
Pagi-pagi ketika matahari bersinar
menembus alam semesta, suara burung-burung bernyanyi bersahutan. Saat itu
suasana sangat cerah dan segar, secerah dan sesegar perasaan pak Dasim dan Dipa
yang hendak meninggalkan Kawasan itu. Dalam hal ini, pak Dasim dan Dipa sangat
berterimakasih atas kebaikan mang Kardi sekeluarga, juga pada kang Soma dan
Damangtirta.
Kebaikan hati mang Kardi sekeluarga,
sangat berarti sekali bagi pak Dasim dan Dipa. Tanpa bantuan mereka keduanya
tidak mungkin bisa meninggalkan tempat itu. Dan juga pak Dasim dan Dipa sangat
berterimakasih kepada kang Soma dan Damangtirta yang selama ini terasa
kebaikannya.
“Selamat tinggal pak Dasim, semoga selamat
sampai tujuan!” Ucap mang Kardi.
“Sama-Sama jang!” Suara pak Dasim sangat berat, terhalang oleh
sesuatu di tenggorokannya.
Dan seperti yang telah diceritakan, bahwa
pak Dasim sebelum pergi meninggalkan tambang, mang Kardi telah menyarankan agar
pak Dasim dan Dipa supaya mau bekerja di lubangnya.
Dan itu semua kini terbukti, kebaikan mang
Kardi sekeluarga ditambah kebaikan kang Soma dan kang Damangtirta telah
mewujudkan impiannya untuk bisa pulang.
Dengan ransel besar di pundaknya
masing-masing pak Dasim dan Dipa segera melangkah. Keduanya sudah bertekad
untuk memulai petualangan menempuh perjalanan hutan rimba.
Sebelum berangkat tadi, pak Dasim dan Dipa
mendapat petunjuk atau pengarahan dari mang Kardi, pak Dasim diberi sebuah peta
yang dibuat oleh mang Kardi. Peta itu sengaja dibuat agar pak Dasim tidak
tersesat diperjalanan.
Kira-kira setengah hari perjalanan mereka,
menempuh bukit-bukit dan tebing-tebing terjal, baru mereka merasakan lelah,
untuk itu keduanya segera beristirahat. Keduanya segera memilih tempat yang
dianggap nyaman untuk beristirahat.
“Nak Dipa, mari kita beristirahat dulu dan
mengisi perut kita.” Ajak pak Dasim pada
Dipa.
Pak Dasim selanjutnya memburu sebuah
tempat, yang agak tinggi dan kering kemudian ia membenahinya.
“Saya sama sekali tidak tahu tempat ini, dulu watku kesini saya kira
bukan jalan yang ini.” Kenang Dipa.
“Memang nak Dipa, kata mang Kardi, ini
sengaja supaya kita tidak terlalu banyak bertemu dengan orang-orang di wilayah
__ADS_1
tambang tetangga, katanya perjalanan kita akan lancer apabila kita paham dan
mengikuti petunjuk peta.
“Oh…ya mudah-mudahan perjalanan kita
lancar” harap Dipa.
“Kita bersyukur, harapan kita untuk bisa
keluar dari tempat ini bisa terlaksana.”
Sekeliling tempat itu rapat oleh berbagai
tanaman dan pohon-pohon kayu serta semak-semak. Juga rumput-rumput liar tumbuh
subur di sekitarnya.
Pak Dasim dan Dipa tidak jadi memilih
tempat tadi karena berbagai pertimbangan. Lalu keduanya segera mencari tempat
baru yang lebih baik untuk beristirahat. Lalu keduanya mengikuti jalan setapak
yang hampir tak terlihat, karena tertutup oleh rumput-rumput liar.
Dan beberapa saat kemudian mereka tiba
disebuah tempat yang agak landai. Pohon-pohon disekitar itu tak terlalu rapat.
“Nak Dipa tuh ada tempat yang pantas untuk beristirahat!” Kata pak Dasim,
sambil memburu tempat yang dimaksud.
“Iyah mari” Sahut Dipa sambil mengikuti
langkah pak Dasim.
Di pinggir sebuah pohon yang agak besar,
dengan posisi tanah yang bertahap-tahap seperti anak tangga, sehingga
kelihatannya nyaman bila dipakai istirahat.
berisi perbekalan begitu juga pak Dasim menurunkan gendongan nya yang berisi
peralatan. Lalu setelah keduanya, duduk nyaman, kemudian Dipa memeriksa
perbekalan yang diberikan oleh mang Kardi sekeluarga. Empat buah timbel besar
dan beberapa bungkus pepes ikan serta sambel goang yang dibungkus oleh daun
pisang.
