
(( Bagian hipnoterapi nanti di penjelasan itu mungkin sebenarnya gak sesuai sama aslinya. Hipnoterapi memang ada, tapi jujur aku gak ada banyak pengetahuan mengenai hipnoterapi jadi aku sedikit ngasal di beberapa bagian. Dan aku mohon maaf kalau banyak salahnya. Siapa tahu di sini ada yang paham, mohon koreksinya 🙏 ))
Sebelum kalian baca, aku mau jelasin beberapa hal dulu :
Part ini isinya kebanyakan drama 😡 kayak sinetron :b
Bagian hipnoterapi nanti di penjelasan itu mungkin sebenarnya gak sesuai sama aslinya. Hipnoterapi memang ada, tapi jujur aku gak ada banyak pengetahuan mengenai hipnoterapi jadi aku sedikit ngasal di beberapa bagian. Dan aku mohon maaf kalau banyak salahnya. Siapa tahu di sini ada yang paham, mohon koreksinya 🙏
Aku buat work baru, judulnya Allah Bersama Kita. Siapa tau berkenan mau mampir, silahkan cek langsung ke profilku.

Cerita ini mendekati ending.
***
Dengan langkah tertatih, Alex mencari Sari sambil membawa selembar foto di tangannya. Tangannya yang lain sesekali memegangi kepalanya yang sakit seperti baru dihantam sesuatu dengan keras.
Ketika menemukan neneknya, Alex menghela nafas lega dan berjalan terburu-buru menghampiri Sari yang sedang mencuci piring.
"Nek... Biaa minta waktunya sebentar?" sela Alex dengan suaranya yang parau.
Sari yang sedang menyabuni piring segera menghentikan kegiatannya. Ia membersihkan tangannya dulu sebelum mengeringkannya dengan kain lap. Kemudian ia berbalik menghadap ke Alex.
"Ya ampun, Alex kamu kenapa?!" seru Sari yang begitu kaget melihat wajah cucunya yang sudah putih pucat. "Ayo duduk dulu." Sari pun bergegas membimbing Alex ke ruang makan dan mendudukkannya di sana. Iabduduk tepat di sebelah Alex. Dengan cemas ia pun bertanya. "Kamu kenapa?"
Alex meletakkan foto yang ia ambil ke meja dan mendorong foto itu ke neneknya. Karena kepalanya yang masih terus sakit, Alex pun berkata sambil meringis. "I--ini siapa ya?"
"Kamu dapat foto ini dari mana?" tanya Sari terkejut begitu mengambil dan melihat foto yang Alex berikan. Padahal setahunya ia sudah menyimpan semua foto ini dengan aman. Lalu bagaimana Alex bisa mendapatkan foto ini? Ahh Sari ingat dulu ia sempat membuka-buka album foto dan kemungkinan besar ia menjatuhkannya di suatu tempat lalu cucunya ini menemukannya.
"Jawab pertanyaanku, Nek. Mereka yang di foto itu siapa?" Alex lagi-lagi meringis lagi ketika bertanya. "Sebenarnya apa yang kalian semua sembunyikan dari aku?" erangnya ketika rasa sakit di kepalanya semakin bertambah. Kali ini dahinya mulai mengeluarkan keringat.
Melihat itu membuat Sari bertambah khawatir. Lalu Sari mengambil tangan Alex yang sudah dingin, menggenggamnya. "Nanti nenek kasih tahu kamu semuanya. Yang penting sekarang kamu istirahat dulu. Kamu kelihatan kesakitan, Alex." Sari yang tidak kuasa menahan matanya yang memanas segera memeluk Alex demi menyamarkan air matanya yang sudah menggenang agar Alex tidak melihatnya.
"Sekarang kamu jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus tenang. Dan setelahnya nenek akan ceritakan semuanya. Semuanya ke kamu." janji Sari sambil menepuk-nepuk pundak Alex agar tenang.
Dalam pelukan neneknya, Alex yang memejamkan matanya pun mengangguk. Ia merasa aman dan nyaman berada dalam dekapan neneknya yang hangat. Alex pun mengikuti perintah awal neneknya agar tidak terlalu berpikir.
