Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 14


__ADS_3

Di dalam lubang atau terowongan, sangat gelap.


“Nak, cepat nyalakan lilin!”  Perintah pak Dasim.


“Baik.”  Sahut Dipa.


“Biar bapak yang memegang karung.”  Kata pak Dasim.


Setelah di dalam lubang itu terang, terlihat keadaan disekitar lubang, keadaanya seperti terowongan yang memanjang, namun jalan terowongannya menurun. Lebar terowongan kira-kira sekitar dua meter kurang, jalan disekitar terowongan itu adalah tanah yang sedikit agak lembab. Pak Dasim dan Dipa terus menelusuri terowongan.


“Pak, sebentar, itu tongkatnya mau dipakai!”  Kata Dipa sambil tangannya meraih tongkat yang terselip di ransel pak Dasim.


“Ohhh ya…” Kata pak Dasim sambil menghentikan langkahnya.


Setelah Dipa mengambil tongkat, lalu Dipa menggunakan tongkat itu sebagai alat penuntun. Setelah itu keduanya segera menelusuri jalan terowongan dengan tuntunan tongkat. Perjalanan mereka menelusuri terowongan itu lumayan memakan waktu yang lama. Hampir keduanya dibuat khawatir, tapi hal itu bagi mereka tidak ada pilihan, bagi keduanya selain terus melangkah. Sebenarnya hati dan pikiran pak Dasim, masih tidak bisa melepaskan kejadian yang barusan terjadi dari ingatan dan perasaannya. Dirinya sangat tidak tega melihat keadaan orang tadi apa lagi harus meninggalkannya. Tetapi itu semua terpaksa dilakukannya. Dan ada sesuatu yang berkecamuk dalam hati dan pikiran pak Dasim tentang orang itu, siapa dia, orang mana dia, dan mengapa ia terlalu mengkhawatirkan dirinya, padahal keadaan tubuh orang itu lebih parah ketimbang dirinya. Bayangkan, pisau yang menancap di punggungnya saja balum sempat ia cabut.


“Ahhh benar-benar aneh!”  Desah pak Dasim.


“Pak aku mengerti, Tapi kita tidak bisa apa-apa, orang tadi seperti sudah memaklumi semua ini, buktinya ia lebih mementingkan keadaan kita bisa selamat ketimbang dirinya yang dianggap sudah tipis harapan.”  Tutur Dipa sambil tetap perhatiannya kedepan.


“Ya begitu, tapi itu sebuah pengorbanan! Sementara kita, tidak tahu siapa dia.”  Tukas pak Dasim.


“Iya pak, mudah-mudahan saja apa yang ia lakukan ini menjadi sebuah doa bagi rencana kita. Sehinggan apa yang dilakukannyapun, mudah-mudahan menjadi perbuartan yang mulia, aamiin.”  Tukas Dipa.


“Yah mudah-mudahan!”  Seru pak Dasim.


Sebenarnya bagi pak Dasim, tidak mudah begitu saja, melupakan orang tadi, dan seandainya keadaan tidak sedalurat ini, tentu dirinya ingin lebih tau lagi, siapa sebenarnya orang tersebut, yang telah merelakan hartanya.


Lebih-lebih sekarang ia menemukan lubang rahasia atas petunjuk orang itu. Apakah lubang ini dibuat oleh dia sendiri, atau masih ada teman-temanya yang menyebabkan keberadaan lubang ini. Kalua ada teman-temannya kenapa barang-barang miliknya ini diberikan pada dirinya? Atau memang pertimbangan darurat! Pikir pak Dasim dalam hati.


Entah berapa lama mereka berjalan di dalam terowongan, yang jelas beberapa saat kemudian pak Dasim dan Dipa melihat seberkas cahaya, yang berarti berkas cahaya itu berasal dari ujung terowongan.

__ADS_1


“Waduh…panjang sekali terowongan ini, Bapak yakin nak Dipa, terowongan ini bukan pekerjaan mendadak, tapi barang kali terowongan ini telah lama dibuat sebelumnya.”  Tutur pak Dasim.


“Iya.”  Sahut Dipa.


Setelah keduanya berada diujung lubang, pak Dasim segera memeriksa tulisan yang ada di peta. Didalam peta itu terdapat tulisan hasil panen. Demi melihat tulisan tersebut, pak Dasim mengkerutkan dahinya.


“Nak Dipa, ini yang terakhir yang harus kita pecahkan.”  Ujar pak Dasim.


“Apa itu pak?”  Dipa penasaran.


“Ini dalam peta lihat, ada tulisan hasil panen, nah menurut nak Dipa apa artinya?”  Tanya pak Dasim, tapi juga bertanya pada dirinya.


Dipa diam, ia segera mengarahkan cahaya dari lilinnya kesekitar dinding terowongan, jarak mereka keujung lubang itu, kira-kira puluhan meter. Dipa segera menuju sebuah tumpukan batu yang ada di depannya.


“Apa ini pak?”  Tanya Dipa sambil tangannya yang memegang tongkat itu lalu diketuk-ketuk pada batu itu.


“Entahlah….”  Kata pak Dasim, sambil segera memburu tumpukan batu itu. Pak Dasim kemudian berjongkok lalu mengangkat batu-batu itu.


“Apa ini wasiat dari orang pak?”  Tiba-tiba tanya Dipa.


