
Dan ketika mereka berbuat seperti demikian, lagi-lagi hati nuraninya seperti tidak tersentuh apa-apa, yang namanya semau gue, memang semau gue, katatanya memang gue pikirin? Yang penting hepi, katanya dengan diberengi ledakan tawa. Belum lagi kalau mereka kebetulan sedang beraksi dengan motornya, ampun bisingnya, kata yang denger, suaranya sudah di neraka, tapi motornya masih di situ. Setelah di dekati memang mereka itu pejuang cuek, pejuang semau gue, mereka itu di mata sebagian orang, adalah pahlawan tanpa jasa, karena mereka pionir generasi semau gue, Menyebarkan hidup tanpa makna. Dan mereka sangat disenangi sesamanya, bahkan banyak disanjung oleh wanita. Juga mereka banyak rezekinya. Waktu itu ketika Si Jaro dan Si Dokir lewat ke depan pintu gerbang pesantren, tiba-tiba si Dokir ada niat untuk masuk mencari Dipa, namun hal itu segera di cegah oleh si Jaro. Kamu ini gimana, katanya jangan cari gara-gara di sini. Awalnya Si Dokir mau memaksa, tapi Si Jaro segera menarik tangan Si Dokir, untuk selanjutnya di bawa menjauh. Sebenarnya ada yang disegani oleh Si Jaro yaitu ayahnya yang suka solat berjamaah di masjid pesantren dan kalau ayah Si Jaro sampai tahu kelakuannya tentu bakal berabe. Waktu itu si Dokir dan Si Jaro berniat untuk menyebrang ke pasar hiburan itu, tapi rakit yang biasa dipakai untuk menyebrang ke pasar hiburan itu belum bisa dipakai, dan sementara rakit itu masih di rantai.
Tapi tak berapa lama, tiba- tiba yang punya rakit datang. Dan tidak lamapun ia segera membuka rantai yang mengikat rakit itu. Satu dua orang datang, kemudian rakit segera melaju menyebrangkan orang-orang itu, termasuk Si Dokir dan Si Jaro. Tak lamapun rakit, sudah sampai di seberang, di tempat pasar hiburan. Dan ketika Si Jaro dan si Dokir sedang berjalan, tiba-tiba seseorang memanggil Si jaro dan Si Dokir. Tentu saja Si Jaro dan Si Dokir segera berpaling ke arah datangnya suara.
"Irfan, lho kamu sudah pulang?" Tanya si Dokir, setelah dirinya tiba di hadapan si Irfan.
"Jualan ku nggak laku, masa semua orang jualan lah siapa pembelinya? Sudah saja aku pulang, kalau Disini, kita kan bisa Joget ha ha ha ha." Kata si Irfan cekakakkan.
__ADS_1
"Tul, ayo kita ke sana kata si Dokir."
Bagi si Dokir dan kawan-kawan, hidup adalah suatu kebetulan yang terjadi dan yang disaksikan oleh matanya adalah suatu kewajaran yang menjadi tradisi. Jadi tak usah dikomentari berlebihan. Bagi si Dokir dan kawan-kawan hukum hanyalah sebuah informasi belaka. Hakekatnya, tak ada sangkutpautnya harus begini dan begitu. Sehingga tidak heran baginya, hidup itu hanyalah sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan semaunya.
Apa-apa yang diperagakan oleh Si Dokir dan kawan-kawannya, bagi kalangan lain yang menentangnya, tentu sangat memberatkan, sangat merugikan, malah sangat menyesatkan. Coba saja, anak-anak kecil yang baru saja nongol, atau anak-anak sekolah dasar, yang sesang perlu-perlunya mendapat bimbimgan dan adanya contoh baik yang bisa ditirunya, baik dari segi bahasa maupun perbuatan. Tapi inilah, yang terjadi malah hal yang sebaliknya. Contoh sebaliknya yang bisa merusak harapan. Bahasa kasar, perbuatan arogan dan liar, ini merupakan hal yang sangat ironis dan menyedihkan.
