Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 6


__ADS_3

Terhitung sudah tiga hari Alex tinggal di rumah Sari. Tiga hari yang lalu Aji dan Dinda awalnya berencana akan menginap selama satu minggu ke depan tapi ternyata ada masalah di perusahaan Aji yang membuatnya harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikannya. Mau tak mau mereka berdua harus kembali ke kota meninggalkan Alex bersama neneknya.



Sekarang tinggallah Alex yang sendirian di kamarnya. Pikirnya ada untungnya ia pindah--walau kebanyakannya sial--, ia jadi tidak harus berangkat sekolah. Ya, Alex sengaja bersantai ria di rumah neneknya tanpa niatan sedikitpun untuk sekolah. Ia berdalih pada Sari kalau Alex belum tahu dimana letak sekolahnya padahal Alex sudah tahu karena ia jelas bisa membuka internet dan menemukan sekolah barunya dengan mudah. Sari juga tampaknya tidak masalah dengan semua itu. Mungkin karena merasa maklum.



Selama tiga hari ini kerjaan Alex tidak berubah, hanya sekedar tidur, makan, nonton tv dan mainan hp. Untuk mandi pun ia hanya sekali sehari. Biasanya kalau sudah sore, jam tiga ke atas itupun karena adanya paksaan dari Sari dahulu baru Alex mau mandi. Padahal bagi Alex selagi tubuhnya tidak kotor buat apa mandi, hanya membuat boros air. Lagian ia kan hanya tidur-tiduran saja di kamar.



Alex memutuskan untuk keluar dan berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan dengan tangan kanannya meneguk sebotol air dingin. Matanya sempat melirik ke arah ponselnya yang bergetar di tangannya yang satu lagi. Setelah selesai minum, Alex membuka pesan yang masuk sambil menyandarkan punggungnya ke kulkas.



Ternyata grup chat miliknya berserta kedua teman Alex.



Dani : Monyet, keluar lo njink !!!



Fabian : Lah si entong, yang dipanggil monyet. Yang disuruh keluar anjing.



Alex terkekeh sesaat melihat pesan dari temannya. Ia lalu mengetikan balasan.



Alex : Bego.



Fabian : Bego.(2)



Dani : Jawab pertanyaan gue, kampret.



Fabian : Yang dipanggil monyet. Yang disuruh keluar anjing



Fabian : Dan yang keluar Alex.



Fabian : Sekarang malah nyuruh kampret yang jawab.



Dani : Bct.



Alex : Apa?



Dani : Lo beneran pindah?



Alex : Y.



Dani : Apa gara2 masalah party kemarin?



Fabian : Sayang monyet sayang monyet. Dijual kacangnya sebungkus seribu.



Dani : Bct.



Dani : Jadi gimana Al?



Alex baru saja akan mengetikkan balasan ketika tiba-tiba saja sinyalnya hilang dan menunjukkan kata "hanya panggilan darurat" di layar notifikasi. Hal ini tentunya membuatnya geram. Baru juga tiga hari ia tinggal di desa tapi sudah harus dibuat kesal setiap hari seperti ini. Bagaimana mungkin ia bisa tahan sampai berbulan-bulan ke depan?



Alex lalu memilih memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Ia membuka kulkasnya kembali lalu mengambil beberapa bungkus keripik yang ia bawa dari rumahnya di kota dulu. Tak lupa ia mengambil sekalian beberapa kaleng minuman bersoda lalu membawanya ke kamarnya di lantai atas.



Ia menghempaskan badannya ke atas sofa. Jajannya tadi sudah ia taruh di atas meja. Di kamarnya ini memang ada televisi beserta sofa kecil dan meja tepat di depan televisi. Kaki Alex ia gerakan untuk menggapai remot yang berada di lantai tak jauh dari sofa yang ia duduki.



"Sial!" umpatnya karena nyatanya kakinya tak sepanjang itu untuk menjangkau remot dan mengharuskan Alex untuk mengambilnya dengan tangannya langsung.