"Tarik nafas, Alex. Lalu keluarkan perlahan. Bawa pikiran kamu tenang ya."
Lalu Alex melakukannya. Perlahan namun pasti, Alex mengulanginya terus sampai nafasnya menjadi teratur dan ia pun tanpa sadar jatuh tertidur.
***
Alex terbangun ketika merasa usapan lembut di pipinya. Perlahan ia pun membuka matanya. Alex masih duduk di kursi sama seperti tadi, dengan kepala menempel ke meja. Alex lalu bangun dan menegakkan badannya.
"Kamu udah bangun, ini minum dulu." Sari berujar sambil mendorong segelas air putih ke Alex.
Alex menerima lalu meminumnya sampai tandas dan menaruh kembali gelasnya ke meja. "Apa yang terjadi, Nek?"
__ADS_1
"Kamu ketiduran. Ngomong-ngomong apa kepalamu masih sakit?" tanya Sari yang masih merasa khawatir akan Alex yang tadi sempat kesakitan.
Alex meraba kepalanya dan sakit di kepalanya memang sudah menghilang. "Udah gak sakit. Berapa lama aku tidurnya?"
"Kurang lebih lima jam, dan ini udah malam. Nenek mau bawa kamu ke kamar atau sofa depan tapi gak kuat, terus mau bangunin kamu juga tapi gak tega liat wajah kamu pas tidur tenang banget. Jadi, nenek biarin aja kamu tidur di sini. Mungkin nanti badan kamu akan pegal-pegal sedikit."
"Lama juga." gumam Alex tak enak. Lalu ia teringat kalau ia tertidur ketika sedang menanyakan tentang sebuah foto kepada Sari. Dan neneknya bilang akan mengatakan semuanya. "Katanya nenek mau cerita mengenai foto itu."
Sari tersenyum. "Rupanya kamu masih ingat, kirain udah lupa." Lalu ia berdehem. "Sebelum nenek cerita, kamu harus yakin kalau nenek dan orang tua kamu merahasiakan ini semua demi kebaikan kamu. Kamu harus percaya sama orang tua kamu. Jangan benci mereka karena tidak sempat memberitahumu, ya."
Alex jadi semakin penasaran dengan rahasia apa yang mereka semua sembunyikan darinya. "Iya, Nek."
"Janji?"
"Janji."
Lalu Sari memandang ke arah lain dan mulai menebak dahulu. "Nenek tahu kamu pasti bertanya-tanya mengenai foto itu. Dan kamu juga bingung karena gak bisa mengingat itu semua. Tebakan nenek apakah benar?"
Alex mengangguk karena tebakan neneknya benar. "Iya. Aku juga bingung sendiri kalau nyoba buat inget semuanya malah buram dan kepalaku malah sakit serasa mau pecah."
Sari tersenyum hangat sebelum menjawab. "Tapi sebelum nenek sampai ke alasan kenapa kamu seperti itu, nenek mau cerita dari awal dulu. Kamu mau dengerin kan?"
Alex pun mengiyakan. Lalu Sari melanjutkan ceritanya.
"Jadi dulu waktu kamu kecil itu, kamu hidupnya itu di sini. Di desa. Bareng sama mama, papa dan kakak kamu. Kamu emang lahir di kota, tapi kamu cuma satu tahun di sana karena orang tua kamu memutuskan untuk memboyong keluarganya ke desa. Kata mama kamu, dia lebih senang tinggal di sini. Soalnya di desa itu nyaman, udara di sini sejuk dan bersih, terus bagus buat masa kecil kamu, Alex."
"Jadi sejak umur satu tahun aku mulai tinggal di sini? Sampai kapan?" tanya Alex yang tak tahu menahu soal tersebut.
"Kamu benar. Tapi hanya sampai umurmu menginjak awal usia delapan tahun. Tahu nggak, sejak dulu kamu berteman sama anak tetangga sebelah. Dia itu paliiing dekat sama kamu. Dari kamu pindah ke sini, sampai umur kamu delapan tahun, kalian bareng terus berdua, gak pernah mau dipisah kalau udah ketemu. Udah mirip lem sama perangko. Misal si dia lagi pergi, nanti kamu nangis, begitupun sebaliknya."
