
Warna langit agak redup, dan suasanapun, terlihat pucat kurang gairah. seperti akan turun hujan mungkin, tapi entahlah sebab kita merasakan masih ada angin yang hilir mudik menggoyang-goyangkan daun. Nampak Herna berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, menuju tempat biasa mengajar. Namun sesampainya disana, Dia tidak langsung ke tempat mengajar, tetapi ia sengaja mampir dulu ke kantor Sekolah Dasar An-Nur Bahari Dusun Bahari. Maksudnya hendak menemui Pak Suganda selaku kepala sekolah merangkap ketua Yayasan. Sesampai didepan pintu kantor SD. An-Nur Bahari Yayasan Generasi Bangsa. Herna segera mengucapakan salam dan setelah dari dalam ada jawaban dan perintah masuk, maka Herna segerara masuk keruang kapala sekolah menemui Pak Suganda.
“Oh, Herna silahkan duduk!” Ucap pak Suganda setelah Herna ada didalam ruangan.
“Begini pak, apakah para mahasiswa/mahasiswi itu sudah mendapat izin dari bapak untuk mengadakan acara silaturahmi dengan anak-anak?” Tanya Herna.
“Sudah, malah surat izinnya sudah mereka terima, hanya kewenangan Herna selaku guru dan pengasuh di madrasah itu harus benar-benar eksis, Herna harus bisa memperlihatkan tanggung jawabnya selaku guru, dan berani menggunakan hak dan kewajiban selaku guru, bisa berbuat atau mengantisipasi bila ada hal-hal yang tidak sejalan dengan program yang berlaku di lingkungan An-Nur Bahari atau di lingkungan Yayasan Generasi bangsa.” Papar Kang Suganda.
“Baik pak, rupanya hanya itu keperluan Herna kepada bapak, selanjutnya saya permisi.” Ucap Herna yang diakhiri oleh ucapan salam.
Setibanya di depan madrasah An-Nur Bahari, di sana Herna Sudah ditunggu oleh beberapa mahasiswa/mahasiswi yang hendak mengadakan kunjungan program kuliahnya. Dan Herna, setelah menerima dan mempersilahkan mereka masuk ruangan kelas, para mahasiswa itu lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Herna permisi pada mereka untuk meninggal kan ruangan kelas. Herna langsung menuju ruangan tempat kerja Pak Dasim. Setibanya diruangan tempat kerja Pak Dasim, Herna melihat Pak Dasim sedang sibuk memberikan pengajaran praktek matematika. Herna langsung permisi intrupsi, dan Pak Dasim pun segera menghampirnya. Kemudian Herna menceritakan bahwa diruangannya sudah ada para mahasiswa, yang hendak melakukan kunjungan program kuliah mereka. Kemudian keduanya berbincang-bincang sejenak. Dan setelelah dianggap cukup, Herna segera permisi pada Pak Dasim dengan tidak lupa mengucapkan salam. Herna segera Kembali ke ruang kelasnya. Sekembali diruangan kelas Herna memperegoki para mahasiswa itu sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Sikap dan sifat mereka sangat ramah dan sopan. Maka Herna pun sangat antusias atas kehadiran mereka. Dalam kunjungan itu, sikap para masiswa tidak terlalu memperlihatkan sikap proaktif. Tapi mereka lebih banyak, memperlihatkan sikap menyimak dari setiap ulasan-ulasan yang diungkapkan oleh Herna termasuk program-program penerapan metode pengajaran. Selanjutnya untuk lebih terfokus lagi pada topik pembicaraan, maka untuk saat itu Herna segera menyegerakan proses mengajaranya. Dan selanjutnya Herna segera membawa para mahasiswa ke ruang Pak Dasim. Diruang Pak Dasim mereka lebih dibuat lagi bertanya-tanya, seperti menemukan sesuatu yang asing atau sesuatu yang baru. Dalam kesempatan itu para mahasiswa dihadapkan pada beberapa pertanyaan Pak Dasim, tentang keberadaan mereka dengan masa depanya. Pak Dasim meminta para mahasiswa untuk menjelaskan prinsip-prinsip pola pikirnya, sehubungan dengan sikap mereka memilih, materi atau jurusan