Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 1


__ADS_3

Dipanggil ke ruang kepala sekolah seperti sudah menjadi kebiasaan Alex selama sebulan ini. Kalau dihitung, dalam satu bulan ia sudah dipanggil ke ruang kepala sekolah sampai lima kali. Hal ini tentu saja sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi cowok bername tag Alexis Ajibrata tersebut.



Kasusnya pun tidak jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, apalagi kalau bukan karena sifat nakalnya yang sudah kelewat batas itu. Kadang itu membuat anak lain bingung, ngidam apa mamanya dulu sampai dia punya gen senakal ini.



Kasusnya Alex pun mulai dari yang biasa yaitu berkelahi dengan salah satu murid sekolah di sini, membuli siswa cupu, sampai dengan mempermalukan seorang cowok dengan membuatnya hanya mengenakan celana boxer dan kaos dalam untuk keliling lapangan. Dan kasus terakhir yang paling parah adalah dengan sengaja memasukan obat tidur ke minuman salah satu anak hingga anak itu seharian tidak bangun.



Berterima kasihlah karena kepala sekolah di sekolahnya itu adalah pamannya sendiri. Lebih bersyukur lagi karena Ajibrata --ayah Alex-- menjadi salah satun donatur terbesar di sekolah. Tentunya sudah tidak mengherankan kalau Alex tidak bisa dikeluarkan dari sekolah ini walaupun sudah banyak orang yang melaporkan segala perilakunya.



Begitu juga untuk saat ini ketika dirinya dipanggil oleh Anjar, sang kepala sekolah. Alex merasa begitu... santai. Menurutnya untuk apa cemas kalau ia sudah tahu bagaimana hasil akhirnya. Ia pasti tidak akan dikeluarkan bukan?



Alex mengepalkan tangannya lalu perlahan mengetukannya ke pintu ruangan kepala sekolah. Setelah mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk, ia memutar kenop pintu lalu melangkahkan kakinya ke dalam.



"Silahkan kamu duduk." Anjar yang sudah duduk di sofa mempersilahkan Alex untuk duduk di depannya. Dengan saling tatap muka pembicaraan ini rasanya akan semakin baik.



"Jadi ada urusan apa paman minta aku datang ke sini lagi?" Alex duduk di sofa tepat di depan Anjar. Dari posisinya yang sekarang kini ia bisa melihat tampilan Anjar yang sudah sangat kacau.



Rambutnya acak-acakan tidak tertata rapih dengan dasi yang sudah tidak ada pada tempatnya. Dua kancing teratas kemeja Anjar juga sudah terbuka, jangan lupakan lengan kemejanya yang sudah digulung sampai siku. Sungguh jauh dari kata berwibawa yang biasa Alex lihat selama ini.



"Kamu tahu gak kenapa paman manggil kamu lagi kesini?"



Alex menggelengkan kepalanya "Enggak lah. Kalau tahu, tadi aku gak bakalan nanya sama paman." ujarnya santai.



Anjar yang mendengar jawaban Alex hanya bisa menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Kemudian raut wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. "Ada berita buruk yang menyeret nama kamu, Alex. Berita buruk ini asalnya dari sekolah sebelah dan nama baik kamu disini dipertaruhkan."



"Berita buruk apaan?" Alex mengernyitkan keningnya dalam. Ia bahkan tidak tahu ada berita buruk apa yang dibicarakan pamannya yang sampai menyeret namanya. Kalau dari lingkungan sekolahnya, Alex masih bisa menebak, paling tidak jauh karena ada siswa yang mengadu karena kejahilannya.



Tapi ini dari sekolah sebelah, yang mana Alex jelas tidak tahu menahu soal apapun. Walaupun ia sering cari masalah sama anak di sekolahnya, tapi ia tidak pernah mencari gara-gara dengan sekolah sebelah.



"Berita buruk, Alex, berita buruk. Sangat buruk malah."



Alex berdehem sebelum mulai bicara lagi. "Mungkin paman cuman salah dengar. Aku tuh ya gak pernah berurusan dengan sekolah sebelah. Sama anak satu sekolah sendiri aja udah cukup, jadi gak minat buat masalah sama anak di luar sekolah ini."



Anjar terlihat sudah sangat frustasi. Ia melonggarkan kembali kerah bajunya agar lebih lebar. "Paman juga gak percaya waktu dengar berita ini. Awalnya paman kira juga beritanya bohongan dan nama Alex yang mereka bicarakan itu bukan Alex keponakan paman. Tapi begitu tahu kalau mereka bilang nama Ajibrata, paman beneran kaget. Siapa lagi yang bernama Ajibrata selain kamu." ujar Anjar panjang lebar.



