
Ada perasaan yang berkecamuk dalam hati, menggores dalam jiwa, antara suka cita dan nestapa, antara dirinya dan Pak Dasim yang sedang dalam perjalanan mengarungi lautan yang luas. Menjalani kehidupan pun di alam yang nyata, sebenarnya sama, kalau kita umpamakan, seperti halnya kita sedang dalam keadaan berlayar dalam sebuah perahu, kalau tidak waspada, dan penuh keberanian, maka harus siap-siap mendapat ancaman, baik dari ombak lautan maupun tabrakan dengan batu karang.
"Gimana, sudah beres Dip?" Tanya pak Dasim sambil melirik kearah Dipa yang sudah ada disampingnya.
"Beres pak tinggal menunggu saja, nanti juga ada kabar." Kata Dipa.
"Oh ya bagus kalau begitu." Kata Pak Dasim sambil mengangkat wajan yang berisi sayur, yang sudah matang.
Dipa segera membuka tutup wajan, dan begitu dibuka, aroma masakan itu tercium sangat menggoda.
"Ditambah kentang pak?" Tanya Dipa.
"Iah, tadi sebelum masak, calon istrimu datang, katanya ada kentang kiriman dari saudaranya." Kata Pak Dasim.
"Oh ya bagus kalau begitu" Tukas Dipa sambil tersenyum. "Oh ya pak ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan alat-alat peraga. Sudah sampai dimana?" Tanya Dipa.
"Bapak sekarang sedang merencanakan untuk, membuat langkah perubahan, dari gerak mekanik ke elektrik." Kata pak Dasim. Ia menghentikan kata-katanya. seterusnya Pak Dasim, menuangkan minyak ke katel yang sudah panas, dan setelah itu ikan-ikan mas tadi yang sudah dipotong dua bagian, kemudian segera dimasukan. Suara minyak panas yang tercampur air mendadak gemercak terdengar nyaring. " Tapi masalahnya sedang dibicarakan dengan Pak Suganda mengenai alat-alat, atau komponen yang harus di beli." Terang Pak Dasim lagi.
"Terus daftar sistem nya sudah ada?" Tanya Dipa penasaran. Juga apakah toko komponen terdekat sudah di temukan belum?
"Justru sekarang Kang Suganda sedang menghubungi." Kata Pak Dasim, sambil melirik kearah Dipa. "Oh nak Dipa ada sesuatu yang ingin bapak sampaikan, atau ingin bapak utarakan, sekarang bapak sedang memesan kayu-kayu untuk bahan rumah, ukuran sekian." Kata Pak Dasim mengungkapkan niatnya. "Rencananya Bapak ingin buat rumah untukmu, tapi soal dimana-dimananya, bapak belum tahu, bagaimana Dipa saja." Tukas Pak Dasim.sementara tangannya membalikan ikan yang sudah kuning kelihatan matang.
__ADS_1
"Pak walau bagaimana saya ingin berdampingan dengan bapak disini." Tegas Dipa.
"Yah, begitu lebih bagus" Kata Pak Dasim setuju. "Soal tanah, nanti bapak akan menghubungi lagi pak yusup." tegas Pak Dasim.
Beberapa saat kemudian, semua masakan sudah selesai, termasuk menanak nasi. Maka selanjutnya mereka segera makan.
"Kalau tadi ngobrol apa dengan Mang Danu" Tanya Pak Dasim.
"Anu ngobrol sekitar persiapan dan persetujuan, yah pada dasarnya Dipa dan Herna bagaimana orangtua saja." Tukas Dipa.
"Aamiin mudah-mudahan segalanya lancar, tak ada gangguan lagi" Tukas Pak Dasim.
Mendengar kata-kata Pak Dasim demikian, Dipa cuma mengangguk, tanda setuju. Setelah keduanya selesai makan, mereka meneruskanya dengan obrolan sekitar pengalaman Dipa sewaktu sedang mendapat perawatan dari guru misterius itu.
"Tak mungkin Pak Dasim, saya tidak bisa mengenalinya, sekalipun suaranya." Tegas Dipa sambil memandang ke atas langit-langit dapur.
"Suatu karunia yang sangat sulit diduga sebelumnya." ujar Pak Dasim.
"Betul Pak Dasim." Tegas Dipa.
Perbincangan mereka akhirnya terhentikan oleh datangnya suara adzan maghrib. Pak Dasim dan Dipa keduanya segera berangkat menuju masjid, Dan setelah selesai melaksanakan sholat maghrib, Pak Dasim tidak langsung pulang, tapi ngobrol dulu dengan Kang Suganda. Pak Dasim, saat itu menanyakan perkembangan alat-alat. Kata Kang Suganda belum ada kabar yang pasti. Sementara Dipa bergegas pulang, tapi maksudnya akan kerumahnya Herna. Sesampainya dirumah Herna, Dipa segera menyapa dengan salam. Dan tak berapa lamapun, pribumi menyambut nya.
__ADS_1
"Oh Dipa, silahkan duduk. Sebentar lagi di kamarnya, sebentar ya" Kata Bu Mae sambil berlalu meninggalkan Dipa sendirian.
"Oh ya bu" Tukas Dipa pendek.
Sambil menunggu pribumi kembali, pikiran Dipa melayang kesana kemari, Dipa sangat salut terhadap keteguhan hati Pak Dasim, yang sampai saat ini dia hidup seorang diri seperti dirinya, walaupun sebenarnya Dipa, bisa dikatakan masih muda dan sebentar lagi akan menikah, sedangkan Pak Dasim, kalau tidak dengan dirinya, tentu dia seorang diri. Untuk itu Dipa sengaja tidak mau jauh dengannya. Dia sudah menganggap Pak Dasim sudah seperti ayahnya sendiri, melebihi Pak Jono ayah angkatnya dahulu. Pak Dasim adalah seorang pejuang yang tahan banting, kokoh dalam pendirian dan kuat dalam mempertahankan prinsip. Walaupun Dia haru jatuh bangun, terpuruk dalam kehidupan, tapi nampaknya ia terus berjuang tanpa mengenal putus asa. Kalau melihat keumuman orang-orang, biasanya jangakan berkali-kali gagal, sekali saja gagal, dampak psikologinya spontan terlihat. Lamunan Dipa mendadak berhenti sampai disitu, tatkala Herna dengan ucapan salamnya sudah berdiri di depannya. Herna dengan nampan ditangan segera menaruh isinya diatas meja.
"Ayah Herna sudah memesan udangan, tidak apa-apakan kalaupun tidak terlalu bagus!" Kata Herna sambil memandang Dipa.
"Ah tidak apa-apa, yang penting ada." jawab Dipa.
"Nih, contohnya." kata Herna sambil tangannya merogoh saku bajunya. Kemudian ia mengeluarkan contoh kartu undangan dan kemudian diperlihatkan pada Dipa.
"Nih Kang Dipa"
"Wah itu bagus!" Puji Dipa
"Lumayan lah " Kata Herna.
Setelah cukup ngobrol kesana kemari, terutama menceritakan pengalamannya masing-masing, ketika keduanya menjalani perpisahan. Tak disangka Herna, bahwa kita akan bersatu. Ungkap Dipa dalam Hati. Ada rasa bahagia tertata dalam dada. Ada rasa bangga yang terbit dalam sukma, dan tentunya, hal itu menjadi milik yang selamanya akan dijaga.
"Dik akang permisi!" Kata Dipa segera permisi.
__ADS_1
Herna segera memanggil kedua orang tuanya. Dan setelah Pak Danu dan Bu Mae berada didepan Dipa, maka Dipa segera permisi untuk pulang.