
Pak Dasim dan Kang Suganda, mendadak pucat, Ketika melihat pemandangan didepannya, hatinya mendadak remuk redam, melihat sosok pemuda yang tadinya lincah aktif dan trampil, kini mendadak, terkulai tak sadarkan diri. Herna yang semalaman menunggu, tak sekejap pun ia tidur atau terbujur untuk sekedar istirahat. Tapi ia terus terjaga. Karnanya Pak Dasim meminta Herna untuk pulang, biarkan yang jaga adalah dirinya. Mulanya Herna menolak, tetapi setelah mendapat saran dari kang suganda bahwa Herna harus persiapan dan istirahat, jangan sampai nanti semuanya terkena hal-hal yang tidak diinginkan.
“Herna, Pulang dulu, nanti gampang kalau sudah istirahat.” Kata Kang Suganda sambil menepuk Pundak Herna sepupunya.
“Iya Kang.” Tukas Herna sambil melirik kearah Kang Dipa, hatinya sangat berat untuk meninggalkan kekasihnya itu.
Setelah dianggap cukup Pak Suganda dan Herna segera Pamit sama Pak Dasim, Kata Kang Suganda.
“Pak Dasim nanti sore saya kesini lagi, Pak Dasim nanti tahu hasil pemeriksaan dokter, dan keputusan selanjutnya kita tunggu saja."
Sorenya menjelang magrib kang Suganda dan Wiranta sudah berada diasana. Tentu saja ia merasa tak tega melihat keadaan Dipa sahabatnya, yang nampak lemah tak berdaya.
“Bagaimana Pak Dasim?” Tanya Kang Suganda dengan tatapan yang penuh kepenasaranan.
“Kalau siuman sudah, tapi cuma sebentar, selanjutnya tidur.” Tutut Pak Dasim. Sambil melihat wajah Dipa yang kedua matanya terpejam. “Dan sekarang sedang menunggu Tes urine nanti bada isya datangnya!” Tambah pak Dasim.
Pak Dasim dan Kang Suganda akhirnya berbincang-bincang untuk membicarakan Langkah selanjutnya. Kata pak Dasim walau bagaimana keputusan selanjutnya, nanti menunggu kabar selanjutnya. Dan kira-kira jam 7 tujuh, tes urine dan hasil ronsen sudah ada. Menurut hasil tes labolatorium dan diagnose hasil ronsen, ternyata Dipa tidak geger otak, tapi beberpa organ tubuh mengalami keruksakan fatal, diantaranya tulang rusuk ada yang retak, dan tulang paha patah. Kang Suganda setelah mengetahui hasilnya demikian akhirnya memutuskan hari itu juga Dipa akan dibawa pulang dulu kerumah untuk selanjutnya akan dibawa ke rumah sakit pemerintah yang ada di kota itu. Selanjutnya Pak Dasim menguruskan administrasi pembayaran sewa inap dan perawatan, setelah semuanya beres, seterusnya mereka bergegas membawa Dipa pulang menggunakan mobil yang tempo hari digunakan.
Besoknya Di kampung Bahari geger tentang nasib yang menimpa Dipa, masyarakat sekitar kampung itu banyak yang melayat. Sekiranya yang mengenal Dipa dan apa lagi yang akrab dengan Dipa, sudah pasti mereka akan datang untuk melayat. Sementara Pak Dasim, Dan Keluarga Herna sedang Harap-harap cemas menunggu kabar dari kang Suganda. Kang Suganda sedang pergi mendatangi rumah sakit pemerintah untuk memdaftarakan perawatan Dipa. Kira-kira ba'da ashar Kang Suganda sudah datang, membawa kabar bahwa Dipa bisa dirawat disana. Tapi yang namanya manusia, benar-benar hanya punya rencana, sementara yang menetukan kepastian, hanyalah yang maha kuasa. Seperti yang terjadi pada Dipa, tidak disangka-sangka harapan meleset dari kenyataan.
