
Flashback
"Satu, dua, tiga, empat, li--" gerakan Alex kecil yang sedang menulis di papan kayu di dalam rumah pohon milik temannya itu terhenti ketika ia mendengar temannya memanggil namanya dari bawah. Tapi Alex menghiraukannya, ia ini sedang mencoba menulis karena ia sebentar lagi kan akan masuk sekolah dasar.
Alex mencoret kayu itu kembali menggunakan spidol dan berusaha menghafal angkanya. "Lima, enam, tuj--"
"Alex!" kali ini suara temannya ini terdengar lebih keras dan dekat. Benar saja, ketika Alex menoleh ke lubang untuk masuk ke rumah pohon, kepala mungil temannya itu nongol di situ dengan wajah cemberut.
Alex kecil hanya menyengir lebar tanpa merasa bersalah karena telah mengabaikan panggilan temannya. Kemudian temannya itu ikut masuk ke rumah pohon lalu duduk di sebelahnya, ia melihat ke arah papan kayu yang Alex corat-coret dengan berbagai angka. Wajahnya yang tadinya masam berubah menjadi cerah. "Kamu yang nulis ini semua?" tanya teman Alex dengan takjub.
"Iya ini aku semua yang nulis. Hebat kan aku." aku Alex dengan bangga dengan tangan menepuk dadanya.
Teman Alex mengangguk cepat. "Wah pinter banget. Aku diajari sama mama tapi gak bisa-bisa. Kalau nulis katanya masih terlalu besar sampe dikatain mirip tulisan gajah sama mama." katanya dengan tangan yang menyusuri angka yang dibuat Alex dengan takjub.
"Nanti kamu juga bisa. Kalau kamu mau, nanti kita belajar bareng."
Perkataan Alex membuat temannya menoleh dengan cepat dan matanya melebar senang. "Beneran kamu mau ngajarin aku?"
"Iya dong. Kan nanti kita juga sekolah bareng." kata Alex dengan senyumannya yang semakin lebar hingga matanya menyipit.
"Hore! Nanti Letta jadi bisa nulis kayak Alex." seru teman Alex yang tidak lain adalah Letta.
"Oh iya, tadi kenapa Letta manggil Alex?" tanya Alex ketika ia ingat kalau tadi Letta memanggilnya
Wajah Letta yang tadinya cerah berubah cemberut seketika. Dan itu membuat Alex bertanya-tanya apa yang membuat Letta jadi sedih.
Kemudian Letta menjawab. "Kamu ingat tidak sama anak kecil yang sama ayahnya sering lewat depan rumah pake sepeda, terus bawa banyak ikan?"
Alex berusaha untuk mengingat. Anak kecil sama ayahnya, bawa sepeda, terus bawa ikan. Sering lewat depan rumahnya Letta. Ahh iyaa Alex ingat. "Maksud kamu Indra?"
Letta mengerjapkan matanya polos lalu menggeleng pelan. "Aku gak tahu namanya. Memangnya kamu kenal?"
"Enggak. Cuma katanya papaku, papanya Indra ini temennya papaku." jawab Alex dan Letta hanya mengangguk entah paham atau tidak. "Emang kenapa?"
"Aku pengen banget memancing kayak mereka biar dapet banyak ikan. Alex mau kan sama Letta memancing di sungai?" pinta Letta penuh harap.
"Tapi kan sama papa gak dibolehin." larang Alex karena ia ingat ia dan Letta tidak boleh memancing. Bahkan mendekati sungai pun tidak boleh. Kata orang tua mereka itu berbahaya dan bukan untuk anak kecil sepertinya.
"Tapi Letta mau memancing di sungai. Hampir tiap hari Letta lihat Indra sama papanya lewat depan rumah, bawa ikannya segini besarnya." Letta membuat gerakan, tangannya ia rentang ke kedua sisi tubuhnya. "Letta juga ingin."
Hal itu membuat Alex tertawa. "Ikannya gak sebesar itu."
