Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 11. Bag 2 - Lolos


__ADS_3

Pagi-pagi ketika matahari bersinar


menembus alam semesta, suara burung-burung bernyanyi bersahutan. Saat itu


suasana sangat cerah dan segar, secerah dan sesegar perasaan pak Dasim dan Dipa


yang hendak meninggalkan Kawasan itu. Dalam hal ini, pak Dasim dan Dipa sangat


berterimakasih atas kebaikan mang Kardi sekeluarga, juga pada kang Soma dan


Damangtirta.


Kebaikan hati mang Kardi sekeluarga,


sangat berarti sekali bagi pak Dasim dan Dipa. Tanpa bantuan mereka keduanya


tidak mungkin bisa meninggalkan tempat itu. Dan juga pak Dasim dan Dipa sangat


berterimakasih kepada kang Soma dan Damangtirta yang selama ini terasa


kebaikannya.


“Selamat tinggal pak Dasim, semoga selamat


sampai tujuan!”  Ucap mang Kardi.


“Sama-Sama jang!”  Suara pak Dasim sangat berat, terhalang oleh


sesuatu di tenggorokannya.


Dan seperti yang telah diceritakan, bahwa


pak Dasim sebelum pergi meninggalkan tambang, mang Kardi telah menyarankan agar


pak Dasim dan Dipa supaya mau bekerja di lubangnya.


Dan itu semua kini terbukti, kebaikan mang


Kardi sekeluarga ditambah kebaikan kang Soma dan kang Damangtirta telah


mewujudkan impiannya untuk bisa pulang.


Dengan ransel besar di pundaknya


masing-masing pak Dasim dan Dipa segera melangkah. Keduanya sudah bertekad


untuk memulai petualangan menempuh perjalanan hutan rimba.


Sebelum berangkat tadi, pak Dasim dan Dipa


mendapat petunjuk atau pengarahan dari mang Kardi, pak Dasim diberi sebuah peta


yang dibuat oleh mang Kardi. Peta itu sengaja dibuat agar pak Dasim tidak


tersesat diperjalanan.


Kira-kira setengah hari perjalanan mereka,


menempuh bukit-bukit dan tebing-tebing terjal, baru mereka merasakan lelah,


untuk itu keduanya segera beristirahat. Keduanya segera memilih tempat yang


dianggap nyaman untuk beristirahat.


“Nak Dipa, mari kita beristirahat dulu dan


mengisi perut kita.”  Ajak pak Dasim pada


Dipa.


Pak Dasim selanjutnya memburu sebuah


tempat, yang agak tinggi dan kering kemudian ia membenahinya.


“Saya sama sekali tidak  tahu tempat ini, dulu watku kesini saya kira


bukan jalan yang ini.”  Kenang Dipa.


“Memang nak Dipa, kata mang Kardi, ini


sengaja supaya kita tidak terlalu banyak bertemu dengan orang-orang di wilayah

__ADS_1


tambang tetangga, katanya perjalanan kita akan lancer apabila kita paham dan


mengikuti petunjuk peta.


“Oh…ya mudah-mudahan perjalanan kita


lancar”  harap Dipa.


“Kita bersyukur, harapan kita untuk bisa


keluar dari tempat ini bisa terlaksana.”


Sekeliling tempat itu rapat oleh berbagai


tanaman dan pohon-pohon kayu serta semak-semak. Juga rumput-rumput liar tumbuh


subur di sekitarnya.


Pak Dasim dan Dipa tidak jadi memilih


tempat tadi karena berbagai pertimbangan. Lalu keduanya segera mencari tempat


baru yang lebih baik untuk beristirahat. Lalu keduanya mengikuti jalan setapak


yang hampir tak terlihat, karena tertutup oleh rumput-rumput liar.


Dan beberapa saat kemudian mereka tiba


disebuah tempat yang agak landai. Pohon-pohon disekitar itu tak terlalu rapat.


“Nak Dipa tuh ada tempat yang pantas untuk beristirahat!” Kata pak Dasim,


sambil memburu tempat yang dimaksud.


“Iyah mari” Sahut Dipa sambil mengikuti


langkah pak Dasim.


Di pinggir sebuah pohon yang agak besar,


dengan posisi tanah yang bertahap-tahap seperti anak tangga, sehingga


kelihatannya nyaman bila dipakai istirahat.


berisi perbekalan begitu juga pak Dasim menurunkan gendongan nya yang berisi


peralatan. Lalu setelah keduanya, duduk nyaman, kemudian Dipa memeriksa


perbekalan yang diberikan oleh mang Kardi sekeluarga. Empat buah timbel besar


dan beberapa bungkus pepes ikan serta sambel goang yang dibungkus oleh daun


pisang.


