
"Betul pak, itulah yang membuat saya sedih, melihat bapak dengan kapasitas omongan dan idiologinya yang berbobot, namun sangat tidak seimbang dengan nasib bapak, nasib bapak sangat mengenaskan sehingga dengan keadaan bapak yang demikian, usaha dan cita-cita bapak hanya gagal dan gagal, hanya mimpi dan mimpi dan di mata manusia, bapak hanya dianggap sebatas badut dan sampah." Sahut Dipa dengan suara terdengar bernada menyayangkan.
"Sebenarnya bapak teringat pada usaha dan itikad para pejuang yang merebut kemerdekaan, mereka sudah melangkah satu langkah sementara langkah keduanya dititipkan pada generasi berikutnya, yaitu generasi kita. Namun sayang....." Keluh pak Dasim.
Kemudian pak Dasim bangkit dari tempatnya, lalu ia melangkahkan kakinya, mencari tempat yang agak menjauh. Setelah menemukan Tempat yang cocok, maka pak Dasim melanjutkan kembali memancing.
"Wah..... pak aku dapat lagi !" Teriak Dipa kegirangan.
"Hebat" Puji pak Dasim, Sambil matanya tertuju pada objek air yang nampak beriak, selama pelampungnya mendadak tenggelam.
Pak Dasim segera memungut jorannya lalu menghentakan joran itu. ternyata pak Dasimpun tidak kalah, kini bagian pak Dasim yang kegirangan, karena ikan yang didapat ukuranya lebih besar.
sementara asyik dan senangnya memancing di tempat itu, mereka tidak menyadari berjalannya waktu tidak terasa. Sehingga saat itu, waktu diperkirakan sudah lewat ashar, sementara hasil yang mereka dapatkan sudah lumayan banyak.
"Cukup nak Dipa, mari kita pulang, takut keasyikan, nanti kita sulit untuk pulang, lagi pula mang Kardi pasti mencemaskan, dikira kita kemana !" Ujar pak Dasim.
"Iya pak." Sahut Dipa.
Lalu keduanya bergegas. Ikan-ikan yang mereka dapat segera dirapihkan, diuntun menggunakan tali kulit pohon pisang, supaya mudah dibawa. Begitu pula dengan joran-joran yang masih belum dibersihkan, segera dibereskan dan sudah bersih karena umpannya sudah dibuang.
Setelah segalanya beres, keduanya segera beranjak meninggalkan tempat itu. Tidak diceritakan dijalannya, pak Dasim dan Dipa, kira-kira hampir magrib mereka baru sampai di warung mang Kardi dimana mereka sekarang tingaal. Sesampainya di warung mang Kardi, pak Dasim segera masuk ke dapur dan menaruh hasil memancingnya, dekat tungku yang masih menyala.
"Wah pak Dasim baru pulang, gimana dapat ikannya ?" Tiba-tiba suara mang Kardi.
__ADS_1
"Lumayan jang." Kata pak Dasim sambil menunjuk pada ikan-ikan yang tergeletak dekat tungku.
"Ya lumayan banyak, biar nanti diurus sama istri saya. mamang dan jang dipa segera bersih-bersih lalu makan, sebab ada yang harus dibicarakan." Ujar mang Kardi
"Baik jang." Ujar pak dasim sambil meningalkan mang kardi. Maksudnya pak Dasim mau bersih-bersih dan salin baju.
beberapa saat kemudian setelah pak Dasim dan Dipa selesai mandi dan ganti pakaian, lalu keduanya segera memburu dapur, maksudnya mau menghangatkan tubuh didekat tungku.
"Mang Dasim sebentar ya..... ikannya belum matang, masih dipepes." Tiba-tiba suara teh Titin yang sedang duduk didepan tungku.
"Ohh iya teh." Sahut pak Dasim.
"Lumayan juga mang dapatnya, banyak ! Dimana mancingnya ?" Tanya teh Titin.
"Kata orang yang saya tanya, itu di rawa Atun katanya, entahlah mamang juga baru tau." Ujar pak Dasim.
