Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 5


__ADS_3

"Kalian sudah sampai ternyata." Sari berteriak girang begitu melihat anak serta menantunya berada tepat di depannya sekarang. Tadi saat ia baru saja keluar dari toilet, ia mendengar suara ketukan pintu di depan rumah. Sari yang sudah menebak siapa orangnya dengan semangat berlari ke ruang tamu dan membukakan pintu. Ia mengabaikan mata penasaran Letta ketika melihatnya masih sanggup berlari.



Begitu membuka pintu, Sari langsung berpelukan pada Aji karena rasa rindunya teramat besar pada anak semata wayangnya ini dan juga tidak lupa pada Dinda yang sangat ia sayangi. Ia sangat suka pada Dinda, baginya Dinda itu istri idaman semua pria bahkan dulu almarhum suaminya juga suka dengan Dinda dengan berkata jika ia masih muda akan memilih Dinda dibanding Sari. Walau hanya untuk bercanda, tetap saja Sari yang dari dulu mudah cemburu langsung marah pada suaminya karena mengatakan hal yang tidak mungkin akan terjadi.



"Ayo ayo, masuk dulu. Kalian pasti capek habis perjalanan jauh." Sari mengarahkan Aji dan Dinda untuk duduk.



"Mama apa kabar?" tanya Dinda sopan begitu ia mendudukan bokongnya di sofa tua milik Sari. "Dinda kangen banget sama mama. Lama banget rasanya gak ketemu."



"Mama baik terus dong. Gimana sama kalian berdua dan cucu-cucu mama di kota?"



"Sama seperti mama, kita semua baik." balas Dinda seraya tersenyum lebar.



"Ohiya, ngomong-ngomong mana anak kamu?" tanya Sari yang sejak tadi belum melihat cucunya masuk. Padahal setahunya ia dikasih tahu Aji kalau akan membawa Alex ke rumahnya.



Aji menggertakan giginya diam-diam. Ia bahkan lupa akan Alex. Harusnya ia menyeret Alex saja tadi.



"Kalau begitu biar aku panggilan Alex dulu." Saat Aji akan beranjak, seorang anak laki-laki masuk ke dalam dengan muka masamnya.



Laki-laki itu tentu saja Alex. Sebelum masuk tadi, Alex sudah terlebih dahulu merapalkan segala jenis doa agar kehidupannya nanti tidak seburuk yang ia pikirkan. Setelah selesai dengan acara unfaedahnya ia baru masuk ke dalam, takutnya kalau terlalu lama ia bisa diamuk ayahnya.



"Alex, itu kamu?!" pekik Sari tatkala matanya menangkap sosok Alex yang menurutnya sudah sangat jauh berbeda dari terakhir kali ia melihatnya.



Sari lalu mendekati Alex yang masih diam berdiri di dekat pintu, ia memeluk Alex dari samping.



"Ya ampun, kamu sudah besar, ya. Maafin nenek yang lupa sama wajah kamu. Tadi nenek kira kalau kamu anak tetangga yang nyasar kemari tapi begitu melihat bekas luka di tangan kamu nenek jadi ingat kamu itu Alex cucu nenek." ujar Sari terharu sambil menepuk nepuk bahu Alex ringan.



Mungkin Alex tidak ingat atau bahkan mustahil untuk ingat kalau dulu dia dibesarkan di desa. Sari lah yang dulu selalu menjaga Alex kecil, mengajarinya banyak hal. Tapi jelas Alex tidak akan mungkin bisa mengingatnya.



Sedangkan Alex sendiri ia tersenyum kikuk karena masih merasa canggung bertemu dengan neneknya. Alex juga bisa melihat tatapan penuh kasih sayang yang dilontarkan Sari lewat matanya untuk Alex. Walau neneknya masih memeluknya dan kemudian mengantarkannya untuk duduk, dalam hati entah kenapa ia tidak merasa risih sama sekali.



"Kalau Alan bagaimana kabarnya?" tanya Sari kemudian setelah kembali duduk. Ia tahu kalau Alan sedang berada di luar negeri jadi ia bisa maklum kalau sekarang Alan tidak di sini. Tapi dibanding dengan Alex, Alan jauh lebih sering berkunjung ke sini dulu waktu masih tinggal di Indonesia.



"Alan baik-baik saja. Dia masih tetap kuliah buat nerusin perusahaan papanya. Katanya dia malah lebih betah di sana." tawa Dinda di akhirannya.



