
Ketika Dipa, hendak pulang selesai membuat alat-alat peraga, yang biasa ia lakukan di ruangan tertentu dibelakang pesantaren. Tiba-tiba Dipa melihat tiga orang remaja sedang ngobrol, mereka duduk disebuah pos ronda. Lalu Dipa menghampiri.
“Sedang apa kalian disini” Tanya Dipa
“Sedang ngobrol membicarakan tim nasional sepak bola kita yang selalu kalah!” Seru anak-anak remaja itu.
“Hm kalian bangga, dengan kekalahan tim nasional kita?” Tanya Dipa sambil menatap wajah-wajah mereka.
“Ya tentu tidak, boro-boro bangga, yang jelas kami, sebaliknya merasa kecewa.” Sahut anak-anak
“Kenapa kecewa, kan kalian tidak mendapatkan apa-apa walaupun tim kita menang, dan juga tidak rugi apa-apa walaupn tim kita kalah.” Bantah Dipa.
“Maksudnya bukan begitu, Kang Dipa! Itu tim nasional bangsa kita masa kita tidak mendukungnya.”
“Yang dimaksud oleh kalian mendukung itu mendukung bagaimana, apa kita atau kalian harus hadir, apabila mereka bertanding, juga apakah kita harus berteriak-teriak apabila mereka bertanding? Atau kita harus menangis sejadi-jadinya apabila mereka kalah bertanding? Harus begitu? Atau bagaimana yang dimaksud mendukung kalian? Bila yang dimaksud mendukung oleh kalian demikian, maka dukungan kalian itu sia-sia tidak akan mengubah keadaan, selamanya tim nasional kita akan kalah. Sebab dukungan kalian adalah dukungan palsu.” Ujar Dipa.
“Lho palsu bagaimana Kang Dipa?” Tanya anak-anak tak mengerti maksud Dipa.
“Palsu karena kalian tidak memiliki rasa cinta pada tim nasional” Tegas Dipa.
“Ah kang Dipa ini bagaimana, kami itu tak mengerti” Ujar anak-anak protes.
“Begini, tim nasional adalah tim yang diambil dari pemain-pemain terbaik dari setiap klub yang ada di seluruh negara kita. Nah sekali lagi tim nasional dibentuk dari pemain-pemain pilihan dari klub-klub tebaik yang ada di negara kita. Terus ketika klub terbaik itu ditandingkan dengan klub luar negeri, tiba-tiba kalah melulu. Nah apakah tim kita ini bisa dikatakan tim terbaik?” Papar Dipa berusah meyakinkan pendirian mereka, dan berusaha membenahi pola pikirnya. “Mengerti tidak?”
“Oh begitu, jadi harus bagaimana?” Tanya anak-anak, dengan wajah penasaran.
“Sebenarnya kalian masih terlalu polos untuk diajak bicara soal metode, tapi ini semua mau tidak mau kalian harust tahu.” Jelas Dipa.
“Iah harus bagaimana?” Tanya anak-anak seperti penasaran.
“Kalian benar-benar mencintai tim nasional?” Tanya Dipa, sambil tersenyum , lucu dan kasihan juga, anak-anak ini, mereka merindukan tim kesayangannya ingin selalu menang.
“Ya iya.” Tukas anak anak.
__ADS_1
“Kalian, sebelumnya harus memberikan contoh dulu, untuk menjadi sumber daya manusia yang baik, tak perlu harus jadi pemain sepak bola saja, tapi jadi apa saja asalkan sesuai dengan bakat dan minat yang kalian miliki.” Tegas Dipa.
“Bagaimana caranya?” Desak anak-anak.
“Nanti Kang Dipa jelaskan, sekarang cukup sekian dulu saja obrolan kita, nanti kita sambung lagi.” Tegas Dipa. “Sekarang Kang Dipa ada kerluan dulu."
Anak anak remaja itu terdiam, tapi terlihat wajah-wajah mereka menunjukan ekspresi penasaran. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan selanjutnya Dipa pun segera meninggalkan anak-anak remaja itu.
Baru saja beberapa Langkah dari tempat itu, tiba-tiba Dipa melihat sosok tubuh yang sedang melenggang kearahnya. Tentu saja Dipa mendadak ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Dia adalah Herna.
Kemudian Dipa mendahului mengucapkan salam setelah Herna sudah berada di depannya.
“Mau kemana dik? Kan belum waktunya mengajar?” Tanya Dipa
“Eh justru mau menemui Kang Dipa!” Sahut Herna, samabil menatap. “Ada yang ingin dibicarakan” Tambah Herna”
“Ohh ya baiklah, dimana?” Sambut Dipa.
“Di rumah Herna saja!” Sahut Herna.
“Begini, kemarin waktu Herna ada perlu sama teman, kebetulan herna lewat didepan rumah pak lurah, tiba-tiba Herna dipanggil oleh Pak lurah. Dirumahnya pak lurah, ada beberapa mahasiswa yang akan mengadakan Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Dalam programnya, akan mengadakan pendekatan sosial, melihat dari dekat aktivitas penduduk Desa Rawa Mutu.” Papar Herna
“Lantas apa hubungannya pak lurah memanggil Dik Herna” Tanya Dipa.
“Katanya nanti lima hari kedepan para mahasiswa akan mengadakan pertemuan dengan tokoh pemuda dan pemudi Desa Rawa Mutu.” Jawab Herna “Ya Kang Dipa perlu tahu saja.”
