Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 20


__ADS_3

Sungguh kenyataan yang sangat menggugah hati, sekarang dirinya harus bisa memanfaatkannya menjadi momentum kebangkitan. Ini benar persahabatan dengan alam yang sangat tak disangka-sangka, dimana dirinya


bisa bangkit mendadak, guman Pak Dasim dalam hati. Selama bertahun-tahun ia merindukan dan memimpikan kehidupan seperti ini. “Hm ini adalah  ujian juga” Tak terasa mulut Pak Dasim mengeluarkan kata-kata. Sepertinya dia, Pak Dasim sangat menikmati keadaan itu, kalau saja tidak terganggu oleh suara Dipa yang memanggilnya, pasti Pak Dasim keasyikan di tempat itu, dan tidak akan buru-buru meninggalkan. Tapi akhirnya Pak Dasim mau tidak mau harus mengalah, untuk tidak menuruti perasaannya. Pak Dasim segera menemui Dipa yang sedang mengurusi sesuatu.


“Pak Dasim...Maaf, Dipa ada perlu dulu sama Pak Danu!” Sahut Dipa “Tadi memanggil Dipa enta ada apa."


“Iah, mungkin anaknya yang perlu “ Canda Pak Dasim sambil tersenyum.


“Mungkin juga pak” Jawab Dipa dengan tawa kecil.


“Dipa kalau bisa, besok Kirimi ikan yang setengah kiloan untuk mengisi kolam, masa semuanya kecil-kecil.” Kata Pak Dasim.


Beginilah selanjutnya kehidupan Pak Dasim dan Dipa yang mengalami perubahan kehidupan yang tidak disangka sangka. Terutama Pak Dasim yang selama hidupnya berpetualang, tiba-tiba mengalami perubahan yang diluar perhitungannya, bisa hidup layak, punya rumah, malah bisa bergabung dengan orang-orang yang mendukungnya. Kini ia tak perlu lagi harus mengemi-ngemis untuk mencari dukungan. Semua dukungan yang diperlukan kini datang dengan sendirinya.


Pada suatu hari, Pak Dasim di undang Oleh kang Suganda untuk menghadiri acara rapat khusus yayasan, dalam acara tersebut akan memusyawarahkan Program-program Yayasan selanjutnya. Juga dalam kesempatan itu Pak Dasim dikenalkan oleh Kang Suganda kepada seluruh pengurus dan pendiri Yasasan Generasi Bangsa. Dalam kesempatan itu, Pak Dasim sudah dianggap resmi menjadi anggota Yayasan. Dan Pak Dasim dipersilahkan untuk membacakan program-programnya. Dan setelah Pak Dasim membacakan program-programnya, terjadilah tanya jawab membahas dan membedah apa-apa yang tercantum dalam uraia proposal yang ditulis oleh Pak Dasim. Pembicaraan diarahkan pada pokok masalah, yang dikaitkan dengan pengadaan Pendidikan informal kepesantrenan dengan materi pelajaran muatan local. Dalam pembahasan muatan lokal yang mengajukan tiga Bahasa sebagai nilai plus, itu prosesnya lancar-lancara saja, tetapi ketika matematika akan disosialisasikan sebagai materi plus, Pak Dasim Harus berusaha memberikan penjelasan extra detil dan terperinci, sebab walaupun bagaimana matematika menurut budaya yang ada hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang targetnya Cuma untuk menghitung. Maka selanjutnya Pak Dasim menjelaskan bukti-bukti, kehebatan ilmu matematika, ilmu matematika adalah ilmu struktur alam, sebagai wujud alternatif keberadaan alam dan isinya, sehingga kalau ingin mengolah dan memanfaatkan potensi alam secara maksimal dan akurat, terlebih dulu harus menguasai ilmu matematika, kata Pak Dasim dalam kesempatan itu. Maka kata Pak Dasim selanjutnya sesuai dengan metode yang sudah di utarakan sebelumnya, penyosialisasianya akan ditujukan pada langkah awal, yaitu membentuk dulu sosok peserta didik yang memenuhi kriteria peserta yang siap belajar yaitu, sadar belajar, sadar apa yang di pelajarinya itu apa, sadar dan butuh bahwa kebutuhan masa depannya sangat tergantung pada proses yang  kini sedang di alami atau ditempuh oleh peserta didik. Juga dalam uraianya itu, mengingatkan, jangan sampai terjadi

__ADS_1


budaya teledor, yaitu, keadaan peserta didik yang sama sekali tidak menyadari secara rinci hubungan yang sedang dialaminya dengan masa depannya. Sebab hal ini dikarenakan tidak ada klarifikasi sebelumnya, untuk apa tujuan belajar yang sebenarnya. Anehnya semua ini malah di bantah atau dikomentari dengan berbagai, sanggahan yang bentuknya sebagai pembelaan. Padahal fakta dilapangan sudah cukup jelas, yang namanya sekolah menurut budaya yang kini berlaku, tujuan sekolah adalah mencari kerja. Padahal pekerjaan adalah akibat yang didapatkan oleh hasil sakolah yang berprestasi, bukan didapat oleh hasil tamat sekolah, kalau sekedar tamat sekolah, itu semua bisa diatur, tapi oleh tamat sekolah yang berprestasi. Dan perlu diingat prestasi bukan hanya di batasi atau diwakali oleh nilai rapot, tapi harus dilengkapi oleh bukti-bukti, bahwa si perserta didik mampu membuktikan hasil belajaarnya itu. jadi nilai rapot itu harus diuji kelayakannya. Dan Pak Dasim selanjutnya memberikan pertanyaan kepada para hadirin, apakah paserta didik yang ada sekarang sudah memenuhi kriteria peserta yang dimaksud tadi, atau belum? Mendengar pertanyaan Pak Dasim dalam uraiannya, para peserta rapat gemuruh, dan diantaranya ada juga yang memberi komentar, tapi garis besar peserta rapat setuju dan sepakat untuk mendukung. Dan selanjutnya terjadilah dalam kesempatan itu arena yang di isi oleh tanya jawab dan arena bertukar pikiran. Akhir dalam acara itu adalah, membuat kesimpulan-kesimpulan hasil rapat. Diantaranya adalah menentukan waktu pelaksanaan, mendaftar para guru atau tenaga pengajar, juga membahas tentang sarana dan prasarana. Bulan pertama sosialisasi program sesuai dengan program adalah, Persiapan kriteria peserta Didik yang dibentuk dua grup, masing-masing terdiri dari delapan peserta. Dalam program itu, peserta didik dikondisikan memiliki kualitas seorang peserta didik, peserta didik sehari-harinya hanya diarahkan untuk tujuan konsentrasi niat belajar, dan


