Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 24


__ADS_3

Pak Dasim berharap, ia bisa melihat reaksi Dipa yang bisa menunjukan perkembangan positif terhadap Herna, makanya Pak Dasim kini berusaha memberikan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya Dipa bisa memberikan tanggapannya. Tapi untuk sementara Dipa tidak memberikan reaksi apa-apa kecuali, mengatakan bahwa Herna adalah gadis yang baik dan cantik. Dikatakannya pada Pak Dasim bahwa dirinya paham maksud Pak Dasim, tapi biarkanlah semua ini berjalan sesuai waktu dan suratan, tanpa harus ikut campur ambisinya. Walaupun kata Dipa bukan dirinya apriori atau tahan harga, tidak, tidak sama sekali. Pada dasarnya dia pun mengakui, bahwa Herna adalah gadis impiannya. Herna adalah gadis cantik, pintar, ramah dan periang. Tunggu apa lagi kalau melihat fakta yang ada. Tapi, kita, kata Dipa, Kembali pada tujuan dan prinsip utama, bahwa yang di maksud oleh Dipa adalah berumahtangga yang tempo itu dibicarakan dengan Pak Dasim sewaktu mencari ikan di tempat tambang emas. Tentu saja Pak Dasim sangat terharu dan bangga pada prinsip dan pendirian Dipa yang dianggapnya sangat dewasa. Betul kita harus menunggu waktu, pikir Pak Dasim


dalam hatinya. Pak Dasim pun sadar, sikapnya jangan sampai memberi kesan tergesa-gesa.


“Pak, bagamana perkembangan sosialisasi matematika dengan keadaannya sekarang.” Tanya Dipa mengalihkan topik perbincangan “Apakah ada perkembanagan yang mengembirakan?” Tambah Dipa.


“Wah tentu banyak perkembangan positif yang sebelumnya tidak nampak.” Jelas Pak Dasim, penuh harapan.


“Seperti apa pak perkembangannya?” Tanya Dipa penasaran.


“Awalnya bapak sengaja meminta tolong pada guru-guru yang lain agar mereka, disuruh membuat kerajinan tangan, lalu mereka memberi tahukan pada bapak, mereka tidak buru-buru menyanggupinya, sebelum diberi izin sama bapak. baru setelah mereka diberi izin oleh bapak! mereka baru mau menyanggupinya, selama tidak diberi izin oleh bapak mereka tidak mau. Satu itu yang kedua, biasanya kerajinan yang dimaksud oleh anak-anak, selalu saja berkisar kerajianan yang bentuk dan jenisnya begitu-begitu terus, missal anyaman asbak dan sejenis itu, tanpa, mempelihatkan perkembangan yang disesuaikan dengan keberadaan ilmu yang dipelajarinya. Tapi alangkah takjubnya, bapak setelah mereka mendapat Pendidikan yang telah bapak berikan, pola pikir mereka setahap demi setahap berubah. Misalnya mereka kini membuat kerajinan berupa mainan dan alat-alat tertentu yang pola kontruksinya merupakan kontruksi bentuk matemataika, mereka membuat mobi-mobilan, gerak mobil itu didasari oleh prinsip-prinsip perkalian, dan mereka membuat alat-alat pengupas bawang dan penghalus cabai, juga mengunakan prainsip-prisip perkalian. Dan selanjutnya merekapun membuat benda-benda lain yang melabangkan bentuk lain dari lambang atau symbol oprasional matematika, yaitu symbol positip dan symbol negative.” Papar Pak Dasim penuh dengan kebanggaan.


“Yah Pak itu sebuah kemajuan, bukan masalah ciptaannya, sebab kalau masalah ciptaannya, semua orang bisa menirunya. Tapi Yang  saya banggakan adalah perkembangan pola pikirnya yang tidak akan bisa semua orang meniru.” Ujuar Dipa memberikan tanggapan terhadap perkembanagan anak-anak peserta dididk yang diasuh oleh Pak Dasim. “Lantas bagaimana tanggapan Pak Suganda?”


“Beliau sangat terkesan dan bangga,


sehingga barang-barang kerajinan anak-anak itu dijadikan pajangan yang lebih berharga dari medali atau piala.” Kata pak Dasim dengan muka yang ceria.


