Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 11


__ADS_3

"Kenapa juga masih ada anak osis di depan gerbang sih." sungut Letta kesal karena setibanya ia dan Alex di sekolah ternyata masih ada anak osis di depan gerbang. Padahal waktu sudah menunjukan jam setengah delapan yang mana biasanya gerbang itu sudah tidak ada yang jaga karena semua anak dan guru sibuk dengan kegiatan belajar mengajar.


"Ya udah tinggal hadepin aja, apa susahnya." timpal Alex santai.


"Gue males kalau harus diberi hukuman. Lo belum tahu sih kalau anak osis itu ngasih hukumannya gak cuma-cuma."


Memang begitu di sekolahnya, anak-anak lebih suka kalau harus berhadapan dengan guru piket daripada dengan anak osis. Kalau guru piket paling hukumannya hanya menyapu halaman sekolah. Tapi kalau anak osis terlalu ribet, harus bersihin wc, mengepel koridor kelas, dan juga bersihin tempat praktek olahraga. Intinya, osis itu ngeselin.


Dan sekarang Letta harus menyayangkan karena gerbang sekolah malah dijaga oleh anak osis. Seingatnya tadi saat sampai sekolah sebelum kembali lagi menyusul Alex, yang akan menjaga gerbang adalah guru piket dan bukan osis. Ya mungkin, mereka tukeran, pikir Letta sih begitu.


"Emangnya lo mau berdiri terus di sini sampai bel pulang?" kata Alex geram. Ia sendiri berdiri dengan kedua tangan memegangi kemudi sepeda.


"Ya enggaklah. Coba aja tadi gue gak harus balik nyusul lo, gue gak bakalan telat kayak gini. Seumur umur gue sekolah gue belum pernah tel--"


Belum sempat Letta menyelesaikan ucapannya, bibirnya malah ditarik oleh tangan Alex. Letta reflek langsung menepis tangan Alex dan memandangnya berang.


"Berisik. Udah tinggal jalan aja gak usah kebanyakan ceramah." kata Alex.


Letta hanya memanyunkan bibirnya ke depan beberapa senti. Padahal ia kira bakalan baikan barang sebentar dengan Alex tapi nyatanya tidak bisa karena cowok yang satu ini selalu saja berhasil membuat orang lain kesal.


"Nih, lo yang bawa." Alex menyodorkan sepeda tua Sari pada Letta.


Letta yang tak mau ada perdebatan panjang seperti tadi pagi segera mengambil alih dengan kasar. Ia menghentakkan kakinya menuju gerbang, diikuti oleh Alex yang terkikik geli melihat Letta yang kesal karena dirinya.


"Wah wah wah, bagus yah jam segini baru berangkat. Kamu kira sekolah ini milik nenek moyang kamu apa, seenaknya berangkat gak tahu aturan?!" semprot anak osis itu begitu melihat kedatangan Letta di depan gerbang.


"Kalau iya kenapa, sekolah ini punya nenek moyang gue. Mau apa lo?" balas Letta tak kalah sengit.


Tak tahu saja kalau Letta tadi sedang kesal dengan Alex, malah ditambah anak osis di depannya ini juga cari masalah. Sialan, masa bodoh deh. Ia sudah kepalang marah sama Alex jadi lampiaskan saja sekalian ke anak osis ini.


"Kamu yah, dibilangin bener-bener malah ngejawab?!"


"Apa?! Lo kira mentang-mentang anak osis jadi bebas gitu nginjak anak lain?!"


"Kamu?!" anak osis itu mengacungkan telunjuknya ke muka Letta. Muka anak osis itu sendiri sudah merah padam menahan emosi, sama seperti Letta.


Alex yang mendengarkan interaksi tidak wajar dari dua orang cewek itu hanya bisa geleng kepala, telinganya bahkan berdengung karena keduanya sama-sama menunjukan taringnya. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Yang anak osis harusnya juga menasehati dengan baik bukannya dengan membentak, sedangkan Letta juga harusnya tidak ikut-ikutan tersulut emosinya.


"Apa?! Gak terima?! Emang bener kan anak osis itu--" ucapan Letta terhenti tiba-tiba karena anak osis itu sudah membuka gerbang dengan kasar dan mengangkat tangannya tepat di depan Letta.


Letta secara spontan menutup matanya dan menoleh sedikit ke samping. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, osis itu pasti akan menamparnya karena berani mencari masalah.


Tapi sengatan panas itu tak kunjung tiba. Letta jadi membuka matanya perlahan, yang sekarang di depannya adalah Alex yang sedang menahan tangan cewek osis itu. Jangan tanya bagaimana muka anak osis itu, sudah merah padam. Entah karena menahan marah atau karena malu, atau mungkin karena melihat cowok setampan Alex jadinya memerah.