“Ah…luar biasa!” Celoteh pak Dasim ia
sangat terharu dalam hati nya, dan bersyukur pada Tuhan, bahwa dirinya masih
diberi waktu.
“Iyah pak…!” Sahut Dipa.
Entah apa yang harus diucapkan oleh
keduanya bila memikirkan pengalaman yang dialami sekarang. Mereka harus hidup
dihutan rimba terlunta-lunta tanpa tahu akhir nasib kedepannya. Sambil menyantap
makanan, pak Dasim hampir tak kuasa menahan kesedihan dan kekhawatiran yang
berkecamuk dalam pikirannya. Hatinya belum merasa nyaman, akankah mereka berdua
bisa lolos atau selamat?
Tapi pak Dasim, teringat cerita mang Kardi
tentang pekerja luar negri, yang bisa selamat pulang, walaupun harus menembus
hutan rimba yang penuh dengan penuh bahaya, dan perbekalan seadanya atau
darurat. Yang Namanya menembus hutan rimba berhari-hari bisa dibayangkan resiko
__ADS_1
apa yang akan diterima seandainya bertemu dengan binatang buas, baik besar
maupun kecil, kurang-kurang nya tabah dan berani, serta nasib yang baik tentu
akan berakibat fatal, karena perjalanan mereka itu sangat beresiko
mempertaruhkan nyawa. Ingat akan hal itu, pak Dasim medadak tumbuh kembali
semangatnya. Pak Dasim yakin akan pertolongan yang maha kuasa. Maka dalam hati
pak Dasim bertekad bahwa dirinya harus berusaha tegar dan tabah, supaya bisa
lolos dari tempat itu. Sebab walaupun
bagaimana keselamatan dirinya sangat menentukan cita-cita nya, untuk membuat
taman remaja yaitu sebuah taman yang berorientasi pada program pembuktian bakat
dan cita-cita para remaja.
Setelah keduanya selesai mengisi perut
mereka, kemudian pak Dasim dan Dipa istirahat sejenak, tidak buru-buru bangkit.
Baru setelah tubuhnya terasa nyaman keduanya segera bangkit untuk melanjutkan
perjalanan. Keduanya terus menelusuri jalan setapak di hutan belantara, di
sekitar pertambangan. Pak Dasim dan Dipa khusu, pikiran dan perasaannya hanya
tertuju pada tujuan untuk bisa lolos.
Ketika hari mulai gelap keduanya segera
mencari tempat untuk bisa dijadikan tempat tinggal atau bermalam. Dan mereka
terus berjalan mencari tempat yang dianggap cocok. Dan ketika mereka tiba
disebuah tempat dekat sungai kecil, mereka mencoba untuk mempertimbangkan
apakah tempat itu cocok atau tidak. Dan setelah tempat tersebut di
pertimbangkan cocok, maka pak Dasim dan Dipa menghampiri sebuah batu yang cukup
lebar. Kemudian keduanya berbenah di batu itu. Dan meletakan ransel-ransel yang
digendong oleh pak Dasim dan Dipa lalu pak Dasim memerintahkan Dipa untuk
mengeluarkan korek api dan lilin. Kemudian lilin itu dinyalakan, dan setelahnya
diletakan diatas batu itu.
“Nak Dipa kita makan dulu ajak pak dasim
sambil memberikan timbel tadi pagi yang masih tersisa.
“Iya pak terimakasih” Sahut Dipa
Lalu
keduanya menyantap sisa perbekalan itu. Sambil menikmati makanan tersebut,
sebenarnya hati pak Dasim masih belum tentram yang ia pikirkan adalah keamanan
sekitarnya. Terutama menghadapi suasana malam. Kekhawatiran mereka tidak saja
khawatir akan serangan binatang buas tapi juga khawatir pada orang-orang
tambang yang sengaja liar malam, untuk mencari sasaran. Dan ketika beberapa
saat kemudian mereka bisa membuat keyakinan bahwa tempat disekitar itu cukup
aman. Mereka nampaknya bisa membuat api unggun dan tempat tidur.
Pak Dasim dan Dipa segera mencari
ranting-ranting kering untuk dijadikan kayu bakar. Dan setelah cukup banyak
maka mulailah mereka menyusun tumpukan kayu-kayu tersebut berbentuk krucut.
Dibawah tumpukan itu disimpan daun daun kering sebagai pemancing. Kemudian
__ADS_1
setelahnya pak Dasim segera menyulut daun-daun kering itu.