
Letta mengernyitkan keningnya melihat Alex yang semakin mendekatkan badan ke arahnya. Jantungnya bahkan sudah berdegup kencang saat ini. Otaknya terasa blank ketika mencium bau harum sabun menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
Berbeda dengan bau kamar Alex tadi yang terlalu maskulin hingga membuat Letta mual, sekarang bau wangi sabunnya malah membuat dirinya betah dan berusaha meraup sebanyak mungkin wanginya ke dalam hidung dan mengingat seperti apa baunya. Mungkin ia akan menanyakan nanti sabun apa yang Alex pakai.
Letta tersentak kaget ketika tangan Alex mengambil satu tangannya yang berada di samping tubuhnya dan Alex menaikkannya ke atas. Jantung Letta semakin berdegup cepat daripada tadi ketika Alex menurunkan kepalanya dan melihat tepat ke wajahnya Letta, tak lupa disertai seringai nakal khas Alex.
"Ma-mau apa lo?" tanya Letta terbata. Rupanya suaranya cukup bergetar.
"Gue kan udah bilang mau ngasih apa yang lo cari ke kamar gue." kata Alex.
Alex menguraikan tangan Letta yang ia ambil dan secara reflek Letta pun menyentaknya. Sedetik kemudian ia mengayunkan tangannya tadi dan memberikan bogeman mentah ke pipi Alex.
"Sialan !!!" Alex memekik keras begitu merasakan nyeri di tulang pipinya.
Letta terkaget mendengar pekikan Alex itu. Sepertinya pukulannya tadi benar-benar keras terbukti ketika Alex berbalik, ia dapat melihat darah kecil di sudut bibir Alex.
Letta yang masih kaget juga sampai tidak mendengar kalau ada suara benda berdentum keras menghantam lantai.
"Lo mau mati hah? Kenapa lo malah mukul gue?!" bentak Alex padanya disertai dengan tatapan tajam.
Letta mengerjapkan mata sesaat sebelum menatap Alex tak kalah tajam. Ia tak bersuara, jadi yang terdengar selanjutnya adalah deru nafas alex yang tidak teratur. Letta rasa Alex benar-benar marah sekarang.
"Kenapa diem? Punya mulut kan buat jawab." desis Alex sambil menyeka darah yang keluar sedikit sampai bersih. "Gue gak ngapa-ngapain juga, malah ditonjok."
Amarah Letta terpancing. Apa Alex lupa apa yang akan dia lakukan tadi, dan Letta rasa tidak ada salahnya kalau dirinya melakukan pertahanan diri dengan memberikan sebuah pukulan maut.
"Gue cuma ngelakuin yang harus gue lakuin. Gue cuma melakukan pertahanan diri dari cowok brengsek kayak lo." jawab Letta dengan berani. Tak gentar dengan tatapan Alex yang sudah setajam pisau.
Namun sedetik kemudian tatapan setajam pisau itu berganti dan matanya berkilat nakal kembali. Apa yang terjadi... Apa Letta ada salah?
Alex tiba-tiba terkekeh dan tersenyum mengejek. "Lo melakukan pertahanan diri? Dari apa?"
Gezzz.. Dia bahkan pura-pura tidak tahu dan Letta akui kalau aktingnya sangat bagus. Setelah Alex membuatnya seperti seorang mangsa tadi, sekarang cowok di depannya ini malah bersikap kalau dirinya tidak tahu menahu tentang apapun. Dasar cowok!!
Letta menaikkan dagunya ke atas dengan mata yang masih menantap ke Alex. "Dari iblis jahanam macam lo?"
"Gue? Iblis?" Alex menaikkan alisnya ke atas.
Letta mengangguk dan Alex malah tersenyum lebar ketika mendapati sebuah dugaan melintas di otaknya.
"Kenapa lo bilang gue iblis?"
"Lo tahu jawabannya." geram Letta.
"Gue gak tahu. Jelasin." ucap Alex santai yang membuat Letta semakin geram.
"Lo tahu. Titik."
"Sekali lagi gue bilang kalau gue gak tahu."
Letta sudah tidak kuat. Ahh andai saja membunuh orang tidak dosa ia akan mencabik-cabik Alex, mengarunginya, lalu membuangnya ke sungai sekalian biar dimakan buaya.