Setelah itu ia membuka dua bungkus langsung keripik dengan rasa berbeda lalu mencampurkannya jadi satu. Punggungnya ia sandarkan ke sandaran sofa, kakinya ia luruskan ke depan ditopang oleh meja.



Dengan mulut yang terus mengunyah ia terus menonton acara yang sedang ditayangkan itu. Hanya sebuah acara tayangan ulang sepak bola. Mungkin pihak televisinya tidak ada acara lain jadi menayangkan ulang siaran sepak bola.



Tanpa Alex sadari, Sari sudah masuk ke kamarnya dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Alex. Selama tiga hari ini rasanya sudah cukup ia membiarkan Alex untuk bersantai di rumah. Sari harus bisa membuat Alex berubah seperti apa yang diinginkan Aji tiga hari yang lalu saat mengantarkan Alex ke sini. Aji ingin Alex bisa memperbaiki kelakuannya dan berubah menjadi cowok yang lebih baik dan ia meminta Sari untuk mengajari Alex.



"Alex, kamu tuh udah gede. Kakinya jangan dinaikkin ke atas." Sari yang memang membawa sapu memukul kaki Alex dengan ujung sapunya.



Alex yang mendapati serangan tiba-tiba itu terlonjak kaget. Ia menengokkan kepalanya dan mendapati Sari sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan seakan mau memarahinya. Tapi jelas bukan karena akan marah dalam artian sebenarnya, hanya marah untuk pura-pura. Alex tahu itu.


__ADS_1


"Sudah cukup ya kamu selama tiga hari ini bermain-main terus. Besok kamu harus sekolah biar kamu gak nganggur terus di rumah. Paham kamu?" tegur Sari.



Alex hanya mendesah pelan. "Kan nenek kemarin bilang kalau aku boleh seminggu lagi berangkatnya. Katanya gak masalah."



Bukannya membaik, Alex malah mendapati neneknya menjadi semakin sangar.



"Itu kemarin, sekarang beda lagi. Pokoknya besok kamu sekolah! Titik."



Baiklah Alex mencoba mencari alasan lain. "Tapi kan aku belum tahu sekolahnya di mana."



See, sepertinya Sari terpengaruh karena ia hanya diam saja belum menjawab sanggahan Alex. Tapi jawaban Sari berikutnya membuat Alex tidak dapat berkutik.



"Jangan alasan kamu. Kamu punya hp bagus kenapa gak dipake buat cari letak sekolah kamu. Kalau hp kamu gak bisa buat nyari mending buang aja ke kolam ikan belakang rumah, mau?"



"Nek!" Alex mengerutu kesal karena nyatanya Sari cukup berhasil membuatnya jengkel.



"Nenek kasih kamu waktu dua hari, kalau sampai dua hari kamu tetap gak mau sekolah, nenek bakal telfon papa kamu dan suruh buat ambil hp kamu sekalian."



Boleh tidak Alex mengumpati orang tua? Kalau boleh izinkan sekarang ia mengumpat untuk neneknya yang super duper cerewet ini.



"Sekarang lebih baik kamu bersihin kamar kamu. Kamar kok kayak kandang tikus. Jorok. Bahkan kandang tikus aja masih bersih dari ini." sindir Sari.



Bayangkan saja kamar ini awalnya sudah Sari bersihkan untuk bisa ditempati Alex agar ia nyaman tapi nyatanya malah menjadi sangat berantakan ketika si empu kamar menempatinya. Baju kotor tergeletak di lantai, selimut dan bantal yang tidak tertata rapih di atas kasur, botol kaleng dan bungkus jajanan berada di dekat jendela yang mengundang semut-semut berdatangan. Jangan lupakan koper dan tas yang berisi perlengkapannya Alex yang belum ia bereskan sama sekali.



"Iya nanti." jawab Alex malas sekali.



"Gak ada nanti-nantian. Pokoknya sekarang. Nih sapunya, pegang!" Sari memberikan sapu yang berada di tangannya Alex dan diterima Alex dengan hati dongkol setengah mampus.



"Bersihin yang benar." titah Sari sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Alex.