__ADS_1
Kira-kira tengah malam, dimana suasana sangat sunyi senyap, tiba-tiba rumah Dipa kedatangan tamu tak di undang. Tamu itu sepertinya bukan pencuri, sebab kenyataannya tidak membawa harta apapun dari rumah Dipa, tapi sepertinya hanya perlu untuk menculik Dipa. Untuk kepentingan apa ?, orang itu menculik Dipa nampaknya
belum bisa dijawab. Diketahui Dipa sudah tidak ada, Ketika Pak Dasim bangun pagi-pagi menjelang sholat subuh. Tiba-tiba kaget sebab ia tidak melihat Dipa berada ditempat tidurnya. Pak Dasim sangat panik, Dan Ketika adzan subuh berkumandang Pak dasim segera memburu ke masjid. Dan Ketika selesai sholat subuh, lalu Pak Dasim menceritakan kejadian itu pada Kang Suganda. Tentu saja Kang Suganda dibuat Kaget. Dan seketika itu juga segera mengadakan pencarian dengan meminta bantuan Warga. Tapi usaha Kang Suganda, Pak Dasim yang dibantu warga itu nampaknya sia-sia, Dipa tidak ditemukan. Menghadapi kenyataan seperti itu, Pak Dasim sangat terpuruk. Dia dibuat mati kutu. Apakah ini pertanda buruk, seperti yang pernah ia alami sebelumnya. Demikian kira kira pertanayaan Pak Dasim dalam hatinya. Dia untuk sementara terlihat begitu lepas control, emosinya meledak ledak. Untung Kang Suganda mampu menengkan hati Pak Dasim. Tidak hanya Pak Dasim yang mengalami keadaan panik dan lepas control itu, tapi lebih-lebih yang menimpa Herna. Herna yang sudah siap-siap akan ikut
mengantar kerumah sakit, tiba-tiba mendadak jatuh pingsan setelah mendengar Dipa ada yang menculik. Dan Ketika ia siuman tak bisa ditahankannya lagi tangisannya meledak. Sementara Pak Danu dan Bu Mae segera melerai Herna dengan kata-kata yang menghibur dan penuh nasihat. Bu Mae mengatkan, bahwa orang yang mencoba akan melangkah kearah kebaikan, pasti akan banyak godaannya termasuk pada Herna. Kata Bu Mae Herna harus tegar dan sabar, jangan sampai lepas control, nanti bukannya bisa menyelesaikan masalah, tapi sebaliknya akan menabah masalah. Mendengar nasihat ibunya, Herna hanya bisa memeluk ibunya. Herna seketika itu juga, melampiaskan kesedihanya, dengan memeluk ibunya serat-erat mungkin.
“Tenang nak, tenang jangan heran, inilah ujian untuk kita, kita harus sabar menerima cobaan ini. Kita jangan terbawa arus! Sebaiknya kita banyak berdo’a dan memohon ampun pada yang maha kuasa.” Nasihat Bu Mae pada anaknya, Herna.
“Iya bu!” Angguk Herna sambil menghapus air matanya dengan kedua telapak tangan.
“Kapan kejadiannya bu?“
Herna terdiam lalu ia bangkit, maksudnya hendak menemui Pak Dasim. Tapi mendadak ibunya melarang. Katanya nanti juga Pak Dasim akan menemuinya. Ibunya Herna sangat khawatir dengan kondisi anaknya itu, makanya Bu mae tidak pernah lepas menjaga anaknya. Bu Mae sangat ketakutan bila anaknya terbawa arus kesedihan. Tetapi ia percaya bahwa anaknya, sudah cukup dewasa pemikirannya, dia Herna tidak akan mudah lepas control begitu saja.