Nafas Alex tercekat ketika ia mendapati dirinya memikirkan siapa anak tetangga itu. Apakah sesuai dengan yang ia pikirkan. "Dan siapa anak itu, Nek?"
Ada jeda cukup lama sebelum Sari menjawab. "Anak tetangga sebelah itu dia, Letta, Arletta Zachary. Putrinya Ibu Wulan sama Bapak Haris. Kalian berdua sebenarnya udah kenal lebih lama daripada yang kalian berdua tahu. Tapi sayangnya kalian berdua sama-sama tidak akan ingat." paparnya dengan sedih.
Dan jawaban Sari membuat Alex menahan nafas sesaat. Dadanya terasa sesak karena ternyata ia sudah selama itu kenal dengan Letta. Tapi besarnya keduanya bahkan tidak saling mengenal. "Terus kenapa tidak ada yang bisa ingat?" tanya Alex dengan suara tersendat.
Badan Alex menegang mendengarnya. Jadi ia dan Letta pernah mengalami kecelakaan sampai Letta terluka parah dan mengalami amnesia permanen. Kurang lebih begitu yang bisa Alex tangkap. Alex mengerjapkan matanya masih merasa linglung dengan kabar mendadak ini. Ia tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Tapi, kalau Letta mengalami amnesia hingga tidak bisa mengingat masa kecilnya, apakah Alex juga mengalami amnesia? Secara dia juga tidak bisa mengingat semuanya. "Lalu aku?" tanyanya.
Sari tampak enggan mengatakannya. Ia bisa melihat mulut neneknya tadi terbuka sekarang terkatup lagi.
"Nek," desak Alex.
Akhirnya Sari mengalah. Ia menarik nafas dulu sebelum menjawab. "Kamu baik-baik saja dari segi fisik tapi tidak dengan mental kamu. Kamu harus menjalani serangkaian hipnoterapi. Kamu diterapi dan diberi sugesti agar tidak bisa mengingat hal-hal yang menyedihkan selama sebelum delapan tahun. Dan kenangan kamu di desa ini perlahan menghilang semuanya dari pikiran kamu. Tapi kamu bisa ada kemungkinan untuk ingat kembali lagi, karena waktu kamu diterapi dulu, kamu gak sepenuhnya mau. Kamu berontak. Mungkin itu sebabnya terapinya kurang berhasil. Buktinya sekarang kamu malah sering sakit kepala ketika berusaha mengingat sesuatu atau berpikir terlalu keras, bukan?"
Alex terdiam membisu. Ia tidak bisa lagi berkata-kata lagi setelah mendengarkan penjelasan neneknya mengenai dirinya yang menjalani hipnoterapi. Astaga... Memang ia kenapa sampai segitunya, sampai kenangan masa kecilnya terancam dihapus semuanya.
"Tapi kenapa?" kata Alex begitu ia menemukan suaranya kembali.
Raut wajah Sari semakin muram dan sedih. Kali ini mata neneknya itu tampak sayu dan mulai berkaca-kaca. "Percayalah, itu semua bukan kehendak orang tua kamu. Mereka terpaksa melakukannya karena kamu nekat mau bunuh diri. Dua kali kamu melakukan percobaan bunuh diri padahal umur kamu baru delapan tahun."
Sepertinya belum cukup keterkejutannya akan berita-berita sebelumnya. Kali ini ia dibuat terperangah dengan berita yang paling mencengangkan seumur hidupnya yang pernah ia dengar.
Alex tertawa keras tapi miris. Ia menggeleng berusaha tidak mempercayai semua itu. "Nenek bercandanya gak lucu."
Kali ini Sari mengusap matanya berusaha menghalau air matanya yang ingin tumpah. "Itu kenyataannya." Namun sekuat apapun Sari menahannya, nyatanya ia hanya manusia biasa yang tidak kuat menahan segala kepedihan yang pernah terjadi. Ia pun mulai terisak kecil.