sesuai dengan disiplin ilmunya sekarang. Mereka diminta untuk transparan, tidak merekayasa pembicaraan, supaya terkesan seorang mahasiwa. Dan Ketika mereka meminta penjelasan pak Dasim tentang aplikasi pelajaran matematika secara khusus atau prioritas. Pak Dasim, malah dalam kesempatan itu membalikan pertanyaanya pada mereka. “Justru saya, seharusnyalah yang meminta adek-adek mahasiswa, untuk menjelaskannya. Karena kalian datang jauh jauh kisini, ke Desa Rawa Mutu, saya yakin berbekal keilmuan.” Kata Pak Dasim malah membuat mahasiswa bingung. Akhirnya Pak Dasim dengan bijaksana segera menjelaskan, sedetil mungkin. Sambil memperlihatkan bukti-bukti atau karya-karya anak asuhnya. Sehingga kalau ditanya prospek mereka, mereka akan menjawab dengan fakta dan rasa optomis, beda lagi kalau bertanya pada anda semua, jawabannya pasti ngambang. Selanjutnya Pak Dasim memang memaklumi keberadaan mereka, oleh karenanya pak Dasim segera membuat suasana yang lain, yang lebih segar, dengan cara mengalihkan pada perbincangan dengan topik yang berbeda. Melihat kenyataan yang ada, nampaknya para mahasiswa itu seperti terkesan pada program yang di selenggarakin di Yayasan Generasi Bangasa ini. Terbukti dengan tanggapan-tanggapan mereka selanjutnya. Setelah dipandang cukup, para mahasiswa segera pamit untuk Kembali kemnya. Yaitu di rumahnya pak lurah. Ketika perjalanan pulang menuju rumahnya, tiba-tiba Herna dicegat oleh Si Dodi, katanya ingin ngobrol.
“Lho kok dinas banget Dod, apakah tidak ada waktu lain?” Tanya Herna sambil tersenyum.
“Memangnya tidak boleh?” Si Dodi balik bertanya.
“Boleh-boleh saja cuman kan harus jelas maksud dan tujuannya.” Kata Herna memberi gambaran.
“Yah maksud dan tujuannya mau bertanya sesuatu.” Ujar Si Dodi
“Bertanya tentang apa? kalau sekira bisa bisa dijawab disini, disini saja tak usah kerumah.” Kata Herna sambil
tersenyum.
“Memangnya tidak boleh? " Tukas Si Dodi
"Boleh-boleh saja kalau mau kerumah? Asal kataku tadi harus jelas maksud dan tujuanya.” Tukas Herna.
“Apakah kamu sudah punya pacar?” Tanya Si Dodi.
“Sudah” Tukas Herna pendek.
Mendengar jawaban demikian dari Herna, Si Dodi untuk sementara diam sejenak, tapi nampaknya hal itu tidak membuat Si Dodi mengurungkan niatnya untuk berkunjung kerumahnya Herna. Si Dodi dalam hal ini benar-benar ngotot, dianggapnya pengakuan Herna itu cuma ingin menguji kesungguhan dirinya saja. Sesampainya di rumah, Herna sekeluarga tetap memperlihatkan sikap yang wajar-wajar saja, Ketika Si Dodi bertamu. Si Dodi kerumahnya Herna, memang tidak mengganggu kegiatannya selaku mahasisiwa, dia bertamu ke rumahnya Herna itu diluar jadwal kesibukannya. Kebiasaan Si Dodi bertamu kerumahnya Herna, ternyata bukan sekali dua kali, namun hampir setiap malam minggu. Bagi Herna bukan saja Si Dodi yang terang-terangan menyatakan isi hatinya, Tapi disekolahan pun, ada guru baru, namanya Pak Anto yang sama, kaya Si Dodi, terang-terangan menyatakan sesuatu
pada Herna. Tapi Herna menyikapinya biasa-biasa saja. Namun ada hal yang
membuat herna kecewa adalah sikap Dipa yang tidak memperlihatkan rasa
cemburunya atau bagaimana, padahal dalam hati Herna sebenarnya hanya Dipalah
yang di harapkan keterus terangannya. Tapi malah yang Herna lihat sikap Dipa, seperti
tak ada perasaan apa-apa pada dirinya. Padahal baik si Dodi maupun Pak Anto sering
menunjukan sikapnya di depan Dipa, tetapi seperti yang sudah-sudah, Dipa cuma
tersenyum. Suatu waktu Herna sengaja untuk beberapa hari lamanya tidak
memperlihatkan aktif baik di SD maupun di madrasah. Herna secara diam-diam