"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Boleh lah dia betah di negeri orang, tapi nanti kalau udah lulus suruh tinggal di sini aja, jangan jauh-jauh dari keluarga."



"Kami niatnya begitu, tapi kalau Alannya masih ingin tinggal di luar kami cuman terserah anaknya, Ma."



Tiba-tiba Sari menepuk jidatnya. "Aduh aku ambil minum buat kalian dulu. Kalian pasti haus. Sebentar, ya." Sari pun beranjak pergi dari ruang tamu menuju dapur.



Di dapur, Letta yang sejak tadi hanya duduk di kursi dengan wajah menghadap ke bawah sembari menggoyangkan kakinya ke kanan ke kiri segera menaikkan pandangannya begitu mendengar derap langkah kaki mendekat.



"Letta kamu bisa bantu nenek?" tanya Sari begitu ia masuk ke dapur. Sari bergegas langsung membuka lemari dan mengambil beberapa toples camilan yang sudah ia siapkan sebelumnya.



"Bisa, Nek. Mau bantuin apa?" Letta berdiri dan mendekat.



"Kamu tolong siapin teh manis ya. Air panasnya udah ada di termos. Nanti tolong langsung bawa ke depan."



Letta mengangguk mengiyakan. Dirinya dengan cekatan segera mengambil beberapa gelas dan menyeduh teh manis. Setelah siap ia menempatkannya di nampan dan hendak mengantarkannya ke depan. Ia sendirian ke sana, karena Sari sudah lebih dulu membawa camilan ke ruang tamu.



Dengan hati-hati Letta membawa nampan berisi teh manis buatannya. Langkahnya sengaja pelan karena harus mengatur detak jantungnya juga yang berdetak tak karuan. Mungkin efek gerogi karena akan bertemu langsung dengan keluarga nenek Sari. Ditambah lagi ekspektasinya mengenai cucu Sari yang sempat ia sebutkan sebelumnya.



Tadi sewaktu Sari keluar dan menyambut keluarganya, Letta diam saja di dapur. Ia bahkan berencana ingin pulang diam-diam lewat belakang rumah. Tapi kemudian ia berpikir lagi kalau tindakannya ini salah dan sangat tidak sopan. Akhirnya ia diam menunggu saja sampai akhirnya Sari datang meminta bantuannya.



Mendekat ke arah pintu ruang tamu ia dapat mendengar gelak tawa terdengar dari ruangan yang jaraknya sudah tidak jauh darinya ini. Letta menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan mendekat ke arah sofa tempat semua orang duduk. Sekarang ia dapat melihat tiga orang duduk di dana. Satu di antara mereka duduk memunggunginya. Kalau dilihat dari badannya yang lebih kecil dari yang lainnya, ia menebak kalau orang itu adalah cucunya nenek Sari. Tanpa terasa, tangan Letta jadi berkeringat karena gugup.



Langkahnya memelan lagi ketika dirinya mulai meneliti satu per satu orang yang ada di ruangan. Dimulai dari anak nenek Sari yang ia ketahui bernama Aji. Menurut Letta, Aji terlihat sekali aura orang kantornya apalagi dengan kantung mata yang sudah menghitam menandakan kalau ia memang seorang pekerja keras. Rambutnya hitam pekat dan kulitnya putih bersih, berbeda dengan ayahnya yang sawo matang. Ia pernah melihat foto ayahnya dulu seputih Aji, tapi karena ayahnya terus menerus mengurus sawah dan kebun, sekarang kulitnya jadi menghitam.



Beralih ke wanita yang duduk di samping Aji yang ia yakini kalau itu istrinya, Dinda. Ia tahu nama Dinda karena selama sesi memasak tadi pagi Sari terus menerus memuji menantunya itu. Dinda terlihat segar dan sangat cantik ketika tersenyum seperti sekarang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan yang jelas ia tahu pasti itu menyenangkan dilihat dari senyuman Dinda yang kian lebar.



Samar-samar Letta dapat mendengar kalau Sari sedang mengatakan sesuatu padanya. Tapi otaknya sudah blank, ia seakan menulikan pendengarannya hanya untuk meneliti orang terakhir di sana... Ya, cucu Sari yang duduk memunggunginya.