Letta menelan ludah dahulu. "Ka-- karena lo tadi mau ngelakuin hal yang enggak-enggak ke gue. Lo---lo mau..." ucapannya menggantung
Ia bahkan merasakan pipinya memerah entah karena malu mengatakan kalimat itu atau karena terlampau marah pada Alex. Entahlah ia tidak tahu apa itu. Yang jelas pipinya terasa panas sekarang.
Sedangkan Alex ia malah tergelak dan tertawa keras. Ia membalikkan badannya dan berusaha menghentikan tawanya. Saat itu juga Letta ingat kembali kalau Alex masih hanya mengenakan handuk yang menutupi setengah tubuhnya.
"Kenapa ketawa?" tanya Letta sebal karena Alex menertawakannya. Pasti ia sangat konyol.
Alex berbalik lagi, rambutnya sudah acak-acakan tak seperti tadi yang cukup rapih. Mungkin karena kepalanya terus bergerak ketika tertawa tadi makanya rambutnya jadi berantakan.
Alex menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Letta yang terlewat jauh. "Lo-- lo pikir gue bakalan nyium lo gitu?"
Letta yang tadinya berani menghadap Alex menjadi malu lagi. Apalagi tebakan Alex seratus persen benar. Pipinya memanas lagi dan ia lebih memilih untuk diam saja.
Alex lalu menambahkan "Gue tahu jalan pikiran lo itu---"
"Gue nggak."
"---Tapi sayang, perlu gue katakan ke lo kalau gue sama sekali gak minat buat nyium cewek kayak lo. Kebayang ke sana pun gak pernah. Jadi, stupid girl buang jauh-jauh harapan lo karena gue gak akan pernah nyium lo."
__ADS_1
"Ngeles aja terus, kalau bukan itu terus tadi maksud lo apa dengan lo ndeketin gue?! Sampe pegang tangan gue segala." bentak Letta yang tidak terima, apalagi tadi ia dikatakan stupid girl.. Wth !!!
"Untuk ke sekian kalinya gue bilang kalau gue mau ngasih apa lo cari di kamar gue." kekeh Alex.
"Emang lo tahu apa yang gue cari?" tanya Letta sinis.
Alex mengangguk samar. Masih dengan seringai nakalnya ia menunjuk ke arah lantai yang letaknya tak jauh dari mereka berdua berdiri sekarang.
Dan tepat di sana sudah ada buku bersampul biru dengan keadaan yang mengenaskan. Sampul birunya robek dan bukunya terbuka, terlihat bagian tengah bukunya.
"Itu kan yang lo mau. Tadinya gue lagi pegang tuh buku dan gue ngambil tangan lo buat ngasih buku itu ke lo sebelum akhirnya lo malah nonjok gue. Dasar cewek omes."
Apakah Letta malu? Jawabannya malu pake banget. Dirinya malu karena mengira kalau Alex akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya, tapi ternyata dugaannya kelewat salah besar.
Heh... tapi siapa yang tidak akan salah sangka kalau ada cowok yang tiba-tiba mendekat dan membuat kalian hampir jantungan. Sudah pasti siapapun akan berpikir hal yang sama dengan Letta. Jadi disini ia pikir ia tidak salah.
Letta bergerak dan mengambil bukunya yang tergeletak mengenaskan di lantai. Setelah merapihkan sampulnya, ia tidak mampu berbalik menghadap Alex. Malu...
Mama... Jemput Letta...
"Dari mana lo tahu kalau gue nyari buku ini?" tanya Letta, akhirnya dirinya mampu menemukan suaranya kembali.
Letta mendengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh dan suara lemari dibuka. "Nebak aja." jawab Alex datar.
"Eh eh eh?! Lo lagi ngapain?" tanya Letta was-was begitu mendengar suara kain-kain bergesekan setelah suara lemari ditutup.
"Gue lagi pakai baju. Lo jangan balik badan. Tapi kalau lo mau, silahkan aja. Pikiran lo kan udah terlanjur ngeres."