Heuu, tampan.. Letta menarik katanya kembali.


Harapannya adalah Alex akan memarahi anak osis itu. Tapi kenyataan memang selalu tidak sesuatu harapan, yang keluar dari mulut Alex itu malah membuat Letta mual.


"Tahu enggak, lo itu cewek tercantik yang pernah gue lihat di sekolah ini. Gue mau, kapan-kapan kita berdua makan bareng, lo mau gak?" ucap Alex dengan senyuman penuh godaan pada cewek osis itu.

__ADS_1


Si anak osis tentunya langsung diam tak berkutik. Matanya berbinar melihat cowok setampan ini berada di depannya. Ia bahkan tidak tahu kalau tangannya perlahan sudah diturunkan oleh Alex, dan ia lupa kalau tadinya ia sedang marah besar pada salah satu siswi yang telat.


"Gue suka sama rambut lo, halus." Alex kemudian membelai rambut anak osis itu membuat anak osis itu memahan nafas karena gugup.


"See you princess."


Sedetik kemudian Alex menjauh dan menarik Letta beserta sepedanya ke dalam sekolah melewati anak osis yang sedang terdiam kaku di depan gerbang sendirian.


***


"Sumpah demi apa harusnya tadi gue foto aja tuh muka anak osis tadi. Tahu nggak sih tadi dia itu mirip banget sama mayat hidup. Kaku, diam, gak gerak sama sekali."


Letta tertawa terpingkal membayangkan muka anak osis tadi. Sedangkan Alex hanya menatap Letta dengan datar. Ada yang mau menyebutkan dimana letak kelucuan itu pada Alex? Karena Alex merasa kalau gak ada hal yang lucu yang pantas ditertawakan.


"Daripada lo ketawa gak jelas, mendingan lo tunjukin ke gue dimana ruang kepala sekolahnya."


Selanjutnya tugas Letta adalah menunjukan di mana letak ruang kepala sekolah karena sebagai siswa baru, Alex tentu saja harus menghadap dulu.


Setelah memastikan kalau Alex paham, Letta segera berlari masuk ke dalam kelasnya yang mana jam sudah menunjukan hampir pukul delapan, yang artinya hampir satu jam pelajaran terlewatkan. Jangan tanya bagaimana raut wajah guru yang mengajar begitu Letta masuk, ingin menelannya hidup-hidup.


Tanpa mau memperpanjang masalah, bu guru yang diketahui namanya Purwati selaku guru PPKN membiarkan Letta untuk langsung duduk ke tempatnya tanpa acara wawancara terlebih dahulu sepetti biasa.


"Lo kenapa bisa telat? Ini juga kenapa juga lo keringetan banyak banget. Habis dihukum sama osis?" tanya Mira khawatir begitu Letta duduk di sampingnya


"Enggak, gue gak dihukum." jawab Letta singkat karena ia harus cepat membuka buku pelajaran di tas.


"Nanti gue jelasin. Sekarang mending lo menghadap ke depan, lo gak liat tuh Bu Purwati udah kek mau nerkam gue dari gue masuk." bisik Letta lirih.


Pantas saja, begitu Mira menghadapkan badannya ke depan, Bu Purwati sedang menatap tajam ke arahnya. Mira hanya nyengir lebar menampilkan deretan giginya dengan dua jari diangkat ke atas.


Pelajaran berlangsung sangat membosankan karena gurunya hanya mendikte apa yang ada di buku paket tanpa mau menjelaskannya lebih lanjut. Banyak anak laki-laki yang secara terang-terangan menundukan wajahnya ke meja karena mengantuk. Begitupun dengan anak cewek, maunya seperti itu tapi tidak bisa karena Bu Purwati suka mencatat siapa saja yang tidur di kelasnya.


"Jadi sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha ne--"


Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Bu Purwati. Setelah mengucapkan kalau boleh masuk, masuklah seorang cowok dengan paras yang membuat mata anak cewek sekelas melebar seketika. Rasa kantuk yang tadinya menyerang hilang tergantikan dengan rasa kagum pada cowok itu.


"Anjrit, Letta lo harus liat ini. Ya Allah nikmat mana lagi yang Kau dustakan."


Letta yang tadinya mengambil kesempatan untuk merebahkan kepalanya sebentar mendengus kesal karena tiba-tiba kelasnya menjadi ramai seperti pasar. Padahal tadi yang terdengar hanya suara guru yang mengajar, tapi kenapa sekarang malah suara anak cewek memenuhi pendengarannya.


"Subhanallah cakepnya..."


"Calon imam gue..."


"Hey cowok, aku padamu."


"Ina, lo pindah dong. Biarin dia duduk sama gue."


