
Untuk sementara keadaan hening, Herna nampak masih dalam sikapnya. Sementara Dipa sesekali mencuri pandang, diperhatikannya wajah Herna yang lugu, namun menyimpan sejuta harapan, tidak disangka dibalik
wajahnya yang ayu dan sikapnya yang lemah gemulai, serta wajahnya yang berparas ramah, cantik rupawan, tersimpan watak keras dan ngotot.
“Boleh Kang Dipa Tahu, siapa calon Dik Herna itu? Tanya Dipa
Sebelum Herna menjawab, pertanyaan Dipa, tiba-tiba dari sebelah dalam terdengar bibinya Herna memanggil Herna. Herna segera bergegas, memburu suara yang memanggilnya. Dan sekembalinya, Herna membawa nampan yang berisi dua buah gelas berisi air, dan piring berisi makanan. Herna meletakan nampan itu di atas meja.Dan setelah itu kemudian Herna duduk di tempat semula.
“Kang Dipa!” Terdengar suara Herna mengawali kata-katanya, dengan wajah yang masih tertunduk. Sedikit terhalang oleh jilbabnya yang membungkus Sebagian wajahnya.
“Ada apa Dik” Tanya Dipa.
“Sebelum Herna menjawab pertanyaan Kang Dipa tadi, Kang Dipa perlu tahu juga, apa-apa yang akan Herna jelaskan pada kang Dipa, supaya kang Dipa tidak salah paham.” Ujar Herna sambil sedikit mengangkat wajahnya.
“Baik silahkan!” Kata Dipa tak sabar ingin mendengar penjelasan Herna selanjutnya.
“Pada suatu hari Herna ngobrol dengan Pak Dasim, Ketika Herna melihat-lihat alat peraga yang dibuat oleh kang Dipa, di ruangan dimana Pak Dasim bekerja. Pada saat itu Herna mendadak iseng ingin mengetahui fungsi alat peraga itu secara jelas dari pak Dasim, walupun dari kang Dipa secara sepintas pernah menjelaskan, fungsi alat peraga itu. Kang Dipa pun mungkin tahu bahwa Pak Dasim itu kalau menjelaskan suatu perkara yang dianggapnya memiliki nilai-nilai idiologi, selalu tidak langsung pada pokok permasalahannya, tapi selalu diawali oleh perumpamaan-perumpamaan.” Sampai disana Herna berhenti dulu, diselang melirik ke arah Dipa.
“iya, terus bagaimana?” Dipa makin tak sabar, sementara Herna, terlihat seperti sedang mengingat-ingat isi obrolan dengan Pak Dasim.
“Nah seperti saat itu, Pak Dasim, menjelaskan keberadaan manusia, yang termasuk di dalamnya kita-kita ini, kata Pak Dasim awalnya manusia itu sedikit, kenapa jadi banyak, karena keberadaan manusia dan termasuk makhluk yang lainnya, adalah tidak lepas dari predikat yang memiliki peranan kehidupan. Sedangkan peranan yang terbesar dalam kehidupan adalah diberikan pada manusia, jadi kata Pak Dasim, untuk apa alat-alat peraga ini dibuat? Yaitu untuk melatih peranan manusia agar tampil beda dengan makhluk yang lainya. Tentu saja Herna merasa tertarik dan penasaran, dan Herna ingin tahu bagaimana prosesnya sehinga bisa dikatakan bahwa alat-alat peraga itu fungsinya untuk melatih meningkatkan peranan manusia." Secara garis besar Herna sangat Paham apa-apa yang dijelaskan oleh pak Dasim.
“Lantas!” Seru Dipa mendadak tertarik uraian Herna.
“Kata Pak Dasim peranan itu sangat penting, dan yang menentukan suatu makhluk punya peran atau tidak tergantung dari usaha makhluk itu, misalnya manusia, tak terkecuali. Manusia bisa berperan diatas makhluk yang lainnya tapi yang menjadi permasalahan kata Pak Dasim, adalah peran yang dihasilkan oleh sesama manusia lagi. Sebodoh-bodohnya manusia masih lebih pintar dari binatang. Tapi manusia dengan manusia, perbedaan harkat atau peranan harus dihasilkan oleh proses memenangkan persaingan. Begitu kata pak Dasim, makanya alat peraga itu dibuat untuk melatih anak didik untuk membuktikan kualitas kemanusia'annya. Lantas Herna tambah penasaran, Herna bertanya, apa yang mempengaruhi kearah itu. Kata Pak Dasim, Manusia dan budayanya, Manusia dan idiologinya, Manusia dan prinsip atau keyakinanya. Yang jadi pertanyaan, sudahkah atau banyak kah, atau pernahkah manusia memikirkan kearah ini, jangan jauh-jauh disekeliling kita saja?” Cetus Herna memaparkan apa-apa yang pernah diobrolkan dengan Pak Dasim.
__ADS_1
Kata Herna selanjutnya, bahwa dirinya sangat paham bahwa salah satu peranan kita, selaku manusia diantarnya adalah akan melakukan rumah tangga. Nah Kata Herna lagi, bahwa dirinya ingin berumah tangga
ala manusia bukan ala binatang.
“Memang perbedaanya bagaimana, kalau binatang bukan berumah tangga tapi kawin budayanya hanya sebatas banyak anak, makan, tidur, makan lagi tidur lagi, begitu dan begitu.” Ujara Herna berapi-api.
“Kalau manusia bagaimana?” Tanya Dipa.
“Kalau manusia tugasnya membuat habitat yang berkriteria atau berkarakteristik manusia bukan binatang. Jadi Herna ini ingin menikah dengan manusia yang berkarakteristik manusia.” Ujar Herna.
