Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 47


__ADS_3

Selanjutnya Daka segera


menghampiri temannya.


"Tidak apa-apa Man?" Tanya Daka pada tamannya Oman


"Lumayan ini cuma pipi terasa panas." Jawab oman sambil meng usap-usap pipi nya.


"Yah sudah cepat kembil saja!" Kata Daka dengan suara pelan.


"Aku masih ada keperluan unruk belanja" Sahut Oman.


"Yah kalau begitu hati-hati saja yah jangan sampai ada masalah lagi." Sahut Daka sambil menepuk pudak temannya.


"Mau kemana Dak?" Tanya Oman.


"Mau belanja keperluan warung!" jawab Daka "Yah sudah yah"

__ADS_1


"Ya sama, terimakasih" Sahut Oman.


Seterusnya Daka menuju pasar untuk belanja. Daka untuk sementara sambil mebantu dipesantren, juga sempat jualan di kantin pesantren. Ini atas persetujuan pihak yayasan , karena tenaga dan pikiran Sunan Dan Daka sangat dibutuhkan.Juga sebaliknya bagi Daka dan Sunan pun, keberadaan di pesantren itu sangat membantu karirnya. Utamanya ia bisa mempelajari prodak-prodak matematika. Oleh karena itu Sunan dan Daka, tidak saja perlu belajar silat, tapi juga ia perlu belajar prodak matematika.


Seperti yang telah diceritakan, masalah itu, bisa saja timbul , Jangankan ada yang penyebabkannya tidak ada pun suka timbul dengan sendirinya seperti yang terjadi di kampung lubuk jambal, masarakat kampung itu dua kali terjadi tawuran gara gara masalah air. Pengairan atau irigasi tidak bisa mengairi sawah seluruhnya padahal sebelumnya ridak pernah tejadi. Tapi akhir akhir ini masyarakat sangat dihebohkan dengan sulitnya air. Makanya dari sanalah timbulnya huru hara. Dari tawuran itu sampai sampai mengu dang aparat untuk turun tangan. Ketika aparat turun tangan, memang masalah bisa diselesaikan seketika. Tapi setelah aparat kembali tiadak ada, maka keributan kembali terjadi. Ketika keributan yang kedua kalinya, disebab kan maslah air. Mulanya ada sawah yang terairi air terus menerus, sedangkan dipihak lain ada sawah yang tersendat-sendat pengairannya. Sehingga keadaan itu menimbulkan Cemburu sosial. Setelah diselidik ternyata air mengalir kesawahnya milik Mertuanya Bang Edi. Maka entah siapa yang mempropokasinya yang jelas sebagian masayarakat berbo dong-bondong menyerang pesantren. Untung pihak keamanan dari daerah setempat keburu datang. Walaupun datangnya terlambat, tapi masih bisa dicegah tidak ada korban jiwa. Setelah kejadian itu, Bang Edi dan berapa orang keamanan segera mengadakan obrolan singkat mereka, membicrakan masalah kejadian yang baru saja terjadi.


"Ini menurut bang Dohan gimana?" Tanya Bang Edi, pada salah seorang keamanan.


"Ini pasti ada dalangnya sebab, kejadian ini seperti ada yang mengendalikan sebab tidak hanya di sini, sebenarnya menurut kabar dari teman saya, ada beberapa kejadian diwaktu yang sama, ditempat berbeda dan motip yang berbeda pula." Kata Bang Dohan.


"Betul, kita harus menemui ketua kampung bagaimana baiknya." Kata Bang Edi. "Yah mumpung masih siang, mari kita ke rumahnya tua kapung.


" Hai Edi jangan mencari- cari kesalahan dipihak yang lain justru kesalahan ada di pihak mu" Tuding si Jaro sambil jari telunjuknya mengarah pada muka Bang Edi."


"Apa makaudmu Jaro kau bilang jangan se enaknya " Kilah Bang Edi sambil menatap si Jaro.


"Sudah aku bilang, bahwa kegiatan, pesatren ini sangat memgganggu! Masih juga di terusin" Sijaro malah semakin berani.

__ADS_1


"Eh, mengganggu? Mengganggu siapa? Paling-palinh kegiatan kalian yang mengganggu, coba kalau kalian berani, undek-undek kalian itu adukan. Sama yang berwajib" Tantang Daka, dengan suara agak meninggi.