Alex jadi bingung. Diputarnya kembali adegan demi adegan di otaknya kembali pada saat di mana ia mengerjai anak lain. Dan benar saja, ia tetap tidak menemukan fakta kalau ia sudah menjahili anak sekolah sebelah. Semua murni anak sekolahnya.



"Aku yakin gak pernah bermasalah dengan anak sekolah lain, paman. Mau seberapa keras aku mikir, aku gak ingat pernah melakukan itu."



Anjar memejamkan matanya mendengar Alex yang tetap tidak bisa mengingat perbuatannya ke anak sekolah lain. Apa mungkin ia akan mengatakannya langsung pada Alex tentang berita itu. Kalau sekali lagi ia minta Alex untuk mengingat dan tetap saja tidak tahu, baru ia akan mengatakan kebenarannya.



"Coba kamu ingat lagi, Alex. Kamu cari sampai ke dasar ingatan kamu. Kamu gali terus sampai ketemu. Mungkin kamu lupa karena banyaknya kegiatan yang kamu lakukan, jadi kejadian itu kamu lupakan begitu saja."



Alex jadi tambah bingung. Anjar bersikeras untuk membuatnya ingat kejadian yang bahkan Alex tak ingat sama sekali. Tidak mungkin kan Alex amnesia pada kejadian satu itu.



Alex mencoba berpikir dan menghembuskan nafas kasar karena tidak mendapatkan apa-apa. Malah hasilnya ia tiba-tiba saja merasa pusing karena berpikir terlalu keras tapi tak ada hasilnya.



"Kamu beneran gak ingat?" tanya Anjar yang malah menjadi cemas melihat wajah Alex memucat sesaat.



"Aku bukannya gak ingat, paman. Tapi emang beneran gak ngelakuin apa-apa."



"Kalau kamu gak ingat berarti berita buruk yang menyeret nama kamu itu bohong."



Benar, tadi Anjar memang mengatakan kalau ada berita buruk yang menyeret namanya di dalamnya. Dan Alex jadi memikirkan lagi, apa yang sudah ia perbuat sampai ada berita buruk mengenai dirinya di sekolah sebelah. Dan, satu pemikiran terlintas di otaknya.



"Paman, kayaknya aku sudah ingat kejadian yang paman maksud. Kejadian yang membuat nama Alex terseret di dalamnya."


__ADS_1


Setelah berkata itu, Alex dapat melihat kalau tubuh Anjar menegang. Ada apa dengan pamannya, apa kejadian itu berakibat terlalu fatal?



"Jadi kamu sudah ingat semuanya Alex? Jadi benar apa yang diberitakan di berita itu tentang kamu?" lihat, sekarang Anjar memijit keningnya. Merasa pusing memikirkan nasib Alex yang namanya bakalan tercermar kalau sampai berita ini semakin tersebar luas.



"Iya aku ingat. Tapi dulu kejadiannya juga beneran gak disengaja."



"Kamu bilang kamu gak sengaja?!" bentak Anjar membuat Alex terperanjat seketika karena kaget. Rasa sakit di kepalanya yang tadi datang mulai bertambah sakit. Tapi Alex tidak akan membiarkan Anjar tahu.



Pikirnya pamannya pasti sekarang sudah sangat pusing dengan masalahnya, dan kalau Alex bilang ia juga sakit kepala, nantinya malah dikira hanya ia hanya omong kosong semata. Pamannya itu akan mengira kalau itu hanya alibi agar Alex bebas dari interogasi sang paman.



"Iya emang aku gak sengaja. Tapi aku juga sudah tanggung jawab kok." ucap Alex santai.



Berbeda sekali dengannya yang santai, Anjar malah sudah kehilangan kata-katanya mendengar penuturan dari keponakan kesayangannya itu. Secara tidak langsung Alex mengiyakan berita itu, bukan? Dan itu menjadi pukulan berat baginya, dan juga pasti untuk orang tua Alex.



"Jadi kamu sudah bertanggung jawab sama dia?" tanya Anjar.



