Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 53


__ADS_3

2800+ kata untuk part ini. Selamat membaca dan terima kasih ❤❤❤


Setelah kepergian Letta, Alex sangat menyesali setiap perkataanya barusan dan ia masih berdiri di tempatnya menatap kosong ke arah pintu yang terbuka. Seharusnya ia tetap menepati janjinya sendiri untuk tidak mengatakan apapun ke Letta. Namun entah setan apa yang berhasil membujuknya untuk mengatakan itu ke Letta bahkan diselingi dengan kebohongannya.


Akhirnya Alex berbalik dengan lesu, tidak mau terus-terusan tenggelam dalam penyesalan. Karena bagaimanapun semua sudah terjadi dan ia tidak bisa memutar waktu untuk memperbaiki kesalahannya. Biarkanlah semuanya mengalir sendiri, pikirnya. Dan kalau dipikir lagi mungkin ini malah membantu, karena membuat Letta semakin benci pada dirinya. Jadi, akan lebih mudah melepaskan dan meninggalkan cewek itu.


Alex hendak tiduran ke tempat tidurnya ketika mendengar langkah seseorang masuk ke kamarnya. Yah, Alex sampai lupa untuk menutup pintunya kembali. Ia membalikkan badan dan menemukan Fabian berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan tidak bersahabat.


"Lo udah pulang?" tanya Alex santai, ia tidak terpengaruh dengan tatapan tidak bersahabat Fabian.


"Seperti yang lo lihat." Fabian merentangkan tangannya ke samping. "Dan Alex, seharusnya lo gak perlu sebrengsek itu buat bohong sama Letta kalau Mona itu pacar lo, ditambah lo sampai bocorin soal kehamilan Mona ke dia. Padahal selama ini lo sendiri yang minta gue sama yang lain buat merahasiakan ini rapat-rapat. Lo berjanji buat gak bilang ke dia. Tapi kenyataannya malah lo yang merusak janji yang lo buat sendiri. Asal lo tahu, sewaktu dia keluar tadi gue lihat dia sampe nangis." desis Fabian tajam.


"Lo nguping." balas Alex yang terdengar sebagai pernyataan bukan pertanyaan. Ia sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Fabian yang menghujamnya dan kalimat dari cowok itu yang tepat mengenainya.


"Gue dengar hampir semuanya." aku Fabian. Tadi ia memang menguping dari luar. Sebenarnya itupun karena tidak sengaja. Ia niatnya hendak mengajak Alex untuk makan siang karena dari pagi temannya itu belum makan. Kebetulan tadi Fabian habis dari pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya, jadi ketika akan pulang ke kota nanti sudah terisi penuh. Di perjalanan pulang ia teringat untuk membeli makanan untuk Alex. Dan sewaktu ke kamar Alex, ia terkejut mendapati Letta ada di sana. Lalu berakhirlah dengannya yang menguping.


Sewaktu Letta keluar tiba-tiba, beruntung cewek itu tidak melihat kehadirannya. Cewek itu terlalu sibuk menyeka air matanya sambil terus berlari sehingga tidak ngeh kalau ada Fabian di depan pintu tadi.


Melihat Alex yang sepertinya tidak ada niatan untuk menjawab, Fabian kembali meneruskan. "Seharusnya lo jangan bohong seperti tadi, itu bakalan hancurin perasaannya dia. Waktu lo di sini cuma tinggal dua hari lagi, ingat cuma dua hari tersisa, besok dan esoknya lagi. Dan setelah itu lo bakalan pindah ke kota dan kemungkinan balik ke desa ini kecil. Lo bakalan punya kehidupan sendiri di kota nanti, begitupun dengan Letta. Seharusnya di waktu yang tersisa ini lo manfaatin waktu lo dengan sebaik mungkin buat bisa habisin waktu sama cewek yang lo suka, bukannya buat dia makin menjauh dan benci sama lo."


Alex lalu tertawa sarkas mendengar penjelasan lebar Fabian. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Justru itu yang gue mau. Gue mau dia lupain gue. Gue rasa kalau dia benci sama gue, gue bakalan lebih mudah ninggalin dia."