“Ah…luar biasa!” Celoteh pak Dasim ia


sangat terharu dalam hati nya, dan bersyukur pada Tuhan, bahwa dirinya masih


diberi waktu.


“Iyah pak…!” Sahut Dipa.


Entah apa yang harus diucapkan oleh


keduanya bila memikirkan pengalaman yang dialami sekarang. Mereka harus hidup


dihutan rimba terlunta-lunta tanpa tahu akhir nasib kedepannya. Sambil menyantap


makanan, pak Dasim hampir tak kuasa menahan kesedihan dan kekhawatiran yang


berkecamuk dalam pikirannya. Hatinya belum merasa nyaman, akankah mereka berdua


bisa lolos atau selamat?


Tapi pak Dasim, teringat cerita mang Kardi


tentang pekerja luar negri, yang bisa selamat pulang, walaupun harus menembus


hutan rimba yang penuh dengan penuh bahaya, dan perbekalan seadanya atau


darurat. Yang Namanya menembus hutan rimba berhari-hari bisa dibayangkan resiko

__ADS_1


apa yang akan diterima seandainya bertemu dengan binatang buas, baik besar


maupun kecil, kurang-kurang nya tabah dan berani, serta nasib yang baik tentu


akan berakibat fatal, karena perjalanan mereka itu sangat beresiko


mempertaruhkan nyawa. Ingat akan hal itu, pak Dasim medadak tumbuh kembali


semangatnya. Pak Dasim yakin akan pertolongan yang maha kuasa. Maka dalam hati


pak Dasim bertekad bahwa dirinya harus berusaha tegar dan tabah, supaya bisa


lolos  dari tempat itu. Sebab walaupun


bagaimana keselamatan dirinya sangat menentukan cita-cita nya, untuk membuat


taman remaja yaitu sebuah taman yang berorientasi pada program pembuktian bakat


dan cita-cita para remaja.


Setelah keduanya selesai mengisi perut


mereka, kemudian pak Dasim dan Dipa istirahat sejenak, tidak buru-buru bangkit.


Baru setelah tubuhnya terasa nyaman keduanya segera bangkit untuk melanjutkan


perjalanan. Keduanya terus menelusuri jalan setapak di hutan belantara, di


sekitar pertambangan. Pak Dasim dan Dipa khusu, pikiran dan perasaannya hanya


tertuju pada tujuan untuk bisa lolos.


Ketika hari mulai gelap keduanya segera


mencari tempat untuk bisa dijadikan tempat tinggal atau bermalam. Dan mereka


terus berjalan mencari tempat yang dianggap cocok. Dan ketika mereka tiba


disebuah tempat dekat sungai kecil, mereka mencoba untuk mempertimbangkan


apakah tempat itu cocok atau tidak. Dan setelah tempat tersebut di


pertimbangkan cocok, maka pak Dasim dan Dipa menghampiri sebuah batu yang cukup


lebar. Kemudian keduanya berbenah di batu itu. Dan meletakan ransel-ransel yang


digendong oleh pak Dasim dan Dipa lalu pak Dasim memerintahkan Dipa untuk


mengeluarkan korek api dan lilin. Kemudian lilin itu dinyalakan, dan setelahnya


diletakan diatas batu itu.


“Nak Dipa kita makan dulu ajak pak dasim


sambil memberikan timbel tadi pagi yang masih tersisa.


“Iya pak terimakasih” Sahut Dipa


Lalu


keduanya menyantap sisa perbekalan itu. Sambil menikmati makanan tersebut,


sebenarnya hati pak Dasim masih belum tentram yang ia pikirkan adalah keamanan


sekitarnya. Terutama menghadapi suasana malam. Kekhawatiran mereka tidak saja


khawatir akan serangan binatang buas tapi juga khawatir pada orang-orang


tambang yang sengaja liar malam, untuk mencari sasaran. Dan ketika beberapa


saat kemudian mereka bisa membuat keyakinan bahwa tempat disekitar itu cukup


aman. Mereka nampaknya bisa membuat api unggun dan tempat tidur.


Pak Dasim dan Dipa segera mencari


ranting-ranting kering untuk dijadikan kayu bakar. Dan setelah cukup banyak


maka mulailah mereka menyusun tumpukan kayu-kayu tersebut berbentuk krucut.


Dibawah tumpukan itu disimpan daun daun kering sebagai pemancing. Kemudian

__ADS_1


setelahnya pak Dasim segera menyulut daun-daun kering itu.


__ADS_2