
Pulangnya, ketika Alex sampai di rumah, ia mendapati Sari tengah duduk di sofa depan televisi dengan kepala menunduk ke bawah. Posisi Sari membelakangi Alex sehingga ia tidak bisa melihat dengan pasti apa yang sedang neneknya itu lakukan. Yang jelas bukan menonton televisi, karena televisinya menampilkan layar hitam alias tidak menyala.
Tanpa membuat suara, Alex berjalan mengendap-endap sampai ke belakang Sari dan melongokkan kepalanya sedikit ke depan. Dari situ Alex tahu kalau neneknya ini sedang membuka-buka sebuah album foto. Alex mengarahkan matanya ke salah satu foto, tapi pandangannya terputus karena Sari sudah membalikkan ke halaman selanjutnya.
"Kamu dulu itu lucu banget, sekarang besarnya gak ada lucu-lucunya sama sekali." Sari tertawa ringan ketika mengatakannya, jarinya ia gunakan untuk mengusap foto anak kecil yang ada di album.
Alex ingin ikut melihat fotonya, tapi terhalang oleh tangan neneknya. Lalu Sari membuka satu halaman lagi, dan tawa Sari lenyap seketika. Kini jarinya yang mulai keriput mengusap kembali salah satu foto disana.
Alex berpendapat, kalau Sari pasti sedang membayangkan sesuatu yang menyedihkan. Bahu neneknya terkulai lemas ke bawah, seperti menahan sesuatu yang berat.
Alex memajukan wajahnya dan matanya menyipit ke arah foto yang Sari usap. Rasanya seperti kenal sosok yang ada di balik foto itu. Foto seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun dengan rambut yang tidak tertata rapih. Di foto, anak itu terlihat sangat senang, bisa dilihat dari senyumnya yang melebar hingga bibirnya menipis dan matanya menyipit hingga hampir tak terlihat.
Sedetik yang lalu Alex tidak menyadari siapa anak kecil itu. Tapi setelah badannya mencondong beberapa centi lebih ke depan lagi, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang begitu lihat fotonya lebih jelas dan anak yang ada di foto itu adalah... ia sendiri.
Belum sempat Alex mencerna yang terjadi, tiba-tiba foto itu sudah raib dari pandangannya dan mendapati Sari sudah menutup album fotonya. Rupanya keberadaannya ini sudah diketahui Sari karena neneknya itu berbalik dengan cepat.
"Alex...!" seru Sari yang kaget mendapati Alex ada di belakangnya. Tadinya memang ia tidak sadar, tapi begitu ia mencium bau parfum khas Alex, radar dalam dirinya langsung berkata bahwa ada Alex disekitarnya. Dan begitu terkejutnya ia ketika mendapati Alex sedang ikutan melihat ke foto yang ia lihat.
"Kamu sejak kapan disitu?" tanya Sari khawatir.
Entah ini telinga Alex yang bermasalah atau bukan, tapi ia bisa mendengar suara neneknya ini bergetar.
Sementara menunggu jawaban Alex, Sari mengambil beberapa album yang ia letakkan di meja. Album fotonya sama seperti album foto yang tadi. Alex baru sadar kalau ada album lain disitu. Kalau dihitung, ada lima album foto termasuk yang Sari pegang.
"Cukup lama, sekitar dari tiga halaman di depan halaman terakhir." jawab Alex dengan kening mengernyit bingung melihat Sari yang terburu-buru mengumpulkan lima album foto itu. Sari tampak kesusahan mendekap album foto itu di depan dada.
"Mau aku bantu?" tawar Alex.
"Tidak usah." Sari menggeleng tegas dan sekali lagi memegang album foto itu lebih erat lagi sebelum akhirnya mulai berjalan pergi.
Karena terburu-buru, Sari tidak sadar ada satu foto yang terjatuh ke bawah dan masuk ke kolong meja. Tapi itu semua tertangkap di mata Alex.