"Tapi ikannya memang besar. Dan Letta mau punya ikan sebesar itu."
"Kalau kamu mau, Letta bisa minta sama papa nanti juga bakalan dikasih." saran Alex agar Letta mau mengurungkan niatnya mencari ikan sendiri.
Namun rupanya Letta tetap ngeyel. Ia mengerucutkan bibirnya ke depan. "Gak mau, Letta maunya nyari sendiri." katanya dengan tangan disilangkan ke depan.
"Tapi itu gak boleh sama papa, Letta." balas Alex mencoba memberi pengertian.
"Kalau papa gak tahu kan gak apa-apa."
"Tetap gak boleh!" bentak Alex dengan keras. Sedetik kemudian ia menyesal karena telah membentak Letta.
"Alex jahat! Letta gak mau sama Alex!" Letta berteriak dan matanya memerah siap untuk menangis.
Melihat itu membuat Alex takut dan khawatir. Alex kebingungan sendiri apalagi ketika melihat satu tetes air mata keluar dari matanya Letta. "Aduh... Letta jangan nangis."
"Letta benci sama Alex! Alex gak boleh ngomong lagi sama aku!" teriakan Letta membuat Alex semakin khalut. Bayangan Letta tidak mau bicara dengannya membuat Alex jadi ingin menangis juga. Menurutnya satu-satunya jalan agar Letta berhenti menangis adalah menuruti keinginannya.
__ADS_1
Kemudian Alex membuat keputusan yang akan disesalinya seumur hidup. "Kalau begitu ayo, kita memancing di sungai seperti yang Letta mau."
Detik itu juga Letta berteriak kegirangan karena Alex mau menuruti keinginannya.
***
Satu jam kemudian Alex dan Letta sudah sampai di pinggir jembatan. Tangan kecil Alex memegang alat pancing yang ia curi punya papanya Letta, di saku celananya sudah ada satu plastik umpan ikan yang sayangnya mencuat seperti akan keluar dari sakunya. Mereka berdua mengambil itu semua ketika orang tua Letta sedang di halaman belakang jadi tidak ketahuan. Beberapa kali Alex sudah memperingati Letta dan memberitahu Letta untuk tidak memancing sendiri, tapi Letta selalu saja mengeluarkan jurus andalannya --menangis dan mengancam tidak mau bicara lagi dengan Alex-- sehingga Alex mudah sekali luluh dan menuruti Letta pada akhirnya.
Tapi walau begitu, Alex cukup menyesalinya saat ini karena ketika ia melihat ke arah sungai, airnya cukup deras dan membuat nyalinya menciut. Bagi anak seusianya, itu terlihat mengerikan. Katakanlah ia kalah dengan Letta, tapi itu memang benar. Ia bahkan tidak melihat Letta merasa takut sama sekali bahkan wajah Letta memancarkan rasa senang. Berbeda jauh dengannya.
"Kamu takut gak kalau kita nyari ikannya di jembatan?" tanya Alex pelan-pelan dan berusaha tenang agar Letta tidak melihatnya takut.
Letta dengan mata bulatnya itu menggeleng. "Aku gak takut. Ayo, kita ke sana sekarang." katanya dengan senang lalu menarik tangan Alex, keduanya akhirnya berjalan di atas jembatan.
Letta terlihat sangat antusias. Melihat Letta senang seperti itu sekiranya dapat membuat rasa takut Alex berkurang. Setidaknya Letta senang, itu sudah cukup baginya. Lamunan Alex terhenti ketika ia mendengar Letta berbicara. "Kalau mau mancing dari atas jembatan, pasti alat pancingnya gak bakalan sampe ke air." jelas Letta ke Alex sambil melihat ke bawah.
Dan ya, ucapan Letta benar sekali. Jarak dari jembatan ke airnya saja jauh dan Alex percaya alat pancing yang ia bawa juga tidak akan sampai ke bawah sana. "Kalau begitu lebih baik kita pulang."