pergi kerumah bibinya, tanpa sepengatahuan Pak Danu selaku orang tua. Tentu
saja membuat Pak Danu Dan Istrinya Bu Mae mendadak kelabakan. Dan mereka
bingung kemana untuk mencarinya. Untung satu hari setelah Herna pergi
__ADS_1
meninggalkan rumahnya, Saudara Herna dari Pak Danu, memberi tahukan bahwa Herna
berada dirumahnya. Mendengar kabar demikian, Pak Danu tidak membuang-buang waktu,
seketika itu juga menyuruh istrinya untuk menemui Dipa. Maka Bu Mae segera
mendatangi Dipa meminta tolong untuk menyusul Herna. Dipa segera berangkat
dengan saudaranya Pak Danu, naik motor yang tempo hari dipakai ke rumahnya Bang
Tomang. Sebenarnya hati Dipa pun sama, ia merasa terkejut Ketika Herna pergi
meninggalkan rumahnya, ada persoalan apa? Mendadak sebuah pertanyaan timbul
dalam hati Dipa. Untung Herna pergi ke saudaranya, sehingga tidak sulit untuk
mencarinya. Tidak diceritakan di jalannya, anggap saja Dipa sudak sampai
dirumah saudara Pak Danu, setibanya Dipa dirumah, dimana Herna tinggal, Herna
tidak buru-buru menemui Dipa, Saudaranya Herna Mang Soji, memberitahukan bahwa
Dipa disuruh Pak Danu ayahnya, untuk menyusul Herna agar pulang hari itu juga. Karena
terus-terusan dipaksa agar menemui Dipa, maka Herna pun akhirnya mau juga
menemui Dipa. Di depan Dipa Herna tidak memperlihatkan sikap biasaanya, tapi ia
tetunduk dengan sikap yang kesal, dan wajah telihat seperti sudah menangis.
ibu mencemaskan mu.” Pinta Dipa dengan suara pelan.
“Herna bukan anak kecil, Aku bisa pulang
sendiri” Tegas Herna. “Herna tidak akan pulang untuk selamanya bila” Kata-kata
tidak diteruskan.
“Lho kenapa, ada persoalan apa?” Tanya
Dipa, penuh selidik.
Lalu Herna menceritakan segala apa-apa yang
pernah dialaminya berkenaan dengan sikap Si Dodi dan sikap Pak Anto yang hampir
setiap bertemu selalu saja, mengutarakan isi hatinya masing-masing. Si Dodi
setiap malam mimggu selalu datang untuk tujuan itu. Sedangkan Pak Anto hampir
setiap hari bertemu sehingga kesempatan untuk mengatakan sesuatu selalu saja
dibuatnya, misalnya denagan mengatakan ada perlu sebentar. Sedangkan buat
Herna, sikap mereka itu sangat mengganggu. Padahal Herna sering mengatakan pada
__ADS_1
mereka bahwa dirinya sudah punya calon, tapi mereka tetap saja tak mau percaya. Malah justru dengan pengakuan inilah
yang membuat Herna sedih, sebab yang dikatakan calon itu pada dasarnya hanya
pengakuan dirinya sendiri. Diikatakan oleh Herna, yang dimaksud calon itu
sebenarnya orangnya tidak memperlihatkan kepedulianya. Mendengar penuturan
Herna demikian, Dipa hanya garuk-garuk kepala. Kemudian ia menarik napas
dalam-dalam.
“Dik Herna apakah, adik bisa menjelaskan
atau mengatakan siapa calon dik Herna itu?” Tanya Dipa.
”Untuk apa?” Tanya Herna.
“Yah Untuk sekedar ingin tahu. Sebab begini
Dik Kang Dipa Pun sudah punya kalau yang di idamkan, namun sampai saat ini Kang
Dipa belum sempat mengutrakan, tadinya mau minta tolong sama dik Herna untuk
menyampaikan salam saya pada gadis itu. Tapi dik Herna keburu tidak ada. Jadi
saya bingung.“ Tukas Dipa sambil melirik kearaah wajah herana yang nampak
tambah pucat.
“Lho kenapa harus sama Herna?” Tanya Herna
dengan suara meninggi.
“Kan hanya Dih Herna lah yang tahu
alamatnya.” Tukas Dipa
“Memangnya siapa gadis yang dimaksud Kang
Dipa?”
“Itu putrinya Pak Danu dan Bu Mae!” Sahut
Dipa sambil menatap wajah Herna yang mendadak berubah.
“Putri Pak Danu dan Bu Mae yang mana?”
Tanya Herna.
“Itu yang barusan menangis!” Sahut Dipa
sambil tertawa.
“ Ih engga ah” Kata Herna yang mendadak
__ADS_1
riang, tapi kelihatan sepertj malu,terlihat wajahnya memerah.