"Nek, itu--" Alex akan mengatakan kalau ada foto yang jatuh, tapi Sari sudah menyela lebih cepat.
"Bukan apa-apa, lebih baik kamu naik ke atas terus mandi. Nanti biar nenek siapin makanannya."
Setelah berkata seperti itu, Sari bergegas pergi dan masuk ke kamarnya. Menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi.
Alex menganggap perilaku neneknya itu yang aneh. Padahal Alex tidak mengatakan apa-apa atau melakukan sesuatu yang macam-macam, tapi kenapa neneknya terlihat panik seakan-sedang ada dalam bahaya. Tidak salah lagi, kalau tadi Sari tampak ketakutan dan semua ini pasti karena album foto itu.
"Tau deh." Alex mengangkat bahunya tak acuh dan memilih untuk tidak memusingkannya. Mungkin itu memang bukan haknya untuk tahu.
Alex hendak menuju ke kamar, tapi baru satu langkah, ia berhenti. Teringat akan foto yang tadi tidak sengaja terjatuh ke kolong meja. Ia lalu mendekati meja dan berjongkok. Tangannya terulur mengambil foto itu. Setelah dapat, ia kibaskan fotonya biar debu halus yang menempel hilang.
Begitu melihat foto itu, keningnya mengernyit lebih dalam dari sebelumnya ketika mengamati dua anak yang ada di foto itu. Anak laki-laki dengan tangan yang merangkul bahu anak perempuan. Anak laki-laki yang sama seperti di foto yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Anak laki-laki yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Lalu, kalau itu dirinya, siapakah anak perempuan yang berdiri di sebelahnya itu. Dari foto itu jelas mereka tampak akrab. Keduanya sama-sama melebarkan senyum sampai gigi putih mereka terlihat. Masalahnya Alex tidak ingat siapa anak perempuan itu. Bahkan setahunya waktu ia kecil ia jarang berteman dengan anak perempuan, secara anak kompleksnya dulu kebanyakan laki-laki.
Alex berusaha untuk mengingat tapi tetap saja semuanya buram. Seakan-akan otaknya memblokir sesuatu untuk diingat. Bukannya mendapatkan jawaban siapa anak kecil perempuan itu, Alex malah mendapati sengatan tajam di kepalanya selama beberapa detik. Alex meringis merasakannya.
Dari dulu selalu seperti ini, batinnya.
Ia kemudian memejamkan mata dan menarik nafas dalam, perlahan rasa sakit di kepalanya berangsur menghilang. Kemudian Alex beranjak dan mulai melangkahkan kakinya mneyusuri anak tangga menuju kamarnya.
Namun, begitu di tengah jalan, langkah Alex memelan dan akhirnya berhenti. Bersamaan dengan sebuah kenyataan yang datang dan pikirannya terbawa ke mimpi anehnya tempo hari.
Lalu Alex mengambil sebuah kesimpulan. Ia menaikkan foto tadi dan melihat ke sosok anak perempuan yang ada di foto.
Anak perempuan ini... Anak yang sama seperti di mimpi gue.
****
Alex menyugar rambutnya yang basah ke belakang karena tidak mendapati tanda-tanda kalau pikirannya akan tenang. Ia bahkan sudah mandi demi mendinginkan kepalanya supaya tidak bertanya-tanya terus akan semua ini, tapi alih-alih jadi tenang, Alex malah jadi merasa kepalanya seakan dihantam benda keras. Pusing.
Selalu. Selalu saja kalau ia berpikir keras atau tekanan yang berat, pikirannya menjadi tak karuan dan pusing. Makanya selama ini ia tidak terlalu memikirkan semua perbuatan yang ia lakukan, ia cenderung menganggap semuanya dengan santai.