"Tapi yang terjadi selanjutnya adalah lo gak bakalan bisa pergi dengan tenang. Sehabis kepindahan lo nanti, hati lo bakalan terus bertanya-tanya apakah jalan yang lo tempuh ini memang benar, apa Letta masih benci sama lo. Dan yang pasti bisa saja Letta jadi suka sama orang lain, sementara itu hati lo masih sama dia. Nanti lo gak akan punya kesempatan buat sama Letta lagi karena jelas dia benci sama lo dan mungkin saja sudah  menjadi milik orang lain."


Alex mengerang frustasi karena Fabian terus-terusan menyudutkannya dan sialnya perkataan cowok itu rasanya tepat sekali mengenainya. "Gue--- Gue bingung!" erangnya.


Fabian datang mendekat ke arah temannya itu lalu menepuki bahu Alex. "Gue tahu pasti lo masih bingung dan belum siap karena semua ini terjadi secara tiba-tiba. Tapi Alex, Letta berhak tahu kalau lo suka sama dia. Dia berhak tahu kalau perasaannya dibalas."


"Gue gak tahu harus gimana lagi, sekarang juga dia pasti sudah benci setengah mati sama gue." kata Alex tercekat.


Fabian menggeleng. "Dia gak benci sama lo. Lo ingat kata gue di awal tadi sewaktu gue bilang kalau dia keluar kamar lo sambil nangis? Lo pikir kenapa dia bisa sampe nangis?"


"Karena gue udah nyakitin perasaannya dan dia benci sama gue."


"Tapi kalau menurut gue Letta menangis itu karena dia masih terus suka sama lo padahal lo udah matahin hatinya. Dia mungkin emang sakit hati dan benci ke lo, tapi gue yakin dia lebih benci ke dirinya sendiri karena tetap suka sama lo di saat lo malah nyia-nyiain dia."


"Fab, lo mending gak usah ikut campur. Lo lebih baik keluar dari kamar gue." ujar Alex tidak sungguh-sungguh karena ia malah meninggalkan Fabian untuk duduk ke tepi ranjangnya lalu mulai mengacak rambutnya frustasi.


Melihat Alex yang sepertinya mulai terpengaruh dengan kata-katanya, Fabian berusaha untuk terus melanjutkan tanpa ada niatan berhenti sampai temannya ini sadar sebelum semuanya terlambat. "Letta berhak tahu kalau lo suka sama dia. Kasih tahu dia."


"Fab---"


"Demi apa, waktu lo di sini cuma tinggal dua hari! Dua hari doang dan setelahnya lo bakalan balik ke kota. Lo gak akan punya kesempatan lain lagi buat ngungkapin perasaan lo ke dia!"


"Gue---"


"Alex, dengerin gue! Gue jamin lo bakalan menyesal suatu hari nanti kalau lo buang waktu dua hari lo ini dengan sia-sia. Lo bakalan nyesal seumur hidup karena gak pernah bisa mengungkapkan perasaannya sendiri. Di masa tua lo nanti, lo bakalan malu sama masa muda lo sendiri."


Alex berseru. "Gue tetap gak bisa!"


"Pengecut!" sembur Fabian membuat Alex terperangah.


"Terus lo mau apa? Lo mau gue ngapain?!" bentak Alex seketika berdiri dengan menahan marah. Fabian ini pintar sekali mengaduk-aduk perasaannya. Yang awalnya ia menginginkan Letta membencinya dan ia merahasiakan perasaannya, sekarang berubah menjadi tak terkendali. Ia berkeinginan untuk menyatakan rasa sukanya secepat mungkin, kalau bisa malah detik ini juga, dan ia akan menghabiskan waktu dua harinya yang tersisa dengan Letta.


Setelah dipikir kembali, ternyata pilihan dari Fabian memang terdengar lebih baik daripada pilihan konyol yang datang dari dirinya sendiri. Seharusnya ia membuat kenangan yang indah di desa ini, bukannya membuat kenangan buruk yang nantinya akan terasa sakit ketika mengingatnya.


Alex mencari ponsel miliknya untuk menelpon seseorang, tetapi ternyata pulsanya habis, begitupun dengan paket datanya yang sudah sekarat.

__ADS_1


Fabian menyeringai senang ketika Alex akhirnya memilih jalan yang benar dan tepat daripada sebelumnya. Dan seringaiannya bertambah lebar ketika Alex dengan enggan berkata padanya. "Boleh gue pinjam hp lo?"


"Tentu." Fabian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu memberikannya ke Alex.


Alex menerimanya lalu mengirimkan pesan untuk orang yang sudah terpikir di benaknya sejak tadi.