Entah kenapa langkah kakinya ingin berhenti begitu ia semakin mendekat. Matanya menatap lurus pada punggung anak laki-laki itu. Dan sebuah gerakan kecil dari anak laki-laki itu yang menengok ke belakang mampu membuat Letta terkesiap kaget. Alhasil, nampannya bergoyang, air panas di dalamnya pun tumpah mengenai tangan Letta. Reflek, Letta melepaskan nampan yang sedang ia bawa.

__ADS_1



PRANG...



Suara nampan terjatuh disusul pecahan gelas membuat Letta terjaga sepenuhnya. Letta melotot ke bawah dengan ngeri melihat kecerobohannya. Rasanya ia ingin menangis saja. Buru-buru dengan tangan sedikir gemetar, ia membungkuk hendak mengambil serpihan gelas kaca yang pecah.



"Astaga, apa yang kamu lakukan?" Sari tergesa-gesa mendekati Letta dan segera menarik tangannya sebelum Letta sempat mengambil pecahannya.



"Ma... maaf, Nek. Aku gak sengaja."



"Sudah-sudah, gak apa-apa. Lagian ini cuman gelas, nenek masih punya banyak kok. Aji, tolong kamu beresin ini, ya. Kasihan kalau Letta yang beresin takut kalau tangannya nanti malah kena pecahan gelasnya."



Letta dan nenem Sari minggir ketika Aji datang mengambil alih. Dinda juga ikut beranjak dan mendekat ke Letta. Wajahnya tampak berseri-seri ketika menatapnya, membuat Letta bingung.



"Kamu pasti Letta, kan?"



Letta menengadahkan kepalanya menghadap Dinda. Dahinya mengkerut berpikir dari mana Dinda ini tahu namanya.



"Iy-iya tante." jawab Letta kikuk. Ia masih merasa malu atas kejadian barusan.



"Ini memang Letta yang dulu, Din. Dari kecil dia gak berubah sama sekali tetap cantik." entah kenapa Letta seakan menangkap nada bangga pada suara Sari. Atau itu hanya khayalannya saja.



Letta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu dengan pujian Sari yang sedikit berlebihan. Jangan lupakan kalau Dinda yang sekarang malah menatapnya lekat membuat Letta semakin salah tingkah disini.



"Biar aku yang ambilkan kalian minum dulu." Sari pun pamit ke dapur lagi untuk membuat teh manis lagi.



"Kamu duduk sama tante ya." pinta Dinda pada Letta. Letta mengangguk ragu walau akhirnya ia tetap ikutan duduk di sana. Ia malah merasa posisinya salah karena jelas ini pertemuan keluarga, dan ia malah ikut-ikutan di dalamnya padahal ia kan bukan keluarga mereka.



Letta hampir saja melupakan kehadiran cucu Sari kalau saja ia tidak menatap ke seberang meja dan melihat kembali cowok yang menjadi alasannya menjatuhkan nampan tadi karena begitu kaget.



Anggap saja dirinya lebay, tapi begitu matanya menangkap dengan jelas sosok cowok yang berada dalam jarak tidak kurang dari dua meter di depannya ini membuat Letta menahan nafasnya.



Demi apa!!!! Kok ganteng banget sih?!




"Kenalin dia Alex, anak tante."



Namanya Alex...



Letta berinisiatif duluan mengulurkan tangannya ke depan hendak berkenalan. "Letta." katanya memperkenalkan diri.



Letta menunggu beberapa detik tapi ternyata orang yang ditunggu hanya menatap datar tangannya. Ia terlihat sama sekali tidak ada niatan untuk menjabat balik. Alex masih tetap dalam posisinya dengan kedua tangan yang ia silangkan di depan dada.



"Alex..." geram Dinda meihat Alex yang tak kunjung berkenalan balik.



Letta yang awalnya sedikit merasa kagum pada Alex terutama wajahnya yang kelewat tampan seketika mengubah persepsinya pada cowok itu. Penilainnya seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Baginya Alex tidak pantas di kagumi, buat apa tampan kalau tidak punya sopan santun sedikitpun. Letta jadi kesal sama dirinya sendiri karena tadi sempat memuji cowok itu dalam hati.



Sambil menahan malu, Letta menarik tangannya kembali lalu menaruhnya di atas paha. Dalam hati ia sudah melemparkan ribuan sumpah serapah pada Alex. Kalau cowok itu tidak bisa sopan barang sedikit saja tentu Letta juga akan membalasnya demikian, bukan?