“Syukurlah” Sahut Dipa juga ikut gembira.


Selanjutnya, setelah mereka selesai melaksanakan sholat isya, mereka Kembali meneruskan obrolannya sampai larut malam. Dan baru setelah keduanya merasa ngantuk, lalu keduanya segera beristirahat.


Esoknya Ketika Dipa selesai mengontrol anak-anak membuat alat peraga, tiba-tiba Herna sudah berada di depannya.


“Kang Dipa, Herna mau minta tolong!” Kata Herna.


“ya gimana? Minta tolong apa.” Tanya Dipa.


“Kata ayah, maaf katanya, mau tidak, kang Dipa mengantar Herna ke Bang Tomang, dikampung Dali. Kepentingannya untuk menyampaikan kabar, bahwa alat, yang dipesannya yaitu penggiling baso sudah

__ADS_1


selesai.” Kata Herna.


“Baik, tapi kita kesananya naik apa, jalan atau naik mobil.” Tanya Dipa


“Naik motor, miliknya saudara, putra ua!” Tukas Herna. ”Bisakan Kang Dipa naik motor?” tanyanya.


”Tentu!” Jawab Dipa pendek.


Selanjutnya keduanya segera berangkat, Sesampai dirumahnya Herna Pak Danu ayahnya Herna, Kembali mengatakan seperti yang tadi dikatan Herna. Kemudian Dipa segera memburu motor bebek yang sudah ada disana, lalu keduanya menaiki motor itu. Kemudian motor melaju perlahan.


“Dik ngomong-ngomong apakah tidak akan ada yang marah nih kalau adik dibonceng sama Kang Dipa?” Pancing Dipa.


“Ah biarin saja mau marah atau tidak. Memangnya kenapa” Tukas Herna.


“Ah tidak, cuman….” Kata Dipa tidak lanjut


“Cuman apa?” Desak Herna


Sementara keduanya diam, hanya didalam hati masing-masing bergejolak seperti halnya gemuruh suara mesin motor. Tapi kemungkinannya baik Dipa maupun Herna sudah pada memaklumi sifatnya masing-masing. Kurang lebih satu jam, mereka menempuh perjalanan, akhiarnya mereka sampai ditempat tujuan. Sesampainya disana herna langsung saja memburu, rumahnya bang tomang. Dan setelah motor berhenti, lalu distandarkan, dan setelah berada di depan pintu, Herna langsung mengetuk pintu, sambil mengucapkan salam. Tidak lama kemudian dari dalam rumah muncul seseorang, yang tiada lain adalah bang tomang. Tentu saja bang tomang segera menyambutnya.


“Oh neng herna silahkan masuk!” Ajak bang Tomang.


“Iya terimakasih, sudah saja disini, Cuma mau memberi kabar, bahwa pesanan abang, sudah selesai kapan mau diambil? Kata Herna.


“Neng Herna sebenarnya abang sudah niat dari kemarin, tapi berhubung mobilnya belum ada, jadi ditangguhkan, mudah-mudahan sekarang. Sok masuk dulu dengan siapa itu ajak masuk.” Kata Bang Tomang lagi.


“Ah biar cukup saja disini hanya itu kok” Tukas Herna


“Kalau begitu sebentar.” Kata Bang tomang sambil membalikan badanya. Dan tak lamapun ia sudah Kembali. “Ini sisa uangnya. Sampaikan ke ayahmu, kemungkinan nanti abang kesana untuk mengambil barang, sekarang beritahukan mobilnya belum datang.”

__ADS_1


“Oh ya baik bang, Herna permisi.“ Kata Herna pamit.


“Iya salam saja sama bapak mu.” Kata Bang Tomang.


Selanjutnya Herna pun bergegas menghampiri Dipa, yang sedang menunggu disamping motor.


“Ayo Kang Dipa sudah!” Ajak Herna


“Baik.” Sahut Dipa sambil segera menghidupkan motornya.


Setelah mesin motor itu hidup, dan keduanya sudah berada diatas motor, lalu merekapun meninggalkan rumahnya Bang Tomang. Setibanya dirumah Herna, Dipa segera pamit untuk pulang. Tentu saja Herna


sangat berterimakasih pada Dipa. Semua itu dituturkan lewat ucapan dan senyum manisnya. Setibanya di rumah, Dipa segera memburu dapur, kemudian dia mengambil alat-alat pancing, selanjutnya ia memancing ikan. Tidak lamapun beberapa ikan pun sudah ia dapatkan. Kemudian Dipa segera menggoreng ikan-ikan tersebut, setelah itu Dipa segera makan.


