Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 7


__ADS_3

     Selanjutnya secara serempak orang-orang yang ada disana segera bekerja sesuai dengan perintah. Diantaranya sebagian dari mereka harus mencari beberapa batang bambu untuk dibuat obor dan pembatas. Pohon Bambu tidak jauh dari sana, maka dalam waktu yang tak lama bambu-bambu itu sudah tersedia.


     Maka sebagian lagi yang kebagian tugas membuat obor segera bekerja termasuk pak Dasim dan Dipa, obor-obor itu diperlukan untuk diletakan di setiap sudut arena pembatas.


     Arena pembatas di susun oleh bambu-bambu yang di pagarkan, dengan luas yang cukup leluasa untuk sebuah arena pertandingan. Sebab pelataran disekitar gubuk warung teh Titin cukup luas.


     Hampir lewat tengah malam, pekerjaan membuat arena pertandingan, sudah selesai walau hasilnya tidak terlalu rapih tapi lumayan. Obor-obor sudah menyala disetiap sudut, cahayanya menerangi ke seluruh lingkungan itu, sehingga disekitar arena lumayan terang. seiring dengan itu seluruh perwakilan dari seluruh lubang sudah tiba disana.


     Selanjutnya mang Kardi yang ditugaskan sebagai pembawa acara segera tampil mengumumkan acara yang akan berlangsung. Bahwa malam itu akan diadakan pertandingan silat antara Damangtirta dan Somawinata. Tujuan diadakan pertandingan itu, oleh mang Kardi dijelaskan seperti yang dikatakan tadi oleh Damangtirta, diantaranya untuk memilih pemimpin dan sebagainya harus diselesaikan oleh proses demikian yaituh adu kekuatan.


     Selesai mang Kardi mengumukan acara yang akan berlangsung, maka sesaat kemudian orang-orang yang ada disana, segera melihat sosok tubuh melesat kedalam arena. Orang itu tiada lain adalah Damangtirta. Damangtirta berdiri tegak, matanya mengarah kesekeliling arena itu. Tampang jawara dan tubuh seorang petarung terlihat, terpampang pada dirinya.


     "Para anggota lubang sekalian, saya ucapkan selamat malam semuanya!" Suara Damangtirta menggema.


     "MALAM........!" Jawab para hadirin serentak bergemuruh.


     "Seperti yang saya dengar dari mulut ke mulut tentang keinginan saudara-saudara, maka malam ini saya berusaha untuk mewujudkan harapan saudara-saudara itu dengan semangat dan keberanian saya." Sampai disana suara Damangtirta menggema.


     "Hidup, hidup ketua Damangtirta.!"  Teriak yang hadir gemuruh.


     "Saya tidak akan banyak bicara, karena semuanya sudah sepakat, bahwa kita butuh seorang pemimpin. Kami sepakat Damangtirta dan Somawinata akan Tampil jantan, kita bukan mau mengobarkan api permusuhan, tapi kami mau membuat ketegasan. Kami berdua akan bertarung hanya sampai diantara kami kalah. Aturan kalah yang dimaksud, pertama, jatuh melewati pembatas sampai tiga kali atau jatuh sampai tak sanggup lagi."

__ADS_1


     "Hore..........Hore........!!" Teriakan gegap gempita membahana disekitar arena pertandingan.


     "Dan bila diantara kami benar-benar kalah, maka kami akan jujur dan mau mengakui keunggulan lawan. Kalian harus menjadi saksi.!"  Seru Damangtirta.


     "Setuju....Setuju !" Sambut hadirin disekitarnya.


     Kemudian setelah Damangtirta selesai memberikan sambutan, kemudian pembawa acara segera memanggil kang Soma atau Somawinata untuk tampil.


     Tanpa membuang waktu lagi kang Soma segera menuju arena, ia sengaja tidak memperlihatkan aksi-aksi yang berlebihan ia hanya berjalan memasuki arena itu dengan santai. dan setelah sampai di dalam arena, dia menebarkan tatapannya keseluruh arah.


     "Saudara-saudara sekalian, sebenarnya saya sangat paham pada itikad baik kang Damangtirta, untuk mewujudkan seorang pemimpin dengan cara seperti ini. Sama, sayapun berjanji dan bersumpah, apabila saya kalah, saya akan mengakui kekalahan, dan akan mengakui kepemimpinan saudara Damangtirta."  Ucap kang Soma sambil mengacungkan tangannya.


     Kemudian setelah keduanya sepakat, maka pembawa acara memerintahkan keduanya siap-siap untuk mengambil posisi. Keduanya kini berhadapan dengan sikap kuda-kuda, menghadapi lawan.


