Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 2


__ADS_3

Kedua tangan Dipa seraya menutupi wajahnya


seakan-akan ingin menghalangi gambaran-gambaran masalalunya. Hal ini sangat


dimengerti oleh pak Dasim.


"Kalau bapak ingin tahu, rasanya


aku ingin bunuh diri, sebab aku merasa di dzolimi oleh keadaan, aku merasa


terjebak dalam ketidakadilan. Tapi pak, aku sadar bahwa tugas manusia itu


seperti ini, yaitu merealisasikan makna sabar menjadi wujud kesadaran dalam


kehidupan." Tukas Dipa, sambil kedua matanya memandang kedepan.


"Hm......" Hembusan nafas yang


keluar dari hidung pak Dasim. Pak Dasim perlahan mengangkat badannya. "Kau


benar nak, mari kita teruskan perjalanan kita!"


Dalam hati pak Dasim sangat bangga


terhadap pendirian dan sikap Dipa pemuda di depannya. Dia samasekali tidak


menyangka bahwa keadaan pemuda itu demikian ceritanya. Pak Dasim sedikit merasa


malu pada kecerobohan sikap dan pikirannya.


"Jadi nak Dipa, kau ini sudah yatim


piatu yah...?" suara pak Dasim agak berat. Matanya redup, perasaannya penuh


haru.


Dipa tidak buru-buru menjawab, tapi


pandangannya serentak menggerilia kesegala arah, Dipa tahu kemana arah dan


maksud pertanyaan pak Dasim ini. "Betul pak, tapi bukan sekedar itu."


Aku Dipa sambil mengangkat badannya perlahan melaju mengikuti langgkah pak


Dasim.


"Apa kau tidak banyak tahu tentang


keluargamu dari ayah anggkatmu?"


"Tidak, karena keluarga pak Jono


tidak pernah tahu tentang asal-usulku. Tahunya aku saja ketika aku masih bayi


di simpan oleh seseorang di depan pintu rumah pak Jono, jadi mana munggkin


mereka tahu siapa keluargaku, sedangkan orang yang meninggalkan aku di depan

__ADS_1


pintu rumah pak Jono saja tidak tau siapa." papar Dipa dengan aroma muka


yang redup.


"Lantas apa reaksi pak Jono


terhadap mu, sertelah dia memberitahukan siapa dirimu sebenarnya nak!"


tanya pak Dasim sambil menatap tajam.


"Ah.....tidak ada reaksi apa-apa.


Sepertinya pak Jono sudah terbujuk, terpengaruh omongan istri barunya...Tapi


sudahlah tidak ada gunanya kita membahas itu. Saya ceritakan ini berhubung


terpaksa karena bapak terlihat oleh ku merasa sendiri dalam hidup. nah sekarang


bapak harus ingat disamping bapak itu ada aku yang sama-sama susah.


"Maaf nak..." Kata pak Dasim


seraya memeluk Dipa.


lalu keduanya hening sejenak, sementara


langkah mereka bergerak teratur menjagjagi, menginjak rumput-rumput dan menepis


semak-semak belukar yang menghalang-halangi langkah mereka. namun belum


seberapa jauh dari tempat semula pak Dasim segera menarik tangan Dipa, mepet


"Sttt....ada orang yang menuju


kemari" Pekik pak Dasim sambil meletakan telunjuk tangan ke bibirnya. dan


kemudian keduanya segera berlindung pada pohon besar itu, yang di sekelilingnya


semak-semak rimbun menutupinya. Badan mereka tenggelam dalam dekapan


semak-semak itu.


Dan bersamaan dengan itu segerombolan


orang-orang tiba-tiba lewat. pak Dasim dan Dipa semakin memepetkan tubuh-tubuh


mereka, sementara hati atau perasaan mereka berdebar-debar, berguncang penuh


kekhawatiran. lalu keduanya menahan nafas berusaha mengendalika perasaan.


"Tujuan kita sekarang kemana


pak?" Tiba-tiba terdengar salah seorang dari mereka membuka pertanyaan.


"Kita ke lubang inti saja


dulu," Jawab orang yang di tanya yaitu ketua lubang. "Kita nanti

__ADS_1


mengadakan rundingan mendadak sehubungan dengan keadaan sekarang ini, tapi


ini.... awas, ini adalah rahasia jangan sampai bocor ke telinga orang-orang di


sekeliling." tambahnya


"tapi pak, apa ini yakin, sejak


kapan keaadaan ini di ketahui?"


"hei...Darga ketahuan lubang ini


produktif, sejak kekacauan berlangsung beberapa minggu yang lalu. Kekacauan itu


timbul setelah si Ado dan kawan-kawannya membuat beberapa adegan huruhara,


memancing kekacauaan." Cetus ketua lubang itu, yang tiada lain Damangtirta.


"Aku belum paham pak." potong


si Darga sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kamu ini bagai mana!


Tebokan-tebokan beberapa hari yang lalu di bawa oleh orang-orang ku di


antaranya si Ado, itu semua sengaja untuk membuat kacau keadaan di tambang,


karena barang-barang tebokan itu sengaja di simpan di tanah buangan


masing-masing lubang, seolah-olah tebokan itu hasil dari lubang, padahal


sebenarnya itu hanya ulah kita agar keadaan menjadi kacau. Perhatian semua


orang akan tertuju pada lubang itu." Papar ketua lubang Damangtirta


berapi-api.


"Jadi semua ini...??"


"Iya semua ini adalah rekayasa


perbuatan kita, agar semuanya yang ada di tambang saling mencurigai, tapi kalau


saja nanti bocor tentu di antara kita ada yang berkhianat." Tegas


Damangtirta, dan sebelum melanjutkan kata-katanya, perhatianya mengerling ke


seluruh anak buahnya.


"Tapi pak...?!" potong salah


seorang anak buahnya. "Apa yakin diantara kita tidak akan ada berkhianat


?"


"Kalian perlu tahu, resiko yang

__ADS_1


akan kalian dapatkan, seandainya di antara kalian khianat." Tegas Damangtirta


__ADS_2