Alex harus mencari pengalihan. Iya, harus. Agar pikiran dan hatinya tidak terpaku pada teka-teki : siapakah anak perempuan itu, kenapa neneknya bersikap aneh dan yang paling utama adalah.... sebenernya siapakah dirinya atau apa yang terjadi dengannya.
Alex mengalihkan pandangannya ketika ponsel miliknya bergetar. Ia melihat caller id si penelpon dan merasa beruntung, mungkin ini cukup baik untuk pengalihan. Ia lalu menggeser tombol yang berwarna hijau.
"Halo," kata Alex mendahului orang yang menelpon.
"Loh, ini Alex bukan sih?" tanya orang dari seberang sana.
"Iya, ini gue."
"Gue pikir bukan, soalnya suara lo beda."
"Beda gimana?"
"Lebih serak gitu kayak orang nahan boker."
"Jijik kampret."
"Bercanda gue elah."
"Yaudah, sekarang cepet lo mau ngomong apa."
__ADS_1
"Kenapa maunya cepet-cepet? Lagi sama cewek ya, ngaku lo."
"Berisik, kepala gue sakit bego."
"Kepala? Lo punya?"
"Anjeng lo ya."
"Selow bro, gue mau langsung ke intinya nih."
"Yaudah cepetan."
"Jadi gini, sekolah libur, niatnya gue sama Dani mau liburan, yang mana biasanya bertiga sama lo." ujar Fabian.
Libur? Alex berpikir apa mungkin. Bukannya masa liburan belum tiba.
"Sekolah dah libur? Beneran?"
"Iya, masih ada beberapa hari lagi sebenernya."
"Terus lo nelfon gue buat apa? Mau ngajak gue liburan juga?"
"Enggak."
"Terus lo mau nanya tempat liburan?"
"Enggak. Gue sama Dani udah mutusin tujuan liburannya kemana." suara Fabian terdengar santai.
"Kemana?"
"Ke rumah lo."
Alex menempelkan ponselnya lebih dekat takut tadi salah dengar.
"Kemana tadi?" tanya Alex sekali lagi.
"Ke rumah lo."
"Maksudnya?"
"Ke desa, rumah nenek lo."
"Ngapain kesini?"
"Mau main aja, bosen sama suasana kota." suara Fabian tetap santai dan tenang.
"Seharusnya sih ada."
"Emang lo tahu dimana tempat tinggal gue yang sekarang?"
"Maka dari itu, gue minta lo buat ngirim lokasi rumah nenek lo ke gue. Tenang aja, gue sama Dani gak bakalan nginep di rumah nenek lo, kita berdua bakal cari kost." jelas Fabian.
Alex mengusap keningnya ketika rasa pusingnya terus datang. Tadinya ia pikir Fabian bisa mengalihkan pikirannya, tetapi malah gagal.
"Kalau itu mau lo berdua, okelah gue kasih lokasinya. Gue tunggu kehadiran lo berdua."
"Thanks."
***
Di lain tempat, dengan kegiatan yang sama, Letta sedang bertelfon dengan Mira dan sudah berlangsung selama setengah jam.
"Gue yakin pasti ada alasan lain." tebak Mira dari seberang sana.
Letta yang duduk menyilang di atas kasur mulai bergerak gelisah. Tadi ia dan Mira baru saja menyentuh topik drama untuk pensinya. Dan Mira mulai bertanya-tanya kenapa Letta tidak mau jadi pemeran utama walaupun pemain lawannya itu teman dekatnya sendiri, Alex.
"Gak ada alasan lain selain gue males." jawab Letta sambil menolehkan kepalanya ke arah lain.
"Gue udah kenal lo dari lama, gak mungkin hanya karena males. Bahkan gue sampe kaget waktu lo ngebet ke guru minta pemain utamanya diganti biar bukan lo. Pasti ada apa-apa, biasanya lo gak pernah tuh sampe nolak mentah-mentah perintah guru." cerca Mira panjang lebar.
"Beneran karena males, Ra."