Pada suatu hari Ketika Herna dan Dipa pulang, selesai mengikuti acara silaturahmi para mahasiswa/mahasiswi,


tiba-tiba salah seorang mahasiswa mengejar keduanya. Si Dodi nama mahasiwa itu, lalu didepan Dipa, Si Dodi mengulurkan tangan pada herna, sementara Herna hanya terdiam. Si Dodi mengatakan bahwa kapan-kapan dirinya ingin ngobrol dengan Herna. Herna hanya tersenyum. Dan selanjutnya Herna dan Dipa segera buru-buru pamit. Sementara Si Dodi terus memperhatikan Herna. Tapi keduanya terus melaju tanpa menghiraukannya, Ketika mereka berjalan melewati pos ronda yang tempo hari Dipa sempat ngobrol dengan anak-anak remaja membicarakan tentang kualitas tim nasional, Tiba tiba, masih anak-anak itu, mereka serentak memburu Dipa dan Herna.


“Kang Dipa ayo lanjutkan penjelasan mengenai tim nasional itu.” Pinta anak-anak, sambil memegang tangan Dipa.


“Baiklah!” Sahut Dipa sambil menghampiri pos tersebut. “Ayo kita ngobrolnya disini.” Kata Dipa lagi.


Selanjutnya Dipa menjelaskan pada anak-anak itu bahwa, kalian harus menyadari kemenangan dan kekalahan itu adalah akibat. Sebagaimana keberhasilan seseorang, adalah hasil sebuah proses, bukan hasil melamun. Proses yang kita bentuk akan membuahkan hasil. Semakin baik rancangan prosesnya semakin baik pula, hasilnya. “Nah begini saja, kalian setiap hari minggu datang kerumah kang Dipa, ngobrolnya disana saja sambil kita masak-masak.” Kata Dipa. Sekarang kata Dipa, dirinya sedang sibuk, jadi maafkan. Lagi-lagi anak-anak itu


mendesis, ialah masa iya dong katanya sambil ketawa.  Dan selanjutnya Dipa dan Herna segera meninggalakan anak-anak.


“Nah Dik Herna terbukti kan!” Kata Dipa.


“Terbukti apa-apa?” Kata Herna.

__ADS_1


“Akang pernah mengatakan sama dik Herna, bahwa anak-anak didik itu, sebenaranya punya tiga orang tua. Satu, di rumah adalah orang tua yang menjadi perantara dia terlahir kedunia. Dua, di sekolah yang menjadi dia terlahir dengan ilmu. Tiga di lingkungan, yang menyebabkan dia terlahir dengan pengalaman. Nah yang jadi permasalahan, sudahkah rumah menjadi tempat yang ideal bagi anak untuk tumbuh sehat lahir batin, sudahkah sekolah menjadi tempat yang ideal untuk menimba ilmu, dan sudahkah lingkungan menjadi tempat yang ideal untuk anak-anak menimba pengalaman. Coba tadi anak-anak betapa butuhnya sesuatu yang membuat dirinya puas, mereka ingin menimba pengalaman lewat obsesi diusianya sebagai remaja atau anak muda. Nah jangan menyalahkan mereka apabila suatu Ketika mereka menyimpang dari karakter yang sebenarnya, karena mereka, barangkali tidak menemukan kepuasan di lingkungannya, atau mereka dipuaskan oleh pergaulan yang tidak baik.” Kata Dipa.


Herna tersenyum, dan sesekali memperlihatkan tatapan yang entah apa artinya semua itu, mungkin hanya Herna sendiri yang tahu. Juga hanya Herna sendiri yang merasakan momentum yang sedang dialaminya itu. Sementara Dipa teman yang ada disampingnya barangkali, entah menyadari atau tidak aksi dan sikap Herna saat itu. Yang Jelas sampai beberapa saat lamanya mereka ngobrol sambil berjalan, telah membuat kenangan yang sangat berkesan.


__ADS_2