konsentrasi memahami figur materi atau mata pelajaran yang akan dipelajari oleh peserta didik, makanya dalam proses tersebut peserta didik sangat diberi kesempatan untuk merenungi dan mempertimbangkan prinsipnya, terhadap materi yang akan dipelajarinya. Peserta didik tidak dipaksa untuk mengikuti program belajar tanpa benar- benar paham. Dan juga diupayakan adanya penyaluran konsentrasi, dengan jalan seluruh tenaga pengajar berkomitmen pada tujuan, jangan memberikan masukan-masukan yang sekiranya akan merusak konsentrasi peserta didik.


Sebulan kemudian, Pak Dasim sudah bisa melihat hasilnya, dimana peserta didik mampu membuktikan bahwa mereka siap belajar dan butuh belajar. Itu terbukti dari cepatnya mereka menerima dan memahami setiap


pelajaran yang diberikan. jadi jelas, untuk mencerdaskan anak itu awalnya harus ditanamkan dulu sifat butuh pada anak didik. Dan juga dalam pengaturan pelaksanaan program bagi yang enambelas peserta itu, dibagi dua waktu untuk malam mereka menimba teori agama dari para pengajar teori agama, sedangkan siangnya mereka khusus mengikuti program yang dilaksanakan oleh Pak Dasim.


Pak Dasim dalam mengikuti perkembangan yang berlangsung dari waktu ke waktu, Pak Dasim sangat teliti dan jeli untuk mencatat semua perkembangan. Tapi akhirnya Pak Dasim sangat yakin bahwa disekelilingnya, sangat mendukung ide dan cita-citanya. Ia belum pernah mendapat sikap antipati atau nada sumbang dari lingkungan pengajar yang lain, pokoknya Pak Dasim sangat nyaman berkarir di tempat itu. Bagi pak Dasim tinggal menunggu waktu saja untuk melihat hasil yang lebih memuaskan. Semua itu sangat dimaklumi dan disikapi bahwa proses waktu sangat perlu diikuti dengan sikap konsisten, karena sedikit saja kita buyar konsentrasi, maka waktu akan membuat kita menyesal. Pak Dasim punya target lima bulan kedepan, untuk bisa melihat warna Pendidikan yang ia berikan pada anak didiknya. Maka ketika tiba waktunya, anak-anak yang terdiri dari enam belas peserta itu berhasil dinobatkan sebagai pelajar percontohan di pesantren Yayasan Generasi Bangsa,


Waktu itu, di hari minggu atau hari ahad, kegiatan pesantren sebenarnya tidak diliburkan, tapi berhubung Pak Dasim ada keperluan, maka kegiatan kepesantrenan dititipkan dulu pada guru-guru yang lain.


“Dipa, bapak ada keperluan dulu sama Kang Danu. Ingin melihat lihat proyek yang digarapnya.” Kata Pak Dasim.


“Ohh ya pak, nanti Dipa kesana, sebab sekarang Dipa sedang menunggu Wiranta.“ Tukas Dipa.

__ADS_1


“Memangnya Wiranta mau kesini?” Tanya Pak Dasim penasaran.


“Iah katanya waktu itu.” Sahut Dipa.


“Yah kalau begitu bapak berangkat dulu.” Kata Pak Dasim sambil buru-buru turun dari rumahnya.


Sepeninggalnya Pak Dasim, Dipa segara merancang apa-apa yang harus dilakukan, menyambut kedatangan Wiranta. Ada pikiran mau mendatangi Mang Karim, untuk membeli dua ekor itik dan angsa. Mang Karim adalah peternak unggas yang rajin dan berhasil. Hasil ternaknya sangat loyalitas kepasar-pasar, terutama suplay telur itiknya, untuk pembuatan telur asin tak pernah berhenti. Dengan pertimbangan itu, Dipa segera berangkat menuju


rumahnya Mang karim, untuk membeli hewan-hewan tersebut. Maka beberapa lamapun Dipa sudah bisa membawa hewan pesannya, dua ekor itik dan satu ekor angsa yang sudah disembelih, ditambah beberapa puluh butir telur.


“Mang Karim tolong antarkan sama si ujang telurnya aku berabe bawa itik dan angsa.” Kata Dipa sambil memberikan lembaran uang puluhan ribu.


“Baik Dipa sok aja duluan saya siapkan dulu telurnya.” Kata Mang Karim


“Ya baiklah.” Tukas Dipa, yang selanjutnya permisi meninggalkan rumah Mang Karim.

__ADS_1


__ADS_2