Sehari dua hari sampai sebulan, Dipa tidak ada kabarnya. Tentu saja keadaan ini membuat terpuruk semua orang yang mencintainya termasuk keluarga Herna, Kang Suganda , anak-anak dan terlebih lebih Pak Dasim. Tapi ini semua, ujian yang sangat berat bagi Pak Dasim dan Herna. Pada suatu hari Ketika Herna pulang mengajar, entah bagaimana awalnya tiba-tiba, anak-anak pada berlarian, memburu Herna.
“Ada apa kalian ini?” Tanya Herna, sambil kedua tangannya mengusap kepala anak-anak.
“Kapan bu Kang Dipa pulang?” Tanya salah seorang anak-anak yang terlibat Latihan sepak bola.
__ADS_1
Herna menatap anak itu, tatapan Herna sepertinya mengisaratkan agar anak-anak jangan bertanya demikian. Karena hanya dirinyalah yang paling merasakan kepedihan kehilang Dipa.
“Kalian sudah jangan menanyakan kang Dipa, ibu jadi sangat sedih dan Kembali teringat!” Pinta Herna pada anak-anak dengan suara memelas. Sudah kalian pulang yah!“ Kata Herna sambil selanjutnya berlari.
Memang siapa orangnya yang tidak akan merasa kehilangan dan kesedihan yang mendalam apa bila tiba-tiba orang yang dianggap dekat atau dicintai tiba-tiba menghilang begitu saja. Kalau kurang-kurangnya Herna kuat, sabar dan tabah pasti akan berakibat fatal. Herna bukan tipe gadis cengeng yang mudah putus asa. Tapi Herna adalah gadis yang sudah terdidik, oleh Pendidikan agama. Sedikit banyaknya ia bisa mengendalikan diri. Walaupun tidak jarang hal-hal yang membuat dirinya sedih atau kesal selalu saja datang menggodanya. Seperti saat itu, Ketika ia pulang mengajar agama di SD, tiba-tiba di perjalanan ia bertemu dengan Si Dodi. Tentu saja Si Dodi sangat merasa kebetulan Ketika ia bertemu dengan Herna. Ada saja perbuatan iseng Si Dodi yang membuat Herna menjadi kesal.
“Betul kan Her! Kata Bang Dodi juga, bahwa satu hari sebelum janur kuning ditancapkan di depan rumah, Calon pengantin adalah masih milik Bersama” Kata Si Dodi tanpa ada beban atau perasaan khawatir atau apa, bila orang yang mendengarnya akan tersinggung.
Herna tak menjawab, dan tak menanggapi apa-apa atas sikap Si Dodi demikian. Tapi ia terus mempercepat langkahnya. SI Dodi malah terus mengikuti Herna, tapi untung tiba-tiba Wiranta datang, maksud Wiranta memang, ia bermaksud mau menemui pamannya dan sekaligus mau memantau perkembangan.
“Hai Dodi kamu jangan mengganggu adik ku, kamu akan saya laporkan ke pak lurah!” Ancam wiranta sambil menjambak tangan Si Dodi.
Kurang-kurangnya Wiranta bisa menahan emosi, sudah digimanain tuh si Dodi. Dia orang tak tahu diri, mengoda orang yang sedang dalam keadaan susah. Wiranta sangat mengkhawatirkan keadaan Herna yang sedang dalam keadaan duka nestapa karena ditinggalkan oleh Dipa calon suaminya. Yang tentunya kalau terus menerus mendapat perlakuan yang membuat dirinya kesal, jangan-jangan nanti bisa meledak emosinya. Melihat Wiranta marah Si Dodi segera berlalu tanpa mengeluarkan kata-kata apapun. Setelah Si Dodi tidak ada, wiranta baru melirik ke Herna.
“Her mamang ada?” Tanya Wiranta.
“Mungkin ada!” Jawab Herna
“Yuk, akang juga ada keperluan pada ayah mu. Ada pesana membuat alat penggiling baso.” Ajak wiranta sambil membimbing tangan Herna.
__ADS_1
Selanjutnya Wiranta dan Herna segera berlalu menuju rumahnya.