Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 31


__ADS_3

Waktu terus bejalan, meski merayap namun pasti, malah dalam kehidupan sering terjadi orang dikagetkan dengan perjalanan waktu yang tidak terasa. Tahu-tahu katanya sudah begini sudah begitu. Herna yang kini sudah hampir tiga bulan tinggal dirumahnya Kang Suganda, sepertinya sudah kerasan, namun sampai saat itu, Herna masih belum memutuskan untuk Kembali kerumah orang tuanya, meskipun para mahasiswa sudah sebulan yang lalu mereka meninggalkan kampung Bahari. Padahal awalnya Herna tinggal di rumahnya Kang Suganda, hanya untuk menghindari godaan Si Dodi, sedangkan Si Dodi kini sudah tidak ada, tapi mengapa Herna seperti lupa pada rumahnya sendiri. Sering Bu Mae mendatangi Herna untuk membujuk Herna kembali kerumah, tapi Herna selalu saja memberikan alasan, nanti sajalah, kan tiap hari juga ketemu katanya, itu bukan sekali, tapi berkali-kali, sehingga lama-lama ayah dan ibunya Herna jadi bosan juga, akhirnya mereka membiarkan anaknya untuk sadar sendiri. Karena Pak Danu dan Bu Mae tahu bahwa anaknya itu tinggal di saudaranya sendiri, jadi tak perlu khawatir, lagi pula baik Kang Suganda maupun istrinya sangat baik sama Herna. Dan ada baiknya Herna tinggal di rumahnya Kang Suganda, karena suasana disana ramai oleh santri-santri jadi keuntungan bagi Herna sedikit bisa menghibur,


atau bisa terhindar dari melamun atau teringat pada Dipa, sehingga untuk sementara Herna seperti sudah bisa menguasai diri untuk hidup dalam penantian. Malah ada kebiasaan Dipa, yang sekarang sudah bisa dilakukannya, yaitu menjadi orang tua ketiga dilingkungan, Herna sekarang sengaja selalu menyempatkan untuk selalu bertemu dengan anak-anak, Herna selalu memberikan pelayanan-pelayanan, yang membuat anak-anak menjadi nyaman dan merasa punya jalan dan kesempatan untuk menemukan jati dirinya. Ini semua adalah jasanya Herna, yang mengangkat program Dipa dilingkungan, dijadikan menjadi program plus untuk mengisi program muatan local. Sehingga pada suatu kesempatan program yang diasuh oleh herna sangat berpadu dengan program yang di asuh oleh Pak Dasim. Sehingga seiring waktu berjalan program pesantren menjadi pesat dan semakin terkenal. Dan hal itu bila dihitung dengan waktu tidak adanya Dipa, sudah mencapai satu tahun lebih. Dalam masa-masa itu diantaranya, terjadi dimana, Banyak para orang tua yang mendaftarkan putra-putrinya ke pesantren itu. Para orang tua sangat mengapresiasi pada program yang ada di Yayasan Generasi Bangsa. Dan para orang tua sangat menaruh harapan, bila program-program yang ada di Yayasan Generasi Bangsa, dijalani secara konsisten, maka kedepannya bisa dibuktikan hasilnya.


Namun ada sesuatu yang tak bisa dihindari oleh Herna, yaitu ketika melewati bulan haji, dimana pada bulan itu, dirinya dan Dipa berencana akan melangsungkan pernikahan. Tapi nyatanya renca itu batal dilaksanakan, karena keburu datangnya musibah. Kini Herna sudah setahun lebih berpisah dengan Dipa. Dan sampai saat itu belum ada kepastian, akankah dirinya bisa bertemu Kembali dengan kekasihnya itu? Sama sekali bagi Herna, masih teka-teki. Tapi ia hanya berserah diri pada yang maha kuasa. Hanya saja sewaktu-waktu tanpa disadari oleh Herna, mulutnya melontarkan kata-kata curahan hati. Dia berbisik pada angin bahwa, seandainya kekasihnya itu sudah tiada, bisakah dirinya bertemu dalam mimpi, dan seandainya masih hidup, tidakah merasa rindu kepadanya? Apakah tega? bisik Herna dalam hati, membiarkan dia tersiksa dalam penantian yang tak pasti.


Pada suatu waktu, disuatu malam, disekitar pesantren, terasa suasana sangat sunyi dan sepi, maklum saat itu listrik belum sampai ke kampung Bahari. Jadi penduduk disana, tidak leluasa keluar malam, kalau tak terlalu penting. Tetapi kalau hanya untuk sekedar lumayan remang-remang asal kelihatan, lampu lentera nampaknya sudah hampir ada disetiap titik tertentu dijalan, yang sekiranya dilewati oleh orang yang kebetulan ada keperluan. Saat itu, mungkin hampir sudah menjelang tengah malam, tiba-tiba terlihat ada tiga bayangan sosok tubuh yang sedang mengendap-ngendap. Ketiga bayangan itu, terlihat mendekat kearah pesantren, dan bila diperhatikan tingkah lakunya, ketiga orang itu seperti berniat untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Terbukti, beberapa saat kemudian, salah satu diantara mereka terlihat hendak melakukan sesuatu. Orang itu menyalakan obor yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian obor itu dilemparkan kearah pondok pesantren yang didalamnya banyak santri yang sedang tidur. Tapi sebelum obor itu sampai pada sasaran, tiba-tiba sebuah bayangan melesat menyambar obor itu. Dan diluar dugaan si pelaku, tiba-tiba si penolong itu, melakukan serangan balik, membabi buta. Tentu saja para pelaku tidak saja merasa kaget, tapi juga mereka mendadak mundur, untuk menghindari serangan si penolong. Rupanya para pelaku itu adalah orang-orang yang nekat, juga tidak sembarang, mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hebat, buktinya mereka terus melakukan aksi-aksi memporak porandakan serangan-rangan si penolong. Sehingga si penolong dibuat ekstra hati-hati.