"Seperti yang nenek katakan kalau kalian berdua mengalami kecelakaan. Begitu Letta bangun, ia hilang ingatan dan gak bisa mengingat kamu. Letta yang masih belum bisa mengingat apa-apa tidak mau bertemu sama kamu dan selalu mengusirmu kalau kamu berkunjung karena dia ketakutan dengan orang lain. Dan karena itu kamu terguncang mendapati teman dekatmu bahkan tidak bisa megingatmu, kamu juga tidak terima akan semua itu."
Ada jeda sebelum Sari melanjutkannya lagi. "Waktu itu malam hari dan kebetulan tidak ada yang menjaga Letta karena semua orang makan malam di kantin rumah sakit. Lalu kamu melakukan hal fatal saat itu dengan masuk dan mengamuk di ruangannya Letta. Kamu merusak alat kesehatan di ruangannya Letta, dan dia yang ketakutan semakin takut melihat kamu. Ketika Letta berusaha menghindar dari amukanmu itu, dia jatuh dan kepalanya membentur lantai lagi. Alhasil Letta koma dan tidak sadar selama kurang lebih satu minggu.
Sejak saat itu kamu jadi mengurung diri dan menyalahkan diri sendiri karena kamu berpikir kalau kamu yang membuat Letta terluka dan sakit. Ditambah Letta yang tidak mengingatmu, makanya kamu semakin menjadi-jadi dalam menyalahkan diri sendiri. Yang kamu lakukan setiap hari hanyalah diam dan tatapanmu selalu kosong. Kamu menggumamkan kata maaf berulang kali."
Sari berhenti karena terisak. Air matanya sudah mulai luruh melewati pipinya. "Orang tua kamu sangat sedih melihat kamu seperti itu. Mama kamu menangis kalau kamu tidak mau menjawab apapun yang mama kamu katakan. Kamu makan aja susah sampai kamu jatuh demam. Mama sama papa kamu menjagamu setiap detiknya. Mereka berharap kamu akan kembali menjadi Alex yang ceria, Alex yang punya semangat."
"Tapi nyatanya tidak semudah itu." Sari berkata sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Melihat itu jantung Alex merasa seperti diremas dari dalam kuat-kuat.
Alex ingin menenangkan neneknya seperti ketika neneknya menenangkannya lima jam yang lalu, tapi apa daya ia juga terlalu lemas setelah mendengar pemaparan berita itu semua. Alex harus menerima dan mendengarkan semua tentang masa kecilnya yang ternyata serumit itu.
Perlahan Sari melanjutkan. "Kemudian, soal upaya percobaan bunuh diri itu kamu melakukannya sampai dua kali. Pertama kamu akan terjun ke sungai dari atas jembatan, tempat kalian berdua kecelakaan. Tapi beruntung waktu itu ada orang lewat dan melihat kamu sudah berdiri di setengah pagar jembatan. Telat satu detik saja mungkin kamu tidak akan tertolong.
__ADS_1
Orang tua kamu semakin bersedih dan cemas akan mentalmu, Alex. Akhirnya mereka membawamu ke kota. Mereka pikir kamu harus dijauhkan dari segala hal yang berhubungan dengan Letta agar kamu tenang. Namun nyatanya itu gak berhasil."
Sari terisak lagi dan lagi. "Kamu mencoba bunuh diri dengan menyayat tangan kamu."
"Aku? Nyayat tanganku sendiri?" Alex tampak pucat pasi. Tenggorokannya tercekat membuatnya kesulitan bernafas.
Sari mengangguk putus asa. "Kamu pasti tahu ada bekas luka di tangan kamu. Itu bekas sayatan kamu. Dari usaha bunuh diri."