Sabar, sabar... Lo harus kuat di sini sampai beberapa bulan ke depan. Setelah semuanya selesai lo bakalan balik lagi ke kehidupan asli lo lagi.



***




Letta yang tadinya sedang makan nasi rames mengalihkan padangannya ke arah yang Almira tunjuk. Dan benar saja di sana tepatnya di pintu masuk kantin ada Hami dan Ajeng yang baru masuk ke kantin. Hal itu sukses membuat nafsu makannya menghilang seketika. Nasi rames yang tadinya rasanya sangat enak, sekarang dilihat lagipun tidak menarik.



"Mereka emang mesra kok, Ra. Cocok lah kalau begitu." ujar Letta sedikit sinis.



Mira yang mendengar jawaban sahabatnya ini menelan ludahnya kasar. Ia tak bermaksud sama sekali untuk membuat Letta sedih atau semacamnya. Tapi ya namanya juga mulut, kalau liat sesuatu spontan apa saja bisa terucap.



"Sorry, Ta. Gue gak maksud apa-apa."



"Gak apa-apa. Udah biasa kayak gini, kan? Di saat dia baperin gue sampai langit, tapi akhirnya dia malah ninggalin gue begitu aja demi cewek lain." kata Letta lalu menyeruput es tehnya. "Gue nyesel pernah ngerencanain hal itu ke dia. Untung gue belum ngejalanin rencana gue kan?" tambah Letta.



"Ta..."



"Gue gak tahu bakalan semalu apa nanti kalau waktu itu gue beneran ngelancarin rencana yang gue pikir bakalan sukses besar itu." Letta tersenyum kecut.



"Ta..."



"Makasih buat lo, Ra, yang dulu mau cari kebenaran itu buat gue dan bilang ke gue sebelum semuanya terlambat."



"Apanya yang terlambat, Ta?" suara serak seorang cowok yang sangat Letta kenali masuk ke telinganya.



Letta menengadahkan kepalanya ke atas. Di depannya berdiri Hami yang menjulang ke atas. Tak lupa dengan pasangannya, Ajeng.



"Bukan apa-apa." jawab Letta cuek seraya mengalihkan pandangannya



Sungguh suasana hatinya sedang tidak enak karena melihat Hami yang tadi bermesraan dengan Ajeng, sekarang ditambah orang yang membuat hatinya tidak karuan ini malah menghampirinya dan duduk di sebelahnya dengan seenaknya. Dengan santainya, gitu?



"Ehm Ham, biar aku yang pesanin ya, kamu mau makan apa?" tanya Ajeng.

__ADS_1



"Samain aja kayak kamu."



Setelah Ajeng pergi, Hami lalu memutuskan untuk duduk tepat di sebelah Letta. Tentu saja Letta masih merasakan getaran itu. Hatinya selalu berdetak keras begitu berdekatan dengan Hami seperti sebelumnya. Dan sekarang ketika Hami mendekatinya lagi setelah sekian lama mengindarinya bisa membuat acara move on Letta gagal.



"Ta, gue ke toilet sebentar ya. Gue kebelet banget." ucap Mira tiba-tiba. Sebenarnya Mira pergi karena Hami memberikan tatapan seolah-olah menyuruhnya pergi dari situ dan Mira memilih pergi saja karena mungkin Hami akan membicarakan sesuatu yang penting pada Letta.



Letta yang hendak ikut terhenti karena lengannya di tahan Hami. Rasanya masih seperti dulu, gelenyar aneh ketika Hami menyentuh tangannya selalu ada.



"Di sini aja dulu. Nanti Mira pasti ke sini lagi, dia kan cuma ke toilet. Dan gue juga mau ngomong sesuatu sama lo."



Ingin sekali Letta menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu lemah karena cinta. Tapi syukurlah ia cukup pintar karena sesegara mungkin ia memasang tampang datarnya dan menampilkan seakan-akan malas berhadapan dengan Hami.