"Ayolah, jujur aja sama gue. Gue bakalan simpen rahasianya kok."
"Gak ada rahasia." suara Letta bergetar.
"Bohong. Suara lo bergetar gitu, kebiasaannya lo lagi gugup. Nah dalam kasus ini, lo gugup karena lo lagi bohong sama gue."
"Ra--"
"Ceritain ke gue oke, gue ini sahabat lo dari lama banget kan. Ya itupun kalau lo mau ngakuin gue." jawab Mira cuek.
Letta meremas bantal yang ada di pangkuannya lalu mulai berkata. "Jangan gitu dong, Ra. Gue bener karena males doang."
Mira tidak menjawab. Beberapa detik mereka hanya diam. Letta meringis, apa mungkin Mira marah padanya. Selama kenal Mira, anak itu tidak pernah merah padanya bahkan pernah Letta tidak sengaja menghilangkan bukunya, atau ketika Letta tidak sengaja menumpahkan esnya dulu di kantin ke seragam Mira. Mira tidak pernah marah, Mira mengabaikan semua itu dan bersikap seakan tidak pernah terjadi.
Masa iya, cuma gara-gara satu pertanyaan yang tidak ia jawab dengan jujur, Mira marah. Kalau begini ini bisa jadi rekor kemarahan pertama Mira padanya.
__ADS_1
Pikirannya berkecamuk dan akhirnya Letta mengambil keputusan. Ia akan jujur pada Mira alasan utama dia tidak mau ketika jadi pemeran utama di pensi nanti. Alasan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Alasan yang seharusnya ia sembunyikan sehingga tidak akan ada yang tahu. Alasan yang melahirkan alasan-alasan lain yang untungnya ketika ia mengatakan pada orang lain terdengar sangat masuk akal.
"Gue tutup nih." kata Mira disana.
"Ehh tunggu bentar. Oke gue ngaku." sela Letta sambil menggigit bibir bawahnya.
Mira sengaja tidak bersuara, memberikan waktu untuk Letta bercerita. Letta menarik nafas lalu mulai berbicara. "Gue sangsi kalau gue mulai suka--"
Lidah Letta terasa kelu, tidak siap untuk mengatakannya. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
"Suka apa?" desak Mira. Tapi Letta masih diam membisu.
"Okelah gue tutup nih." ujar Mira enteng.
"Jangan!"
"Oke, dengerin gue." kata Letta. "Gue mulai--- suka sama Alex." bisik Letta selirih dan secepat mungkin. Ia memejamkan matanya dan meringis. Kalau sudah begini, Letta kan jadi malu.
Atau jangan-jangan Mira tidak mendengarnya?
"Ra, lo masih disana?" tanya Letta hati-hati sambil menggigit jari.
Hening sesaat sebelum terdengar pekikan keras di seberang sana hingga Letta sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Demi apa, akhirnya Letta bisa suka sama cowok lagi...!"
"Ternyata gak perlu susah-susah buat bikin lo jujur ke gue. Cukup dikasih anceman dikit, lo langsung kicep." kata Mira dengan nafas tersengal karena berteriak terlalu kencang tadi.
Letta bisa mendengar Mira tertawa lepas disana. Ia mengerucutkan bibirnya ke depan. Seharusnya Letta sudah tahu kalau ini jebakan, tapi tingkat kepekaannya sepertinya lagi tidak berfungsi jadi tidak bisa menangkap maksud tersembunyinya Mira tadi.
Letta bersungut kesal. "Usil banget sih."
Mira berusaha meredakan tawanya. "Tapi jujur gue beneran bingung pas lo gak mau jadi pemeran utama, bahkan walaupun sama Alex."
Letta niatnya tidak mau cerita, tapi sudah kepalang Mira tahu kalau ia mulai suka sama Alex, jadi lebih baik ke depannya ia terus terang saja.