Fabian : Gue butuh bantuan lo. Alex.


Kirim.


***


Letta membuka matanya perlahan, lalu dahinya mengernyit ketika matanya menangkap siluet berwarna kejinggaan masuk ke celah kamarnya. Sudah sore ternyata, pikirnya. Letta tidur meringkuk di ranjangnya setelah dua jam lamanya menangis sampai ia jatuh tertidur. Matanya sekarang sembab dan memerah, begitupula dengan nasib hidungnya. Berantakan sudah dirinya. Ia merasa pusing ketika ia bergerak untuk meraih ponselnya di atas nakas, mengecek sudah jam berapa saat ini. Ternyata sudah jam lima sore.


Teringatnya kembali percakapannya dengan Alex tadi pagi di kamar cowok itu yang membuat Letta menangis sejadi-jadinya setelah ia berhasil keluar dari kamar Alex dan berlari pulang ke rumahnya.


"Lo kenal sama cewek yang ada di rumah ini? Namanya Mona."


"Kenalin, dia pacar gue."


"Dia sama gue udah pacaran bahkan sejak gue masih di kota."


"Dan dia sedang mengandung anak gue."


Letta merasakan tikaman rasa sakit itu datang lagi ketika pikirannya mengingat kembali perkataan Alex. Matanya memanas lagi tetapi entah kenapa tidak ada tanda-tanda air matanya akan keluar. Mungkin tadi ketika ia menangis sebelumnya air matanya sudah terkuras habis tak tersisa. Sekarang yang tersisa hanyalah rasa sakit itu sendiri.


Teringatnya kembali akan sosok cewek pacar Alex yang bernama Mona. Sekarang Letta sudah ingat dimana ia pernah melihat cewek itu, yaitu di acara pensi sekolahnya ketika ia tidak sengaja menabrak Mona saat sedang mencari Alex. Itulah penjelasan mengapa ia merada familiar sewaktu melihat Mona di rumah Sari.


Letta masih tiduran dengan posisi yang sama ketika mendengar pintu kamarnya yang tidak terkunci terayun terbuka.


"Letta, kamu tidur?" tanya Wulan begitu masuk ke kamarnya.


Wulan mengernyitkan dahinya mendengar suara anaknya. "Suara kamu kok begitu? Kamu gak apa-apa?"


"Gak apa-apa kok, Ma. Cuma tadi habis tidur aja. Memangnya ada apa?" bohongnya.


"Ooh, itu teman kamu ada yang datang."


"Siapa? Cewek atau cowok?"


"Cewek."


Palingan juga Mira, batin Letta. Dan perkataan Wulan selanjutnya memghancurkan dugaan Letta.


"Tapi bukan Mira. Mama baru kali ini lihat anaknya. Dia udah di ruang tamu, kamu cepat keluar, ya." kata Wulan sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Letta.


Letta kemudian bangkit dari tidurnya. Ia berjalan ke arah kaca, melihat pantulan dirinya. Hampir saja ia tidak mengenali dirinya sendiri. Astagaaa.. Kantung matanya terlihat lebih besar dari biasanya, pantas saja matanya terasa berat. Turun ke hidungnya yang memerah. Lalu mukanya pucat pasi. Belum lagi rambutnya yang sekarang acak-acakan. Letta mengerang karena merasa ia lebih mirip zombie.


Mungkinkah semua cewek yang patah hati seperti dirinya?


Letta mendesah lesu lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih enak dilihat dan segar kembali. Ia juga sudah menyisir dan merapihkan tatanan rambutnya walau beberapa kali frustasi sampai ingin menangis ketika rambutnya sulit disisir karena menyangkut-nyangkut. Setelah semuanya selesai barulah ia turun ke ruang tamu.


Dan di situlah ia melihat tamu yang tak pernah ia duga. Ajeng.


Mengabaikan pandangan terkejut Letta, Ajeng tersenyum minta maaf. "Sorry karena gue datang ke rumah lo tiba-tiba. Tapi gue ada urusan penting sama lo. Ada beberapa hal yang mau gue omongin."


Letta tidak mengatakan apa-apa sebagai balasan dikarenakan ia masih terkejut dengan kedatangan cewek itu di rumahnya, Letta kemudian duduk di depan Ajeng. Ia jadi bertanya-tanya urusan penting apa yang sampai membuat Ajeng sampai datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Pertama, gue mau mastiin sesuatu dulu. Walaupun sebenarnya Indra udah ngasih tahu gue, tapi gue kan gak tahu dia itu jujur atau bohong. Lo beneran udah tahu soal rahasia Indra?" tanya Ajeng sebagai awalan.