Alex ingat ia memang mempunyainya. Tapi dulu mamanya bilang itu adalah luka hasil jatuh dari motor. Tapi kenyatan yang ada lebih menakutkan dari jatuh dari motor semata. Astaga... Itu luka hasil percobaannya dalam membunuh dirinya sendiri. Alex merasa kepalanya pening memikirkannya. Ia tidak kuat. Ia tidak bisa menerima semua berita ini lagi. Ia sudah tidak sanggup. Alex rasanya mau pingsan saja dan begitu bangun, ia akan sadar kalau semua ini hanyalah mimpi.
Tapi ini kenyatannya, batinnya menimpali. Alex melirik ke bekas lukanya yang sudah memudar tapi akan tetap berbekas sampai kapanpun.
Sari rupanya masih belum selesai bercerita, karena neneknya ini ternyata masih melanjutkan penjelasannya. "Setelah berbagai macam pertimbangan, kamu akhirnya melakukan hipnoterapi. Terapi yang dilakukan utnuk menghilangkan ingatan seseorang."
"Tapi kenapa sekarang aku bisa mulai ingat? Seperti ketika melihat foto itu dan kepalaku mulai sakit kalau mau mengingatnya."
"Ingatan seseorang biasanya muncul karena ada pemicunya. Dan mungkin karena kamu di desa tempat dulu kamu tinggal, itu sudah membuat sedikit jadi pemicu. Ditambah dengan foto yang kamu temukan. Atau mungkin ada hal lain lagi yang sudah memicu kamu selain itu semua. Sesuatu yang lebih kuat."
"Jembatan." gumam Alex parau.
"Kamu sudah datang ke jembatan itu?" Sari bertanya dengan terkejut.
Alex pun mengangguk kaku. "Iya, Letta selalu cerita kalau ia punya trauma dan itu berasal dari jembatan itu. Katanya dia jatuh dari jembatan. Terus Letta ngenalin jembatan itu ke aku."
"Itu kan sama kamu." seru Sari.
"Apa?!" kali ini jantung Alex berdegup kencang. "Maksud nenek apa?"
"Kecelakaan yang nenek maksud adalah kalian berdua di jembatan itu. Letta yang jatuh terbawa arus sungai dan menghantam batu besar disana. Itu membuat kepalanya terbentur keras. Mungkin itu yang buat dia kehilangan ingatannya. Walaupun begitu, beruntung juga karena batu itu menahannya agar tidak terseret arus lebih jauh."
Alex tidak tahu lagi apakah dirinya masih siap menerima beberapa berita lagi. Karena ia yakin sekarang pikirannya sudah semrawut sekali dan terlalu banyak pikiran mengumpul menyatu di sana. Membuatnya seperti benang-benang kusut yang tak berujung.
"Terus kenapa---kenapa aku baik-baik aja? Kenapa hanya letta yang jatuh."
"Itulah yang kami tidak tahu. Kamu diam dan kalau ditanya kenapa bisa seperti itu, kamu malah menangis keras dan seperti yang tadi nenek bilang, kamu menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian itu. Pada waktu itu juga tidak ada saksi matanya."
Alex mengerjapkan matanya. Ia merasa sangat bingung sekarang. Kenapa ia memiliki pengalaman masa kecil yang serumit itu. "Setelah aku ke kota, apa yang terjadi sama Letta?"
Sari tampak memandang ke atas seperti membayangkan sesuatu. "Letta, dia kesepian. Seakan ada sesuatu yang hilang darinya. Dia tidak mau berteman dengan siapapun. Barulah beberapa bulan kemudian, Letta masuk SD. Dan di sana Letta bertemu dengan teman baru, namanya Hami. Nenek ingat Hami itu anaknya ceria, mirip sama kamu dan hanya dia yang Letta jadikan teman. Mereka berdua dekat waktu kecil tapi gak sedekat kamu sama Letta. Sampai sekarang nenek rasa mereka masih satu sekolah.
Oh iya Alex. Kamu itu lebih tua satu tahun dari Letta. Waktu itu terjadi, kamu menginjak usia delapan tahun dan Letta berumur tujuh tahun. Cuma kamu masuk kelas satunya telat karena awalnya kamu berniat masuk sekolah barengan sama Letta, sebelum akhirnya peristiwa itu terjadi."