"Iya sudah lah paman. Aku gak akan sekejam itu jadi orang. Lagian dulu dianya nyebrang gak tengok kanan kiri dulu, main asal nyebrang aja. Jadinya dia sendiri kan yang sedikit keserempet motorku, Seperti yang Aku bilang tadi, aku juga sudah tanggung jawab kok. Anak yang keserempet itu tidak terluka parah, dan aku juga sudah membawanya ke rumah sakit. Masalahnya pun selesai sampai disitu."



"Alex..."



"Jadi sekarang masalahnya apa lagi? Apa dia tiba-tiba gagar otak gara-gara kecelakan waktu sama Alex setelah sekian lama? Dan dia sekarang minta ganti ru--"



"ALEX?!" bentak Anjar menginterupsi ucapan Alex membuat Alex seketika terdiam.



"Kamu ini lagi ngomong apa?!"



Dua kali dalam sehari ini Alex dibentak oleh Anjar. Mungkin baru dua kali dalam hidupnya dibentak oleh Anjar. Selama ini Anjar memang selalu bicara baik-baik padanya walau Alex selalu membuat masalah.



Tapi apa hanya karena masalah kecelakaan kecil yang bahkan sudah terjadi satu tahun yang lalu waktu ia masih kelas sepuluh membuat Anjar sebegitu marah padanya. Alex rasa itu tidak mungkin. Pasti ada sesuatu yang lebih besar daripada ini.




"Paman akan kasih tahu kamu masalahnya. Selama paman bicara, paman minta kamu jangan sekalipun mencoba menginterupsi, paham?"



Alex hanya mengangguk mengiyakan.



Anjar pun bersiap siap untuk bercerita. "Ada berita, atau lebih tepatnya gosip kalau kamu tidur sama salah satu anak perempuan sekolah sebelah."



Dilihat dari raut wajah Alex yang semakin pucat, membuat Anjar merasa lemas karena pasti berita itu benar. Lalu ia melanjutkan lagi.



"Sekarang anak perempuan itu hamil dan dikeluarkan dari sekolahnya. Dari kabar yang beredar itu kamu yang ngehamilin dia, karena foto kamu sama dia itu sudah tersebar luas di sekolah itu." kata Anjar dengan sekali tarikan nafas.



Jangan tanya bagaimana raut wajah Alex sekarang ini. Ia sudah pucat pasi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Anjar. Hatinya terasa baru saja jatuh dari ketinggian lalu hancur lebur di dasar.



Berita ini sungguh mengejutkannya hingga lidahnya terasa kelu untuk berucap satu katapun.



Anjar yang mendapati wajah Alex yang begitu kaget segera menginterupsi agar Alex sadar kembali. "Jadi sekarang apa kamu ingat sesuatu Alex?"



Suara Anjar masuk ke telinga Alex dan seketika ia ingat bayangan itu. Dimana ia saat itu sedang ke bar bersama teman-temannya dan ia berakhir melakukan sesuatu yang tak pantas itu dengan salah satu perempuan yang kebetulan disana. Tapi itu sungguh di luar kendali diri Alex, ia mabuk dan tidak tahu apa yang terjadi dengan jelas. Bahkan ia rasa perempuan itu juga baru pertama kali Alex melihatnya di sana, pantas saja, ternyata dia sekolah di sekolah sebelah.



Setelah kejadian itu Alex selalu berusaha melupakan kejadian yang terjadi tepatnya tiga bulan yang lalu tersebut. Dan hasilnya, terbukti sekarang Alex tidak ingat akan kejadian itu sampai akhirnya Anjar membawa berita yang sangat mengejutkannya ini.



"Alex, paman tahu kamu juga pasti terkejut. Tapi paman akan memastikan sesuatu sebelum semuanya menjadi fitnah, apa benar kamu yang melakukan itu semua?"



Alex mengerjapkan matanya menatap ke arah Anjar yang juga sedang menatap tepat ke manik matanya berusaha mendapat jawaban Alex sejujur mungkin.



"Kalau soal melakukan itu, iya, aku memang pernah melakukannya tap--"

__ADS_1



Ucapan Alex terhenti karena Anjar sudah memotongnya dahulu.



"Astaga Alex?! Apa kamu gak takut dosa, gak mikir gimana perasaan orang tua kamu nantinya kalau mereka tahu kamu udah melakukan hal yang belum sepantasnya dilakuin anak sekolah kayak kamu!."



Ucapan Anjar benar-benar menohok hati Alex. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah kecewa dari ayah dan ibunya nanti.



"Kapan kamu melakukannya Alex?"



"Mungkin tiga bulan yang lalu, paman." suara Alex sedikit tersendat.