Anggukan dari Letta sudah menjawab pertanyaan Ajeng. Kemudian ia melanjutkan. "Kalau begitu, gue mau bilang, kalau gue minta maaf soal semua yang udah terjadi. Gue tahu semua hal yang udah gue lakuin ini udah menyakitin perasaan lo. Gue juga minta maaf karena udah ngerahasian identitas gue yang sebenarnya sepupu Indra dan terus-terus deketin Hami padahal gue jelas-jelas tahu kalau lo suka dia dan Hami suka sama lo."


"Soal itu---"


"Tunggu, biar gue cerita duluan ke lo." sela Ajeng cepat. Ajeng tampak mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu melanjutkan. "Gue tahu kalau Hami suka sama lo tentu aja dari Indra, dia bilang Hami sering cerita ke dia kalau Hami suka sama lo. Dan seperti yang udah lo ketahui, Indra gak suka akan hal itu jadi Indra datang dan minta ke gue buat deketin Hami biar gue pacaran sama dia dan ganggu hubungan lo."


"Jujur aja gue udah nolak permintaan Indra itu berkali-kali karena ya semua itu salah, caranya sampai kapan pun akan salah. Gue sampai beberapa kali bertengkar sama dia --sampai terakhir kali gue sama Indra berantem kalau gak salah hitung mungkin sekitar satu atau dua minggu sebelum pensi di sekolah kita. Tapi suatu hari gue lihat dia benar-benar tampak kacau dan gue sampai gak tega liatnya. Gue gak tahu apa penyebabnya dan gue nebak ini pasti berkaitan sama lo. Jadi setelah itu gue terima permintaannya. Kemudian setelahnya gue mulai masuk ke kehidupan lo sama Hami."


Letta tidak tahu kalau Ajeng bahkan sudah menolak berkali-kali. Ia jadi merasa tidak enak karena seringkali mengatai Ajeng yang tidak baik.


"Lo tahu, rasanya itu susah banget masuk ke hubungan lo, apalagi gue cuma orang asing di antara kalian. Gue terkadang ada niatan untuk berhenti, tetapi sewaktu melihat Indra senang, gue jadi berubah pikiran lagi. Dia itu saudara terdekat gue jadi gue beneran gak tega kalau sampai lihat dia sedih lagi."


Ajeng berhenti untuk menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali. 


"Gue tahu gue semakin jahat lama-lama apalagi dengan setuju sama kemauan Indra buat gue pacaran sama Hami. Gue gak nyangka bakalan sampai harus ke tingkat pacaran, setahu gue Indra paling cuma bakalan minta gue deketin dia doang, gak sampe pacaran. Dan bodohnya gue mau. Akhirnya gue nembak Hami di tempat umum agar dia gak punya alasan buat nolak gue." katanya dengan getir.


Saat ini mata Ajeng sudah berkaca-kaca, dan Letta sudah mulai berpikir kalau cewek di depannya ini akan menangis. Tetapi Ajeng tidak menangis, ia mampu menahan air matanya lebih lama karena Ajeng kemudian melanjutkan ceritanya kembali.


"Tapi--- tapi gue senang akan hal itu. Gue gak tahu seberapa banyak gue masuk ke hubungan kalian sampai gue terlalu mendalami peran gue, hingga---- hingga akhirnya gue beneran suka sama Hami." Ajeng tertawa masam ketika di akhir kalimatnya.


"Lo--lo suka sama Hami." bisik Letta masih kaget. Ia kira Ajeng hanya memainkan sandiwaranya sebagai pacar Hami, tetapi ternyata sampai suka beneran.


Mata Ajeng menatap kosong ke bawah, tetapi mulutnya masih terus bersuara. "Gue tahu sewaktu Hami pacaran sama gue itu karena dia terpaksa, di awal aja dia gak anggap gue. Dia mandang gue seakan orang paling aneh di dunia ini. Gue sakit hati sebenarnya. Gue ngerasa jahat sama dia tapi diam-diam gue tetap ngerasa senang bisa pacaran sama dia. Gak sampai seminggu, sikap Hami ke gue pun berubah. Dia lebih hangat dan gak mandang gue sebagai orang aneh lagi. Dia baik sama gue. Dan gue bersyukur banget akan hal itu. Gue tahu banget kalau gue egois karena lebih mentingin perasaan gue sendiri dibanding orang lain. Gue egois karena sampai ngerebut Hami dari lo di saat gue tahu kalian berdua saling suka."


