangi Dipa meminta tolong untuk menyusul Herna. Dipa segera berangkat


dengan saudaranya Pak Danu, naik motor yang tempo hari dipakai ke rumahnya Bang


Tomang. Sebenarnya hati Dipa pun sama, ia merasa terkejut Ketika Herna pergi


meninggalkan rumahnya, ada persoalan apa? Mendadak sebuah pertanyaan timbul


dalam hati Dipa. Untung Herna pergi ke saudaranya, sehingga tidak sulit untuk


mencarinya. Tidak diceritakan di jalannya, anggap saja Dipa sudak sampai


dirumah saudara Pak Danu, setibanya Dipa dirumah, dimana Herna tinggal, Herna


tidak buru-buru menemui Dipa, Saudaranya Herna Mang Soji, memberitahukan bahwa


Dipa disuruh Pak Danu ayahnya, untuk menyusul Herna agar pulang hari itu juga. Karena


terus-terusan dipaksa agar menemui Dipa, maka Herna pun akhirnya mau juga


menemui Dipa. Di depan Dipa Herna tidak memperlihatkan sikap biasaanya, tapi ia


tetunduk dengan sikap yang kesal, dan wajah telihat seperti sudah menangis.


ibu mencemaskan mu.” Pinta Dipa dengan suara pelan.


“Herna bukan anak kecil, Aku bisa pulang


sendiri” Tegas Herna. “Herna tidak akan pulang untuk selamanya bila” Kata-kata


tidak diteruskan.


“Lho kenapa, ada persoalan apa?” Tanya


Dipa, penuh selidik.


Lalu Herna menceritakan segala apa-apa yang


pernah dialaminya berkenaan dengan sikap Si Dodi dan sikap Pak Anto yang hampir


setiap bertemu selalu saja, mengutarakan isi hatinya masing-masing. Si Dodi


setiap malam mimggu selalu datang untuk tujuan itu. Sedangkan Pak Anto hampir


setiap hari bertemu sehingga kesempatan untuk mengatakan sesuatu selalu saja


dibuatnya, misalnya denagan mengatakan ada perlu sebentar. Sedangkan buat


Herna, sikap mereka itu sangat mengganggu. Padahal Herna sering mengatakan pada

__ADS_1


mereka bahwa dirinya sudah punya calon, tapi mereka tetap saja tak mau percaya.  Malah justru dengan pengakuan inilah


yang membuat Herna sedih, sebab yang dikatakan calon itu pada dasarnya hanya


pengakuan dirinya sendiri. Diikatakan oleh Herna, yang dimaksud calon itu


sebenarnya orangnya tidak memperlihatkan kepedulianya. Mendengar penuturan


Herna demikian, Dipa hanya garuk-garuk kepala. Kemudian ia menarik napas


dalam-dalam.


“Dik Herna apakah, adik bisa menjelaskan


atau mengatakan siapa calon dik Herna itu?” Tanya Dipa.


”Untuk apa?” Tanya Herna.


“Yah Untuk sekedar ingin tahu. Sebab begini


Dik Kang Dipa Pun sudah punya kalau yang di idamkan, namun sampai saat ini Kang


Dipa belum sempat mengutrakan, tadinya mau minta tolong sama dik Herna untuk


menyampaikan salam saya pada gadis itu. Tapi dik Herna keburu tidak ada. Jadi


saya bingung.“ Tukas Dipa sambil melirik kearaah wajah herana yang nampak


tambah pucat.


“Lho kenapa harus sama Herna?” Tanya Herna


dengan suara meninggi.


“Kan hanya Dih Herna lah yang tahu


alamatnya.” Tukas Dipa


“Memangnya siapa gadis yang dimaksud Kang


Dipa?”


“Itu putrinya Pak Danu dan Bu Mae!” Sahut


Dipa sambil menatap wajah Herna yang mendadak berubah.


“Putri Pak Danu dan Bu Mae yang mana?”


Tanya Herna.


“Itu yang barusan menangis!” Sahut Dipa


sambil tertawa.


“ Ih engga ah” Kata Herna yang mendadak

__ADS_1


riang, tapi kelihatan sepertj malu,terlihat wajahnya memerah.


__ADS_2