Malam, itu ada dua pemuda yang sedang berlatih, namun sebelum berlatih, para pemuda itu tidak boleh mengatakan pada siapapun bahwa meraka belajar silat pada Dipa. Mereka para pemuda menyanggupi, walaupun awalnya seperti bingung. Tapi setelah diberi penjelasan, maka akhinya mereka mengerti.
__ADS_1
Untuk supaya ada motivasi, Dipa memperlihatkan gerakan-gerakan yang menurut mereka sangat tidak mungkin bisa dipelajarinya, namun setelah mendapat penjelasan. Dari Dipa, maka sedikit demi sedikit mereka mengerti. Asalkan, kata Dipa mereka harus benar-benar inginnya. Dipa memberikan semua dasar-sasar yang pernah ia terima dari gurunya, dan ketika sudah mencapai dua bulan Dipa tinggal di sana, Dipa meminta izin dulu, untuk menengok anak dan istriya. Mau tidak mau, pihak Yayasan Lembah Ilmu harus merelakan Dipa untuk pulang kampung Dulu.
Ketika Dipa sudah tiba di Kampumg Bahari, tentu saja istri dan keluarganya merasa gembira yang tiada terkira. Kedatangan Dipa sangat disambut oleh keluarga dan kerabatnya, terutama oleh Herna dan Pak Dasim. Bagi Dipa melampiaskan keriduannya jelas pada anaknya Padam Bara. Kedatangan Dipa disambut dengan rupa-rupa cerita selama Dipa pergi, tidak jarang ada saja kejadian baik di sekolah maupun di luar lingkungan pesantren. Namun bila disimpulkan secara garis besar, keadaan di lingkungan sekitar Kampung Bahari, terbukti sudah banyak menunjukan perubahan sosial, ekonomi dan keamanan lingkungan. Selama kepergian Dipa, hanya sekali kedatangan alap-alap itu diawal-awal, namum semua keadaan itu dapat di atasi, tertolong dengan adanya pertolongan dari guru misterius Dipa.
Wiranta yang selama ini sudah tetap ada di Kampung Bahari, tentu saja ia merasa punya kesempatan untuk memanfaatkan keberadaan Dipa, walaupun, mungkin hanya selama Dipa ada di sini. Tapi benar ada yang istimewa yang terjadi pada diri Wiranta. Perubahan yang terjadi pada Wiranta terletak dari kesanggupanya untuk terus berjuang menamatkan belajarnya. Hal itu dibuktikan oleh Wiranta di hadapan Dipa. Ketika ia mampu memanjat batang bambu sampai ke ujungnya. Mungkin selama tidak bertemu dengan Dipa, Wiranta sebenarnya terus berlatih dengan sangat sungguh-sungguh, menempa dirinya agar mampu mencapai hasil yang diinginkan.
Dipa sangat rindu memancing, makanya Dipa segera mengundang anak-anak untuk botram. Tentu saja, anak-anak merasa rindu juga. Seharian itu penuh dengan senda gurau dan canda tawa. Dan ketika tiba waktunya untuk pergi lagi, semua orang merasa rindu dan merasa kehilangan berat, karena ditinggalkan oleh Dipa. Rasanya di tinggalkan oleh Dipa yang baru saja dua bulan tapi rasanya seperti bertahun-tahun. Terutama hal ini dirasakan Herna, walaupun, sebenarnya oleh Dipa juga sama. Dipa sendiri berat, dan seperti sudah bertahun-tahun. terutama ketika harus meninggalkan lagi anaknya, juga harus berpisah lagi dengan Pak Dasim. Tapi Dipa sangat bersyukur, kalau sampai saat ini kesehatan Pak Dasim masih sehat wal'afiat. Sehingga Dipa meresa tentram. Selama istrinya tidak tetap tinggal, kadang-kadang tinggal di rumahnya, kadang di rumah orang tuanya, atau Wiranta sekeluarga suka sengaja menemani menginap di rumahnya Herna.
__ADS_1