“Hai siapa kalian, dan mau apa kalian?” Tanya si penolong. Tubuhnya siap siaga dengan kuda-kuda, pasangan tempur.


“Kau jangan banyak bacot, dan tapi terima serangan ku.“ Kata salah seorang diantara mereka yang tadi melemparkan obor. Orang itu, mengirimkan serangan kombinasi, gabungan Gerakan kaki berupa tendangan lurus, dan geraka-gerakan, sabetan tangan yang titik serangnya berada di telapak tangan. Si penolong berusaha untuk mengatasi lawan dengan gerakan-gerakan menghindar, atau dengan tangkisan-tangkisan, sambil mecari celah untuk membalas serangan. Tapi para pelaku itu, tidak membiarkan si penolong untuk berbuat banyak.


“Dasar ********!“ Hardik si penolong sambil melakukan salto kebelakang beberapa kali, hal ini dilakukan, sebagai antisipasi, serangan lawan jangan sampai terlalu mengurung dirinya. Duk…duk, siut, si penolong melakukan beberapa tangkisan, dan selanjutnya, di ikuti dengan Gerakan merebahkan badan, hal itu dilakukan, karena dari arah belakang, dirasakan ada angin yang ditimbulkan oleh serangan lawan, yang ingin menghantam punggungnya. Brekk, tubuh si penolong jatuh dalam keadaan jongkok, Siuuuut…..kakinya membabat kaki-kaki lawan dengan kecepatan yang luar biasa. Bruk, bruk tubuh lawan, rebah berjatuhan.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah lain terdengar suara-suara orang memburu kearah yang sedang bertarung. Dan orang-orang itu


segera membantu si penolong. Yaaaaa....serbu, wuuuut orang-orang menggempur si para penjahat dengan sabetan bambu. Para penjaha itu, berusah menghindari dari gempuran penduduk kampung, dengan jalan mengimbangi serangan warga kampung dengan serangan golok. Mereka, nampaknya sudah kepalang tanggung.


“Hai jangan kabur.” Kata salah seorang warga yang ikut menyerang. Tatkala salah seorang penjahat disangkanya akan kabur.


Tetapi ternyata di luar dugaan, si penjahat itu bukannya mau kabur tetapi hendak memanfaatkan keadaan yang ada. Ketika para santri dan keluarga Kang Suganda yang terbangunkan oleh suara ribut di sekitar halaman pesantren, tiba-tiba si penjahat memanfaatkannya, salah seorang dari penjahat itu segera memburu salah seorang yang saat itu keluar. Ternya dia adalah Herna.


“Hai jangan bertingkah, lihat ini!” Kata Si penjahat sambil meletakan golok di leher Herna.


Tentu saja si penolong dan warga sekitarnya ikut menyerang si penjahat, tentu saja sangat kaget dan tepaksa menghentikan aksinya.


“Hai, sebenarnya apa maumu?” Kata si penolong sambil menahan gerakannya.

__ADS_1


“Dengar *****, aku perintahkan agar menghentikan kegiatan kepesantrenan ini, karena ini sangat merugikan bagi kami!!” Bentak si penjahat sambil menghimpit badan Herna


“Hai ********, aku peringatkan, apa bila terjadi sesuata pada gadis itu, maka sampai dimanapun aku tidak akan melepaskanmu” Bentak si penolong.


“Ha ha ha ha, Jangan menggeretak ku. Tak ada masalah dengan ku, aku baik-baik saja ha..ha..ha.“ Ledek si penjahat dengan sikap yang pongah.


Si penolong nampak kebingungan, ia sama sekali belum bisa menetukan harus bagaimana mengatasipasi keadaan ini. Sementara para penjahat segera memanfaatkan keadaan itu untuk menguasai situasi. Mereka setapak demi setapak menjauh dari tempat itu.


“Hai cepat melangkah jangan macam-macam, nanti tahu sendiri akibatnya kalau macam-macam, leher yang mulus ini akan putus.” Ancam si penjahat.


Dalam keadaan gawat demikian, tiba-tiba si penjahat menjerit keras, sementara golok yang mengancam leher Herna mendadak lepas. Karena tangan si penjahat yang memegang golok itu terkena senjata rahasia yang dimiliki oleh si penolong. Senjata rahasia itu berupa jarum beracun, dan barang siapa yang terkena senjata beracun itu, maka korban akan merasakan mati saraf disekitar tubuh yang terkena oleh jarum beracun itu. Tentu saja kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh si penolong untuk menyelamatkan Herna. Si penjahat tubuhnya mendadak terpental karena terkena tendangan kaki si penolong. Tapi tiba-tiba sebuah pisau belati melesat kearah Herna,


untung si penolong dengan cekatannya serentak menangkap pisau itu, sehingga Herna bisa selamat.

__ADS_1


__ADS_2