Ucapan Alex rupanya membuat Letta mengerucutkan bibirnya ke depan dengan sebal. "Gak mau." Letta menggeleng.
"Terus gimana? Ini alat pancingnya kan gak sampai bawah." kata Alex sambil melirik ke arah bawah dan menahan diri untuk tidak melonjak kaget ketika melihat air sungai yang membuatnya ketakutan. Entahlah, ia merasa seakan ada sesuatu yang mengerikan di sekitarnya.
"Kita cari tempat lain, ayo!" seru Letta.
Alex kecil hanya bisa mengalah ketika Letta menarik tangannya kembali menyeberangi jembatan ke sisi sebelah seberang. Kemudian Letta membawanya turun dari jembatan dan berjalan ke pinggiran sungai. Mereka berhenti di tempat yang tidak terlalu menjorok ke sungai. Tempat ini sepertinya memang sering dipakai untuk memancing karena banyak bekas telapak kaki orang, tetapi sayangnya jalannya cukup licin menurut Alex.
"Kita nyari ikannya dari sini. Mana coba alat buat memancingnya?" tangan Letta menengadah ke Alex. Dengan satu tangan ia memberikan alat pancing itu ke Letta.
Kemudian ia berjongkok ketika Letta berjongkok. Alex tidak tahu apa yang sedang Letta lakukan dengan alat pancing itu. Ketika Letta mendongak, ia meminta umpan untuk ikan yang tadi Alex curi dari papanya Letta.
Tangan Alex menuju ke saku dan ia kaget ketika tidak mendapati bungkusan umpan ikan yang ia bawa sebelumnya. Alex mencoba mencari ke saku lainnya, lalu melihat ke sekitaran mereka tetapi hasilnya nihil. Tidak ketemu.
"Kok bisa hilang? Kamu pasti sengaja ngilanginnya biar Letta gak bisa memancing kan." tuduh Letta.
Alex menggeleng dengan cepat. "Enggak, tadi waktu ke sini masih ada di saku celana Alex." kemudian sedetik kemudian Alex teringat sesuatu. "Kayaknya tadi jatuh waktu di jembatan. Biar Alex cari ke sana dulu, ya." ucap Alex buru-buru.
Letta yang semulanya akan menangis menjadi tersenyum kembali. "Jangan lama-lama, ya."
Yang terjadi kemudian adalah Alex pergi meninggalkannya untuk mencari umpan ikan yang terjatuh. Letta yang sedang berjongkok menghadap ke bawah, dan melihat seekor cacing besar tepat di bawah kakinya. Padahal biasanya ia tidak takut pada cacing, tetapi karena ia begitu kaget mendapati hewan tanpa tulang itu di bawah kakinya, Letta terburu-buru berdiri. Sayangnya, ia lupa akan keadaan tempatnya itu licin alhasil ketika ia tidak bisa menyeimbangkan badannya, ia terpeleset dan byurrr... Jatuhlah Letta ke dalam sungai.
***
Alex sedang berteriak ketakutan begitu melihat anak perempuan yang bersamanya menghilang entah kemana. Padahal seingatnya, tadi sebelum ia pergi sebentar, Letta masih di tempatnya.
"Lettaaa..!!!" teriaknya dengan keras. Kepalanya ia gerakan ke kanan kiri, kakinya ia hentak-hentakan tidak tenang.
"Letta....!!!" panggilnya sekali lagi dengan suara bergetar ketakutan. Wajahnya sudah memerah menahan tangis. Kemudian matanya membelakak dan jantungnya berdegup dengan kencang ketika melihat orang yang ia cari sedang ada di tengah sungai dan berusaha untuk naik ke atas permukaan. Tangan anak itu meraih-raih ke atas dengan ujung kepala sesekali menyembul keluar permukaan sungai.