"Itu masalahnya, Ra. Kalau--kalau gue sama Alex, gue takut gak fokus dan gak bisa ngontrol perasaan gue. Perasaan gue ini masih kecil, dan gue gak berniat buat mengembangkannya."
"Kenapa lo gak mau?"
Letta tidak menjawab.
"Takut sakit hati lagi seperti sebelumnya?"
Tebakan Mira tepat sasaran. Letta memang takut kalau ia akan mengalami patah hati lagi seperti ketika ia suka sama Hami. Kalau sekali lagi ia mengalami hal itu, Letta ragu hatinya tidak akan tertolong lagi nanti.
"Ya begitulah." jawab Letta sambil mengangkat bahunya.
"Kalau begitu, sekarang lo jangan terburu-buru."
"Terburu-buru gimana maksud lo?"
"Hhm, maksud gue tuh gini. Lo harus bener-bener mastiin kalau perasaan lo ini nyata ke Alex, bukan sekedar-- pelarian. Jangan terlalu cepat nyimpulin kalau lo itu suka sama Alex. Bisa jadi itu cuma rasa kagum sesaat lo doang."
"Misal gue udah mantap dengan perasaan gue gimana?" tanya Letta dan segera dijawab oleh Mira.
"Kalau udah begitu, lo harus buat diri lo jangan terlalu berharap lagi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, lo suka sama Hami dan berharap kalau Hami suka sama lo, lo pengen Hami jadi pacar lo, kan? Tapi hasilnya apa? Lo gak dapet apa-apa bahkan Hami malah jadi lebih jauh dari lo. Lo cuma dapet paket komplit sakit hati doang, terpuruk karena harapan yang udah lo junjung tinggi-tinggi ternyata gak bisa lo capai." papar Mira panjang.
Sedangkan Letta mengerjapkan matanya. Ia malah bingung dengan omongan Mira yang terlalu cepat sampai ia tidak bisa menyerap semuanya.
"Jadi intinya lo jangan berharap lebih, lo harus ngerasa cukup dengan fakta kalau lo suka sama Alex. Soal dia bales perasaan lo itu urusan belakang. Kalau sampai Alex merasakan hal sama ke lo, anggep aja itu bonus dari lo suka sama Alex."
Letta menggelengkan kepalanya. "Gue--- bingung."
Mira menghela nafas. "Gue juga bingung, sebenarnya tadi gue ngomong apa. Rasanya nih mulut jalan sendiri."
"Oh iya, Ta, maaf gue ngomong begini. Tapi, soal mengungkapkan perasaan lebih baik jangan seperti dulu waktu lo suka Hami kan lo yang mau ngungkapin perasaan duluan. Bagus sih soal gak melulu cowok nembak cewek. Namun kali ini, lo harus jadi pihak yang diam aja. Kalau Alex juga suka sama lo, biarin dia yang bertindak. Biarin dia duluan yang ngungkapin perasaannya ke lo."
"Dia gak ngerasain hal yang sama kayak gue." aku Letta pelan.
"Kenapa lo mikir gitu?"
"Feeling."
"Feeling doang kan. Jangan berpegangan sama feeling. Lo kan belum tahu yang aslinya gimana."
Letta mengangguk mengiyakan. "Oke, terima kasih banyak ya. Lo anjir udah kayak ibu peri aja."
"Harusnya gue yang berterima kasih karena lo udah percaya dan mau sahabatan sama gue. Dan soal gue tadi yang marah-marah gak jelas itu, itu sepenuhnya cuma sandiwara gue aja kok. Gue gak beneran marah sama lo."
"Tahu gue." Letta tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong udah dulu ya, gue ngantuk." Benar saja, Mira menguap di seberang sana.
Letta bergumam mengiyakan. Mira hendak mematikan telefon tapi dicegah Letta karena Letta ingin mengatakan sesuatu.
"Soal Alex tadi, lo jangan salah paham, gue--- gue gak pernah jadiin dia pelarian."
__ADS_1