Letta bisa memastikan kalau Alex sedang memberikan seringaian khasnya sekarang. Dan dirnya masih mematung di tempat, sedangkan matanya menatap terus ke arah buku yang ia pegang, tak berani menatap ke arah lain apalagi ke cowok gila itu.
Bayangkan! Bagaimana bisa Alex berganti baju di saat ada seorang cewek masih di dalam kamarnya. Ughh seharusnya Letta keluar secepatnya tadi.
"Lo bisa berbalik sekarang. Gue udah selesai." Alex berkata dengan tenang seakan tadi bukan apa-apa.
Letta memutuskan untuk menolehkan wajahnya perlahan ke belakang dan benar saja Alex sudah berpakaian dengan kaos polos berwarna putih dan celana hitam pendek yang panjangnya hanya mencapai lutut. Rambutnya sudah cukup rapih daripada tadi.
"Lo nyari buku lo gak elit banget yah sampe ngerusak barang-barang gue." kata Alex sembari menunjukkan hpnya yang sudah berada di tangan.
"Gue tadi nyari buku gue di kamar lo tapi gak ketemu temu. Dan lo malah nemuin nih buku cepet banget."
Alex berjalan ke arah sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia duduk di sana, menyandarkan badannya ke sandaran sofa. Kakinya ia angkat ke atas meja. Sungguh tidak sopan, pikir Letta.
"Lo pasti belum nyari ke sini." Alex menepuk bagian sofa di sebelahnya.
"Buku lo tadi di sini. Tapi mungkin karena lo terlalu sibuk nyari ke tempat lain dan posisi lo ngebelakangin sofanya, makanya lo gak bakalan nemu."
Letta hanya ber-oh ria. Yang penting sih sekarang bukunya sudah ketemu.
Letta bisa liat Alex mengambil remot dan menyalakan televisi, menonton acara sepak bola yang sedang ditayangkan di stasiun televisi nasional.
"Lo suka bola?"
"Gak juga. Gue lebih suka musik."
Letta beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan mendekati Alex. Ia meraih remot yang berada di pangkuan Alex lalu memindah stasiun televisi yang menayangkan acara sepak bola itu ke stasiun lain yang menayangkan acara musik.
"Itu baru musik, kalau lo sukanya musik kenapa malah nonton bola."
Alex memutar bola matanya malas. "Dan lo pikir gue doyan sama plastic plastic club itu?"
"Apa !? Plastic plastic club?" mata Letta melotot.
"Nah itu lo liat kan, wajahnya mulus semua bahkan mirip cewek. Mereka paling oplas." Alex menunjuk ke arah televisi.
"Lo cari mati sama gue?!"
"Gak usah berlebihan. Mending lo kembaliin remotnya."
Letta berdiri tanpa mau mengembalikan remotnya. Ia tak terima kalau para oppa-nya dibilang apa tadi.. Plastic plastic club. Ughh sialan...
Letta menatap Alex tajam. "Tarik ucapan lo baru gue kasih nih remot buat lo."
__ADS_1
Walaupun rasa sukanya pada artis korea tidak sebesar rasa sukanya Mira, tapi tetap saja ia merasa tidak terima. Apalagi yang sekarang sedang tampil di tv dan diejek Alex adalah EXO !!! Bahkan malaikat dan setan pun tahu kalau EXO adalah grup kesukaannya.
"Ribet banget sih jadi cewek." Alex beranjak menyusul dan merebut remotnya dari tangan Letta secepat kilat ketika cewek itu lengah.
Dengan kasar ia mengganti acara tvnya tadi dengan acara sepak bola yang tadinya ia tonton. Sungguh, ingin sekali Letta menonjok pipi Alex yang sebelahnya lagi. Tapi mengingat ia di rumah Sari dan kemungkinan Alex bisa mengadu, Letta jadi mengurungkan niatnya.
Mengabaikan keinginan untuk menonjok Alex lagi, Letta lebih memilih untuk mengganti topik.
"Jangan lupa besok lo pake baju olahraga dari rumah. "
"Gue gak setua itu buat lupa sama omongan lo tadi sore." jawab Alex datar.
Letta mengerucutkan bibirnya ke depan beberapa senti mendengar sedatar apa jawaban Alex. Bingung karena tidak tahu apa yang akan ia lakukan lagi di kamar Alex, Letta pun berniat untuk pulang saja ke rumah.