“Apakah Dik Herna Sudah menemukannya?” Tanya Dipa
“Menurut penilaian Herna sudah, hanya yah, itu orang yang dimaksud Herna selalu kelihatan tak peduli, padahal, keadaan disana akibat ulah-ulah orang tertentu nantinya akan membuat warna baru.”
“Kang Dipa, Herna ingin bertanya. Apakah bila ada laki-laki lain yang mendekati Herna, akang cemburu tidak? Atau bagaimana lah umumnya laki-laki yang mencintai seseorang."
“Tentu saja. Kang Dipa waktu itu memang begitu. Tapi itu semua oleh kang Dipa disembunyikan, Kang Dipa tidak mau memperlihatkan sikap yang tidak dewasa. Sekali lagi dalam hati Kang Dipa, gadis yang selalu bersemayam dalam hati, adalah hanya adik.” Terang Dipa. “Kalau adik siapa calon yang dimaksud.”
“Yaitu tadi yang cemburu Ketika Herna didekati oleh laki-laki lain.”
“Jadi sekarang bagaimana?” Tanya Dipa.
“Sekarang pulang!” Seru Herna.
Akhirnya beberapa saat kemudian Dipa segera mohon Pamit sama bibi dan pamannya Herna. Dan setelahnya Herna dan Dipa, kemudian berangkat menaiki motornya.
__ADS_1
Setibanya di rumah tentu saja pak Danu dan istrinya Bu Mae sangat gembira, malah, Bu Mae selaku seorang ibu sempat mengeluarkan air mata.
“Maafkan Herna bu.” Kata Herna sambil memeluk ibunya.
“Ibu maafkan Sayang, Tapi jangan sekali-kali lagi, kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan dulu, jangan mengambil inisiatif sendiri.” Kata ibunya, sambil menahan isak tangis.
“Baik bu” Kata Herna sambil erat memeluk ibunya, sementara pipinya sudah basah dengan deraian air mata.
Dipa duduk diteras, berbincang-bincang dengan Pak Danu, dalam keadaan seperti itu Pak Danu sangat paham, pada kondisi anaknya, maka dengan sangat bijaksana Pak Danu meminta pendapat Dipa tentang Herna anaknya. Pak Danu pun ingin tahu perasaan Dipa terhadap anaknya. Tentu saja Dipa seperti mendapatkan jalan untuk berterus-terang pada Pak Danu, bahwa dirinya sangat tertarik pada Herna. Mendengar pengakuan itu Pak Danu sangat antusias, memang Pak Danu sekeluarga, dari semenjak awal bertemu pun dengan Dipa, mereka sudah menunjukan sikap simpati.
“Yah syukurlah kalau begitu, jang Dipa, bapak jadi lega” Kata Pak Danu.
Selanjutnya setelah tidak ada lagi yang perlu di obrolkan, Dipa pun segera pamitan pada Pak danu sekeluarga termasuk pada Herna.
“Apa Adik akan ke Madrasah nanti?” Tanya Dipa, pada Herna yang mengantarkan sampai pekarangan.
"Tentu" Tegas Herna sambil senyum.
Saat itu sudah tiba saatnya sholat dzuhur, maka Dipa segera pergi ke masjid dilingkungan pesantren. Di dalam masjid Dipa bertemu dengan Pak Dasim dan Kang Suganda. Dan setelah selesai sholat dan berdoa, Dipa segera menjelaskan semua yang terjadi pada Herna. Kang Suganda cuma tersenyum dan sepatah dua patah kata disampaikan dalam bentuk nasihat pada Dipa, hal ini untuk menunjukan sikap Kang Suganda yang merestui hubungan Herna sepupunya, dengan Dipa. Selanjutnya Dipa segera minta izin untuk pulang,
karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakannya. Setibanya di rumah Dipa segera masak, menanak nasi, untuk menyediakan Pak Dasim. Sementara untuk lauk-pauknya Dipa segera mencari ke warung dekat rumahnya Mang Karim, sambil berniat membeli beberapa butir telur bebek. Dipa bingung juga untuk olahan hari itu, tiap hari hampir ikan dan ikan. Makanya dia tadi beli sayuran, untuk sekedar variasi agar jangan sampai telalu bosan. Untung masih ada, sehingga dia bisa membeli beberapa jenis sayuran.
Dipa sebenarnya sangat mengharapkan kedatangan Wiranta, ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Mudah-mudahan pikir Dipa hari minggu, Wiranta bisa datang. Dia ingin membicarakan sesuatu yang erat hubungannya dengan Herna. Dipa ingin mengajak Herna ke pantai tapi tidak mau kalau cuma berdua, dia ingin di temani oleh Wiranta. Ini semua untuk menjaga etika, juga menjaga fitnah.
Selesai masak, Dipa segera menuju ketempat dimana dia selalu bekerja membuat alat-alat peraga. Setibanya disana, Dipa belum bisa melakukan pekerjaanya, karena belum ada pola yang baru, yang dibuat Pak Dasim. Sejenak Dipa duduk di teras madarasah menunggu waktu ashar. Dan setelah waktu ashar tiba, segera ia ke mesjid. Sepulangnya dari Mesjid, Dipa Kembali ke madrasah, tujuannya untuk menunggu Herna. Dipa memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di halaman madrasah, dia sangat berharap agar anak-anak yang kini ada dalam asuhan Herna, kelak akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu harapan dirinya, dan juga bangrangkali harapan semua orang termasuk orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang masih bersih polos, lugu dan lucu, sayang kalau sikap mereka dikemudian hari, akan rusak karena tercemari oleh pergaulan yang tidak baik.
__ADS_1