***
Alex duduk termangu di kamar tidurnya. Ia menyugar rambut hitamnya ke belakang. Ia sama sekali tidak pernah menyangka masa kecilnya serumit dan sekelam itu. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya sama sekali.
Bunuh diri? Alex merasa jangtungnya mencelos dan perutnya mendadak mual membayangkan di umur yang baru menginjak delapan tahun dirinya mencoba bunuh diri.
Alex menarik tangannya, melihat ke arah bekas sayatan di tangannya. Senekat itukah dirinya dulu.
Melakukan percobaan bunuh diri karena merasa bersalah pada Letta dan tidak terima Letta melupakannya. Lalu sekarang, Letta juga tidak bisa mengingatnya sama sekali. Tapi bagaimana kalau nanti Letta tahu kalau dialah yang membuat cewek itu tidak bisa mengingat masa kecilnya. Alex juga yang telah membuat Letta jatuh ke sungai dan menyebabkan cewek itu mempunyai trauma berkepanjangan bahkan sampai saat ini.
Apakah Letta akan membencinya? Apakah Letta akan menyalahkannya? Apakah... Letta akan meninggalkannya begitu tahu yang sebenarnya. Dan nanti apakah tidak mau bertemu dengannya lagi?
Bagaimana Alex bisa bertemu dengan Letta tanpa merasakan tikaman rasa bersalah itu. Alex lah yang membuat Letta hidup dalam ketakutan. Iya, Semua itu karena Alex. Perbuatan seperti apa yang sebenarnya ia lakukan hingga membuat cewek itu jatuh ke sungai. Alex tidak--- atau lebih tepatnya belum bisa mengingatnya.
Dan soal percobaan dirinya di sungai tadi, itukah mengapa ketika ia dan Letta ke jembatan, Alex lah yang merasa pusing. Alex masih ingat ketika pulang sekolah mereka mampir ke jembatan, dan yang merasa takut bukan Letta. Itu sebabnya Letta bilang kalau cewek itu curiga bukan dari jembatan itu Letta jatuhnya. Dan Alex yang merasa pusing karena ia sempat akan melakukan bunuh diri disana. Yaa... Semua ini terasa masuk akal sekarang.
Tapi... Kenapa fakta ini terkuak ketika hubungannya dengan Letta baru saja membaik. Maksud Alex adalah ketika ia mencoba untuk mendekati Letta lagi walaupun sudah tersakiti ketika melihat apa yang Letta lakukan di belakangnya. Alex menekan rasa sakit hatinya ketika melihat cewek itu dengan Hami tadi siang di sekolah.
Alex berusaha untuk bertahan hingga akhir. Walaupun cewek yang ia sukai itu tidak membalas perasaannya, setidaknya mereka berdua masih bisa bersama. Bersama. Berdua. Hanya itu yang Alex mau.
Kalau Letta tahu, bukankah besar kemungkinan Letta akan membencinya. Dan dia akan menjauh dari Alex kemudian jatuh ke pelukan si Hami. Hami, cowok yang menjadi pengganti dirinya setelah ia kembali ke kota. Kalau saja peristiwa itu tidak terjadi... Kalau saja... Kalau saja seperti itu, Alex bisa memastikan kalau ia masih dengan letta. Bahkan bisa saja hubungan mereka berdua sudah lebih dari sahabat. Mengingat mereka berdua sudah dekat sejak kecil, tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketertarikan emosional di antara mereka berdua.
Tapi karena kejadian itu, peran Alex di kehidupan Letta menghilang dan tergantikan oleh sosok yang baru. Sosok baru yang mampu menjaga Letta lebih daripada yang Alex lakukan.
Memikirkan itu membuat kepala Alex berdenyut sakit lagi. Padahal tadi ketika Sari bercerita dan Alex mencerna semua itu, ia tidak mengalami sakit apapun.
Alex membiarkan dirinya berbaring ke kasur dan mulai memejamkan matanya. Memijit pelipisnya berharap dapat mengurangi rasa sakit di kepalanya. Atau mungkin bukan kepalanya saja yang sakit, tapi juga hatinya.
__ADS_1