"Mau ngomong apa? Cepetan, waktu istirahatnya udah gak banyak. Gue harus ke kelas ada PR yang belum gue kerjain." Alasan sekali. Letta akhirnya mendudukan dirinya kembali di bangku yang tadi ia duduki.



"Gue mau minta maaf sama lo atas sikap gue yang berubah akhir-akhir ini. Ya lo juga pasti ngerasa kalau gue ngejauhi lo, oke gue akui itu emang gue lakuin."



"Ngaku juga." sinis Letta.



Hami awalnya sedikit terkejut karena Letta mampu berucap sinis padanya tapi ia juga maklum karena memang di sini ia adalah pihak yang salah.



"Gue ngelakuin semua ini juga ada alasannya, Ta. Lo tahu kan kalau gue udah punya pacar."



Stop! Jangan dilanjutin!



Ingin sekali Letta berkata itu tapi semua kata-katanya terasa tak mau keluar. Tenggorokannya terasa tercekat seiring setiap kata yang dikeluarkan Hami.



"Gue cinta banget sama Ajeng, Ta. Asal lo tahu itu."



Gue bilang stop! Gue gak mau denger itu !!



"Dan gue gak mau kalau Ajeng salah paham sama persahabatan kita berdua. Gue takutnya dia mikir yang enggak-enggak sama kita."



Sahabat! Dari kecil gue terus sama lo dan lo cuma bisa anggep gue sahabat lo terus, Ham!



Tak terasa mata Letta memanas. Ia segera menundukkan wajahnya agar Hami tidak melihat betapa kacaunya ia sekarang. Untuk beranjak saja rasanya sulit, Letta merasa lemas.



Hami yang melihat Letta menunduk hanya menghela nafas. Ia tahu kalau Letta pasti tidak mau mendengar lagi penjelasannya.



"Gue mau kita kayak dulu lagi Ta, lo jadi sahabat terbaik gue. Kita kembali kayak dulu lagi."



Sahabat terbaik?! Cih, gue maunya lebih dari sahabat, Ham. Apa sih yang buat lo gak pernah mandang gue sebagai seorang cewek?



Entah ini telinga Hami yang bermasalah atau memang kebenarannya, ia mendengar kalau Letta terisak kecil. Sangat kecil bahkan ia hampir tak mendengarnya.



"Ta," tangan Hami yang hendak menyentuh bahu Letta terhenti karena Ajeng menyelanya.



"Sayang." Ajeng datang dengan membawa nampan berisi bakso dan dua gelas es teh.



Spontan Hami menarik tangannya lagi. Ia menoleh ke arah Ajeng.



"Tadi aku ketemu Bagas sama temen-temennya. Mereka mau kita gabung bareng mereka terus aku bilang mau minta izin kamu dulu, gak apa-apa kalau kita gabung sama mereka? Aku juga mau tanya nilai ulangan kemarin yang dikoreksi sama kelasnya Bagas."



Hami tampak bimbang. Diliriknya Letta yang masih menunduk dan enggak menatapnya. Akhirnya Hami pun menurut saja. "Iya gak apa-apa. Ya udah, ayok kita kesana."



Tanpa mengucapkan sepatah katapun ke Letta, Hami pun pergi. Letta yang merasa kalau Hami benar-benar sudah pergi bahkan tanpa mengucapkan barang satu katapun pada Letta merasa semakin hancur. Ia semakin terisak. Air matanya sudah tidak bisa ia tolak untuk keluar lagi.



Dirinya memang tidak pernah bisa memiliki Hami, harusnya ia sadar akan hal itu karena sejak awal dan dari dulu Hami selalu mengigatkan status mereka yang sekedar sahabat, tapi Lettanya saja yang tidak bisa menjaga hatinya lebih baik jadi bisa terjatuh pada sahabatnya sendiri.



Semesta sudah memutuskan bahwa hatimu bukan untuk milikku, mau sekeras apapun aku mencoba agar kamu jadi milikku nyatanya itu mustahil karena dari awal kamu memang hanya menganggapku sebagai... Sahabat.



Ya, sahabat...

__ADS_1




__ADS_2