Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 35


__ADS_3

Hari minggu pagi-pagi, kira-kira jam setengah delapan, wiranta sudah berada di kampung bahari. Setibanya disana, wiranta langsung saja pergi menuju rumah Dipa. Kebetulan ketika wiranta tiba disana, Dipa belum kemana-mana.


Sehingga wiranta bisa bertemu dengan Dipa. Baik Wiranta maupun Dipa, kedua sahabat itu memang sangat rindu, dan jangan heran bila keduanya saling mengekspresikan kerinduannya masing-masing. Dipa dan wiranta nanya ini nanya itu, bagaimana, bagaimana katanya. Terutama, Wiranta yang tentunya sangat penasaran dengan pengalaman yang dialami oleh Dipa, sebab Dipa pada saat itu sedang dalam keadaan sakit. Kata wiranta, sebenarnya ia mencari dengan teman-temannya, itu semua dikarenakan sangat khawatir. Malah kata wiranta lagi, ia menyempatkan pergi ke rumah guru silatnya, maksudnya hendak meminta bantuan. Tapi sayang, gurunya sudah tidak ada ditempat, hal itu dibuktikan berkali-kali wiranta kesana, gurunya tetap saja tidak ada. Wiranta mengatakan sampai dirinya merasa putus asa dan pasrah. Sebab siapa sangka kalau akan selamat, karena faktanya demikian tapi, entah gimana kalau hati kecil memang punya firasat lain, seperti punya keyakinan bahwa Dipa masih hidup. Hanya saja belum punya fakta. Sebagaimana wiranta, Dipa pun menuturkan pengalamannya dari semenjak ia


pulang dari klinik sampai ia bertemu dengan orang-orang yang akan membuat keonaran. Tentu saja kekagetan Wiranta tidak saja pada cerita tentang guru misteriusnya, tapi juga Wiranta sangat kaget oleh orang-orang yang akan berniat jahat itu. Makanya kata Dipa sejak saat itu keamanan sangat ditingkatkan. Setiap malam di kampung Bahari selalu saja diadakan ronda. Dipa sangat khawatir bila suatu saat mereka akan kembali mendatangi kampung Bahari.


Akhirnya setelah mereka puas melepaskan rindu, Dipa segera mengajak wiranta sahabatnya, untuk botram, masak- masak. Tentu saja wiranta sangat setuju. Namun Wiranta mau kerumah pamannya, ada perlu untuk menyampaikan sebuah pesanan, membuat perabot dapur. Dan tentunya mau mengajak Herna untuk diajak kesini. Dipa cuma tertawa. Sementara Wiranta pergi menuju rumah Herna, maka Dipa pun segera pergi ke warung untuk membeli sayuran. Ketika Dipa pulang dari warung, Wiranta belum kembali. Dipa sambil menunggu Wiranta, segera ia mancing ikan lele. Empat ekor lele yang cukup besar. lumayan dagingnya sangat pungkil, lezat dan gurih. Ketika Wiranta dan Herna datang, Dipa segera meminta Wiranta untuk menyembelih ayam. Kata Dipa ayamnya sudah cukup untuk disembelih. Biar nanti akan beli penggantinya sebagai bibit. Tentu saja Wiranta segera melaksanakan permintaan Dipa tersebut. Dua ayam jago besar-besar, saat itu juga sudah disembelih oleh Wiranta yang dibantu Dipa. Sedangkan Herna segera mendidihkan air untuk merebus ayam tersebut. Sementara Dipa segera menanak nasi liwet. Beres nasi liwet, kemudian wiranta, segera menggatinya dengan katel. Dan setelah katelnya panas, maka segeralah menuangkan minyaknya. Dan ikan-ikan lele yang sudah dibersihkan juga sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, maka segeralah digoreng. Selesai menggoreng ikan, maka dilanjutkan dengan membuat


gulai ayam dengan campuran kentang dan kacang merah. Pokoknya makan besar.


"Dip, aku mau minta antar, aku ada perlu ingin menemui seseorang yang ingin membuat alat pengiris kerupuk" Kata Wiranta.


"Kapan?" Tanya Dipa.


"Nanti selepas dzuhur! Kata Wiranta


" yah baik!" ujar Dipa sambil melirik ke Herna.


Dipa segera bangkit membantu Herna beres-beres. Dipa segera membawa


semua makanan yang masih tersisa. Sementara wadah yang kotor, dikumpulkan untuk


dicuci.

__ADS_1


"Biar kan Dik, akang yang mencucinya." cegah Dipa, ketika tahu, Herna akan mencuci.


"Ah biar kang Dipa." Sahut Herna sambil melemparkan senyumnya.


" yah sebut saja pelatihan yah Her, nanti juga akan seperti ini. Hehehe..." Kata Wiranta menggoda.


"Ah Kang Wiranta bisa saja." Tukas Dipa.


"Dip aku sangat penasaran dengan orang-orang yang membuat keonaran itu maunya memang seperti itu?" Tanya Wiranta.


"Memang, kata mereka harus menghentikan kegiatan kepesantrenan." Tegas Dipa


"Inilah yang membuat saya penasaran. Pasti mereka itu bukan orang baik-baik, masa melarang kegiatan belajar." ucap wiranta dengan geram.


"Yah namanya juga didunia seperti ini." Tukas Dipa.


"Oh ya gimana Dip rencana kalian, sudah sampai dimana persiapannya?"Tanya Wiranta.