"Apa kamu menjaga kemanannya saat itu, Alex?"



Alex menggeleng lemah. "Aku gak tahu paman. Sungguh, itu kejadian gak pernah direncanakan sebelumnya. Aku mabuk, paman, dan gak tahu apa yang sudah aku lakukan. Yang Alex tahu adalah waktu bangun ada cewek itu di sampingku dengan kondisi sama seperti Alex."



"Terlepas dari sadar atau tidaknya kamu ketika melakukannya, kalau itu benar darah daging kamu, sudah seharusnya kamu tanggung jawab Alex."



Tanggung jawab? Astaga, apa itu artinya Alex harus berhenti sekolah dan akhirnya menikah? Menikah dengan seseorang yang bahkan tidak ia ketahui namanya dan bagaimana wajahnya.



"Tapi ada kemungkinan bukan kalau itu bukan anakku, paman. Itu terjadi tiga bulan yang lalu."



"Paman juga berharap seperti itu Alex. Paman akan mencari tahu tentang cewek ini dan anak yang dikandungnya. Doakan saja kalau bukan kabar buruk yang paman dapat nanti."



"Semoga saja paman." Alex berharap apa yang dikatakan Anjar memang benar adanya.



"Tapi kamu jangan berbahagia dulu, karena pengurus sekolah ini semua tahu gosip tentang kamu ini. Beruntung paman bertindak cepat jadi gosip ini tidak sampai menyebar luas ke seluruh sekolah kita. Hanya para guru dan komite sekolah yang tahu akan ini. Dan mereka semua sedang mempertimbangkan tentang pengeluaran kamu di sekolah ini."



Apa lagi ini, tadi ia diberitahu kalau gosip dirinya menghamili siswi sekolah lain dan sekarang kabar kalau ia akan di keluarkan? Rasanya hari ini menjadi hari tersial bagi Alex. Semuanya datang secara tiba-tiba.



"Jadi aku bakalan dikeluarin dari sekolah ini karena gosip yang belum jelas kebenarannya ini?"



"Bukan hanya gosip ini Alex. Kamu tentu tahu bukan kalau kamu selalu masuk BK tiap minggunya, bahkan satu buku pelanggaran siswa penuh dengan nama kamu. Dan puncaknya adalah gosip ini. Karena gosip ini para pengurus sekolah mempertimbangkan pengeluaran kamu dari sekolah ini. Maafkan paman kali ini tidak bisa membantu kamu lagi."



Alex memejamkan matanya berusaha menetralkan amarahnya. Ia berusaha bersikap tenang walau jauh dalam hati ia ingin sekali berteriak keras kenapa semua ini terjadi padanya, kenapa tidak ke orang lain saja.



"Apa papa sudah tahu tentang rencana pengeluarannya?"



"Sepertinya belum. Surat panggilan orang tua bukan paman yang buat jadi paman tidak tahu apa ayahmu sudah tahu atau belum. Kalaupun ayahmu tahu pasti dia akan segera menghubungi paman dulu sebelum berangkat ke sekolah."



Alex memijit pangkal hidungnya lalu naik ke atas. Kepalanya terasa pening dan terasa akan pecah. Beginikah rasanya Anjar tadi.



"Lebih baik sekarang kamu jernihkan pikiran kamu dulu Alex. Kamu jangan berbuat macam-macam setelah ini karena paman tahu emosi sedang menguasai dirimu. Tapi paman mohon, kontrol diri kamu. Paman akan berusaha yang terbaik." Anjar berdiri lalu menepuk bahu Alex seperti memberi semangat dan kekuatan tak kasat mata.



"Makasih paman. Oh iya, apa aku boleh tiduran disini sebentar? Aku takut kalau keluar dari sini malah bisa mengamuk."



"Silahkan tidur saja. Paman akan keluar dulu ada beberapa urusan. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi paman atau kamu bisa mencari paman di ruang tata usaha."



"Iya, paman."



Sepeninggalnya Anjar dari ruangan itu, Alex merasa dirinya sudah tidak bisa menahan emosinya yang sudah sejak tadi ia tahan. Ia tadi sebisa mungkin menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan segala sumpah serapah dan mengeja satu persatu penghuni kebun binatang. Belum lagi sakit kepalanya ini sialannya makin menjadi-jadi.



Dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, Alex menggeram kesal lalu dengan satu kakinya ia menendang meja kayu yang ada di depannya hingga bergeser jauh.



"Brengsek...!!!"



__ADS_1


__ADS_2