***



Sudah lima belas menit lamanya Letta dan Alex berduaan di ruang tamu. Tadi sehabis acara minum teh bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul, Sari, Aji dan Dinda ke lantai atas untuk membicarakan sesuatu. Katanya sih penting.



Letta sudah menawarkan diri untuk pulang ke Sari karena ia rasa kehadirannya sudah tidak dibutuhkan, tapi Sari langsung menolak tawarannya dengan alasan ia harus menemani Alex di ruang tamu. Katanya Alex masih asing jadi harus ditemani. Bah, ada-ada saja.



Dan di sinilah dirinya. Diam tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Untuk menghilangkan kebosanan, Letta memilih memandang ke arah bawah, atas, atau ke samping. Asal tidak lurus ke depan karena di situ ada Alex.



Namun berdiam lama-lama tanpa melakukan atau bicara apapun juga membuat tenggorokannya sangat gatal dan kering. Ia ingin sekali bicara karena diam lama-lama rasanya gak enak banget menurutnya.



Sebelumnya, Letta memutuskan untuk mengambil gelas miliknya dan meneguk teh yang tersisa sampai habis. Tanpa sadar ia mendesah begitu air teh meluncur masuk melewati tenggorokannya yang kering. Selama minum Letta dapat merasakan ada sepasang mata yang mengintainya. Setelah meletakkan gelasnya ke tempat semula, Letta merasa ini waktu yang cocok untuk sekedar memulai pembicaraan dengan Alex daripada saling diam saja.



"Ehem... Lo masih sekolah?" tanya Letta kemudian. Ia meringis dalam hati karena merasa sok akrab.



Alex yang mendengar Letta bertanya menaikkan pandangannya dari ponselnya. Hanya sepintas karena ia kembali fokus ke ponselnya lagi.

__ADS_1



Letta yang merasa dicueki jadi geram sendiri. Padahal ia sudah baik hati mau menemani Alex, ia sudah bertanya baik-baik juga. Tanpa bisa dicegah ia berkata sinis , "Gue tanya kok ga dijawab? Lo budeg, ya?"



Karna tak kunjung ada jawaban. Letta jadi semakin kesal. "Kalau ditanya sama orang itu jawab. Memangnya situ gak punya mulut apa?" ucapnua dengan kesal.



"Lo ngomong sama gue?" tanpa kehilangan fokusnya pada layar hp, Alex bertanya pada Letta.



Letta hampir saja menjatuhkan rahangnya ke bawah karena tidak percaya dengan cowok yang satu ini.



"Iyaah, lo pikir gue ngomong sama siapa lagi kalau bukan sama lo. Secara di ruangan ini cuma ada lo, dan gue. Masa iya gue ngomong sendiri. Kalau lo punya otak itu dipake."



Ya ampun... Ini kalimat terpanjang Letta sejak bicara dengan Alex. Namun ia sama sekali tidak menyesali sikap kasarnya barusan. Karena baginya Alex pantas-pantas saja diperlakukan seperti itu.



Sepertinya ucapannya tadi mengenai ego cowok itu karena Alex langsung mematikan ponselnya. Dengan tangan masih disilangkan di depan dan punggung bersandar ke sofa serta pandangan tertuju ke arahnya, Alex berkata, "Yang harusnya bilang kayak gitu itu gue. Lo punya otak, enggak? Kalau punya kenapa gak dipake? Jalan aja masih kayak balita, gak lancar. Pake acara jatuhin gelas segala."



Mata Letta melotot karena saking kesalnya. Dan matanya seakan mau keluar begitu mendengar perkataan Alex selanjutnya.



"Bodoh." kata Alex.



"Apaan lo ngatain gue bodoh?!" bentak Letta cukup keras namun ia masih bisa mengontrol suaranya agar tidak terlalu keras supaya Sari dan yang lainya tidak mendengar.



"Iya. Lo. Bo. Doh. Kenapa gak terima?" Alex yang melihat muka Letta memerah menahan marah segera menambahkan. "Lo tahu bahasa apa yang cocok bagi orang kayak lo?"



"Stupid. Stupid girl."