"Gue mah apa atuh. Dia cakep banget tapi gue berasa remehan rengginang."

__ADS_1


"Berisik banget, ada apa sih." Suara yang bersahutan membuat Letta merasa risih. Ia akhirnya menengadahkan kepalanya ke depan.


Tepat di depan sana berdiri cowok yang sedang memperkenalkan dirinya ke semua anak sekelas. Letta jelas tahu siapa dia, Alex. Cowok tengil yang membuatnya harus naik sepeda bolak balik dan berakhir dengan badannya yang sekarang letih luar biasa padahal masih pagi.


"Jadi anak-anak. Seperti yang kalian ketahui, kalian mendapat teman baru di kelas kalian. Saya minta kalian semua dapat berteman baik dengan nak Alex." kata Bu Purwati setelah Alex selesai memperkenalkan dirinya.


"Lihat dia, Ta. Anak pindahan dari kota. Cakep banget asli gak bohong." Mira mengguncangkan bahu Letta terus karena terlalu semangat melihat cogan datang ke kelasnya.


"Ya ampun Ta, gue mau pacar kayak dia. Gue rela ninggalin oppa gue demi dia." kata Mira tetap semangat.


Letta mendengus, Mira ini memang pecinta cogan apalagi oppa oppa korea, tapi baginya ini berlebihan. Ia sedang lelah, malah ditambah Mira mengguncangkan badannya tak karuan.


"Ra, bisa diam gak sih. Gue capek tahu nggak."


"Lo mah gak asik. Mentang-mentang udah ada Hami di hati, jadinya gak mau ngelirik cowok lain."


Mira menyesal mengucapkannya karena sedetik kemudian kepalanya menjadi tempar sasaran empuk pulpen Letta yang melayang.


"Jadi Alex kamu bisa duduk di bangku sebelah pojok belakang sana bersama Anindira."


Alex mengedarkan pandangannya ke arah yang dituju guru di sampingnya ini. Ia meringis melihat siapa yang akan duduk bersamanya. Seorang gadis cupu dengan kaca mata besar bertengger di matanya. Jangan lupakan rambutnya yang diikat dua di sebelah kanan kirinya. Matanya terus menunduk ke bawah, entah apa yang menarik dibawah sana daripada melihat ke depan.


Ketika Alex mengedarkan pandangannya ke isi kelas, matanya berhenti ke siluet cewek yang ia kenali di mana cewek itu tak menatap ke arahnya sama sekali, berbeda dengan anak cewek lainnya yang tampak antusias. Cewek itu malah lebih milih tidur. Dan kalian pasti tahu orangnya, dia Letta.


"Saya boleh pindah tempat duduk gak Bu? Soalnya saya belum terlalu kenal sama semua anak kelas ini dan kebetulan ada satu anak yang saya kenal. Saya mau duduk sama dia." kata Alex, matanya tak berhenti melihat ke arah Letta.


"Ta, kok anak barunya ngelihatin ke sini terus sih." Mira berbisik pada Letta yang hanya membenamkan wajahnya ke lekukan tangannya di tas meja.


"Ta, bicara dong. Dia terus natep ke sini." bisik Mira sekali lagi.


Tidak tahu saja kalau Letta sedang merapalkan berbagai macam doa dalam hati berharap kalau orang yang dimaksud Alex itu bukan dirinya. Tapi mau siapa lagi, sudah jelas Alex anak baru dan belum ada teman. Sudah jelas itu lo, Ta!


"Ayo, Nak Alex. Mau duduk sama siapa?"


Semua anak cewek menahan nafas berharap kalau mereka yang akan dipilih untuk duduk berdampingan dengan Alex.


"Arletta." ujar Alex cepat.


Seketika satu kelas gaduh dan anak cewek langsung memekik kaget. Mereka semua menengok ke arah Letta yang tetap tak mau menunjukan mukanya.


"Oh my God. Jadi yang dipilih dia itu lo. Astaga, ketiban rejeki nomplok lo, Ta."


"Gue pergi dulu ya mau duduk sama Anindira si cewek pendiamnya minta ampun." Mira segera membereskan alat sekolahnya begitu Alex sudah berdiri di samping mejanya.


Letta baru sadar, ia menarik wajahnya ke atas lalu menahan lengan Mira agar tidak pergi. "Lo di sini aja, gak boleh pindah."


"Gue gak pindah jauh dari lo kok. Kita masih satu kelas. Oiya, lo berhutang banyak penjelasan ke gue mengenai hal ini."


Sebelum pergi Mira sempat berbisik ke Letta. "Gue yakin lo bakalan berakhir sama cowok keren yang satu ini. Jangan biarin hidup lo berporos cuma sama Hami, move on Ta."

__ADS_1


__ADS_2