Tidak lama kemudian teh Titin mengeluarkan beberapa pepesan dari dalam tungku sebelahnya. Pepesan itu hanya ditimbun oleh debu-debu yang diatasnya disimpan bara api. Bau harum dari pepesan itu menyebar kemana-mana, sehingga sangat menggoda aromanya, terutama bagi pak Dasim dan Dipa yang memang sudah lapar.
"Ayo mang Dasim segera makan, teteh dan kang Kardi, sudah tadi." Ujar teh Titin sambil menuangkan pepesan itu pada piring. "Silahkan mang, itu nasinya di tempat biasa." Tambah teh Titin.
"Masa Cuma kami ! kemana Jaka." Tanya mang Dasim menanyakan adiknya mang Kardi.
"Itu dilubang, Sepertinya tidak akan pulang." Tukas teh Titin.
__ADS_1
"Ohh ya, mari teh." Ajak pak Dasim setelah mengambil nasi, siap makan.
Lalu pak Dasim dan Dipa makan dengan lahapnya. sulit diceritakan bagaimana hidangan itu, pepes ikan nasi hangat. Pepes ikan hangat yang ditaburi cengek dan daun selederi dan surawung serta bawang daun tentu saja itu merupakan hidangan istimewa bagi pak Dasim dan Dipa.
Selesai makan, pak Dasim dan Dipa, mang Kardi langsung saja mengajak mereka ngobrol didepan warung. Suasana didepan warung cukup nyaman, terang oleh cahaya lampu patromak. Walaupun keadaan warung itu masih kosong belum banyak makanan yang tersedia, karena belum belanja namun sekedar kopi dan singkong rebus nampaknya ada.
"Begini mang, saya dengan kang Soma punya usul buat mamang berdua dengan jang Dipa. bagaimana untuk beberapa saat lamanya mamang dan Dipa tinggal dulu disini, bekerja dilubang saya. Nanti kalau sudah diperkirakan mamang sudah mempunyai bekal baru mamang merencanakan pulang. Dan kang Somapun akan membantu, malah kang Damangtirta juga akan memberikan sesuatu pada mamang, katanya mamang dan Dipa yang sudah bekerja berbulan-bulan dilubang atas dulu, akan diperhitungkan, walaupun tidak menjanjikan jumlahnya.
Mendengar penuturan mang Kardi demikian, pak Dasim tentu saja sangat gembira.
"Terima kasih jang Kardi." sahut pak Dasim.
"Sama-sama mamang, aku gembira bisa menolong mamang." Ucap mang Kardi.
Selanjutnya mang Kardi dan pak Dasim ngobrol kesana kemari. namun tidak lama kemudian beberapa orang anggota lubang berdatangan. Awalnya mereka hanya mau beli kopi dan mie instan, tapi berhubung mie instan tersebut habis, sementara kalau kopi ada. Kata mang Kardi.
"Alo, ngobrol saja dulu, tunggu sebentar istriku sedang merebus singkong, bawa saja ke lubang." Tukas mang Kardi.
"Ohh siip." Kata orang yang dipanggil si Alo. "Nanti kalau sudah masak, saya tolong diberi tahu, biar nanti ada yang mengantarkannya ke lubang." Tambah si Alo.
Akhirnya pak Dasim dan orang-orang yang ada disana terlibat ngobrol kesana kemari.
Esoknya pak Dasim dan Dipa sudah mulai bekerja dilubang mang Kardi. Maka sejak saat itu pak Dasim dan Dipa mulai bekerja Dilubangnya mang Kardi, keduanya sangat giat dan khusuk. Mereka ingin mencapai apa yang diharapkan paling tidak bisa pulang ke kampung halamannya.
__ADS_1
Dari hari ke hari mereka bekerja, tidak terasa ganti hari dan minggu menuju bulan bahkan hampir tak terasa mencapai dua tahun mereka bekerja.
Dan pada suatu waktu, pak Dasim dipanggil oleh mang Kardi, bahwa dirinya sudah bisa pulang. Tentu saja pak Dasim dan Dipa sangat gembira.