"Gue mau balik. Hmm.... Btw, makasih bukunya." Letta berbalik dan pergi.
Sampai di pintu ia mendengar Alex memanggil namanya. Letta berbalik dan bertanya ada apa.
"Gue ikut, mau numpang wifi sebentar ke rumah lo."
Yang terjadi selanjutnya adalah Alex mengambil jaket yang berada di atas kasur lalu memakainya. Kalau atasnya tertutup dengan jaket tapi bawahnya masih memakai celana pendek selutut ya sama aja bohong. Tetep aja dingin bego, rutuk Letta dalam hati.
"Kelamaan gue tinggal."
Alex yang sedang mematikan acara televisinya melirik Letta yang lucu karena cewek itu mengatakan kalimat yang sama ketika Alex menungguinya di sekolah tadi sore.
"Tinggal aja, lagian gak ngaruh sama gue."
Alex memasukan handphonenya dan juga tangannya ke dalam saku jaket hitamnya. Jujur saja, ia tampak menjadi lebih... Mungkin tampan.
Letta menggelengkan kepalanya cepat begitu memikirkan kalau Alex itu tampan. Huhh, lebih cakepan juga Hami. Bagi Letta sih begitu.
Keduanya turun ke bawah dan Alex mengatakan tujuannya keluar untuk menumpang wifi ke rumah Letta, Sari memperbolehkannya. Sari juga tadi sempat menanyakan tentang bukunya Letta yang dicari.
"Jangan kelamaaan main wifinya. Udah malem." kata Letta ketika Alex sudah berada di bawah pohon dan dirinya sendiri sudah di teras rumah hendak masuk ke dalam.
Alex yang mendengarnya cuma tertawa kecil. "Tumben perhatian."
Letta mendengus lalu menambahkan. "Karena kalau lo kelamaaan tagihan wifi sama listriknya makin gede."
Tanpa berkata apa-apa lagi Letta masuk ke dalam rumah. Alex pun juga naik ke atas menikmafi wifi gratis.
Letta sudah berada di kamarnya dan segera menyalin jawaban tugas yang ada di bukunya Mira ke dalam bukunya sendiri. Setelah satu jam lamanya ia baru selesai.
"Gila tangan gue serasa mau lepas. Bahkan jari gue sampe kempes." gerutu Letta lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Letta mendengar suara langkah kaki mendekat dan melihat Wulan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Ma?" tanya Letta bingung.
Wulan mendekat dan bertanya. "Mama tadi liat lampu di rumah pohonnya nyala dan mama kira kamu habis ke situ dan lupa belum matiin lampunya. Jadi mama ke sana. Tapi ternyata di sana ada Alex."
Letta mengernyit bingung. "Terus kenapa dengan Alex, Ma? Bukannya mama juga udah ngizinin dia main wifi di situ."
Wulan menggelengkan kepalanya pelan. Ia membuka lemarinya Letta dan mengambil sesuatu dari dalam yang membuat Letta tambah bingung. Mamanya itu mengambil selimut. Tapi buat apa.
"Mama ngapain ambil selimutnya Letta?" Letta berdiri dan mendatangi Wulan.
"Mama liat Alex pake jaket tapi pakenya celana pendek. Mama gak tega liat dia kedinginan."
Dan yahh Letta jadi tahu alasan Wulan mengambil selimut.
"Jadi mama berniat ngasih selimut ini buat Alex gitu?" Letta mencibir.
Wulan menggeleng lemah. Dan membuat Letta semakin bertambah bingung. Tapi jawaban Wulan selanjutnya membuatnya terdiam.
"Bukan mama yang ngasih. Tapi kamu yang ke sana. Kamu kasih selimut ini ke Alex ya, lagian ini selimut udah gak kamu pake lagi kan." Wulan menyerahkan selimut berwarna abu-abu itu pada Letta.
Awalnya Letta menolak dan menyuruh agar Wulan saja yang membawanya ke Alex tapi Wulan beralasan mengantuk jadi lebih baik Letta saja yang ngasih.
Alasan banget sih mamaku ini...
__ADS_1