“Entah, tapi nampaknya mungkin”  Terka pak Dasim.


“Apa ini diberikan pada kita?”  Tanya Dipa.


“Kalau amanatnya memang demikian.”  Tegas pak Dasim yakin.


“Lantas bagaimana?”  Tanya Dipa ingin tahu pendapat pak Dasim.


“Yah kita ambil saja!”  Kata pak Dasim.


Setelah keduanya sepakat, maka tidak membuang waktu lagi Dipa segera memindahkan bungkusan-bungkusan plastic kecil itu kedalam ransel.

__ADS_1


“Ada sepuluh bungkus pak.”  Kata Dipa.


“Iya nak, biarkan nanti kita periksa.”  Kata pak Dasim.


Setelah segalanya dianggap beres, kemudian pak Dasim dan Dipa, berjalan menuju ujung terowongan. Dipa segera mematikan lilin. Sementara sinar matahari menerobos disela semak-semak penutup lubang itu. Setelah keduanya berada diujung lubang pak Dasim melihat sebatang pilar bambu melintang diujung lubang. Tanpa banya pikir lagi, pak Dasim segera menarik pilar bambu itu. Begitu pilar bambu itu dicabut oleh pak Dasim, mendadak semak-semak yang menutupi lubang, terbuka. Lalu keduanya segera keluar dengan perasaan lega.


Setelah berada diluar terowongan, pak Dasim membagikan pandanganya ke sekeliling sekitar terowongan.


Pemandangan disekitar terowongan, sengat indah. Dari arah itu, pak Dasim bisa melihat lebih jauh ke arah dibawahnya. Ia melihat jalan terlintas sepanjang perbatasan bukit. Dan iapun melihat ada sebuah truk yang sedang parkir.


“Nak Dipa, cepat kebawah.”  Ajak pak Dasim.


“Baik pak.”  Sahut Dipa.


Selanjutnya pak Dasim dan Dipa segera bergegas kebawah, setelah sampai disana, pak Dasim menghampiri truk itu. Betapa senangnya hati pak Dasim dan Dipa setelah melihat dibalik truk ada sebuah warung. Selain pak Dasim bisa makan-makan di warung itu, dia juga bisa bertanya-tanya  tentang arah jalan.


Setelah keduanya selesai makan dan istirahat, pak Dasim melanjutkan obrolannya dengan si pemilik warung, dan menjelaskan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang, harapan pak Dasim mencoba mencari keterangan dari si pemilik warung tersebut, siapa tahu si pemilik warung, bisa memberikan keterangan yang diharapkan.


Setelah si pemilik warung tahu maksud pak Dasim demikian, lalu ia si pemilik warung menyarankan agar pak Dasim ikut menumpang truk tujuan Pasar Lembah Datar.


“Bapak sebaiknya ikut menumpang truk itu saja, karena truk itu bertujuan kesana, nanti bapak disana melanjutkan lagi perjalanan ke Kampung Muara Tanjung.”  Kata si pemilik warung.


“Terimakasih mbak.”  Kata pak Dasim.


“Sama-sama pak!”  Tukas si pemilik warung.


Selanjutnya pak Dasim dan Dipa dititipkan oleh si tukang warung pada sopir truk itu, agar di antarkan ketujuannya. Dan setelah si sopir truk bersedia membawa pak Dasim dan Dipa. Maka keduanya siap-siap untuk ikut menumpang truk itu. Beberapa saat kemudian truk siap berangkat, pak Dasim dan Dipa segera naik kedalam bak truk tersebut. Ternyata truk itu memuat kelapa untuk dijual ke kota. Kebetulan muatan truk tidak terlalu penuh, sehingga pak Dasim dan Dipa merasa nyaman didalamnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, pak Dasim dan Dipa, diceritakan sudah sampai disebuah tempat tertentu, yaitu Kampung Lembah Datar. Pak Dasim dan Dipa segera turun. Setelah pak Dasim, membayar ongkos tumpangannya, pak Dasim segera melanjutkan untuk mencari tempat atau warung yang bisa dipakai istirahat oleh mereka. Berhubung hari sudah sore pak Dasim dan Dipa beniat untuk mencari penginapan. Dan kebetulan warung yang disinggahinya itu bersedia membantu pak Dasim dan Dipa, untuk menginap.


Pagi-paginya pak Dasim melanjutkan perjalanan. Untuk itu mereka segera mencari tumpangan kearah Muara Tanjung, yaitu sebuah kampung pusat pelelangan ikan. Seperti halnya perjalanan sebelumnya, kali ini pun perjalanan mereka tidaklah sebentar. Saat itu pun mereka sedang berada didalam truk pengangkut semen, yang kebetulan sedang kosong. Pak Dasim dan Dipa tidak duduk dibelakang, tapi kali ini mereka duduk didepan dekat sopir. Kira-kira waktu sudah hampir sore, pak Dasim dan Dipa sudah sampai di tempat tujuan, yaitu pasar ikan Muara Tanjung.

__ADS_1


Pak Dasim kemudian mencari warung nasi, kebetulan didekat pelelangan ikan, ada warung nasi yang setiap harinya selalu ramai, terutama pagi dan sore, seperti saat itu. Kebanyakan yang makan disana adalah para nelayan.


__ADS_2