Letta yang tidak tahu akan menanggapi apa hanya diam membiarkan Ajeng meneruskan perkataannya. Dilihatnya Ajeng yang sudah mendongakan pandangannya dan sekarang melihat tepat ke matanya.


"Gue--- gue minta maaf banget sama lo mengenai semua hal itu." ucap Ajeng sungguh-sungguh. "Gue kadang jadi malu sama diri sendiri." lanjutnya.


"Lo gak boleh malu sama diri lo sendiri. Kalau di pikir lagi, lo sebenarnya orangnya baik banget, lo bahkan sampai bantuin Indra yang notabennya sepupu lo. Walau bantuan yang diminta Indra salah, tapi lo tetap mau jalanin itu demi lihat dia senang."


"Lo berlebihan muji gue, kalau gue baik, mana mungkin gue sampe dua kali diselingkuhin sama mantan pacar gue." aku Ajeng.


"Lo pernah pacaran terus diselingkuhin?" tanya Letta terkejut. Ternyata ada banyak hal yang tidak ia ketahui.


"Iya, gue pernah pacaran dua kali dan berakhirnya karena diselingkuhin semua. Gue bahkan sampai gak bisa percaya sama kaum cowok lagi dan gue benci sama mereka. Mungkin karena itulah makanya yang dimintai Indra buat deketin Hami itu gue, bukan orang lain, karena dia pikir gue gak bakalan suka sama cowok lain lagi. Dan yang terjadi adalah sebaliknya. Dan gue minta maaf karena gue gak pernah menyesal udah ngelakuin semua ini karena dengan Hami gue tahu gimana rasanya dicintai dan mencintai, walau gue gak tahu apa dia tulus atau enggak, dia udah ngajarin banyak hal sama gue. Gue merasa dianggap sama dia. Gue bahagia dengan Hami di samping gue."


Kali ini Ajeng sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Perlahan satu persatu air mataya mulai menetes keluar, jatuh melewati pipinya yang segera diusap oleh Ajeng.


"Hari ini gue bakalan pindah ke kota lain karena bokap gue naik jabatan dan tempat kerjanya otomatis juga bakalan pindah ke luar kota. Gue sama nyokap gue akhirnya memutuskan untuk ikut bokap." Ajeng menggigit bibirnya menahan isakannya agar tidak keluar. "Sekali lagi gue--- gue minta maaf sama lo."


"Iya, gak apa-apa. Gue udah maafin lo. Gue juga harus minta maaf karena udah judge lo yang enggak-enggak. Gue dulu suka berburuk sangka sama lo. Sekarang gue udah tahu cerita aslinya dan karena kita saling memaafkan, gue mau lo jadi teman gue mulai sekarang." Letta merasakan kebahagiaan membuncah di hatinya ketika rasa bencinya ke Ajeng memudar sudah tidak tersisa. Namun ia merasa sedih karena di saat hubungan mereka menjadi lebih baik, Ajeng harus pindah.


"Oke, sekarang kita teman." ucap Ajeng lalu berdiri dan mendekati Letta. Letta pun mengikutinya berdiri. Tanpa aba-aba seakan keduanya satu pikiran, mereka berpelukan.


"Teman." kata mereka bersamaan.


"Oke, teman, berhubung ini udah semakin sore, gue pamit ya." kata Ajeng lalu ia melepaskan pelukannya.


"Oke, habis dari sini lo mau ke mana?" ucap Letta begitu pelukan keduanya terlepas.


"Mungkin ke rumah Hami. Tapi, jangan bilang-bilang kalau gue ke rumah dia." canda Ajeng.


"Siap."


Setelah Ajeng pergi dari rumahnya, Letta menarik nafas lega. Ia akan kembali ke kamarnya ketika mendengar suara Wulan yang memanggilnya untuk makan dahulu. Setelah acara makannya selesai, barulah Letta balik ke kamarnya dan melihat layar ponselnya berkedip karena ada pesan masuk.

__ADS_1


Letta mengambil ponselnya lalu jemarinya membeku begitu membaca pesan itu.


Hami : Ta, gue putus sama Ajeng.


__ADS_2