
Kedua tangan Dipa seraya menutupi wajahnya
seakan-akan ingin menghalangi gambaran-gambaran masalalunya. Hal ini sangat
dimengerti oleh pak Dasim.
"Kalau bapak ingin tahu, rasanya
aku ingin bunuh diri, sebab aku merasa di dzolimi oleh keadaan, aku merasa
terjebak dalam ketidakadilan. Tapi pak, aku sadar bahwa tugas manusia itu
seperti ini, yaitu merealisasikan makna sabar menjadi wujud kesadaran dalam
kehidupan." Tukas Dipa, sambil kedua matanya memandang kedepan.
"Hm......" Hembusan nafas yang
keluar dari hidung pak Dasim. Pak Dasim perlahan mengangkat badannya. "Kau
benar nak, mari kita teruskan perjalanan kita!"
Dalam hati pak Dasim sangat bangga
terhadap pendirian dan sikap Dipa pemuda di depannya. Dia samasekali tidak
menyangka bahwa keadaan pemuda itu demikian ceritanya. Pak Dasim sedikit merasa
malu pada kecerobohan sikap dan pikirannya.
"Jadi nak Dipa, kau ini sudah yatim
piatu yah...?" suara pak Dasim agak berat. Matanya redup, perasaannya penuh
haru.
Dipa tidak buru-buru menjawab, tapi
pandangannya serentak menggerilia kesegala arah, Dipa tahu kemana arah dan
maksud pertanyaan pak Dasim ini. "Betul pak, tapi bukan sekedar itu."
Aku Dipa sambil mengangkat badannya perlahan melaju mengikuti langgkah pak
Dasim.
"Apa kau tidak banyak tahu tentang
keluargamu dari ayah anggkatmu?"
"Tidak, karena keluarga pak Jono
tidak pernah tahu tentang asal-usulku. Tahunya aku saja ketika aku masih bayi
di simpan oleh seseorang di depan pintu rumah pak Jono, jadi mana munggkin
mereka tahu siapa keluargaku, sedangkan orang yang meninggalkan aku di depan
__ADS_1
pintu rumah pak Jono saja tidak tau siapa." papar Dipa dengan aroma muka
yang redup.
"Lantas apa reaksi pak Jono
terhadap mu, sertelah dia memberitahukan siapa dirimu sebenarnya nak!"
tanya pak Dasim sambil menatap tajam.
"Ah.....tidak ada reaksi apa-apa.
Sepertinya pak Jono sudah terbujuk, terpengaruh omongan istri barunya...Tapi
sudahlah tidak ada gunanya kita membahas itu. Saya ceritakan ini berhubung
terpaksa karena bapak terlihat oleh ku merasa sendiri dalam hidup. nah sekarang
bapak harus ingat disamping bapak itu ada aku yang sama-sama susah.
"Maaf nak..." Kata pak Dasim
seraya memeluk Dipa.
lalu keduanya hening sejenak, sementara
langkah mereka bergerak teratur menjagjagi, menginjak rumput-rumput dan menepis
semak-semak belukar yang menghalang-halangi langkah mereka. namun belum
seberapa jauh dari tempat semula pak Dasim segera menarik tangan Dipa, mepet
"Sttt....ada orang yang menuju
kemari" Pekik pak Dasim sambil meletakan telunjuk tangan ke bibirnya. dan
kemudian keduanya segera berlindung pada pohon besar itu, yang di sekelilingnya
semak-semak rimbun menutupinya. Badan mereka tenggelam dalam dekapan
semak-semak itu.
Dan bersamaan dengan itu segerombolan
orang-orang tiba-tiba lewat. pak Dasim dan Dipa semakin memepetkan tubuh-tubuh
mereka, sementara hati atau perasaan mereka berdebar-debar, berguncang penuh
kekhawatiran. lalu keduanya menahan nafas berusaha mengendalika perasaan.
"Tujuan kita sekarang kemana
pak?" Tiba-tiba terdengar salah seorang dari mereka membuka pertanyaan.
"Kita ke lubang inti saja
dulu," Jawab orang yang di tanya yaitu ketua lubang. "Kita nanti
__ADS_1
mengadakan rundingan mendadak sehubungan dengan keadaan sekarang ini, tapi
ini.... awas, ini adalah rahasia jangan sampai bocor ke telinga orang-orang di
sekeliling." tambahnya
"tapi pak, apa ini yakin, sejak
kapan keaadaan ini di ketahui?"
"hei...Darga ketahuan lubang ini
produktif, sejak kekacauan berlangsung beberapa minggu yang lalu. Kekacauan itu
timbul setelah si Ado dan kawan-kawannya membuat beberapa adegan huruhara,
memancing kekacauaan." Cetus ketua lubang itu, yang tiada lain Damangtirta.
"Aku belum paham pak." potong
si Darga sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kamu ini bagai mana!
Tebokan-tebokan beberapa hari yang lalu di bawa oleh orang-orang ku di
antaranya si Ado, itu semua sengaja untuk membuat kacau keadaan di tambang,
karena barang-barang tebokan itu sengaja di simpan di tanah buangan
masing-masing lubang, seolah-olah tebokan itu hasil dari lubang, padahal
sebenarnya itu hanya ulah kita agar keadaan menjadi kacau. Perhatian semua
orang akan tertuju pada lubang itu." Papar ketua lubang Damangtirta
berapi-api.
"Jadi semua ini...??"
"Iya semua ini adalah rekayasa
perbuatan kita, agar semuanya yang ada di tambang saling mencurigai, tapi kalau
saja nanti bocor tentu di antara kita ada yang berkhianat." Tegas
Damangtirta, dan sebelum melanjutkan kata-katanya, perhatianya mengerling ke
seluruh anak buahnya.
"Tapi pak...?!" potong salah
seorang anak buahnya. "Apa yakin diantara kita tidak akan ada berkhianat
?"
"Kalian perlu tahu, resiko yang
__ADS_1
akan kalian dapatkan, seandainya di antara kalian khianat." Tegas Damangtirta