Tenggorokan Alex tercekat dan ia tidak bisa berkata apa-apa. Tidak pula dengan berteriak lagi seperti tadi. Badannya bergetar hebat dan air mata mulai merembes keluar. "Let---" Alex hampir saja kehilangan kesadarannya karena begitu terkejut dan takut. Namun di tengah itu, ia bisa mendengar suara kecil Letta yang bertabrakan dengan air.
"To-- long....!!!" suara kecil Letta itu masuk ke telinganya dan Alex segera sadar.
Dengan terisak, Alex berjalan ke tepian sungai tapi seketika ia mundur kembali. "Mama.... Alex takut." isakan Alex semakin kencang ketika mendengar lagi jeritan Letta, tapi Alex tidak bisa menggerakkan kakinya. Ia takut dengan sungai ini. Ia tidak bisa masuk dan menolong Letta. "Mama..." Alex mulai menangis dengan keras.
"Siap--apun to--long a--aku...!" jeritan Letta kembali terdengar. Suara Letta tersendat kembali karena bertabrakan dengan air sungai.
"Mama..." Alex terus menangis. Badanya gemetar ketakutan di pinggiran sungai. Ia akan masuk dan kakinya sudah mengenai air sungai tapi Alex segera beringsut ke daratan lagi. "Mama... Alex takut."
Setelahnya Alex tidak mendengar apa-apa lagi. Ia melihat ke arah sungai tempat Letta tadi dan ia tidak melihat Letta di sana.
__ADS_1
***
Semuanya terjadi begitu cepat hingga Alex kecil tidak tahu apakah ini sekedar mimpi buruknya atau bukan. Alex terjatuh berkali-kali ketika ia berlarian mencari orang yang bisa ia minta tolong. Begitu melihat ada seorang bapak paruh baya sedang mencari kayu bakar tidak jauh dari tempatnya, Alex segera berlari menghampiri bapak itu.
"Pak...to-long...Pak." Alex menarik ujung kaos orang tua yang sedang mencari kayu bakar tak jauh dari sungai. Beruntung begitu Alex naik ke atas, ia melihat ada orang lain yang tidak jauh dari tempatnya memancing.
Bapak-bapak yang usianya sekitaran lima puluh tahunan itu menoleh dan ia kaget melihat ada anak kecil yang berlinangan air mata sedang meminta tolong padanya.
"Minta tolong apa? Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
"I---itu..." isakan Alex terus keras dan ia tidak sanggup mengeluarkan suaranya lagi. Ia sudah menangis tanpa henti dan saat ini tenggorokkannya seperti tersumpal sesuatu sehingga ia tidak bisa bicara.
"Itu apa?" tanya bapak itu dengan bingung.
Namun bukannya menjawab, Alex terus menangis seakan air matanya tidak akan habis. Lalu ia mengarahkan tangannya ke sungai dan menunjuk-nunjuk ke sana.
"Apa apa di sana? Ada apa?" ditanyai begitu bukannya menjawab, Alex malah semakin menangis keras dengan tangan yang masih menunjuk ke arah sungai.
Bapak itu menggaruk tengkuknya karena bingung. Tapi sedetik kemudian matanya melotot begitu sebuah pemahaman masuk ke otaknya.
"Ayo cepat!!!" seru bapak pencari kayu bakar itu.
Bapak yang tidak Alex ketahui namanya itu berjalan sepanjang sisi sungai. Tentu dengan Alex berlari kesusahan mengejarnya. Selain karena ia masih kecil, pandangan Alex sudah memburam karena ia terus menerus menangis, belum lagi ia merasa lelah. Ditambah Alex ketakutan setengah mati akan Letta. Alex tidak akan bisa membayangkan hal-hal buruk terjadi pada Letta.
"Mama... Alex takut." isak Alex keras.
Bapak di depan Alex rupanya mampu mendengar. Ia berbalik dan mendatangi Alex. "Sekarang, kamu lebih baik meminta tolong ke orang lain buat nolong teman kamu. Kamu harus yakin dan berdoa kalau teman kamu itu baik-baik saja."