"Eh boleh saja" Jawab Si Jaro seperti tak gentar.


"Aku jadi curiga pada sikap kalian." Daka mencoba memancing isi hati Si Jaro.


"Curiga apaan?" Si jaro mendadak grogi.


" Ya curiga, jangan-jangan yang selama ini memebuat dan merancang ke ornaran itu adalah kalian!" Tuding Daka menjebak.


"Jangan seenaknya kamu ngomomg Daka! kalau tidak, mau kubuat berantakan mukamu." Ancam Si Jaro sambil melotot.


"Kamu jangan licik Jaro, menuding se enakanya pada orang lain, tapi kalau dibalikan pakta yang sebenarnya , kamu malah marah!" Ejek Daka.


"Huhhh rupanya kamu ingin kuhajar!" Akhirnya si Jaro tak kuasa lagi menahan emosinya.


Si Jaro langsung menyerang Daka. Tentu saja Daka secepatnya mengadakan perlawanan. Sementara Si Dokir, demi melihat kawannya menyerang Daka, iapun langsung menyerang Sunan. Sedangkan Si Irpan yang tadinya mau menyerang Bang Edi, mendadak kandas karena secepatnya Bang Dohan menghadang tubuh Si Irpan yang hendak menyerang Bang Edi.

__ADS_1


Bagi Daka dan Sunan perkelahian semacam itu bukan hal tang aneh , dalam latihan juga sudah sering kali di peragakan, sehingga ketika menghadapi serangan lawan lawannya, yang tak menggunkan teknik berkelahi, tentu saja bukan hal yang harus dibikin repot atau gugp, sunan dan daka dalam menghadi Si jaro dan Si Dokir, seperti halnya mengdapi anak kecil, sehengga dalam kenyataannya, Si Jaro dan Si Dokir di bikin tak berkutik dalam waktu yang sekejap. Namun berbeda dengan Si irfan yang sama sama imbang, aehingga kelhatan epek dan dampak nya sebuah peekelabian wajah keduanya nampak pada bonyok karea akibat jual beli pukulan. Tapi Bang Dohan nampaknya lebih unggul dalam segi tenaga dan pengalaman. Sehingga walaupun keduanya sama-sama bonyok, Namun Bang dohan masih bisa mendesak dan menguasai ke adaan, yang akhirnya membuat Si irpan badannya berhasil dijatuhkan yang selanjutnya ditindih badan Bang Dohan. Dan akhirnya Si Irpan tak berberdaya. Setelah melihat lawannya tak berdaya, Bang Dohan tidak terus membabi buta, tetapi Bang Dohan membiarkan lawannya begitu saja. Tapi bagi si Dokir dan kawan-kawan hal itu justru merupakan kesempatan yang tidak di sia siakan. Mereka langsung lari kabur.


Bang Edi dan kawan-kawan akhirnya terus melanjutkan niatnya untuk menemui tua kampung. selanjutnya dihadapan tua kqmpung Bang Edi segera menceritakan udek-undeknya. Bagi tua kampung selaku pimpinan masyarakat, sebenarnya mengerti perasaan kecewa yang di alami oleh Bang Edi, oleh karenya tua kampun berjanji aka. berusaha menyelidiki sumber masalahnya. Melhat sikap dan kata- kata tua kqmpung yang kelihatan serius danseksama sekali, Bang Edi dan kawan-kawan merasa percaya dan menaruh harapan terhadap kepemimpian tua kampung yang bertanggujawab. Tua kampung katanya akan menghubungi keamanan setempat untuk penyelidikan lebih lanjut , karena memang akhir-akhir ini selalu saja ada keributan, padahal sebelumnya daerah yang dipimpinnya selalu aman-amana saja, tapi kenapa tiba-tiba saja, jadi panas rawan keributan. Menurut tua kampunh juga sama pasti ini ada penyebabnya. Pasti ada dalangnya begitu pendapat tua kampung Teluk Jambal. Seterusnya Bang Edi dan kawan-kawan setelah mengucapkan rasa terimakasih atas perhatian tua kampung dalam menanggapi masalah ini, akhirnya Bang Edi dan kawan -kawan segera permisi.


__ADS_2