Dipa berpikir sejenak, dalam hatinya. Banyak hal-hal atau kasus-kasus dalam hidup, yang berkaitan dengan Pendidikan, belum bisa dipecahkan, karena entah bagaimana sampai saat ini menurut Dipa keberadaan Pendidikan dan alumni tidak menunjukan kenaikan grafik yang dinamis sesuai dengan idealnya seseorang yang menempuh pendididkan paling tidak memperlihatkan penampilan yang berbeadaa dari orang yang tidak menempuh Pendidikan. Sementara yang terlihat, lulusan Pendidikan dari semua jenjang, begitu-begitu saja, walaupun seiring waktu yang terus berjalan, konsekuensi keberadan pendidikan itu monoton. Malah jauh dari harapan awal.
“Yuk Kang Dipa, di teras saja kita lanjutkan mengobrolnya” Kata Herna setelah keduanya tiba di depan rumahnya.
“Baik!” Sahut Dipa sambil ia masuk ke dalam ruangan teras rumah Herna, yang disekitarnya tersedia kursi kursi bambu.
Rumah Herna adalah rumah pedesaan yang sederhana, namun kalau diperhatikan secara detil, walaupun bentuknya sederhana, namun penampilan bahan yang digunakannya cukup mahal, bahan-bahan rumahnya itu
__ADS_1
menggunakan bahan dari kayu jati. Sementara ukuran rumahnya pun lumayan besar, jadi terbayang kalau di perkotaan biaya untuk rumah sebesar itu, dengan bahan kayu jati, terbayang Betapa mahalnya. Rumah Herna bentuknya adalah bentuk rumah panggung dengan stan anak tangga yang pendek. Ditambah pelataran teras yang cukup lebar, membuat setiap yang bertamu kerumahnya membawa kesan asri.
Tiba-tiba suara salam terdengar yang diiringi oleh munculnya Pak Danu ayahnya Herna. Dan kemudian Dipa menjawab.
“Sudah lama Dip?’ Tanya Pak Danu sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.
“Baru saja” Kata Dipa
“Eh tunggu dulu ya, bapak lagi kepalang mengerjakan itu pesanan, engga apa-apa sama kan, ada Herna yang sebentar lagi juga Herna selesai mendidihkan air.” Tukas Pak Danu sambil selanjutnya meninggalkan Dipa.
Tidak lama kemudian Herna datang sambil membawa baki atau nampan yang berisi dua buah gelas dan piring berisi goreng ketan dengan sambel kacangnya.
“Tidak perlu repot-repot dik” Pinta Dipa.
“Ah tidak, merepotkan apa?” Tukas Herna, sambil memindahkan gelas-gelas, dan piring yang berisi makanan, serta piring kecil berisi sambel.
Kemudian Herna pergi lagi kedalam, untuk menyimpan baki atau nampan, dan tak lamapun sudah Kembali.
“Ayo dicicipi makanannya, jangan di tatap saja!” Kata Herna, seraya duduk di depan meja berhadapan dengan Dipa.
“Tentu, ini kan makanan favoritku, masa dibiarkan.” Kata Dipa sambil tersenyum.
“Yah soh sambil!” Ujar Herna , ia pun segera meraih gelas berisi air, kemudian ia pun meminumnya.
"Bagaimana terusnya, cerita tadi?” Tanya Dipa
“Iya kita bagaimana?” Tanya Herna sambil menatap wajah Dipa.
“Kita ikuti saja dulu dan kita perhatikan perkembangan selanjutnya.” Kata Dipa balas menatap wajah Herna. “Apakah Pak suganda Sudah Tahu?”
“Nampaknya sekarang mereka akan menemui Pak suganda.” Tukas Herna.
Selanjutnya Dipa dan Herna ngobrol membicarakn rencana KKN mahasiswa tersebut bila dihubungkan kaitanya, dengan program yang sudah berjalan di Yayasan Generasi Bangsa. Semuanya dibicarakan, semuanya diperbincangkan oleh keduanya dengan Batasan atau prinsip-prinsip yang sudah dimiliki oleh keduanya. Mereka menanggapi keberadaan dan peranan mahasiwa itu, dari sudut pandang masing-masing. Terlihat pandangan keduanya sangat terpengaruhi oleh wawasan dan prinsip-prinsip yang sehari-harinya selalu mempengaruhi pola pikir keduanya. Sehingga bisa dipastikan Lambat laun Pola pikir Dipa dan Herna, dari hari-kehari akan semakin mantap, karena keduanya terdidik oleh Kang Suganda dan Pak Dasim, secara terus menerus. Akhirnya obrolan mereka terhenti ketika waktunya mengajar bagi Herna sudah tiba. Herna mengajar anak-anak mengaji, waktu nya dari ba’da ashar sampai sebelum magrib, sedang kan di madrasah dari pagi jam tujuh sampai jam sepuluh siang. Kemudian Keduanya segera bangkit, Herna siap-siap untuk berangkat mengajar, sementara Dipa bergegas untuk pulang.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Dipa berniat untuk mengolah makan-makanan untuk nanti. Dipa segera pergi kebelakang dengan maksud akan mengambil ikan. Dan setelah itu dia mengurusnya. Kemudian ia menanak nasi untuk menambah nasi tadi pagi. Dan Ketika pak Dasim dan Dipa selesai solat magrib, lalu keduanya makan. Sambil makan keduanya ngobrol. Awal membicarakan tentang kedatangan para mahasiwa dengan segala rencana-rencananya. Tanggapan Pak Dasim tentang itu, biasa-biasa saja seperti tidak ada yang serius, malah perhatian pak Dasim tertuju pada keberadaan Dipa dan Herna. Pak Dasim memberikan
tanggapan tentang Herna, katanya Herna adalah gadis harapan masa depan. Kata Pak Dasim lagi, Sulit untuk mencari gadis yang sebanding dengan dia. Diceritakan tentang diri Herna demikian, Pak Dasim sengaja ia ingin tahu, reaksi Dipa dan bagaimana cara-nya dalam menanggapi hal tersebut..