Jangan lupakan tentang hobi Alex yang suka jahil dan usil pada anak lain. Sepertinya tanpa sadar Alex juga sedang menjahili Letta walau Alex tidak ada niatan ke situ sama sekali tadinya. Mungkin karena sifatnya ini sudah mendarah daging, jadi ia akan senang ketika ada seseorang yang marah akan dirinya. Dan bukannya menghentikannya, justru Alex dengan senang hati akan membuat orang itu semakin marah. Karena baginya itu lucu dan asik.



Terbukti sekarang Letta malah mengambil berpotong-potong cookies dari dalam toples dan melemparkannya ke Alex. "Sialan, gue gak bodoh! Yang bodoh itu lo!" sungutnya berapi-api.



Alex menangkap cookies terakhir yang Letta lemparkan lalu memakannya. Dengan senyuman miring Alex berkata.



"Lalu sebutan apa lagi yang pantas buat cewek yang malah ngelakuin hal kayak gini? Ambil kue di toples terus di lemparin ke lawan karena merasa kalah. Selain bodoh, lo juga kekanak-kanakan tahu nggak."



Merasa kesal karena Alex malah memakan kue kering yang ia lemparkan, Letta mendesis. "Terserah lo mau ngatain gue apa. Yang jelas gue jauh lebih baik daripada lo. Lebih baik cewek bodoh kayak gue daripada cowok yang gak punya sopan santun kayak lo."



Hal itu malah membuat Alex semakin gencar mengerjai Letta. Baru sehari saja Alex sudah mendapat mangsa untuk dikerjai.



"Kapan gue berlaku gak sopan?" Alex menaikkan satu alisnya ke atas.



"Secepar itukah lo lupa? Waktu gue mau kenalan sama lo, harusnya kalau gue udah ngulurin tangan ya lo jabat balik."



"Jadi lo ngarep banget kenalan sama gue?" Kesan angkuh dapat dengan jelas ia tampilkan disini agar cewek di depannya ini tahu siapa yang lebih berkuasa disini.



"Gak. Gue gak sudi berteman sama lo." bentak Letta cepat. Ia tidak habis pikir kalau ini sifat aslinya Alex, suka membuat orang naik pitam.



Alex tergelak mendengar jawaban Letta. "Gue kira lo bakalan ngemis sama gue biar jadiin lo temen gue. Lo tahu alasan kenapa gue gak jabat balik tangan lo? Gue takut lo bakalan nelen gue hidup-hidup. Gue udah terbiasa dengan tatapan seperti yang lo layangkan ke gue tadi. Tatapan seorang cewek begitu lihat cowok cakep. Menganggu tahu nggak. "



Kali ini tinggal Letta yang tergelak. Ia tertawa keras mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Alex dengan pedenya. Walaupun ia tak bisa bohong kalau hampir semuanya benar tapi jelas ia tidak akan mengatakannya pada Alex, bisa jatuh harga dirinya nanti.



"Lo cakep? Khayal banget. Masih cakepan juga pacar gue seratus kali lipat."



Letta ingin sekali menggampar mulut sialannya ini yang tidak mau kalah kalau ngomong. Buat apa coba ia mengatakan pacar gue. Jelas-jelas ia cewek dengab label j-o-m-b-l-o.



"Jadi lo punya pacar? Kirain jomblo dari lahir." ucap Alex seraya menyeringai. "Tapi gue yakin kalau ada cowok yang mau deket sampai pacaran sama lo paling hanya sebatas kasihan." tambahnya.



Seketika Letta terdiam. Amarahnya pada Alex malah padam seketika. Hatinya meringis sakit, hanya-sebatas-kasihan. Letta jadi berpikir apa Hami juga hanya sebatas kasihan padanya selama ini. Tiba-tiba ia terpikir apa hanya dirinya di sini yang merasa kalau semua perlakuan Hami kepadanya itu dilandaskan karena ada sesuatu yang lebih. Ya, sepertinya hanya dirinya. Toh sekarang ia ditinggal pacaran oleh Hami. Hami yang dulu selalu ada padanya sekarang selalu ada bagi pacarnya.



Alex yang memang dari bayi terlahir bukan untuk jadi cowok peka tidak bisa menangkap perubahan wajah Letta yang malah memuram. Ia malah menambahkan kata-katanya.



"Kenapa diam? Omongan gue bener kan? Cowok yang mau sama lo, cuma karena kasihan."



Letta ngedumel dalam hati, sialan nih cowok.


__ADS_1


__ADS_2