"Kami berencana menikah, kurang lebih satu bulan lagi, dan kini sedang mempersiapkan segala keperluannya. Termasuk membuat undangan dan lain-lain. Kami rencananya akan melaksanakan perayaan nikah ini secara sederhana saja. Hanya memenuhi sarat syah secara hukum." Tegas Dipa


"Iya memang begitu baiknya." Sahut Wiranta setuju.


Setelah solat dzuhur Wiranta dan Dipa segera pergi sesuai rencana tadi, akan menemui orang yang memesan alat pengiris kerupuk. Selanjutnya Wiranta dan Dipa segera berangkat menuju kediaman orang yang dimaksud. Keduanya menempuh jalan kampung, sebab tempat yang dimaksud, sebenarnya tidak begitu jauh. Makanya mereka memutuskan untuk berjalan saja tidak menggunakan kendaraan bermotor. Hal itu dimaksudkan supaya bisa ngobrol. Dipa yang selama satu tahun lebih tidak tahu perkembangan di kampung Bahari, ia sebenarnya kaget dengan perkembangan yang ada. Ia melihat suatu perubahan positif terjadi. Dipa kemarin menyaksikan berapa anak-anak memperlihatkan sikap dewasanya, mereka menceritakan dirinya memiliki tugas untuk melakukan persiapan kearah masa depan. Kata mereka sekarang, anak-anak jangan terlalu divonis bahwa mereka identik dengan bermain. Tapi mereka sebenarnya identik dengan suku candang atau generasi yang harus diperhatikan kesiapannya. Memang sampai saat ini belum nampak ada tanda-tanda bahwa hasil dari sekolah itu spontan terlihat membudaya dimasyarat. Tapi mudah-mudahan saja dari apa yang dirintis di Desa Rawa Mutu, Kampung Bahari ini bisa dijadikan proyek percontohan untuk kampung-kampung yang lainnya. Memberi contoh kebaikan, belum tentu akan mendapat respon sesuai dengan harapan, tapi kita sering dikagetkan, kalau masalah kejelekan meskipun

__ADS_1


tidak dicontohkan prosesnya juga, kalau dalam kenyataanya aneh, terbukti mendadak datang sendiri inspirasinya. Maka kita sering pula menyaksikan atau mendengar pengalaman seseorang yang mengalami, reaksi sebaliknya dari seseorang. Maksudnya tak semua kebaikan yang dilakukan seseorang akan otomatis dianggap sebuah kebaikan, tidak... tidak, mungkin saja kalau budaya disuatu daerah lain, hal itu akan terjadi sebaliknya.


Selanjutnya tidak terasa Dipa dan Wiranta sudah sampai di tempat tujuan, setelah sebelumnya mereka asyik mengobrol. Setibanya disana Dipa dan Wiranta langsung saja mendatangi sebuah rumah dipinggir kampung. Rumah itu miliknya Bang Domil. Setibanya Wiranta dan Dipa, bang Domil langsung menyambutnya dengan raut


muka yang ramah.


"Waduh syukur Guru datang hari ini saya sangat menanti dari kemarin, rencananya hari ini dengan teman saya mau kesana juga. Untung guru keburu datang, biar saja kita tunggu disini." Ujar Bang Domil sambil mengulurkan tangan pada Wiranta dan Dipa. Kemudian disambut oleh keduanya.


Wiranta hanya tersenyum.


"Eh begini Bang gimana soal pesanan itu, apa jadi dipesan?" Tanya Wiranta


"Oh tentu makanya saya dengan teman berencana mau kesana sekarang, tapi, yaitu menunggu teman, teman saya barangkali masih dijalan, perjalanannya lumayan jauh." Ujar Bang Domil sambil pandangannya kearah jalan, kalau-


kalau temannya terlihat.


"Oh ya." Sahut wiranta.


"Begini guru, saya dan teman saya sangat tertarik pada program yang dilaksanakan di Kampung Bahari itu, oleh karenanya kami ingin berbincang-bincang. Nanti tunggu teman saya ,dia akan menceritakan segalanya." Tutur Bang Domil.


"Orang mana?" Tanya wiranta


"Kalau orangnya, orang sini namun dia nikah dengan orang Kota Banda, dan kebetulan disana dia dipercaya sebagai pengelola sebuah madrasah, nah kemarin aku dan dia pergi ke sana tapi kebetulan guru makanya saya ngobrol dengan pamanmu, awalnya yah hanya ngobrol sekitar bisnis tapi lama-lama kami jadi beralih menceritakan keadaan program pendidikan, yaitu teman saya sangat kaget dengan sikap anak-anak dan cara bicaranya. Tadinya ingin bicara banyak tapi saya ingin bicara dengan guru, makanya saya pesan sama paman mu, agar nanti kalau guru datang suruh kesini ke rumahku, karena kata pamanmu bahwa guru selalu datang setiap hari minggu atau hari ahad. Tadinya dia, teman saya tidak akan kemana-mana tapi mendadak ada kepentingan, dan sekarang dia sedang pergi dulu, berangkatnya tadi pagi. Sebenarnya dia orang sini, sebab orang tuanya juga asli orang sini." Papar Bang Domil.

__ADS_1


"Hm begitu." Kata Wiranta sambil mengangguk.


Beberapa saat kemudian orang yang ditunggu-tunggu sudah datang, dan setibanya disana, langsung disambut oleh Bang Domil dan langsung di perkenalkan pada Wiranta dan Dipa.


__ADS_2