     Mendengar usulan kang Soma atau Somawinata, Damangtirta menengadahkan wajahnya.


     "Baiklah.....Hiaaaaaat!"  Teriak Damangtirta sambil disusul oleh tubuhnya yang melesat, dengan serangan pembuka.


     "Heep"  Suara kang Soma memekik, sambil berkelit menangkis dan menghindari serangan lawan.


     Tangan kanan Damangtirta yang membangun gerakan tapak seribu segera melesat mencerca tubuh kang Soma. Melihat serangan lawan yang tiba-tiba saja langsung menggempur tubuhnya, maka kang Somapun tidak mau kecolongan. Kang Soma berusaha untuk mengimbangi serangan lawan, dengan gerakan kaki dan kedua tangannya. Maka untuk sementara adegan saling serang, saling gempur dan sesekali bergantian, kalau tidak menyerang, tentu akan diserang. Pertarungan itu untuk sementara kelihatan seimbang.

__ADS_1


     "Hebat kang Soma !" Puji Damangtirta.


     "Sama kang Damang !" Balas kang Soma.


     Kini kedua pasangan tanding, seperti tidak hanya mengandalkan kecepatan gerak saja, tapi terlihat keduanya sedang berupaya meningkatkan kemampuan selanjutnya, yaitu kemampuan tenaga dalam, yang dimiliki oleh keduanya.


     Siuuut..... Sebuah sabetan tangan Damangtirta, hendak menebas leher, tapi kang Soma segera menyambut serangan itu, dengan sebuah tangkisan dan gerak merunduk. Tapi Damangtirta tidak mau kehilangan kesempatan, untuk itu serangannya tidak sampai disana, Tangan kirinya yang tadi menempel di lutut segera beraksi bisa mencapai sasaran. Uhhhhh....! Suara kang Soma mengerang kesakitan, dan belum juga kang Soma bisa menguasai dirinya gerakan Damangtirta yang cukup gesit, mengandalkan putaran badannya untuk memposisikan kakinya agar bisa melakukan tendangan kebelakang. Duk.....Tendangan kaki Damangtirta berhasil bersarang di dada lawan. Tentu saja membuat kang Soma menahan sakit. Tapi ia berusaha menahan sekuat tenaga untuk tidak roboh. Dan ia tadinya berusaha, ingin menangkap kaki Damangtirta, yang untuk selanjutnya dibantingkan. Tetapi niatnya kang Soma itu dapat dibaca oleh Damangtirta. Dan saat itu juga kaki sebelah yang menginjak tanah, mendadak mengangkat, melesat menghantam kepala kang Soma. Sementara badan Damangtirta serentak berputar dengan kedua tangan menahan badannya ke tanah. Aaaaaahhh.....! Suara kang Soma terdengar meraung kesakitan dan untuk selanjutnya roboh ke tanah.


     "Hore.....!"  Terdengar sorak sorai suara penonton, gemuruh menggema di sekitar arena pertandingan.


     Menyadari lawannya cukup tangguh, Kang Soma berusaha meningkatkan kewaspadaannya. Dan tanpa banyak pikir lagi, dia segera salto untuk bisa bangkit, dan menjaga kalau lawannya terus menyusul dengan serangan selanjutnya.


     "Bagus kang Soma !"  Sahut Damangtirta.


     Melihat lawannya tidak mengadakan serangan susulan, maka kang Soma, kini berinisiatif  untuk menyerang. Kang Soma segera menyerang Damangtirta dengan serangan angin ****** beliung. Serangan itu dibangun oleh kekuatan dan kecepatan kedua belah tangan yang bergerak silih berganti. Sementara salah satu kakinya tertumpu pada tanah. Wrrrrr..... Tubuh kang Soma berputar, menyerang, mengurung tubuh Damangtirta. Damangtirta berusaha membendung serangan lawan itu, yang dianggapnya sangat dahsyat dan luar biasa. Maka tidak ayal lagi sebuah pemandangan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa terjadi. Setiap yang hadir disana mau tidak mau dibuat kebingungan.


     Pemandangan seperti itu terus berlangsung sampai beberapa saat. Tubuh Damangtirta terus-terusan dikurung oleh serangan-serangan kang Soma yang seperti tidak memberi kesempatan Damangtirta untuk bernafas. Dan terakhir, terlihat kedua bayangan, melesat keudara dengan kedua telapak tangan mereka beradu di udara.


     Dan selanjutnya sebuah kejadian yang tidak disangka oleh orang-orang yang hadir disana. Dimana tubuh Damangtirta terjatuh dengan lengkingan suara keras, dan dari mulutnya memuntahkan darah segar.


 

__ADS_1


 


__ADS_2