Alex kecil itu membuka matanya lalu mengelap air mata yang membuat pandangannya buram. Lalu ia mendengarkan apa yang bapak itu katakan. Dan seketika Alex paham, ia berbalik dan berlarian dengan cepat agar bisa meminta tolong ke orang lain.
Sedangkan bapak yang dimintai tolong oleh Alex menghela nafas lega. Ia menoleh ke belakang dan melihat ada seorang anak kecil perempuan teman bocah tadi dengan badan menempel ke batu besar yang ada di sungai itu. Keadaannya sangat memprihatikan dan ia tidak mau bocah laki-laki itu melihat temannya dalam keadaan seperti itu.
Bapak itu menyeberangi sungai ke batu sungai yang besar itu. Beruntung bagian tempat batu itu berada bukan di tengah sungai jadi ia tidak perlu menyelam demi meraih anak perempuan itu yang tidak lain tidak bukan adalah Letta. Setelah bapak itu berhasil meraih Letta, ia mengecek nadi Letta dan bapak itu mengucapkan puluhan kata syukur karena anak itu masih hidup.
Wajah Letta tergores di sana-sini, mungkin karena sampah ranting di dalam sungai. Bapak itu terkaget ketika melihat air sungai di bawahnya mendadak berwarna merah. Lalu dilihatinya bahwa kepala anak perempuan yang bersamanya ini mengeluarkan banyak darah.
***
"Ini semua salah aku!" seru Alex dengan berlinangan air mata. Hidungnya memerah dan mulai mengeluarkan air karena terlalu lama memangis. Dan Alex sampai sesenggukan. Tangannya lalu mencakar wajahnya sendiri berharap ia akan punya luka sepertinya yang ada di wajah Letta tadi ketika ia melihat temannya di ambulance.
Namun belum sempat kukunya mengenai wajah, tangan Dinda sudah lebih dahulu memegangi tangannya. "Alex, jangan seperti ini."
"Lepasin! Semua salah aku!" seru Alex sekali lagi dengan histeris. Ia terus meronta agar dilepaskan. "Letta tadi terluka dan aku mau terluka juga. Dia berdarah karena aku. Aku juga mau berdarah juga." isaknya keras.
Dinda dan Aji sedih melihat Alex seperti ini. Aji berjongkok --sama seperti Dinda-- lalu ia memegangi badan Alex agar anak itu tetap diam, sedangkan Dinda bertugas memegangi kedua tangan Alex agar anak mereka ini tetap tenang.
"Se-- semua salah aku." isakan Alex perlahan melirih. Mungkin karena sudah lemah dan capek.
Sekarang mereka semua sudah berada di rumah sakit, tentunya dengan orang tua Letta.. Yang paling membuat Dinda sedih adalah Alex menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi bahkan Alex sampai memukuli badannya sendiri. Katanya agar ia sama-sama terluka seperti Letta.
"Alex sayang, kamu tenang. Semua ini bukan salah kamu." bisik Dinda di telinga Alex.
Tapi Alex tidak mendengarkan ucapan mamanya. Ia terlalu larut dalam dunianya. Lama-kelamaan Alex menyandarkan tubuhnya ke pundak mamanya. Dinda dan Aji memeluk Alex dan mata Dinda tidak kuat lagi menahan tangis melihat putranya hancur seperti ini. Ini pasti berat sekali bagi Alex. Di pelukannya Alex terus menangis sesenggukan, namun tak lama kemudian nafasnya berubah menjadi teratur tanda Alex tertidur. Namun di tidurnya, anaknya ini masih terus bergumam. "Semua ini salah aku, maafin Alex, maafin Alex."
***
Flashbacknya sedikit dan maaf kurang detail mengenai kejadiannya, jadi feelnya gak dapet 🙏 Aku udah nyoba berkali-kali buat adegannya lebih detail tapi gak bisa, rasanya aneh dan berlebihan. Alhasil aku pangkas jadi segini aja.
Terima kasih yang sudah membaca ❤
__ADS_1